
Selama trimester pertama kehamilan Riri, wanita itu makin aneh-aneh saja keinginannya, tapi para pria di kediaman Pramudya selalu memanjakan wanita itu.
"Bang aku mau ke rumah Mama, kangen sama masakannya, boleh ya?" Riri membujuk sang suami yang saat ini sedang berbaring di pangkuan sang istri di sofa ruang keluarga.
"Besok ya, Yang. Aku cape banget hari ini," ucap Kavindra sambil sesekali mencium perut sang istri yang masih terlihat rata.
"Iya besoklah, sekarang kan udah sore, katanya kan pamali kalau bumil keluar malam-malam, Bang."
"Bumil tetangga kita yang mana, Yang?" Dengan polosnya pria tampan itu bertanya yang membuat Riri tergelak dan memukul lengan suaminya.
"Bumil itu ibu hamil, Abang." Wanita itu kembali tergelak.
"Eh, kirain bumil itu, singkatan bu Mila, atau Bu Mili." Kini pria itu yang tergelak. Bersamaan itu, Davanka pulang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Nih, yang katanya mau roti bakar sama bakso." Pria itu menyimpan bungkusan di atas meja. Lalu duduk di sofa tunggal sambil melonggarkan dasinya.
"Kamu pesen, Yang?" Kavindra melihat ke arah sang istri yang masih mengerutkan keningnya.
"Nggak sih, cuma tadi ada temen yang bilang, katanya roti bakar sama kuah bakso enak, aku bikin status di wa," ucap Riri yang masih melihat bungkusan di meja.
"Ish, aneh-aneh aja sih, masa eoti bakar sama bakso sih, Yang?" Kavindra menaikkan satu alisnya.
"Nggak tahu makanya aku mau coba," jawab Riri kemudian membuka box berisi roti bakar. Lalu, ia berdiri mengambil mangkuk untuk bakso.
"Biar bibi yang ambilkan, Yang, kamu di sini aja." Kavindra menarik tangan sang istri untuk kembali duduk sesaat sebelumnya Kavindra memang sudah duduk.
Akhirnya Riri pun duduk dan menunggu mangkuk yang diambilkan asisten rumah tangga keluarga Pramudya. Tal berselang lama wanita paruh baya dengan apron yang melekat di tubuhnya itu memberikan mangkuk yang dipinta tuannya.
Riri dengan segera menuangkan bakso yang ke dalam mangkuk. Kavindra pikir sang istri akan memakan bakso terlebih dahulu kemudian, makan roti bakarnya. Namun, tanpa terduga sang istri malah menjadikan kuah bakso sebagai cocolan untuk roti bakarnya.
"Yang, ngapain kaya gitu?"
"Ih, ternyata beneran enak lho, Bang. Mau nyoba?" tawarnya yang membuat Kavindra menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Sementara itu, Davanka hanya terkekeh melihat kakak iparnya yang terlihat lahap menyantap kedua makanan yang ia beli.
Waktu terus berjalan tak terasa perut Riri sudah makin besar hari ini sudah masuk usia 9 bulan. Wanita itu terlihat sedang jalan-jalan di taman bersama sang suami pagi ini. Karena setelah hamil besar disarankan untuk sering berjalan.
Kavindra dengan siaga menjaga sang istri dan calon buah hatinya. Ngidam yang aneh-aneh sudah wanita itu lewati.Â
"Bang, kalau nanti aku lahiran tungguin ya, aku nggak mau sendirian," ucap Riri pada sang suami sambil bergelayut manja pada lengan kekar suaminya.
"Iya dong, Sayang." Kavindra mengusap kepala istrinya dengan lembut. Selama kehamilan Riri memang sangat manja pada sang suami, jadi Kavindra lebih beruntung dibanding sahabatnya Davian yang katanya dulu sang istri justru tak mau dekat-dekat dengan dirinya.
__ADS_1
Maka dari itu, Kabin sebisa mungkin untuk selalu berada dekat dengan istrinya, kecuali saat ia pergi bekerja. Matahari sudah makin tinggi, Kavindra pun mengajak sang istri untuk pulang. Tentu saja dengan berjalan, karena mereka hanya berjalan di taman dekat kediaman mereka.
Riri masih bergelayut manja di lengan suaminya, sampai seseorang menyapa keduanya.
"Riri, Kavin?"
"Mbak Kia? Ngapain di sini?" ucap Riri saat melihat manta suaminya berjalan bersama seorang pria.
Ya, dia adalah Kiandra, selama kehamilan Riri, wanita itu semakin berubah ke arah yang lebih baik, bahkan kini Riri memanggil wanita itu dengan sebutan 'Mbak'.
"Kenalin, ini tunangan aku, Frans." Kiandra memperkenalkan pria bule di sampingnya.
"Bentar lagi sah dong," sela Kavindra tanpa melepaskan sang istri.
"Iya, datang ya nanti. Perkiraan lahirannya kapan ini?" Kia bertanya sambil mengelus perut buncit Riri.
"Masih bulan depan, Mbak."Â
"Lancar sampai lahiran ya, mudah-mudahan nggak bentrok sama nikahan aku ya, biar kamu bisa datang," pungkas wanita dengan wajah mirip itu. Tak lama kemudian, Riri dan Kavindra pun pamit undur diri lebih dulu, karena cuaca makin panas dan Riri juga terlihat kelelahan.
Keduanya kini sudah berada di rumah. Kavindra duduk sebentar sebelum ia membersihkan tubuhnya. Karena tadi pagi, ia hanya cuci muka saja.
"Aku lapar, Bang. Kita makan yuk!" ajak Riri saat ia duduk di samping suaminya.
Namun, hal itu tak membuat Kavindra merasa jengah, justru ia senang melihat istrinya makan dengan lahap, tubuh istrinya juga makin berisi, apalagi perutnya yang saat ini sudah makin membesar.
Pria tampan itu pun mengambilkan makanan untuk sang istri, orang rumah sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, selama Riri berbadan dua. Keluarga Pramudya menunggu kehadiran cucu mereka sangat lama dan saat ini adalah penantian yang sebentar lagi menjadi kenyataan.
Saat, Kavindra sedang menuangkan makanan ke dalam piring, tiba-tiba teriakan sang istri membuatnya mengehentikan gerakannya dan langsung menuju sumber suara.
Terlihat sang istri memegang perutnya dan terduduk di lantai. Wajahnya tampak meringis kesakitan.
"Abang sakit!" teriaknya sambil terus memegang perutnya.
"Yang, kamu kenapa?" Kavindra menggendong tubuh istrinya dan mendudukkannya di sofa.
"Sakit, Bang."
"Pi, Mi!" teriak Kavindra saat melihat ada darah di sela-sela kakinya. Pria itu sangat panik, hingga terus berteriak memanggil kedua orangtuanya 6ang sedang berada di halaman belakang. Tak berselang lama, kedua orangtuanya terlihat berlari kecil menghampiri keduanya.
"Riri kenapa, Vin?" tanya sang mami dengan panik.
"Sediakan mobil, Dav. Kita akan ke rumah sakit sekarang," titah sang papi saat melihat anak menantunya sudah lemas.
__ADS_1
Davanka yang memang berada di rumah pun, tak menunggu lama langsung keluar untuk menyediakan mobil. Kavindra langsung menggendong sang istri, setelah Dava memberitahukan bahwa mobil mereka sudah siap.
"Sakit banget, Bang," lirih Riri sambil memeluk erat ke leher suaminya.
"Tahan, Sayang. Kamu pasti bisa, kamu kuat demi anak-anak kita.
Semua orang pergi mengantar Riri ke rumah sakit. Wanita berbadan dua itu memegang erat tangan suaminya sambil terus berteriak kesakitan.
"Sepertinya Riri akan melahirkan sekarang, Vin," ucap Mami Alifa sambil terus mengusap lengan putri menantunya itu.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, karena hari ini hari Minggu, jadi jalanan macet.
Kavindra membawa sang istri ke rumah sakit, dan langsung ditangani oleh perawat di sana. Wanita cantik itu didorong masuk menggunakan brangkar.
"Riri nggak akan kenapa-kenapa kan, Mi?" Kavindra menahan air matanya yang sejak tadi mendesak ingin keluar. Bayangan mengenai sang mama terus menari-nari di benaknya saat sang istri berteriak kesakitan.
"Riri nggak akan kenapa-kenapa, Vin. Kamu tenang saja, dokter pasti bisa menangani semuanya," ucap sang mami menenangkan putranya.
"Kavin takut, Mi." Pria itu berucap lirih.
Davanka dan Kaivan yang juga berada di sana, mencoba menenangkan sang abang. Keduanya memberi support agar abangnya tetap kuat.
Sampai akhirnya seorang wanita berkacamata dan bersneli putih menghampiri mereka.
"Maaf dengan keluarga Nyonya Arisha?" tanyanya sopan.
"Iya, saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Kavindra tak sabar.
"Bapak tenang dulu. Nyonya Arisha bilang beliau terjatuh dari sofa dan benturan cukup kuat, kami harus mengambil tindakan cepat." Dokter wanita itu menarik nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Benturan itu mengakibatkan air ketuban Nyonya Arisha pecah, hal itu bisa membahayakan sang bayi jika tak segera ditangani. Namun …." Dokter berkacamata minus itu kembali menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Namun kenapa, Dok?" Kavindra bertanya dengan panik.
"Namun, Nyonya Arisha juga mengalami infeksi. Jadi kami meminta pihak keluarga, siapa yang lebih dulu harus kami selamatkan?" lirih dokter itu.
Bersambung…
Happy Reading 😘
Part-part akhir Babang Kavin ya guys. Menurut kalian siapa yang harua diselamatkan Riri ataukah bayinya?
Makasih buat kalian semua yang selalu support aku buat terus berkarya,walaupun masih banyak banget kekurangan, tapi aku terus berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik buat kalian. Semoga kalian selalu terhibur dengan apa yang aku suguhkan.
__ADS_1