
"Ini, kok susah banget dibuka, tumben." Riri berucap tanpa menoleh ke arah prianya. Sampai akhirnya ia sadar saat wajahnya berbalik dan langsung bertabrakan dengan wajah prianya. Gadis itu mengerjap kaget saat bibirnya tepat menyentuh pipi Kavindra.
Kavindra tersenyum, lalu berbalik dan menyambar bibir mungil gadis itu dengan lembut. Namun, pukulan di dadanya membuat ia melepaskan pagutannya.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Nyari-nyari kesempatan banget sih, Bang," omel gadis itu sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kamu yang mulai, kan?" bantah pria itu dengan posisi yang sama.
"Nggak."
"Iya."
"Permisi, Pak? Kalian sedang apa?" Tiba-tiba seorang security menghampiri mobil mereka.
Dengan curiga pria tinggi besar itu memperhatikan Kavindra.
"Nggak apa-apa, Pak. Ini lo, sabuk pengaman istri saya nyangkut," jawab Kavindra sambil membuka sabuk pengaman Riri.
"Oh, istrinya toh. Maaf kalau gitu. Soalnya dua hari lalu ada yang berbuat tak senonoh di parkiran ini. Maaf sekali lagi," pungkas pria berkumis itu lalu pamit undur diri.
"Ish, kalau aku bilang kamu bukan suami aku, pasti kamu dibawa tuh sama security tadi, Bang." Riri turun dari mobil dan berdiri di samping Kavindra.
"Ya sama kamu juga dong," kilah Kavindra. Setelah itu menarik tangan gadisnya menuju sebuah toko perhiasan. Kavindra berniat membeli cincin untuk acara lamaran besok.
"Kamu pilih apa yang kamu suka, Yang." Kavindra menunjuk pada etalase yang berisi berbagai macam perhiasan.
"Maksudnya?" Riri masih merasa bingung dengan maksud prianya.26)-
"Kan aku sudah bilang besok mau melamar kamu, jadi sekarang pilih cincin yang kamu suka dan perhiasan lainnya juga," jelas pria tinggi itu gemas.
"Ayo sekarang kamu pilih, yang kamu suka yang cocok sama kamu, ok!" Pria itu kemudian duduk di sofa yang tersedia di sana, lalu mengeluarkan ponselnya.
Riri mencoba mencari cincin yang cocok untuk dirinya. Gadis itu terlihat kebingungan sampai akhirnya Kavindra kembali menghampirinya. "Kenapa?"
"Aku bingung, soalnya biasanya mama yang pilihin perhiasan buat aku," jawab gadis itu polos. Kavindra pun mengangguk, lalu pria itu mulai memilih beberapa model cincin yang cocok untuk gadisnya.
"Coba mana tangannya sini!" titah pria itu, lalu mulai memasangkan benda itu di jari manis Riri. Kavindra membolak-balik tangan gadis itu, sambil memperhatikan cincin yang tersemat di jari manis gadisnya.
"Harus banget ya, Bang tangannya dibolak-balik?"
Kavindra tergelak. "Nggak juga sih. Coba yang ini." Pria itu membuka cincin tadi dan mengambil model lain yang sudah ia pilih tadi. Sementara pelayan di toko itu, hanya menahan tawanya saat melihat adegan pasangan di depannya yang terlihat lucu.
Sampai akhirnya pilihan jatuh pada cincin dengan bentuk unik tapi elegan. "Ini saja ya, cantik banget di jari kamu," ucap Kavindra sambil terus memperhatikan jari manis Riri.
__ADS_1
Setelah itu, Kavindra memberikan cincin itu pada pelayan tadi. Ia juga memilih perhiasan lain tanpa Riri ketahui. Karena gadis itu, sedang menerima panggilan telepon di luar.
"Bungkus semua ya, Mbak," ujar Kavindra lalu memberikan kartu untuk membayar semuanya.
Bersamaan itu, sang kekasih kembali masuk.
"Bang, nanti antar aku beli sesuatu dulu ya, pesanan mama," ucap gadis itu.
"Oke, ayolah! Udah selesai juga," jawabnya sambil membawa paper bag kecil di tangannya.
Riri pun mengangguk, lalu kembali berbalik menuju keluar. Namun, dengan cepat Kavindra menarik bahu gadisnya, dan mengaitkan satu lengannya di sana.
"Ih, Bang engap tahu," omelnya sambil berusaha melepaskan lengan kekasihnya. Namun, pria itu tak menggubris, dia malah menyeret tubuh mungil kekasihnya menuju keluar.
Kini keduanya sudah berada di mobil, Riri duduk di samping kemudi dan mengaitkan sabuk pengamannya, dan kembali membukanya, lalu mengaitkannya lagi. Hal itu tak luput dari perhatian pria di sampingnya.
"Kenapa?"
"Takut macet lagi, tapi sekarang nggak," jawab gadis itu tanpa menoleh ke arah Kavindra.
"Nanti pas kita nyampe macet lagi, biar aku bisa ngulang yang tadi," gelak Kavindra yang sontak mendapat pukulan di lengannya yang cukup keras, hingga pria itu mengaduh. Lalu mereka pun berlalu dari sana.
Sebelum mengantar pulang gadisnya, Kavindra mengantar Riri dulu ke sebuah supermarket untuk membeli pesanan sang mama.
Sekitar tiga puluh menit mereka di supermarket, dan kini sudah berada di dalam mobil kembali dengan kantong belanjaan besar.
"Udah itu aja sih, Bang. Mama kan biasa belanja di pasar, cuma barang-barang ini aja yang nggak ada," jawab gadis itu.
"Kamu suka belanja ke pasar juga?" Kavindra mulai melajukan mobilnya.
"Iya suka sih, kalau aku libur kerja, kan aku yang belanja ke pasar."
"Diantar Agam?"
"Iyalah, siapa lagi dia kan emang langganan mama."
Kavindra menekuk wajahnya. "Kalau nanti ke pasar lagi telepon aku aja, jangan sama dia."
"Emang bisa bawa barang yang seabreg itu pakai motor?" Riri tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kamu ngeremehin aku?"
"Ya, bukan gitu juga. Kamu kan nggak biasa," jelas Riri, heran mendengar pernyataan dari prianya.
"Pokoknya mulai saat ini kalau belanja sama aku." Kavindra langsung melajukan mobilnya dan tak mau mendengar bantahan lagi. Riri pun akhirnya diam dan tak mau menanggapi apa yang diucapkan pria di sampingnya.
__ADS_1
Hanya deru mobil yang mendominasi mereka, tak ada yang mau memulai percakapan. Sampai akhirnya mereka sampai di halaman rumah Riri. Gadis itu bergegas keluar, tapi Kavindra seperti biasa tetap mencegahnya, walau ia tak mengucapkan apa-apa.
Setelah pria jangkung itu membuka pintu untuk gadisnya, ia juga membawakan belanjaan sang gadis. Riri pun berjalan lebih dulu, ia bingung harus bagaimana saat melihat sikap sang kekasih yang tak seperti biasanya.
Mereka berdua masuk setelah mengucapkan salam. Riri langsung menuju kamarnya, sementara Kavindra memberikan barang belanjaannya pada sang mama dan menyimpannya.
"Makasih ya, Nak Kavin. Mau direpotin sama Tante."
"Nggak ngerepotin kok."
"Kalian sudah makan belum? Mama udah masak," tawar wanita paruh baya itu.
"Sudah kok, Tante. Oya Kavin mau ngabarin kalau besok orangtua Kavin mau ke sini, mau melamar Riri." Kavindra langsung memberitahu niatnya.
"Benarkah? Aduh mana papanya Riri belum pulang lagi. Katanya di barber shopnya lagi rame." Wanita paruh baya itu menjadi salah tingkah.
"Tante tenang saja, Kavin sudah nyiapin semuanya, kok. Mungkin yang datang keluarga inti Kavin saja." Pria itu menenangkan wanita di depannya.
"Kenapa dadakan banget sih, kan kalau bilang daei kemarin-kemarin, bisa disiapkan semuanya," sesal Mama Rina.
Tak berselang lama, Riri menghampiri keduanya dan menatap heran ke arah sang mama yang terlihat panik.
"Ma, diapain sama Bang Kavin?" tanyanya yang malah mendapat jeweran dari wanita dewasa itu.
"Aduh! Sakit, Ma," gerutunya. Riri meringis dan bingung apa kesalahannya?
"Kenapa nggak bilang kalau Nak Kavin mau melamar besok? Kita kan harua nyiapin semuanya," paparnya.
"Ish, Riri nggak tahu, Ma."
"Iya, Tante. Riri juga saya kasih tahu tadi siang."
"Ngasih tahu apa sih, Ma?" Tiba-tiba suara bariton dari pria paruh baya terdengar dari belakang Kavindra.
"Pa, anak kita mau dilamar besok," ucap sang mama antusias.
"Apa?"
"Pa, Pa sadar!"
Bersambung…
Happy Reading 😘
Maaf ya upnya masih telat-telat, akunya masih sibuk RL.
__ADS_1
Jan lupa gerakin jempolnya ya! Bentar lagi Babang Kavin mau lamar Riri. Doain biar nggak ditolak kaya Agam. Eeeaaa.