Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Hari Baru


__ADS_3

Setelah seharian ditinggal mertuanya. Kavindra makin gencar menggoda istrinya. Walau sang istri lebih sering mengomel dibanding menanggapi.


Tak terasa sudah satu minggu mereka menikah, dan besok mereka akan pulang ke rumah Kavindra, lebih tepatnya ke kediaman pramudya.


"Kamu bisa diem nggak sih, Bang?" gerutu Riri saat dirinya sedang memasak untuk makan malam.


Kavindra hanya terkekeh sambil tak melepas pelukannya dari tubuh sang istri.


"Gimana besok kita jadi pulang ke rumah aku, ya?" ucap pria tampan itu yang tak pernah lepas melabuhkan dagunya dari bahu sang istri.


"Iya, kan tadi barang-barang juga udah diberesin," jawab Riri sambil terus melakukan aktifitasnya. Walaupun sebenarnya ia sangat kesal dengan tingkah suaminya yang tak mau melepaskannya.


"Bang?"


"Iya, Sayang?"


"Bisa lepasin dulu nggak sih, aku tuh berat ini." Gadis itu sedikit mengomel sambil melepaskan lengan suaminya dari perut ratanya.


"Aku masih kangen, Yang." Kavindra kembali melingkarkan lengannya di perut rata sang istri.


"Ini aku lagi masak, kalau kecipratan minyak mau?" Dengan gemas Riri mencubit lengan suaminya keras, hingga pria itu mengaduh.


"Bantuin ambil piring ini ke meja makan," lanjutnya. Gadis itu menenteng dua piring lainnya yang berisi makanan untuk makan malam hari ini.


Kavindra dengan sigap membantu sang istri setelah dari tadi mengganggunya. Sera pulang menjelang magrib, jadi saat ini gadis itu masih di kamarnya, setelah membersihkan diri. Sementara sang mertua berada di ruang depan.


"Ma, Pa, Dek, makan malamnya udah siap nih!" panggil Riri sambil menata piring di meja makan, sementara Kavin membantu menuangkan air pada gelas.


Tak ada yang menyahut satu orang pun, sehingga Riri pun beranjak menghampiri keluarganya. Gadis dengan rambut dicepol itu mengetuk pintu sang adik, dan ternyata Sera sedang mengganti baju. Setelah itu, ia menghampiri kedua orangtuanya yang berada ruang depan.


Mereka tampak serius berbincang. Namun, Riri juga tak mendengar percakapan keduanya, ia langsung mengajak kedua orangtuanya untuk makan malam bersama.


Mereka kini sedang menikmati makan malam bersama. Terkadang terdengar gelak tawa dari mereka. Namun, kini suasana jadi hening hanya denting sendok dan piring saja yang saling beradu. Setelah selesai, seperti biasa Riri dan Sera membereskan semua bekas makan.


Kedua adik kakak itu sedang mencuci piring bekas makan. Sera yang mencuci, sementara Riri menyimpan ke rak piring.


"Kak, besok mau pindah ke rumah mertua ya? Sera kesepian dong di sini," ungkap gadis yang terus melakukan kegiatannya.


"Iya, Dek. Tenang aja Kakak bakal sering ke main ke sini." Riri mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.


"Sebenarnya, Kakak juga agak risih kalau harus tinggal di sana, bukan apa-apa masa serumah sama mangtan," bisik Riri pada sang adik sambil sesekali melihat ke sekeliling takut sang suami tiba-tiba datang.


Sera malah tergelak mendengar bisikan sang kakak. "Lagian, kok bisa sih nikah sama kakak dari mangtan."


"Ish, aku juga asalnya nggak tahu dia itu siapa, yang jelas bos aku," bantah sang kakak.


"Yang penting jangan baper aja deh, Kak. Kalau nanti tiba-tiba papasan sama tuh mangtan," usul Sera.

__ADS_1


"Baper gimana sih? Aku tuh kesel sama dia, tapi udahlah ya masa lalu juga," jawab Riri.


"Beruntung suami aku sekarang lebih segalanya dari dia," imbuhnya.


Keesokan paginya


Riri dan Kavin sudah siap berangkat ke kediaman Pramudya. Saat ini keduanya sudah berada di ruang tamu, sementara koper mereka sudah dimasukan ke dalam bagasi mobil oleh Kavindra.


"Riri pamit ya Ma, Pa, Dek. Riri pasti bakal sering main ke sini." Gadis berambut panjang itu memeluk tubuh sang mama dengan erat.


"Kami sudah bersuami, mulai sekarang kamu taat dan patuhi apa kata suami," nasihat sang mama sambil mengelus rambut sang putri.


"Jaga diri kalian baik-baik, terutama kamu ya Nak," timpal sang papa pada putri sulungnya.


Setelah pamit pada kedua orangtuanya dan adik satu-satunya. Kini Riri dan Kavin sudah berada dalam mobil mereka. Pria tampan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Riri sibuk dengan ponselnya, sementara sang suami fokus menyetir. Suasana jalanan agak macet hari ini. Kavin selalu menggoda sang istri jika mobil sedang berhenti.


Sementara Riri, tampak kesal dengan tingkah suaminya yang tak tahu tempat.


"Abang, ih ini di jalan," gerutunya.


"Emang kenapa kalau di jalan?" balas Kavin yang membuat sang istri berdecak kesal.


Ingin rasanya Riri memiliki pintu ke mana saja milik doraemon, agar ia cepat sampai dan tak diganggu suaminya.


Kavin membukakan pintu untuk sang istri. Setelah itu keduanya berjalan menghampiri sang mami yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Selamat datang di keluarga Pramudya, Sayang." Wanita paruh baya itu memeluk erat tubuh sang menantu.


"Kalian pasti lelah, ayo masuk!" ajaknya tanpa melepaskan pelukannya pada sang menantu.


Kavin berjalan di belakang kedua wanita kesayangannya. "Papi sama yang lain ke mana, Mi?" Saat pertanyaan itu meluncur dari bibirnya, tiba-tiba saja Kaivan meniup terompet tepat di samping Kavindra, hingga pria itu memekik kaget.


Ternyata sang papi, juga Dava ada di sana. Mereka semua menyambut kedatangan pengantin baru. Suasana bahagia terpancar dari keluarga Pramudya.


"Akhirnya Abang bukan perjaka lagi," celetuk Kaivan yang sontak mendapat tendangan dari Dava sang abang.


"Ish, sakitlah, Bang."


"Ngomong tuh dijaga." Dava menjepit bibir sang adik dengan jarinya.


Sementara itu, Riri dan Mami Alifa sudah duduk di sofa ruang keluarga bersama sang papi. Mereka tak mendengar perdebatan ketiga putra mereka.


"Semoga kamu betah, tinggal di sini ya, Nak," ucap Ganendra pada Riri.


"Iya, Om. Eh …."

__ADS_1


Ganendra tergelak saat menantunya masih memanggil dia dengan sebutan 'Om'.


"Pa-pi, sekarang saya juga papi kamu."


"I-iya, Papi. Maaf."


Kembali pada Kavindra, Davanka, dan Kaivan. Ketiganya masih berdebat soal status sang abang yang sudah berubah.


"Bang, jawab dong," desak Kaivan.


"Anak kecil tuh belajar sana!" timpal Dava sewot.


"Kalian mau tahu aja apa tahu banget?"


"Tahu tempe banget, puas?" Kaivan menjawab dengan kesal.


"Sini Abang bisikin." Kavindra mengajak kedua adiknya untuk mendekat ke arahnya. Setelah, kedua adiknya mendekat, ia pun berbisik, "Ra-ha-si-a." Kemudian pria tinggi itu beranjak dari sana setengah berlari dan menghampiri sang istri yang sedang asyik berbincang dengan kedua orangtuanya.


"Mi, istri aku pinter lho masaknya," ucap Kavindra sambil melingkarkan lengannya pada pinggang sang istri.


"Mami percaya, bagaimana kalau siang ini kita makan siang di rumah saja, biar Riri yang masak, Pi?" usulnya.


"Tapi, Papi udah booking resto buat makan siang sekarang, Mi. Gimana kalau nanti malam saja kita makan malam buatan menantu kita?" jawab Ganendra.


"Okelah, aku ikut aja. Iya kan, Yang?" ucap Kavindra yang diangguki sang istri.


Davanka melihat kebahagian yang terpancar dari abang dan sang mantan. Ia pun berjanji tidak akan merusak kebahagiaan mereka. Karena ternyata karma sudah menghampirinya, saat tahu bahwa Azrina bukanlah wanita yang seperti ia pikirkan, ia dikhianati oleh kekasihnya sendiri, setelah ia menyiakan Riri.


Azrina hanya memanfaatkan dirinya untuk bertanggung jawab atas apa yang tak ia lakukan, hanya demi hartanya. Dava menyesal bahkan sangat menyesal. Namun, nasi telah menjadi bubur, kini gadis terbaiknya sudah menjadi kakak iparnya.


Hari mulai menjelang siang, kini keluarga Pramudya bersiap untuk pergi makan siang ke resto yang telah dipesan oleh sang papi.


Hari baru telah tiba bagi Riri dan keluarga Pramudya. Mereka menyambut bahagia kehadiran menantunya. Kebahagiaan Kavindra adalah doa daei semuanya, setelah pria itu terpuruk dua tahun lalu.


Mereka menggunakan satu mobil bersama. Kebersamaan mereka menjadi bukti bahwa keluarga itu bukanlah keluarga yang individual, dan hanya berpikiran tentang uang.


Hari baru ini semoga terus berlanjut, tanpa ada gangguan dari siapapun.


Bersambung


Happy Reading 😘


Kurma emang enak dibanding karma ya, kan. Pantes Dava insyaf ya dia udah kena kurma ternyata.


Tetep tungguin cerita aku ya. Ini real cerita aku sendiri ya, hasil mikir otak aku yang kadang ampe puyeng.


Jan lupa jempolnya gerakin ya!

__ADS_1


lu/


__ADS_2