Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Lamaran


__ADS_3

Tak terasa waktu terus berlalu. Hari ini acara lamaran Kavindra kepada Riri tinggal menunggu beberapa jam lagi. Riri sudah dirias dengan cantik. Gaun biru dengan lengan panjang itu melekat indah di tubuh mungil Riri. Wajahnya yang memang sudah cantik, makin menawan dengan polesan make up. Rambutnya juga ditata dengan sangat apik, bahkan leher jenjangnya terlihat jelas.


"Cantik banget anak Papa," ucap pria paruh baya yang kini sedang memakai jasnya.


"Riri deg-degan, Pa."


"Ya, wajar dong, Nak. Kamu tenang saja, Papa harap setelah acara ini, tak menunda acara pernikahan," ucap sang papa serius.


"Ih, Papa." Gadis itu merajuk. "Riri masih mau tinggal sama Papa, Mama, dan Sera."


"Sekarang ataupun nanti, kalian akan tetap menjadi hak suami kalian kelak. Papa dan Mama hanya berdoa semoga kalian mendapatkan imam yang baik yang bisa membimbing kalian anak-anak Papa ke jalan yang benar," nasihat sang papa pada Riri dan Sera yang saat itu duduk berdampingan.


Kedua gadis itu memeluk erat cintaku pertama mereka. Sementara sang mama saat ini masih sibuk berdandan, setelah mendandani kedua putrinya.


Tak berselang lama, wanita paruh baya yang mengenakan kebaya dengan warna senada seperti yang dikenakan sang suami. "Ih kok, Mama nggak diajakin berpelukan sih?" Mama Rina menghampiri ketiganya dan


rusak. Terutama kamu, Ri," pungkas 3c7p diem aja di sini. Biar Mama sama Tante Sofi yang urus." Wanita paruh baya yang terlihat anggun itu pun berlalu.


Setelah itu sang papa juga beranjak dari sana, untuk melihat persiapan lainnya.


Kini hanya tinggal kakak beradik yang ada di ruang tengah itu. Sera memperhatikan sang kakak yang terlihat memilin jari-jemarinya.


"Kak, jangan gugup, tenang saja." Gadis itu menggenggam tangan sang kakak.


"Yang Kakak takutin itu Dava, Dek," lirih Riri.


"Memang dia kenapa, Kak?"


Namun, tiba-tiba seorang kerabat memberitahukan bahwa keluarga Kavindra sudah tiba.


"Kak, mereka sudah tiba." Sera mengintip dari jendela yang langsung menuju halaman depan.


"Beuh, Pak Kavin ganteng banget sih, Kak." pekik Sera pada sang kakak.


"Eh, tapi yang dua orang juga ganteng banget, Kak. Yang satu malah mirip banget Pak Kavin." Sera berbalik pada Riri yang kini malah sedang mondar-mandir.


"Dia … Davanka, Dek."


"A-apa? Dia jadi … mantan Kak Riri? Ya Allah ganteng-ganteng banget si, Kak," ucap gadis itu sambil menangkup kedua pipinya sendiri.


Tak berselang lama, sang mama datang dan mengajak Riri juga Sera untuk ikut ke ruang tamu. Mereke bertiga berjalan menuju ruang depan. Riri diapit oleh sang mama dan adiknya. Gadis itu memang sudah cantik, apalagi sekarang dengan riasan wajah malah tambah sempurna.


Kavindra menatap gadisnya dengan senyum bahagia, sementara Davanka tersenyum dengan penuh penyesalan. Jika saja dulu ia tak serakah, mungkin hari ini yang akan melamar gadis cantik di hadapannya adalah dirinya bukan kakaknya.


Kini acara pun dimulai, semua anggota keluarga kedua belah pihak menyaksikan lamaran Kavindra Pramudya pada Arisha Shanika. Pria tinggi itu kini sedang menyematkan cincin di jari manis Riri.


"Saya tidak akan menunda hari pernikahan mereka, kalau bisa minggu depan acara pernikahan dilangsungkan," ucap Ganendra pada Satria. Semua orang tampak kaget, terutama Riri.

__ADS_1


"Saya juga berniat sama, tapi jika minggu depan terlalu cepat, karena kami juga memiliki adat sebelum pernikahan, bagaimana jika bulan depan?" usul Satria.


"Deal!" Ganendra mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Satria.


"Deal!"


Kedua pria paruh baya itu saling menjabat tangan. Mereka tampak menampakan deretan gigi putihnya.


Sementara itu, di ruang lain semua saudara dan kerabat sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan keluarga Riri.


Tampak dua wanita paruh baya sedang berbincang hangat. Mereka adalah Mama Rina dan Mami Alifa.


"Ini jen Rina yang masak? Enak banget booeh minta resepnya ya?" ucap Alifa yang sedang menikmati salah satu hidangan di meja.


"Iya, boleh dong, Riri juga jago lo masaknya, ya walau kadang banyak malasnya. Maaf ya kalau nanti dia jadi mantu bikin kesel, maafin dia," ujar Rina.


"Nggak apa-apa, saya bisa punya mantu dia aja udah seneng, moga langgeng ya sampai mereka kakek nenek," jawab Alifa.


Percakapan dua wanita itu terus merembet ke hal lain, sampai mereka asyik sendiri. Sementara itu, Riri dan Kavindra berada di teras rumah bersama adik-adik mereka.


"Kalian makan dulu gih!" titah Riri pada tunangan dan adik-adiknya, tentu saja Davanka juga.


"Nanti saja, enakan ngobrol di sini sama pasangan baru," balas Kaivan yang saat itu gencar sekali menggoda Sera.


Sementara itu, Davanka terlihat lebih banyak diam.


"Cepet banget?"


"Aku emang mau cepet halalin kamu, biar nggak diculik yang lain lagi, aku nggak mau." Kavindra berucap dengan menekankan kalimatnya.


Davanka yang menjadi salah tingkah mendengar ucapan sang abang.


"Dava permisi dulu ya, Bang." Pria itu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.


"Kesindir pasti tuh," gumam Kavindra, yang terdengar jelas di telinga Riri.


"Kami mikir kalau aku bakal berkhianat gitu sama kamu, terus selingkuh sama adik kamu?" Riri tiba-tiba merasa dirinya dituduh wanita penggoda.


"Eh, nggak gitu, Sayang." Kavindra menarik pergelangan tangan Riri saat gadis itu beranjak hendak pergi dari sana.


"Terus maksud kamu apa? Aku emang salah udah nerima lamaran ini," ucapnya asal.


"Apa maksud kamu?" Kavindra terpancing saat mendengar kalimat terakhir dari gadisnya.


"Maksud aku? Kamu yang apa-apaan, seolah aku ini cewek gampangan."


Perdebatan itu membuat Sera dan Kaivan yang sedari tadi asyik berbincang, ikut beranjak dan menghampiri pasangan baru itu.

__ADS_1


"Kenapa Kak, kok berantem gini?" Sera yang pertama kali mengutarakan isi otaknya.


"Iya, Bang. Kenapa dah baru juga lamaran?" timpal Kaivan.


"Tahu tuh tanya dia aja," ucap Riri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Pa, Ma!" panggil Sera. Namun, Riri langsung membekap mulut adiknya saat gadis itu hendak memanggil orangtuanya untuk kedua kalinya.


"Kamu ngapain panggil mama sama papa?" gerutu Riri dengan setengah berbisik.


"Terus ngapain kalian berantem?"


"Udahlah, Kakak cape mau istirahat," ucap Riri sambil hendak pergi dari sana. Namun, Kavindra dengan sigap kembali menarik tangan gadis itu dan meminta izin pada kedua adiknya untuk berbicara berdua saja.


"Aku nggak mau!" tolak Riri sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kavindra.


Kavindra yang sudah kehabisan akal, akhirnya mengangkat tubuh Riri ala bridal style. Hingga pukulan di dada ia dapatkan dari gadis itu yang meronta minta diturunkan. Namun, Kavindra hanya bergeming dan terus berjalan menuju mobilnya.


"Turunin aku!" bentak Riri kesal dan marah.


Kavindra mendudukkan gadis itu di samping kemudi, lalu mengaitkan sabuk pengamannya. Setelah menutup pintunya, pria itu berlari memutar untuk ke kursi kemudi, sebelum gadisnya kembali kabur.


"Aku akan bertindak lebih, jika kamu berani kabur dari aku, Arisha," ancam Kavindra saat ia sudah duduk di balik kemudi dan siap melajukan mobilnya.


"Kamu mau bawa aku ke mana?"


Kavindra tak menjawab pertanyaan gadisnya. Dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Pria itu sedikit mengeratkan rahangnya.


Riri yang saat itu melihat ekspresi tak biasa dari pria di sampingnya jadi terdiam. Sebenarnya, entah kenapa dengan dirinya. Perasaannya itu akhir-akhir ini sedikit sensitif. Mungkin juga karena tamu bulanannya yang segera datang sehingga jadi sedikit baper.


Riri menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, bahunya sedikit bergetar, dia menangis. Kavindra juga ternyata menghentikan mobilnya di sebuah taman kota yang tak jauh dari tempat Riri.


Pria itu menarik nafasnya dalam lalu mengembuskannya. Setelah itu, satu tangannya terangkat untuk mengusap pucuk kepala gadisnya yang masih menangis.


"Maafkan aku, Sayang," lirihnya. Pria itu membalikkan tubuhnya menghadap sang gadis, lalu menarik tubuhnya ke dalam dekapannya.


"Aku memang takut kehilangan kamu, Ri. Aku punya trauma yang membuat hidupku hancur."


Riri menurunkan kedua tangannya saat mendengar penjelasan dari pria yang saat ini mendekapnya erat.


"Ma-maksud kamu?" Gadis itu mengangkat wajahnya yang berhadapan langsung dengan wajah Kavindra dengan mata merah dan hidung mancungnya juga merah. Hal itu malah terlihat menggemaskan di mata Kavindra. Hingga pria itu malah mencondongkan wajahnya yang hanya tinggal beberapa inci lagi jaraknya.


Bersambung…


Happy Reading 😘


Lagi baperan ya Riri, mau pms deh kayanya. Sama kaya aku kalau pms pasti pen ngamook. Eh malah curhat wkwkwk.

__ADS_1


Jan lupa gerakin jempol sama hatinya biar tetep setia nunggu babang Kavin.


__ADS_2