
Pov dini
Setelah kepergian Kak Darda dan Kak Angga, suasana kamar Rumah Sakit pun Hening seketika. aku sibuk memainkan ujung selimut, sedangkan Kak Dali sibuk dengan lamunannya, tak ada sapaan yang keluar dari bibir kita berdua.
"Emang," ucap kita berdua serempak, sambil saling menatap.
"Emang apa" pria tampan dengan lesung pipit itu bertanya.
"Nggak, kakak dulu aja, emang kenapa?" jawabku, sambil menundukkan kepala, kembali memainkan ujung selimut.
"Perempuan lebih dulu," Kak Dali memamerkan lesung pipit.
"Emang, aku nggak ngerepotin kalau aku harus tinggal di kosan kakak," jawabku terbata-bata, Karena rasa malu Yang berkecambuk dalam dada.
"Justru itu, aku mau bertanya. emang kamu mau tinggal bareng sama aku," Kak Dali bertanya, sambil menatapku.
Tak ada penuturan yang keluar dari mulutku, ketika matanya memindai seluruh wajah ini, hanya anggukan kepala yang kuberikan sebagai jawaban.
"Terima kasih ya" ujarnya sambil meraih tanganku, yang sedang memainkan penutup tubuh.
Lalu kak dali memegangnya dengan erat, dengan pegangan yang tak dapat aku artikan. hanya degup Jantungku yang semakin kencang, menerima perlakuannya seperti sekarang.
"Terima kasih buat apa Kak, aku yang seharusnya berterima kasih, karena kakak sudah mau menolongku" aku coba beranikan berkata, menyelimuti kekakuanku. sambil menatap sayup ke arahnya, tidak menyangka masih ada orang yang memperdulikan hidupku.
"Terima kasih, karena kamu tidak menyulitkanku" ucap kak Dali, sambil memainkan jemarinya di punggung tanganku.
Kutatap nanar kedua bola mata idahnya, kalau tidak malu rasanya pengen menyandarkan pipiku di dada bidangnya.
Cklek!!!
Pintu rumah sakit terbuka, tanpa diketuk terlebih dahulu, sehingga dengan reflek aku menarik tangan yang sedang di pegang oleh kak Dali, namun itu telat, karena Kak Darda sudah terlebih dahulu melihatnya.
"Wah, wah, parah kalian, baru ditinggal bentar aja, udah main pegang-pegang seperti itu" pria berbadan gembul itu berceloteh, tidak suka melihat apa yang kita lakukan.
"Cuma baru pegang tangan doang, ributnya kayak orang yang lagi grebek protitusi," Bela Kak Dali, sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Heh, DALI. lu dengerin baik-baik, Perzinahaan itu awalnya dari pegangan, lama-lama cium4n, masa lo gak ngerti," bentak Kak Darda, mendekati arah Kak Dali. Menunjukan mata merahnya.
"Sorry dar tadi kita terbawa suasana saja," Kak Dali menjawab dengan sedikit tergagap, seperti orang yang sedang dihakimi setelah melakukan perbuatan tercela.
"Dan, kamu Dini. kamu dengerin baik-baik, kalau sampai lu tergoda sama lelaki brengs3k ini, gua, Gua. orang pertama yang akan membenci lo" ancam Kak Darda, sambil mengangkat jari telunjuk ke arah mukaku.
__ADS_1
"Udah lah, Dar. biarin aja mereka, mau ngapain kek, terserah, yang penting tidak ada yang dirugikan," tukas Kak Angga, sambil menarik lengan Kak Darda agar tidak keterusan.
"Emosi gua, ga. melihat mereka seperti ini, jujur walaupun gua baru ketemu sama si Dini, tapi gua udah ngerasa dia itu adik gua," jelas Kak Darda, yang terlihat raut kekecewaan di wajahnya.
"Maafin aku Kak, aku janji nggak akan berbuat seperti itu lagi," dengan pelan, kucoba memberanikan, untuk mengakui kesalahan.
"Tahu, nih. Kamu kayak lagi dapat aja, sensi banget." Celoteh Kak Angga dengan muka datarnya.
"Ya dar, aku juga minta maaf," sambung kak Dali, memperlihatkan penyesalannya.
"Ya udah, ayo pulang. semuanya udah beres" Kak Angga, menengahi perdebatan di antara kami semua.
Akhirnya kadali pun mengemasi barang-barangku, yang mau dibawa pulang. Untung saja pas ke sini aku tidak membawa pakaian apapun, sehingga. tidak banyak barang yang harus dibawa.
Aku berjalan paling depan, diikuti ketiga laki-laki yang sangat spesial, mereka terlihat sangat aneh, namun soal perhatian antara sesama sahabat tidak usah dirakukan lagi.
"Kayaknya kamu, dal. harus memasukkan anggaran untuk sewa mobilku," pinta Kak Angga yang duduk di kursi belakang.
"Siap, yang mulia." jawab Kak Dali menirukan panggilan ketik Kak di persidangan, dibarengi dengan tangannya yang memutarkan arah kemudi menuju ke luar parkiran.
Suasana mobil pun menjadi hening, terlihat dari spion Kak Darda dan Kak Angga. mereka memejamkan mata, mungkin. merasa capek, setelah apa yang mereka laluinya hari ini.
"Kak" sapaku lembut sambil menatap ke arah Kak Dali.
"Aku, boleh mampir ke kosanku dulu, nggak. Soalnya aku nggak punya baju ganti" pintaku penuh harap.
"Boleh," jawabnya singkat, namun membuatku merasa sedikit lega karena aku tidak harus memusingkan tentang pakaianku.
Suasana pun Hening kembali, hanya dengkuran kak Darda, yang mengganggu gendang telingaku.
"Wah, parah tidur kok ngoroknya sampai kayak orang yang mau mati," gerutu Kak Dali, sambil menoleh ke arah datangnya suara.
"Biarin aja, Kak. mungkin kak darda capek setelah seharian menemaniku, dirumah sakit" aku menimpali perkataannya, agar suasana lebih mencair.
"Kamu tidur juga, nanti setelah sampai kosanmu, aku bangunkan," seru Kak Dali, sambil terus memperhatikan jarak mobilnya dengan mobil yang lain.
"Emang masih jauh, kak." Tanyaku, sambil meluruskan pandangan.
"Lumayan, kalau macet begini, mungkin sekitar sejam lebih baru kita nyampe kekosaan kamu," jawab Kak Dali, dengan muka kalamnya, "mending kamu tidur," lanjut Kak Dali.
"Aku nggak ngantuk, Kak. aku janji nggak akan ngajak ngobrol lagi kok," tolakku dengan halus, merasa tidak enak mungkin dia terganggu.
__ADS_1
Dia hanya menatapku sambil tersenyum, lalu tangan kirinya meraih jemariku, kembali, membuatku membulatkan mata menatap ke arahnya.
"Nanti Kak Darda, marah lagi loh, kak." perkataan yang tidak sesuai dengan isi hati, sambil menarik tanganku dengan lembut.
Kita pun terdiam kembali, dengan lamunan masing-masing, lamunan ketika kita bisa berjalan berduaan dengan mobil, Menghabiskan malam, dengan bercerita tentang tempat Tujuan yang akan kita tuju.
Untuk menghilangkan rasa kaku, Kak Dali menyalakan tape, yang ada di mobil, lalu dia memutarkan lagu-lagu yang sudah ada di dalam flash disk.
Oh, bukankah 'ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
"Nih, lagi kak andy, aku lagi melihat bintang, sama seperti yang kak Andi bilang, senyumnya malam ini menghiasi malamku, bagaikan permata yang harus kujaga, untuk selalu tetap berkilau, untuk selalu menghibur jiwaku, untuk selalu menghibur sedih hatinya," gumamku dalam hati, sambil terus mendengarkan lagu padi yang sedang diputar.
Aku menyenderkan tubuhku ke sudut pintu, supaya bisa lebih jelas melihat bintang yang ada di samping, namun bintang itu merasa diperhatikan, dia malah menoleh kearahku, dengan cepat kupejamkan mata, agar aku tidak terlihat seperti orang yang sedang memperhatikannya.
Bintang itu hanya tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepala, mungkin dia tahu dengan kelakuan b0dohku, yang berpura-pura tertidur.
"Mau beli makanan dulu nggak? Buat nanti cemilan di rumah," tanya Kak Dali.
Namun aku tidak menjawabnya, seperti orang yang sedang tidur beneran.
"Udah jangan pura-pura," celetuk Kak Dali, sambil menepuk paha. sehingga membuatku beranjak, seolah kaget karena dibangunkan dari tidur.
"Iya kenapa, Kak" Tanyaku sambil berpura-pura membetulkan hijab yang kusut.
"Mau beli cemilan nggak" bintang itu mengulang pertanyaannya.
"Enggak kak, yang tadi pagi aja masih banyak," aku menolak tawarannya, mengingat tadi pagi Kak Dali sudah membelikan ku banyak cemilan. Bahkan makanan dari pacar-pacarnya Kak Darda masih ada yang belum dibuka, iya pacarnya kak darda, bukan cuma kak evita.
"Ya udah lanjut lagi, pura-pura tidurnya" sarkasnya sambil senyum membuat pipiku merasa tegang membeku.
__ADS_1
"Iya Kak, maaf ya. aku ngantuk banget, jadi Tadi ketiduran" jawabku menutupi kebohongan, untuk lebih meyakinkan, Aku tutup Mulutku walaupun itu hanya pura-pura.
Lamanya di perjalanan tak terasa, bahkan kalau bisa meminta, aku akan meminta waktu ini untuk berhenti di sini, agar aku bisa terus merasakan kebahagiaan.