Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Terjebak


__ADS_3

Malam ini Riri memilih jajan bakso di luar bersama sang adik. Kedua gadis itu ingin makan yang pedas. Kedai bakso langganannya juga tak jauh dari rumah, jadi kedua orangtuanya memberi mereka izin.


"Sepertinya Kakak mau pms deh, masa jam segini pengen yang pedes," ucap Riri pada sang adik.


"Mening pms, kalau ngidam gimana, Kak?" Dan sebuah tabokan berhasil mendarat di lengannya hingga gadis itu mengaduh.


"Amit-amit, Dek. Jangan ngomong sembarangan," gerutu Arisha kesal.


"Iya maaf, bercanda doang, Kak."


Dan saat itu, mereka sampai di kedai bakso langganan mereka. Terpasang banner besar dengan tulisan 'Bakso Mercon MP (Mas Purnomo)'. Kenapa mesti MP sih? Kan otak gue traveling.(author)


"Mas Pur, kita pesen dua porsi ya seperti biasa." Sera memanggil pemiliknya sambil menyebutkan pesanannya, lalu keduanya duduk di meja yang hanya tersisa satu, karena yang lainnya sudah penuh.


"Ini malam Minggu apa malam Sabtu sih, Kak?" Sera yang menarik kursi untuk didudukinya itu bertanya.


"Kenapa?"


"Rame bener tumben?"


"Ye, bakso MP mah, sepinya kalau tutup lupa ya?" jawab Riri sambil mengingatkan sang adik.


"Iya gitu? Kok, aku lupa," ucap Sera sambil memegang keningnya, yang malah mendapat toyoran di pipinya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang kakak.


"Makanya pacaran, biar tahu malam Minggu," omel Riri.


Sera malah tertawa lepas mendengar gerutuan sang adik. "Kaya pernah diapelin aja, paling sering juga Bang Agam doang, kan?"


Sekarang tendangan di kakinya sukses membuat Sera berteriak sakit.


"Sakit ih, Kak."


Keesokan harinya


Riri sudah sibuk dengan cuciannya. Gadis itu kini sedang menjemur semua pakaiannya. Sekitar tiga puluh menit, ia merapikan pakaian basahnya di jemuran. Setelah selesai, gadis itu menyimpan ember di tempatnya lalu duduk di teras depan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.


"Dek, tolong bikinin es jeruk!" teriaknya pada sang adik yang sibuk membantu sang mama.


"Iya sebentar, Kak." Sera menjawab dengan teriak juga.


Riri pun menyandarkan tubuhnya di pilar teras. Cuaca hari ini memang cerah dan panas juga. Jadi gadis itu mencuci semua pakaian kotornya. Baru saja ia memejamkan matanya, tiba-tiba Sera datang sambil membawa es jeruk pesanannya, juga ponselnya.


"Nih es jeruknya, Kak. Sama hapenya berisik mulu dari tadi," cerocos Sera menyodorkan kedua benda di tangannya.


"Palingan 'Geng Bule'," jawab Riri santai.


"Apa? Kakak punya grup wa sama bule juga, kenalin ke Sera satu dong," rajuk gadis itu manja.


Namun, Riri malah tergelak. "Bule gosong mau? Yang kulitnya putih tua." Riri kembali tertawa lepas. Membuat Sera mengerutkan dahinya. "Kok gitu?"


"Mana ada bule, mereka semua temen-temen Kakak di kantor, dan asli Indonesia," jelas Riri.


"Dih ngapain namanya gitu?"


"Nggak tahu." Riri mengangkat bahunya. Keduanya pun larut dalam perbincangan ringan. Sampai akhirnya sang mama memanggil keduanya untuk makan siang.


"Aku mandi dulu, Ma. Kalian duluan saja," ucap Riri saat gadis itu masuk ke rumah. Hanya anggukan yang didapatkan gadis itu sebagai jawaban.

__ADS_1


Selang beberapa saat, Riri sudah cantik dengan pakaian casualnya. Kemudian, gadis itu menghampiri keluarganya di ruang makan. Ternyata sudah tidak ada siapa-siapa. Akhirnya, gadis dengan rambut dicepol itu pun memulai makan siangnya sendirian.


Baru saja ia menyendokkan nasi ke piringnya, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Riri pun mengangkat teleponnya.


"Iya, kamu ke sini aja, Del," jawab gadis itu langsung.


Karena dirinya sudah diberitahu Adel mengenai kedatangannya ke rumah Riri. Gadis itu pun makan siang sendirian.


***


Sementara itu di apartemen Raka.


Kavindra yang akhirnya menginap di apartemen Raka, masih bergelung dalam selimutnya. Pria itu semalaman terus mendesak Raka siapa yang menjadi pacar Arisha. Kavindra berharap semoga kekasih Arisha bukanlah orang yang ia kenal. Namun, fakta berkata lain untuk kedua kalinya, ia harus menahan gejolak di hatinya setelah tahu siapa kekasih pujaan hatinya.


"Lo yang bener dong, Ka? Masa gue saingan sama adek gue sendiri?" gerutu Kavindra malam itu saat Raka menyebut nama Davanka sebagai kekasih Arisha.


"Menurut gue sih, Arisha meningan sama lo, Vin. Kenapa? Karena adek lo tetap memiliki kekasih lain di belakang Arisha," papar Raka yang mengetahui semua tentang Davanka lebih dari Kavindra kakaknya sendiri.


"Mana mungkin sih, Dava sebuaya itu, Kak?" Kavindra tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Lo-nya aja si, yang selalu menutup mata, buktinya tunangan lo sendiri bisa dia embat, apalagi Arisha yang hanya sebagai kekasih. Dan gue harap sih, dia belum diapa-apain sama adek lo." Raka menekankan kalimat terakhirnya.


Kavindra mencerna semua ucapan dari sahabatnya. Dia merasa tak rela jika gadis yang selalu jutek padanya itu, diapa-apain sama adeknya sendiri. "Nggak!"


"Bangun woi!" Tiba-tiba Raka melempar bantal ke arah Kavindra yang berteriak histeris.


"Jam berapa ini?" Suara parau khas bangun tidur terdengar dari mulut Kavindra. Pria itu mendudukkan tubuhnya dan bersandarkan pada kepala ranjang sambil mengucek matanya yang terasa perih.


"Udah mau jam satu," jawab Raka santai.


"Apa?" Kavindra memekik kaget, lalu melompat dari tempat tidur.


"Siyalan, gue masih normal. Najis amat gue mau ama lo," omel Raka sambil kembali melempar bantal ke arah Kavindra dengan lebih keras, kemudian berlalu.


Kavindra tak menggubris omelan sahabatnya itu, lalu ia pun ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar lima belas menit pria itu sudah rapi dengan celana jins hitam dan sweater putihnya. Kavindra memang menyimpan beberapa pakaiannya di sini.


"Gue ada janji, gue harus pergi sekarang." Kavindra berucap pada sahabatnya yang sibuk dengan ponselnya.


"Udah sana!" Raka menjawab dengan nada mengusir.


Kavindra berdecak sebal, lalu berlalu meninggalkan sahabatnya.


Kavindra sudah berada dalam mobilnya, ia menuju resto Almahera yang sudah ia sepakati bersama Adel. Rencana untuk mempersunting gadis itu makin kuat, setelah apa yang dilakukan Davanka pada dirinya.


Ponselnya berdering nyaring saat, pria itu hampir sampai ke tempat tujuan. Kavindra pun memasang earphone dan mengangkat panggilan teleponnya.


"Iya, Del."


"…"


"Baiklah, saya tunggu di resto Almahera yang sudah saya bilang kemarin," jawab Kavindra.


Kemudian panggilan pun berakhir. Kavindra membelokkan mobilnya menuju resto Almahera yang hanya tinggal beberapa meter.


"Adel memang bisa diandalkan, dia berhasil mengajak Arisha keluar," gumamnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, pria tinggi itu pun, masuk ke resto tersebut dan memilih meja di lantai atas untuk mendapatkan privat room. Pemilik resto ini adalah istri dari salah satu sahabatnya saat di luar negeri, Davian Bratasukma.

__ADS_1


Setelah memilih menu untuk makan siangnya. Pria itu pun, hanya memainkan ponselnya. Sampai sekitar lima belas menit, terdengar dua orang gadis yang tampak berdebat.


"Kamu mau ngapain sih, Del? Aku kan udah bilang, kalau aku udah makan tadi."


"Ya udah sih, badan kamu tuh walau pun makan banyak nggak bakalan gendut juga, Ri."


Kavindra mendekat ke arah sumber suara, lalu membuka pintu ruangannya. Tampak gadis yang ia tunggu sudah ada di sana dan sepertinya masih belum menyadari tentang keberadaannya. Kavindra pun keluar dan menyapa keduanya.


"Akhirnya kalian datang," sapanya ramah seperti biasa.


"Eh, Pak Kavin? Ngapain di sini?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Riri, sampai gadis itu menutup mulutnya sendiri.


Kavindra terkekeh geli dengan sikap gadis di hadapannya. "Saya yang ngajak kalian berdua ke sini," jawabnya sambil mengajak keduanya masuk ke dalam.


Riri dan Adel duduk di hadapan Kavindra. Keduanya masih terdiam, sementara Kavindra tersenyum sambil melihat keduanya.


"Maaf, Pak. Apa harus ada yang saya kerjakan mendesak sampai hari libur pun saya harus datang?" Riri yang memulai percakapan diantara mereka.


Namun, pria itu menggelengkan kepalanya cepat.


"Lalu?"


"Temani saya makan siang. Saya udah kelaperan nunggu kalian dari tadi," jawabnya enteng yang membuat Arisha mengerutkan dahinya dan menyikut lengan Adel.


Adel hanya terkekeh, lalu memilih makanan di buku menu, tanpa menghiraukan Riri yang tampak kesal.


"Udah pilih aja sih, Ri. Susah lo dapat traktiran bos," bisik Adel yang membuat Riri memutar bola matanya jengah.


Akhirnya, Riri pun memilih minuman saja, karena dia memang sudah makan siang tadi di rumah. Kavindra mengajak keduanya berbincang tentang apa saja. Sampai tiba-tiba Adel permisi ke toilet. Bersamaan itu makanan dan minuman mereka pun tiba.


Kini mereka tinggal berdua. Kavindra mulai menikmati makanan yang tersedia di meja.


"Kamu benar-benar tidak mau memesan makanan?"


"Tidak usah, Pak. Saya sudah makan tadi sebelum ke sini." Arisha menjawab seadanya. Sebenarnya hari ini, ia sudah janjian pergi bersama Davanka. Namun, pria itu tadi membatalkan acara mereka, karena pria itu ada urusan mendadak.


"Permisi ke toilet dulu ya, Pak." Gadis itu beranjak dari duduknya.


Namun, saat gadis itu hendak membuka pintunya, benda itu terkunci dan sulit terbuka.


"Pak Kavin, kok susah dibuka?" Riri mencoba menekan handle pintu terus-menerus, tapi benda itu tetap tak bisa terbuka.


"Kok bisa?" Kavindra menghampiri gadis yang tampak panik itu. Kemudian mencoba membuka pintunya, tapu tetap saja tak bisa terbuka.


"Ini rencana Pak Kavin ya?" selidik Riri dengan tatapan curiga.


"Bukan." Kavindra menggelengkan kepalanya.


"Saya nggak mau ya terjebak kedua kalinya bersama Bapak." Riri menekankan kalimatnya.


"Saya justru suka."


Bersambung...


Happy Reading 😘


Ada yang masih ingat kah dengan Resto Almahera dan Davian Bratasukma?

__ADS_1


Duh babang Kavin kejebak lagi sama Riri, kira-kira mau ngapain ya?


Kuy tekan lovenya biar nggak ketinggalan notif updatenya! Pake jempol aja kok ya wkwkw.


__ADS_2