
Riri membantu Mami Alifa menyiapkan makan malam ke meja makan. Gadis itu begitu terampil, karena ia juga terbiasa melakukannya di rumah.
"Kamu terbiasa melakukan semuanya pekerjaan ini di rumah ya?" tanya wanita paruh baya itu takjub. Dia yakin kalau Arisha bukanlah Kiandra. Kiandra tipe gadis manja, selama menjadi kekasih Kavindra, gadis itu belum pernah sekalipun masuk ke dapur.
"Saya biasa bantuin mama di rumah, Tante." Riri menjawab tanpa menghentikan kegiatannya.
Mama Alifa, kemudian menghampiri gadis itu dan ikut menata piring di meja makan. Namun, saat keduanya baru selesai menata semuanya dan tinggal menunggu waktu untuk makan malam yang hanya sebentar lagi. Pintu di depan terdengar dibuka dengan keras.
Riri sempat tersentak, tapi gadis itu bersikap biasa saat tahu siapa pelakunya. Tampak Davanka menuju ke arahnya dengan tergesa. Pria itu seperti hendak menerkamnya. Namun, hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai di hadapan Arisha. Kavindra tiba-tiba menghadangnya. Pria itu, tahu maksudnya sang adik.
"Kok, sudah balik lagi, nggak pacaran dulu?" tanyanya bersikap biasa saja, sambil menggandeng bahu adik laki-lakinya itu.
"Aku abis ngurusin kerjaan, Bang," kilahnya.
"Jangan kerja melulu, nyari pasangan juga, Dav. Yang baik dan jangan istri orang," sindirnya sambil tergelak.
"Ish, Bang." Davanka merasa kalau sang abang sudah mengetahui tentang dirinya dan Kiandra.
Kini keduanya duduk di sofa. Setelah itu datang Ganendra dan Kaivan. Mereka berempat berbincang ringan mengenai pacar sang abang yang sangat mirip dengan mantannya, tapi memiliki sifat dan sikap yang jauh berbeda.
"Bang Kavin, belum bisa move on ya dari Kak Kia?" tanya Kaivan tiba-tiba yang sontak membuat Kavindra terbatuk.
"Kok, mikirnya gitu, Dek?" tanya Kavindra heran.
"Abisan mirip banget sama Kak Kia, beda model baju aja kayanya sih. Kak Kia sedikit seksi, kalau Kak Riri tertutup dan sopan," ucap Kaivan tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang sedang ia bicarakan.
"Bukan gagal move on, tapi gadis ini berbeda. Kamu juga pasti suka kalau sudah kenal dia, iya kan, Dav?" Hari ini Kavindra terus-menerus menyudutkan Davanka, tapi terselubung dengan nada dia yang tampak biasa, lebih ke bercanda seperti biasa.
"Janganlah, kasian anak orang, masa direbutin anak Papi semua, nanti dia bingung milih siapa?" kekeh Ganendra yang sedari tadi menyimak obrolan ketiga putranya.
Tak berselang lama Riri menghampiri mereka memberitahu bahwa makan malam telah siap. Ganendra pun mengajak semua putranya untuk makan malam. Kavindra beranjak lebih dulu dan menghampiri Riri yang terlihat sedikit canggung.
"Tenang mereka semua baik, nggak bakal gigit," bisiknya yang sontak mendapat sikutan di perutnya dari gadis cantik itu.
"Aaw!"
Riri duduk di samping Kavindra dan berhadapan langsung dengan Davanka. Pria itu selalu mencuri pandang ke arah gadis di depannya, yang entah kenapa malah terlihat tambah cantik.
"Selamat menikmati makan malam ya, Risha," ucap sang mami dengan senyum manisnya.
"Riri saja, Tante." Gadis itu memberitahu nama panggilannya.
"Makasih, Tante," imbuhnya sopan.
Mereka pun menikmati makan malam dengan penuh kehangatan. Apalagi sesekali sang papi bertanya mengenai keluarga gadis itu. Riri dengan sopan menjawab apa adanya tentang keluarganya.
Davanka makin tertarik dengan gadis di depannya dan penyesalannya makin bertambah besar.
Dengan sengaja pria itu menendang halus kaki Riri, hingga gadis itu menatap nyalang ke arahnya. Pria itu menarik satu ujung bibirnya.
__ADS_1
"Mau tambah lagi nggak?" tanya Kavin tiba-tiba saat melihat gadis dengan rambut diikat itu menyelesaikan suapan terakhirnya. Namun, Riri segera menggelengkan kepalanya.
Setelah semuanya selesai, Riri beranjak untuk membereskan meja makan dan piring bekas makan. Namun, Kavindra menahannya. Mami Alifa juga melarangnya.
"Tidak usah, Ri. Ada bibi kok, yang beresin." Wanita paruh baya itu mengajak Riri menuju ruang keluarga.
"Kamu nginep di sini aja ya, biar Tante ada temen ngobrol," ajak wanita paruh baya itu.
"Aduh, Tante nanti saya dimarahin mama sama papa dong," jawab Riri dengan ramah. "Apalagi di sini ada dua makhluk menyeramkan, iih," gumam Riri dalam hatinya sambil bergidik ngeri.
Mereka pun berbincang sebentar di ruang keluarga. Tiba-tiba Riri ijin ke toilet.
"Tante, saya permisi mau ke toilet," bisik gadis itu pada wanita paruh baya di sampingnya.
"Boleh dong, Sayang. Kamu tinggal lurus saja dari sini, lalu belok kanan," jawab Mami Alifa. Lalu Riri pun beranjak dari duduknya dan berjalan seperti yang diarahkan oleh Alifa.
Tak berapa lama Davanka juga ikut beranjak dari duduknya. Kavindra menatap curiga ke arah sang adik.
"Mau ke mana, Dav?"
"Ngambil minum, Bang. Haus, Abang mau diambilin juga?" jawab Dava dengan tenang.
"Nggak usah."
Dava pun berlalu dari ruang keluarga, menuju dapur. Pria itu, sebenarnya hanya ingin menemui Riri yang saat ini sendirian. Dengan langkah lebar, pria itu menuju toilet untuk menemui mantan kekasihnya.
Davanka, baru saja sampai di depan pintu toilet yang tiba-tiba terbuka. Tampak Riri keluar dengan merapikan blazernya. Dengan paksa, Dava menarik tangan gadis itu dan menyeretnya ke sebuah ruangan di sebelah toilet.
"Kamu sengaja mau balas dendam ke aku, Sha? Dengan pacaran sama Bang Kavin?" desak pria itu dengan mengurung tubuh mungil Riri dengan kedua tangannya.
"Maksud kamu apa?" Riri merasa kalau pria di depannya akan berbuat tidak baik padanya.
"Jangan so polos deh, Sha. Apa dia udah apa-apain kamu?" ejeknya dengan senyum miring.
Riri refleks mengangkat tangan kanannya, dan menampar pria kurang ajar di depannya.
"Jaga ucapan kamu, Davanka. Bukannya kamu yang mengkhianati hubungan kita?" geram Riri dengan nafas memburu.
Namun, tanpa diduga Riri, Dava menekan tubuhnya kuat dan hendak mencumbu bibir mungil Riri dengan paksa. Dengan sekuat tenaga Riri mendorong tubuh pria itu.
"Aku akan teriak, jika kamu melakukan ini sama aku, Dava brengs*k!" ancamnya, tapi sepertinya pria di depannya tak peduli. Dava terus berusaha mencondongkan wajahnya le wajah Riri.
"Silakan berteriak, dan semua orang akan tahu tentang hubungan kita sebelumnya," ucap pria itu dengan senyum miringnya.
Riri sudah terdesak, dan Dava hampir berhasil mencium bibir gadis itu untuk kedua kalinya. Namun, tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar. Tampak pria jangkung sedang mengepalkan tangannya.
"Bang Kavin."
"Pak Kavin." Riri mengambil kesempatan itu, dengan mendorong tubuh Davanka, lalu berlari ke belakang tubuh Kavindra. Dengan memegang erat baju pria itu, Riri menyembunyikan tubuhnya.
__ADS_1
"Bang, dia yang godain Dava," elak pria itu salah tingkah.
"Ng-nggak Pak Kavin, bukan aku," bantah Riri dengan menatap ke arah pria jangkung di depannya. "Dia--"
Kavindra menarik tangan Riri dan menggenggamnya erat.
"Cukup dulu, kamu merebut Kia dari aku, Dava. Sekarang aku tak akan membiarkannya," tegas Kavindra datar.
Davanka mematung mendengar ucapan sang abang. "Abang sudah …." Davanka tak melanjutkan ucapannya saat Kavindra tiba-tiba membeberkan fakta baru lagi.
"Abang tahu kalau kamu juga mantan Riri. Tapi sayang sekali, kamu malah memilih perempuan lain yang belum tentu sebaik Riri. Makasih sudah membiarkan aku memilikinya." Kavindra menarik tubuh gadisnya dan pergi meninggalkan Dava yang kini berlutut di lantai.
Kavindra masih terlihat marah, dengan kejadian barusan. Sehingga membuat Riri merasa sedikit takut.
"Pak Kav--"
"Panggil aku Kavin, atau nggak Bang Kavin, Riri." Kavindra memotong ucapan Riri cepat.
"Bang Kavin, aku mau pulang," lirih Riri dengan tetap menunduk.
"Baiklah ayo kita pulang," ajak Kavindra lembut. Sepertinya emosinya sudah kembali stabil.
Riri pun pamit pada kedua orang tua Kavin. Gadis itu mencium punggung tangan pria dan wanita paruh baya itu bergantian.
"Terima kasih Om, Tante untuk makan malamnya," ucap Riri.
"Sama-sama, sering-seringlah main ke sini ya, temenin Mami," ucap Mami Alifa.
Riri dan Kavin pun masuk mobil. Pria itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sunyi masih menemani keduanya. Riri dan Kavindra sepertinya bingung harus berbicara apa.
Apalagi Riri juga masih terkejut tentang Kavindra yang mengetahui hubungan dirinya dengan Davanka, sang adik.
"Pak, eh Bang Kavin masih marah kah? Karena kejadian tadi?" Riri mencoba memecah keheningan.
Kavindra menggelengkan kepalanya, lalu mengangkat tangan kirinya dan mengusap lembut pipi Riri yang terlihat pucat.
"Aku nggak marah, justru aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu baik-baik saja, kan?"
Riri mengangguk mengiyakan.
"Apa Dava pernah melakukan ini." Kavindra tiba-tiba mengecup bibir Riri yang terasa dingin itu sekilas, saat lampu lalu lintas berubah merah.
Gadis itu mengerjap kaget, saat benda basah itu menyentuh bibirnya. Namun, saat tak ada penolakan dari Riri, Kavindra mengulang kegiatannya dan mulai memainkan benda kenyal itu.
Sampai akhirnya suara klakson di belakangnya saling bersahutan.
"Ish, iya-iya."
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading
Maaf ya sepertinya untuk saat ini aku belum bisa up tiap hari, karena kesibukan di RL. Jan ngambek ya tungguin terus cerita babang Kavin-nya ya. Makasih semuaaaa.