
Pov dini
"Aku lupa membelinya, Lagian dia ngasih tahunya sangat mendadak." ucap Kak Dali terlihat raut Panik di wajahnya.
"Lah, kok bisa?" Tanyaku yang merasa aneh, karena kebiasaan orang yang akan menghadiri pesta ulang tahun, mereka pasti akan membawa kado.
"Iya, namanya juga lupa! mau digimanain lagi. Biarin aja lah, nggak akan ada yang mengecek ini, siapa saja yang tidak bawa kado." jawab Kak dali pasrah. dengan muka tanpa dosanya. dia mengunyah kembali makanan yang masih ada di piring.
"Lapar mas?" Ledekku.
"Iya, tadi cuma ngopi, sama minum jus doang. emangnya aku ikan gabus, minum terus!" jawabnya cuek.
Kita pun melanjutkan melahap makanan yang ada di piring. diiringi dengan lagu pop yang mengalun dari dalam rumah, sesekali kita saling tatap, lalu tersenyum. Gak jauh beda sama seperti orang yang kurang seons. Serasa di sini hanya kita berdua, tak ada orang lain.
Musik yang mengalun itu, tiba-tiba berhenti. dan terdengarlah seorang yang berbicara. Mungkin dia orang yang berbicara itu, adalah seorang MC. karena dia mengungkapkan maksud dan tujuan acara itu. Dan orang-orang pun mulai berkumpul masuk ke dalam, untuk menghadiri acara pesta ulang tahun itu. hanya aku dan Kak Dali, yang tidak ikut. kita asik mojok di kursi paling belakang, asik mengobrol, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi. Benar memang menurut Pujangga, ketika jatuh cinta itu serasa dunia itu hanya milik berdua.
MC itu, memberikan waktu kepada tuan rumah untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, lalu terdengar tepuk tangan yang sangat meriah, dari arah dalam.
"Kakak nggak masuk?" Tanyaku di sela-sela perbincangan.
"Buat apa? aku malu, gak bawa kado, mana Udah makan lagi." jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala, seperti bocah yang takut menemui orang tuanya, ketika mereka melakukan kesalahan.
"Yah, ngucapin selamat ,atau apa gitu, basa-basi!" saranku.
"Nanti saja, kalau kita mau pulang, biar gak terlalu lama mengobrolnya" jawabnya tetap tanpa ekpresi.
Sejam berlalu, kita masih duduk berdua, mengobrol dengan asik di pojokan, tanpa mempedulikan suasana sekitar. namun kebahagian itu seketika sirna, ketika seorang satpam yang tadi mempersilahkan masuk, menghampiri kita. lalu mengajak Kak Dali mengobrol menjauh dari tempatku duduk.
Entah apa yang mereka bicarakan, namun itu terlihat serius. Lama mengobrol, terlihat dari arah dalam, muncullah seorang wanita yang sangat cantik, bergaun mewah, bak putri kayangan yang diambil selendangnya oleh jaka tarub. Putri itu keluar ,menghampiri Kak Dali dan satpam itu.
Jarak yang jauh, sehingga aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, namun terlihat wanita itu menarik tangan Kak Dali, memaksanya untuk masuk ke dalam.
Kak Dali menoleh ke arahku, seolah meminta izin. aku pun tersenyum, meski sebenarnya hati ini tidak rela. Ketika ditingalkannya pergi bersama wanita lain, prasaanku seperti wanita difilm adzab yang suaminya digondol plakor. Apalagi aku datang ke sini hanya dengan dia, tak ada orang yang aku kenal, untuk aku ajak mengobrol. Persis sama orang salah masuk kelas.
Tepuk tangan terdengar dari arah dalam dengan meriah. aku yang seorang diri, hanya duduk tanpa tahu harus berbuat apa. suara musik berubah menjadi lagu ulang tahun, lalu diikuti dengan lagu potong kue .sama seperti acara ulang tahun anak anak berusia 5 tahun, mungkin yang berbeda di sini tidak ada bingkisan snack, buat orang yang menghadiri acara, untuk di bawah pulang ke rumah.
__ADS_1
Merasa bosan aku pun bangkit, lalu masuk ke dalam untuk mengetahui seperti apa, ketika orang kaya memotong kue ulang tahun. Mataku terbelalak ketika melihat di atas panggung, kak dali dengan wanita cantik itu, sedang berhadapan.
Di tangan wanita itu terlihat ada sendok yang berisi kue ulang tahun, yang siap disuapkan ke Kak Dali. kilatan flash cahaya, dari kamera memenuhi ruangan itu. Untuk mengambil momen, di mana Kak Stella yang hendak menyuapi kak Dali, membuat hatiku merasa hancur, sehancur hancurnya. Padahal baru saja serpihan hati itu mulai menyatu, setelah diperlakukan buruk kak dani. namun aku segera tepis perasaan itu, mungkin ini hanyalah acara biasa saja, sebagai rekan kerja.
"Selamat ulang tahun Stella, Semoga panjang umur, dan terus menjadi orang baik!" ucapan kak Dali.
setelah itu kue yang sudah siap di tangan kak Stella langsung masuk ke mulutnya. Kak dali mengambil tisu, untuk mengelap sisa-sisa kue yang ada di bibirnya.
"Wah, Kakak ini, sangat beruntung sekali, karena dia mendapatkan potongan kue pertama. setelah kedua orang tua, kakak Stella. Oh iya kira-kira apa ya, hadiah ulang tahun dari pria spesial ini?" Ungkap pembawa acara itu.
Orang-orang pun terdiam, menunggu Apa yang hendak Kak dali berikan, sebagai hadiah ulang tahun Kak Stella. namun yang jadi pusat perhatian, dia malah celangak celinguk memperhatikan semuanya, seolah ada yang Kak Dali cari.
"Jangan buat tegang gini dong, kita menunggu nih!" ujar MC memecahkan suasana canggung, membuat Kak Dali tersadar seketika.
Kak Dali merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan kotak berbentuk hati, berwarna merah. terdengar riuh tepuk tangan memenuhi ruangan pesta, menyabut hadiah yang akan diberikan kak dali.
"Buka! buka! buka!" teriak para tamu undangan, menyuruh Kak dali membuka kotak merah itu. seolah dihipnotis, dia pun mengikuti perintah para tamu undangan, membuka kotak. terlihatlah isi di dalamnya, ada dua cincin yang sangat cantik.
"Pasangkan! pasangkan! pasangkan!" Teriak para tamu undangan itu berteriak lagi, sambil bersorak, seolah menyemangati kesebelasan, yang sedang bertanding.
Katanya dia tidak membawa kado, tapi dia menyiapkan kado sepesial, sampai sampai aku tidak diberi tahu.
Hancur, sehancur-hancurnya, perasaanku malam ini .seperti aspal yang digilas oleh setum, Tak Sanggup untuk bangkit kembali, rata dengan tanah. dengan perlahan kupalingkan tubuhku, mencari tempat paling sepi, untuk meluapkan emosiku. Namun, sekilas pandanganku menangkap ada kamar mandi, yang mungkin sudah disiapkan untuk para tamu undangan, letaknya yang ada di ruang tengah. terhalang sekat pembatas, antara ruangan yang ada kamar mandinya, sama ruangan pesta. dengan cepat, aku memasuki ruangan sebelah lalu masuk ke kamar mandi yang kebetulan sepi. untuk mengeluarkan emosi yang sudah tak tertahan.
Setibanya di kamar mandi, aku menangis sejadi-jadinya, meluapkan kesedihan yang begitu mendalam, Lebih sedih dari yang pernah kualami, ketika Kakak angkatku mau menggagahi.
10 menit berlalu, kepalaku mulai terasa pusing. karena mungkin aku, memang suka pingsan. Ketika menghadapi masalah yang begitu rumit. Aku Basuh mukaku untuk mendinginkan suasana hati, yang sedang tidak bersahabat. dan supay kuat untuk segera kembali ke rumah, agar ketika mau Pingsan, aku tidak pingsan di rumah orang.
Kamar mandi yang begitu mewah, lebih mewah dari kosanku yang sekarang. Tak membuatku merasa takjub. Terla lurut dalam kepiluan, yang sampai kebatas akar kesabaranku.
Setelah dirasa mulai agak baikan, kuperhatikan wajahku di cermin. takut mukaku kelihatan sembab, aku poles mukaku dengan bedak yang selalu kubawa, agar tidak terlalu kelihatan, Aku habis menagis.
Dirasa semua sudah baik-baik saja, tidak ada yang kurang dengan penampilanku. aku segera keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menunduk, menuju pintu gerbang, segera pulang ke kontrakanku
Brruk!
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhku menabrak seseorang, dengan cepat Aku mendongakan muka, untuk meminta maaf.
"Stella! kok kamu udah ganti baju saja?" tanya pria paruh baya itu, sambil menatap ke arahku, yang merasa aneh dengan pertanyaannya.
"Maaf, Pak. saya buru-buru. jadi nggak melihat ada orang di depan!" jawabku meminta maaf, tak memperdulikan perkataanya, karena takut beliau marah.
Namun ada perasaan Aneh, ketika aku menatap wajahnya. Perasaan yang tak dapat kujelaskan.
"Stella, Kamu cantik kalau pakai hijab, gini!" ujar bapak itu kekeh memangilku dengan nama Stella. tanpa mempedulikan permohonan maafku.
"Maaf, Pak. mungkin Bapak salah orang, saya bukan Stella, saya dini, pak. Permisi!" jawabku meluruskan, agar tidak terjadi salah paham.
"Kamu jangan bohongin Bapak, mata bapak masih Awas!" ujar pria itu, membuatku sedikit merinding, karena memiliki trauma dengan orang tua seperti ini.
"Maaf, Pak. saya buru-buru, saya pamit. Sekali lagi mohon maaf!" Ujarkuu memohon, dan segera pergi meninggalkan bapak-bapak ini.
"Ada apa, Pak?" tanya seorang wanita yang baru datang menghampiri kita berdua. Menghentikan langkahku.
"Stella, mah. Cantik banget kalau dia pakai hijab, seperti ini." jelas bapak itu, kepada wanita yang baru datang, Mungkin beliau istrinya.
Ibu yang baru datang, tidak menjawab. Dia memperhatikanku dengan teliti, seolah lagi mencari sesuatu yang hilang di tubuhku.
"Kamu temannya Dali, ya?" tanya ibu itu, sehingga membuatku menatap ke arahnya.
"Iya, Bu. maaf saya tadi tidak sengaja menabrak Bapak,saya buru-buru." Jawabkuu memelas, karena kupikir 2 lawan 1 akan kalah. Makanya dengan cepat aku ambil jalan terbaik.
"Kamu masa lupa sama ibu, kita kan pernah ketemu di toko elektronik, katanya waktu itu, kamu mau membeli dispenser." ujar ibu itu.
"Ibu Asri!" Tanyaku memastikan, karena hanya baru sekali bertemu, itu pun tidak terlalu lama, hanya mengobrol sebentar, itu juga kak dali yang mengobrol.
"Iya, kenapa. kamu gak menemui ibu. kalau ke sini." ujar ibu itu, sambil memelukku, entah apa yang terjadi sehingga dia bisa berbuat seperti itu. Namun pelukannya sangat hangat, menenagkanku yang sedang dilanda musibah hati.
"Bukannya ini Stella, Bu." tanya Bapak itu yang menatap ke arah istrinya, yang sedang memelukku. Masih kekeh mengagapku sebagai anaknya.
"Stella masih di panggung, pak. dia lagi asik sama pacar barunya." jawab ibu Asri, sembil menunjuk ke ruang yang dipakai acara pesta.
__ADS_1
Dengan penasaran bapak-bapak itu Beranjak Pergi ke ruang tengah. untuk memastikan apa yang dikatakan istrinya.