Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Hotel Agatha


__ADS_3

Kavindra sedang berada di kantornya bersama dengan Raka. Pria itu tampak serius mendengar penjelasan dari asistennya itu.


"Pokoknya nanti lo sambutan, dan perkenalkan diri lo, buat semuanya semangat, ok!" titahnya.


Namun, pria tinggi itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab, ia sibuk dengan CV karyawan baru yang ada di tangannya.


"Mana sih nama ceweknya, Ka? Ini cowok semua," ujarnya.


Raka memutar bola matanya. "Ish, apa-apaan ini?"


"Gue pulang bukan karena gue mau kerja ya Raka Bramasta," tekan Kavindra.


"Bramantyo oi! Bramasta mah gue artis dong," omelnya. Kemudian Raka menghampiri Kavindra dan mengambil semua berkas di tangannya.


"Iya lah, ini laki semua, cewek sebelah sana!" Raka menunjuk lemari yang berada di sebelah kanannya. Lalu ia beranjak dari sana menuju lemari itu, dan mengambil berkas yang diminta Kavindra.


Pria tinggi itu memeriksa setiap berkas di tangannya. Sampai akhirnya, dia menemukan foto seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya.


"Dia beneran Kia, kan Raka?" Kavindra menunjuk foto dalam CV itu.


"Lihat namanya, tanggal lahirnya dan nama orangtuanya, Vin!" seru Raka dengan jengah.


"Beda sih, tapi mukanya sama banget, cantikan ini sih," ujar Kavin tanpa mengalihkan pandangannya.


"Emang di sana nggak dapat bule apa?" tanya Raka heran.


"Gue lebih suka produk dalam negeri," kilah Kavindra.


"Acara di hotel Agatha besok, kan?" imbuhnya.


"Iya, gue ngoceh dari tadi emang nggak Lo dengerin?" gerutu Raka.


"Iya-iya, gue mau ketemu dia hari ini deh," usulnya, tapi ditolak mentah-mentah oleh Raka.


"Jangan rusuh deh, besok aja kenapa sih?" protesnya.


"Gue udah bikin rencana yang keren buat lo." Raka menarik satu alisnya ke atas.


"Asal jangan yang aneh-aneh gue nggak suka," sela Kavindra.


"Aman-aman."


***


Keesokan harinya.


Arisha sudah siap dengan tasnya, gadis itu tak membawa banyak bekal, hanya beberapa baju saja. Karena, acara akan berlangsung selama tiga hari.


"Ini kali pertama lo, Riri pergi ke hotel buat acara, Ma. Riri takut," ucap Riri saat keduanya duduk di ruang tamu, menunggu Agam untuk mengantar.


"Iih, enak tahu di hotel itu, mandi aja bisa pake air anget nggak perlu masak air dulu," jawab sang mama yang malah membuat Arisha berdecak.


"Eh, tuh Agam udah datang." Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah luar yang sudah ada Agam dengan motornya.

__ADS_1


"Iih Ma, ngapain si? Aku kan udah bilang bisa naik angkutan umum." Arisha merajuk pada sang mama.


"Udah si, Agamnya juga udah datang, mubazir tahu," sela sang mama.


Arisha pun beranjak ke luar, dan pamit pada sang mama, karena papa dan adiknya sudah berangkat sejak tadi. Namun, gadis itu kembali berbalik saat hendak naik ke motor Agam.


"Ma, nggak ada hantu kan?"


"Ck! Ada nggak apa-apa asal ganteng, Ri. Udah sana nanti telat diomelin," titah sang mama.


"Iih Mama."


"Waalaikumusalam." Wanita paruh baya itu mendahului menjawab salam.


"Assalamu'alaikum, Ma."


Agam sudah menstarter motornya, lalu ia bertanya apakah gadis itu siap berangkat. Arisha hanya mengangguk sambil berkata iya.


Keduanya pun berlalu, dari rumah Arisha.


"Bang, nanti-nanti kalau disuruh mama nganterin aku, jangan mau ya." Arisha memulai percakapan dengan pria di depannya.


"Kenapa? Abang seneng bisa nganterin Neng Riri," jawabnya.


"Nanti pacar aku cemburu, Bang," ucap Arisha.


"Ya bilang aja kang ojek, Neng." Agam menahan rasa sakit di ulu hatinya.


Namun, pemuda itu tak menjawab lagi, ia fokus mengendarai motornya, mengantar sang pujaan hati ke tempat kerjanya.


Arisha juga jadi merasa tak enak, apa mungkin ucapannya terlalu kasar, pikirnya.


Tak berapa lama, mereka sampai di depan gedung Kavin Cruise Ship Training. Arisha segera turun dari motor Agam, lalu membuka helmnya.


"Makasih ya Bang. Maaf kalau ucapan aku menyinggung Abang," ucap Arisha sambil memberikan helm pada pria di depannya.


"Sama-sama Neng, nggak apa-apa. Semangat kerjanya ya." Agam tersenyum pada gadis pujaannya itu sambil memberi semangat.


"Oke," ucap gadis itu dengan membentuk huruf o oleh kedua jarinya. Kemudian gadis itu pun berlalu masuk. Terlihat Adelia sudah menunggunya di depan pintu masuk.


"Aku nungguin dari tadi tahu, Ri," ucap gadis itu dengan menggandeng tangan gadis itu.


"Tumben datang duluan, Del?" tanya Arisha heran.


"Iya dong, katanya pemilik perusahaan ini mau datang hari ini, jadi mau aku sambut dong." Adel berucap dengan antusias.


"Dih."


Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya Pak Raka mengumumkan bahwa kita akan berangkat menuju Hotel Agatha. Semua karyawan dipersilahkan keluar dan menempati bus yang sudah disediakan. Adelia dan Arisha berjalan di belakang yang lain.


"Aku tuh deg-degan tahu, Del," bisik Arisha pada teman barunya itu.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Katanya di hotel ada hantu," bisik Arisha makin pelan.


Adelia yang mendengar ucapan gadis di sampingnya sontak tertawa, hingga semua perhatian orang teralih pada mereka berdua.


"Pada kenapa dah?" tanya Rangga heran.


"Ini Riri katanya mau ketemu hantu," oceh Adel sambil kembali tergelak.


"Ish, ngeselin banget si," gerutu Arisha.


Kini semuanya sudah berada dalam bus, Kak Olivia kembali mengabsen setiap karyawan, setelah dirasa komplit, sopir pun mulai melajukan kendaraan itu.


Suasana dalam bus itu ramai, karena semua karyawan tampak bahagia, bahkan bernyanyi.


Acara bulanan ini, bagi karyawan lama merupakan sebuah liburan, karena selain bisa makan dan tidur di hotel secara gratis. Mereka juga akan diberitahu mengenai pekerjaan di hotel, sehingga saat nanti mereka kembali mengajar, semua bisa menjelaskan apa saja tugas-tugasnya.


Namun, bagi Arisha dan yang lainnya sebagai karyawan baru, tentu saja mereka belum mengetahui maksudnya apa? Dan acara yang bagaimana?


Sekitar empat puluh lima menit perjalanan menuju hotel itu, akhirnya bus mereka sampai.


Semua karyawan turun, ada sekitar tiga puluh orang semua staf Kavin. Mereka masuk ke lobi hotel, lalu mendapat giliran untuk diberikan kartu chip kamar mereka. Satu kamar untuk dua orang. Tentu saja perempuan dengan perempuan, dan laki-laki dengan laki-laki.


Arisha berharap bisa satu kamar dengan Adelia, tapi ternyata gadis itu sudah satu kamar dengan Reva. Sementara Silvi dengan Dila. Arisha masih menunggu gilirannya. Namun, gadis itu masih harus menunggu.


"Del, kenapa nggak sama aku aja si?" protes


Arisha pada temannya itu.


"Iih, mana aku tahu, Ri," jawab gadis itu cuek.


Gadis itu terus menunggu sampai, menjadi orang terakhir yang mendapatkan kartu chipnya.


"Pak Raka aku sama siapa?" tanya Arisha heran karena ia ternyata hanya sendirian.


"Kamu sendirian aja nggak apa-apa ya, soalnya karyawan perempuannya nggak ada lagi, masa mau sama saya," goda Raka sambil terkekeh.


"Ish, Pak Raka kalau ngomong, nanti Kak Oliv ngamuk ke aku," ucap Arisha sedikit menggerutu.


"Ya sudah, silakan masuk ke kamarnya, nanti kita kumpul lagi." Raka berucap lalu berlalu dari sana.


Arisha pun berlalu menuju lantai enam, karena nomor kamarnya 607. Gadis itu masuk ke dalam lift dengan yang lainnya yang satu lantai dengan dirinya.


"Moga-moga nggak ada hantu," gumamnya pelan.


Sementara itu di lobi Raka menelepon seseorang. "Semuanya sudah sesuai rencana, bro."


Bersambung…


Happy Reading 😘


Rencana apaan sih Raka bikin aku penasaran. Kok nggak bilang-bilang ya.


Jan lupa jempolnya ya gerakin buat like, komen sama love ya bagi yang belum.

__ADS_1


__ADS_2