Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Foto


__ADS_3

"Saya makan siang di kantin saja bareng yang lainnya, Pak." Gadis itu beranjak dari duduknya hendak pergi meninggalkan pria yang hari ini bersikap sangat berbeda.


"Mana bisa gitu, kita kan baru saja jadian."


"Apa?" Rangga tiba-tiba memekik dari arah pintu masuk.


"Cieeeee!" Adel dan Reva malah bertepuk tangan yang membuat Riri ingin menenggelamkan tubuhnya.


Kavindra tersenyum lebar lalu dengan santai merangkul bahu Riri, yang refleks ditepis gadis itu.


"Jangan macam-macam deh, Pak," sewotnya lalu berjalan keluar kelas.


"Aduh Bu Bos, bakal traktir kita dong hari ini," goda Reva yang membuat Riri mendelik kesal.


"Jangan rusuh deh!" Adel menimpali.


"Traktirnya ke resto sebelah dong ya, jangan di kantin mulu, bosen," imbuhnya yang langsung mendapatkan toyoran di pipi kanannya dari Riri.


Sementara itu Kavindra hanya terkekeh geli.


"Ayolah, kita makan bersama!" Pria itu menarik tangan Riri dan berlalu.


"Kita nggak jadian ya, Pak Kavin. Jangan ngarang deh," gerutu Riri saat gadis berjalan mengikuti ke mana Kavin pergi.


"Kamu nggak akan nolak aku, kalau sudah melihat sesuatu yang tak akan kamu duga," bisik Kavindra dengan penuh teka-teki.


Riri mengerutkan dahinya mendengar pernyataan yang dilemparkan pria jangkung di sampingnya.


Tanpa penolakan lagi, akhirnya Kavindra benar-benar mentraktir semua karyawannya. Mereka menikmati makan siang dengan suka cita.


Sementara itu, Riri masih memikirkan apa yang akan ditunjukkan oleh Kavindra pada dirinya. "Kenapa aku nggak bisa nolak?" gumamnya sambil mengaduk makan siangnya.


Makan siang pun sukses dan saat itu juga Riri menjadi buah bibir di kantornya. Sampai akhirnya gadis itu pulang ke rumahnya, tentu saja diantar Kavindra.


Pria itu mengikuti Riri dari belakang. Sementara Riri tampak menghentakkan kakinya kesal. "Ngapain sih Pak Kavin ikutin saya mulu?"


"Kamu lupa foto yang aku kasih lihat tadi di mobil?" jawab pria itu santai.


"Kenapa Pak Kavin tega sih ngelakuin itu sama aku?" Riri membalikkan tubuhnya hingga menubruk dada bidang pria itu.


"Aku pria dewasa, mana bisa nggak 'ngapa-ngapain' saat berduaan dengan gadis cantik seperti kamu," godanya yang malah mendapat cubitan keras di lengannya.


"Keterlaluan!"


"Kenapa nggak masuk? Malah berantem di sana?" Tiba-tiba sang mama menghampiri keduanya.


"Ini lo Tante, anaknya ngegodain mulu," tukas Kavindra sambil mengusap lengannya yang terkena cubitan maut dari Riri.


"Mana ada si, Ma, aku godain dia. Nggak," omel Riri, kemudian berlalu masuk. Namun, saat gadis itu hendak masuk ke dalam, tiba-tiba dia teringat mengenai foto yang pria itu tunjukan padanya.


Lalu, ia pun kembali dan menarik tubuh Kavindra untuk ikut masuk.


"Ayo, Pak katanya tadi mau numpang ke toilet," ucap gadis itu, saat melihat tatapan heran dari sang mama.


Saat Riri menarik masuk Kavindra, gadis berbulu mata lentik itu juga berbisik, "Awas lo, Pak kalau sampai Pak Kavin memberitahu foto-foto itu ke orangtua aku."


Kavindra hanya terkekeh, lalu pria itu merangkulkan tangannya pada bahu gadis itu, yang sontak mendapat tepisan kasar dari Riri.


"Galak banget sih," ucap Kavindra.


"Makasih lo Pak, untuk hari ini," ucap Riri tiba-tiba.


"Sama-sama, Sayang."


"Udah bikin kesel seharian ini," sela Riri kemudian berlalu meninggalkan pria itu di ruang tamu.


Bersamaan itu sang mama menghampiri Kavindra yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Sudah ke toiletnya?"

__ADS_1


"Eh, baru mau Tante. Maaf ngerepotin," jawab Kavindra yang sedikit terkejut.


"Nggak kok, silahkan saja. Nanti Tante mau bicara sebentar boleh?" tanya wanita paruh baya itu.


"Boleh dong, Tante. Kavin permisi ke toilet dulu kalau gitu," ucap pria tinggi itu sopan.


Wanita paruh baya itu mengangguk, lalu pergi menuju kamar putri sulungnya. Terlihat Riri akan mengganti bajunya saat sang mama masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintunya.


"Mama, bikin kaget aja," pekik gadis itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa takut bos kamu yang datang kaya waktu itu?" goda sang mama dengan melipat kedua tangannya.


"Kita nggak ngelakuin apa-apa, Ma. Riri bersumpah," ucap gadis itu sungguh-sungguh.


"Iya, Mama percaya sama kamu, kok." Wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang sang putri.


"Bagaimana sebenarnya hubungan kamu sama Nak Kavin, Ri?"


"Maksud Mama?" Riri mengerutkan keningnya.


"Mama tahu Nak Kavin itu suka sama kamu, Ri. Mama nggak bisa dibohongi," jelas ada g mama.


"Tapi Riri nggak, Ma." Riri menjawab ragu.


"Yakin?"


"Ya, yakinlah," jawab Riri tergagap.


Tanpa mereka sadari seseorang mendengar percakapan mereka. "Saya pasti mendapatkan kamu bagaimanapun caranya Arisha," gumamnya sambil mengepalkan tangannya erat.


Kembali pada percakapan ibu dan anak di dalam kamar.


"Usia kamu sudah cukup untuk menikah, Ri. Kamu mau nunggu apa lagi?" Mama Rina berucap dengan serius.


"Riri belum siap untuk menikah, Ma. Riri mau berkarir dulu," ungkap gadis itu, lalu ikut duduk di samping sang mama setelah selesai mengganti bajunya.


"Mama pengen cepet gendong cucu," imbuhnya.


"Ish, Mama."


Setelah itu keduanya beranjak keluar. Riri pergi ke dapur untuk mengambil minum. Sementara sang mama pergi ke ruang tamu untuk menemui Kavindra.


Tampak pria itu sedang memainkan ponselnya. Bahkan terlihat tersenyum saat melihat sesuatu di layar pipih itu.


"Lagi sibuk ya?" tanya Mama Rina tiba-tiba.


Kavindra tampak gelagapan. "Eh, Tante, nggak kok."


"Tante mau tanya nih--" Wanita itu menjeda ucapannya, sambil melirik ke arah dalam.


"Kenapa Tante?"


"Bagaimana hubungan kalian, sudah ada kemajuan, kan?" tanya wanita paruh baya itu setengah berbisik.


"Maju banget malah, Tan. Hari ini kita baru saja jadi--" Tiba-tiba Riri datang dengan nampan berisi air dan cemilan, lalu menyela ucapan pria jangkung itu.


"Nggak jadi apa-apa, Ma. Kita tetap karyawan sama atasan," sela gadis itu sambil menyimpan nampan di atas meja.


Kavindra mengerutkan dahinya, lalu ia memperlihatkan ponselnya pada gadis itu dengan menarik satu ujung bibirnya. Riri sedikit panik, tapi gadis itu berusaha bersikap biasa saja.


"Papa sama Sera belum pulang, Ma?" Riri mengalihkan pembicaraan kedua orang di hadapannya.


"Papa sama Sera lagi beli apa tadi ya lupa, katanya Sera bosen diem di rumah. Kan dia baru beres ujian semester."


"Oh, nyesel telat pulang, tahu gitu bisa ikut sama papa," ucap Riri dengan nada sindiran.


"Kamu mau jalan-jalan? Ayo aku nggak sibuk kok," ajak Kavin dengan wajah sumringah.


Riri memutar bola matanya. Sang mama hanya menahan tawanya, melihat tingkah gadisnya yang judesnya astagfirullah. Riri memang tipe gadis yang susah jatuh cinta. Padahal Mama Rina yakin, kalau Kavindra itu pria baik-baik.

__ADS_1


"Ya udah kalian ngobrol dulu ya, ada yang belu kayanya." Wanita berbaju biru itu beranjak dari duduknya dan pergi ke tokonya.


Kini Riri dan Kavin duduk berdua dengan saling berhadapan. Gadis itu menatap sinis ke arah pria di depannya.


"Jangan macam-macam deh, Pak. Mau ngasih lihat foto itu ke mama. Pak Kavin mau lihat aku digantung mama sama papa?" gerutunya.


Kavindra tergelak mendapat omelan dari gadis di hadapannya.


"Apanya yang lucu?"


"Kamu."


"Ish. Menyebalkan."


"Nggak mungkin digantung palingan kita dinikahin dong," ucap pria itu tanpa beban.


"Jangan ngarang deh, Pak."


"Aku serius Arisha. Bukan karena kamu mirip mantan aku, bukan. Aku memang menyukai kamu saat pertama kali kita bertemu di hotel Agatha," papar Kavindra berubah serius.


"Tapi saya nggak suka sama Pak Kavin," ucap Riri. Namun, gadis itu juga terkejut dengan ucapannya.


"Aku akan berusaha membuat kamu jatuh cinta sama aku, Riri." Pria itu menatap teduh ke arah gadis di depannya.


"Bagiku bukan waktunya untuk main-main lagi, aku serius," imbuhnya.


Riri menunduk saat mendengar pernyataan pria di hadapannya. Bagaimana mungkin ia berhubungan dengan kakak dari mantan pacarnya. Rasanya begitu aneh. Begitu pikir Riri.


"Aku tidak akan menunjukkan foto-foto ini pada siapapun, asalkan kamu mau mencoba menerima aku. Bagaimana?" tawar Kavindra sambil menunjukkan beberapa foto intens dirinya dan Kavindra saat berada di kamar hotel waktu itu.


"Jadi Pak Kavin ngancam saya?" sindir Riri.


"Itu terserah kamu? Aku bisa saja menunjukan semua ini pada orangtuamu, dan pasti mereka akan segera menikahkan kita. Bagaimana?"


"Aaaarrgh!" Riri memekik kesal sambil mengusak rambutnya.


"Oke-oke, kita jadian tapi aku nggak mau foto itu tersebar ke manapun."


"Oke, deal!" Kavindra mengajak Riri untuk berjabat tangan. Namun, tak langsung diterima oleh gadis itu sampai akhirnya dengan pasrah, gadis itu mengucapkan kata yang sama.


"Hari pertama jadian, mau jalan?" tanya Kavindra dengan senyum penuh kemenangan.


"Aku cape hari ini," tolaknya.


"Baiklah, kalau gitu nanti kita buat rencana baru," ucap Kavindra. Pria itu kemudian meneguk minumannya dan mulai memasukan cemilan ke mulutnya.


"Pak Kavin … nggak mau pulang?"


Namun, pria itu tampak tak acuh, bahkan tak menghiraukan pertanyaan dari sang kekasih.


"Pak Kavin?"


"Ganti dong panggilannya, berasa tua banget saya," jawab Kavin.


"Saya udah biasa manggil gitu, gimana dong?"


"Sayang, beb, kasihku, papi mami," ucap Kavindra memberi pilihan.


"Ish, nggak ah geli bilangnya juga," tolak Riri sambil bergidik.


"Kalo geli kayak gini."


"Jauh-jauh!"


Bersambung….


Happy Reading 😘


Maaf ya kemarin ga up, akhir-akhir ini lg so sibuk banget akunya di RL. Jan lupa jempolnya gerakin ya.

__ADS_1


__ADS_2