
Wanita dengan gaun selutut tanpa lengan itu melempar ponselnya ke sofa. Ia terlihat kesal setelah menelepon seseorang.
"Siyalan kamu, Vin. Aku bahkan belum pernah kamu cium," omelnya dengan mengusak rambutnya sendiri.
"Semua ini gara-gara papa, kalau saja saat itu aku bisa lari, aku mungkin sudah menikah dengan Kavin."
Tiga hari menuju hari pernikahannya. Kia dan sang ibu dibawa pergi oleh sang papa. Mereka diasingkan ke luar negeri oleh sang papa. Itu semua karena istri keduanya tak mau melihat Kia menikah lebih dulu dibandingkan putranya.
Ponsel dan semua barang mereka dibuang oleh sang papa agar tak seorang pun mengetahui keberadaan mereka. Kia dan sang ibu berjuang hidup di negeri orang, hanya berbekal seadanya dari sang papa. Sampai akhirnya Kia dinikahkan dengan pria berkewarganegaraan asing oleh sang papa.
Pria itu memang baik, dia menghidupi keduanya dengan layak. Namun, sebuah kecelakaan menimpanya, hingga merenggut nyawanya. Karena warisan yang ia dapat dari mendiang suaminya. Akhirnya, ia bisa kembali ke tanah air dan membeli rumah sederhana di ibu kota. Tanpa sepengetahuan sang papa.
Sampai suatu hari ia bertemu dengan Kavindra, mantan calon suaminya. Namun, pria itu menyebut nama lain saat memanggilnya. Hal itu membuat dirinya penasaran.
Kini semua sudah terjawab, bahwa prianya sudah menikah dengan wanita lain. Sebenarnya ia ingin menemui Davanka, tapi rasa bersalahnya pada Kavindra terasa begitu besar, sehingga ia lebih memilih bertemu dengan Kavindra.
Hari ini, ia sudah mendapatkan nomor ponsel Kavindra, ia memberi pesan bahwa ia akan datang dan membuatnya kembali padanya. Karena tak kunjung mendapat balasan, akhirnya ia menghubungi mantan kekasihnya.
Namun, ternyata yang menerima panggilan teleponnya adalah seorang wanita yang ia duga pasti istri dari Kavindra.
"Kenapa kamu nggak nunggu aku, Vin? Aku emang salah udah selingkuh sama adik kamu, tapi aku nyesel." Kiandra bergumam sendiri di kamarnya.
Rencana demi rencana sudah ia susun, untuk kembali mendapatkan Kavindra. Walaupun statusnya saat ini bukanlah perawan lagi, tapi toh Kavindra juga berstatus suami orang. Kia akan berusaha untuk merebut kembali miliknya.
Sementara itu di rumah Kavindra. Pria itu baru mengambilkan makan siang untuk sang istri. Namun, tiba-tiba saja istrinya itu kembali merajuk.
"Makan aja sana sama cewek kamu!" gerutu Riri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lha cewek aku kan kamu, kok ngambek gitu sih?" tanya Kavindra setelah menyimpan nampan di atas nakas.
Namun, tak ada jawaban sampai matanya fokus pada ponselnya yang kini berpindah tempat. Lalu pria dengan kaos abu itu pun mengambilnya. Ia memeriksa ponselnya. Ada panggilan masuk yang ternyata dari Kiandra.
"Dia bilang apa ke kamu, Yang?" selidik Kavin saat melihat istrinya dengan wajah masam.
"Tanya aja sendiri," sewot Riri tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
Padahal baru saja baikan, pikir Kavindra sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kamu seminggu lalu habis makan siang kan sama dia? Alasan aja bilang meeting sama Raka padahal janjian sama mantang," cerocos Riri yang membuat Kavin menahan senyumnya. Karena bagi pria tampan itu lebih baik diomelin daripada didiamkan dan dianggap tidak ada oleh wanitanya.
"Kamu percaya?" tanya Kavin yang malah mendapat delikan mata dari sang istri. Setelah itu, perlahan Kavin mendekati wanitanya dan duduk di hadapan sang istri, lalu menarik tangannya dan menggenggamnya erat.
"Kamu percaya sama aku, aku belum pernah ketemu Kia lagi setelah terakhir dia ke kantor ku," ucap Kavin lembut. Ia ingin meyakinkan sang istri bahwa semuanya hanya akal-akalan Kia.
"Kamu bisa tanya Raka, saat itu kami memang sedang meeting dengan klien," imbuhnya.
"Ya udahlah, jangan dibahas lagi. Sekarang mana makanan aku, aku lapar," jawab Riri yang membuat Kavin menarik satu ujung bibirnya.
__ADS_1
"Suapin," imbuhnya.
"Siap kanjeng ratu!" Kavin pun mengambil nampan dari atas nakas, setelah itu mulai menyuapi sang istri yang sesekali masih memperingatkan dirinya agar tak tergoda oleh mantannya.
"Iya, Sayang."
"Kamu tuh, iya-iya tapi kalau ketemu aku mana tahu--" Ucapan Riri terjeda saat Bi Sumi mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa ada tamu di bawah.
Keduanya pun akhirnya turun, Riri bahkan menyempatkan diri untuk merias wajahnya sedikit.
"Bang gendong!" Riri merentangkan kedua tangannya saat ia sudah selesai dengan riasannya.
Kavin menghela nafas, tapi pria itu dengan senang hati menggendong istrinya. Lalu mereka hendak menemui tamu yang dimaksud oleh Bi Sumi.
Saat keduanya sudah sampai di ruang tamu. Riri terpaku saat melihat wanita yang ada di hadapannya begitu mirip dengan dirinya. Hanya saja warna rambut dan pakaian mereka saja yang berbeda.
"Kamu benar-benar terobsesi sama aku ya, Vin," ucap wanita berpakaian kurang bahan itu, yang tak lain Kiandra.
"Dari mana kamu tahu rumah aku?" tanya Kavin datar dan tetap memeluk tubuh sang istri.
"Kamu kan yang ngasih tahu aku, saat kita makan siang bersama saat itu, Sayang." Kia mendekati Kavin, bahkan hendak mengelus pipi pria itu. Namun ditepis kasar oleh Riri.
"Jangan sentuh suamiku!" ketus Riri dengan menatap tak suka ke arah wanita di depannya.
"Hei, kamu itu hanya anak kemarin sore. Tahu apa tentang Kavindra. Dia itu calon suamiku, tapi kamu merebutnya dariku," sindir Kia dengan sinis.
"Kia, apa yang kamu inginkan?" Kavin menyela saat Riri hendak mengeluarkan pendapatnya.
Sebelum menjawab, Kavin mengajak Kia dan istrinya untuk duduk. Namun, tanpa pria itu duga, Kia malah duduk di samping kirinya. Sehingga Kavin diapit oleh dua wanita dengan wajah yang hampir sama.
"Ngapain duduk di sana?" gerutu
Riri saat dengan tak sopan Kia menggandeng satu tangan suaminya.
"Suka-suka akulah, Kavinnya juga nggak protes."
Namun, dengan perlahan Kavin melepaskan tangan Kia dan kini pria itu berdiri dan berpindah tempat ke sofa lain. Tentu saja dengan Riri.
Kini mereka duduk berseberangan. Kavin dan Riri duduk bersebelahan dengan tangan mereka yang saling menggenggam.
"Vin, kamu mau tahu kenapa aku dulu menghilang?" tanya wanita itu dengan lirih.
"Iya, sebenarnya aku penasaran, tapi sekarang aku sudah punya istri dan hal itu sepertinya sudah menjadi bagian dari masa laluku saja," jawab Kavin.
"Aku dibawa pergi sama papa ke luar negeri, aku dan ibu diasingkan di sana. Bahkan akhirnya aku harus menikah dengan salah satu pria di sana. Kamu tahu bagaimana keadaanku saat itu? Aku benar-benar takut dan tak bisa berbuat apa-apa." Kiandra mulai bergetar saat berbicara karena menahan tangisnya.
"Kenapa kamu tak mengabari aku?" Kavindra tampak iba mendengar penjelasan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Semua barangku diambil papa, kami benar-benar hidup dari nol di sana, Vin."
"Kalau kamu memang sudah menikah, lalu untuk apa kemabli mengejar suamiku?" sela Riri yang mulai gerah dengan interaksi keduanya.
"Suamiku sudah meninggal, dia kecelakaan."
"Aku rela jadi istri kedua kamu, Vin. Untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu," imbuhnya yang membuat Riri makin meradang.
"Maaf, Kia. Satu istri sudah cukup bagiku," jawab Kavin lembut. Dia memang merasa terpuruk saat dulu wanita di hadapannya ini pergi tanpa jejak. Namun, setelah mendengar semua penjelasannya, ia jadi merasa iba dan merasa tak berguna saat itu.
"Aku tahu, tapi coba kamu pertimbangkan lagi, Vin. Aku masih mencintai kamu."
"Yang kamu cintai bukan Kavin, tapi Davanka, kan adik Bang Kavin?" Kini Riri berucap dengan sinis.
"Diam kamu!" bentak Kia.
"Bagaimana Vin?"
Riri beranjak dari duduknya, makin lama suasananya membuat dirinya tak nyaman dan bikin emosi. Namun, tangannya tak dilepaskan oleh Kavin dari genggamannya.
"Lepasin aku, Bang. Aku pikir kalian berdua saja yang menyelesaikan urusan ini, aku--" Tiba-tiba saja Kavin berdiri dan mencium bibir istrinya dengan rakus di depan Kiandra.
Riri yang mendapat serangan mendadak, sempat limbung, tapi tubuhnya ditahan oleh sang suami. Mereka saling memagut dengan intens, tanpa peduli pada wanita yang kini wajahnya sudah merah padam karena marah.
"Kalian keterlaluan!" teriak Kiandra sambil melempar tas tangan ke tubuh Kavindra.
Setelah puas pria tampan itu melepaskan pagutannya dan menoleh ke arah Kiandra yang sedang menahan emosinya.
"Aku sudah menjadi milik dia. Maafkan aku, Kia. Semoga kamu mendapatkan lelaki yang tulus mencintaimu," pungkas Kavindra, setelah itu mempersilakan tamunya untuk pergi karena urusan mereka sudah selesai.
"Aku benci sama kamu Kavindra. Aku benci!" pekik Kiandra saat tubuhnya diseret Bi Sumi untuk keluar.
"Terimakasih sudah berkunjung ke kediaman kami." Riri berucap sambil melambaikan tangannya.
Setelah Kiandra pergi, kini Kavindra kembali menatap sang istri dengan senyuman di bibirnya.
"Ngapain liatin aku kaya gitu?" tanya Riri.
"Kita ...." Pria itu menaikturunkan alisnya dan Riri tahu maksudnya.
"Nggak mau!" Riri berlari ke dalam dan diikuti oleh sang suami.
"Abaaang!"
Bersambung...
Happy Reading 😘
__ADS_1
Ga ada pelakor ya! Wkwkwk pelakor ga udah ditolak mentah-mentah.
Jan lupa jempolnya gerakin ya. Oya sama minta doa juga ini akunya lagi nggak enak badan.