
Sudah tiga hari Kavindra berada di rumah sang istri. Namun, selama itu pula pria tampan itu masih mempertahankan keperjakaannya. Bukan karena sang istri tak menarik, tapi gangguan dari kerabatnya itu yang membuat ia harus menahannya.
Namun, kabar gembira datang hari ini. Karena semua kerabat sang istri akan pamit pulang hari ini. Mereka semua memang membatu beres-beres sisa hajatan kemarin.
"Makasih ya Om, Tante, udah bantuin," ucap Riri pada sang tante, adik dari Papa Satria.
"Sama-sama Sayang. Kalian yang langgeng ya, kapan-kapan main ke rumah Tante ya." Wanita paruh baya itu memeluk tubuh mungil Riri dan menyalami Kavindra yang berdiri di sebelah sang istri.
"Jaga Riri ya, Nak!" pungkas wanita paruh baya itu.
Setelah itu semua sepupunya pun ikut bersalaman untuk pamit pulang. Kavindra sedikit kesal saat melihat beberapa orang sepupu sang istri yang sejak tiga hari ini selalu saja bikin ulah di teras samping kamar mereka.
Kini suasana rumah menjadi sepi, Riri dan yang lainnya sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati cemilan.
"Akhirnya mereka pulang, pokoknya malam ini nggak boleh gagal," gumam Kavindra yang terdengar jelas oleh Riri yang duduk di sampingnya.
"Apa, Bang?" Riri menoleh ke arah sang suami.
"Nggak apa-apa, tapi jadi sepi aja sekarang ya," ucap Kavindra asal.
"Iya sih, tapi mereka rusuh juga masa--" Riri hampir saja keceplosan soal sepupunya yang selalu mengintip di teras samping.
"Kenapa, Ri?" tanya sang mama.
"Nggak apa-apa kok, Ma."
Setelah itu mereka kembali fokus pada layar besar di ruangan itu. Tiba-tiba saja Kavindra menarik pinggang sang istri dan berbisik, "Nanti malam bisa, kan?"
Riri menoleh ke arah sang suami yang menaikturunkan alisnya. "Apa sih, Bang?" Gadis itu pura-pura nggak ngerti, padahal jantungnya berdetak tak karuan.
Malam pun menjelang, saat itu keluarga itu sedang makan malam. Wajah lelah terlihat dari kedua orang tua Riri. Setelah makan malam mereka duduk sebentar di ruang keluarga setelah itu pamit untuk tidur lebih dulu.
Tak berapa lama, Sera pun demikian, gadis itu beralasan besok kuliah pagi jadi ia tidak mau sampai kesiangan. Gadis itu pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
Kini Kavindra dan Riri tinggal berdua, gadis itu masih anteng dengan ponsel di tangannya.
"Yang, kamu lagi nonton apa sih?" Kavindra penasaran dengan apa yang istrinya tonton, karena sejak tadi ia jadi tak dihiraukan.
"Nih lagi nonton drama china. Lucu Bang, masa cowoknya kaku banget," kekeh Riri tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu.
"Yang, coba lihat mama, papa, sama Sera mereka udah pada tidur belum?" titah Kavindra.
"Ngapain sih, Bang?" Riri merasa terusik karena acara nontonnya terganggu.
"Bentar doang, Yang." Pria itu mengambil ponsel sang istri.
"Ish, ngapain sih?"
"Sebentar, Sayang," ulang Kavindra.
Riri pun beranjak dari duduknya, lalu menuju kamar orangtuanya. Pintunya memang tidak pernah dikunci, tapi dalam waktu-waktu tertentu saja kadang terkunci. Terlihat keduanya sudah terlelap dan saling berpelukan. Keduanya begitu nyenyak, karena keduanya memang kelelahan setelah acara pernikahan sang putri.
"Makasih, ma, pa," lirih Riri, kemudian kembali menutup pintu kamar dengan sangat pelan.
Setelah itu, ia beranjak menuju kamar sang adik. Pintu yang tak pernah dikunci membuat ia bisa dengan mudah masuk ke dalamnya. Tampak Sera terlelap dengan ponsel di tangannya. Nafasnya yang teratur menandakan bahwa gadis itu sudah tertidur sejak tadi.
__ADS_1
"Ish, kebiasaan kamu, Dek. Kalau tidur pasti mainin hp." Riri mengambil ponsel sang adik, lalu menambah daya baterai ponselnya di atas nakas. Setelah itu menyelimuti sang adik dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu, Riri kembali ke ruang keluarga. Namun, sang suami tak ada di sana.
"Ish, kalau mau tidur duluan tinggal bilang, ngapain nyuruh meriksa orang rumah coba?" Riri berjalan menuju kamarnya sambil menggerutu.
Saat gadis itu masuk ke kamarnya, yang pintunya memang terbuka. Ia juga tak menemukan sang suami. "Lha, Pak Kavin ke mana?"
Namun, tiba-tiba saja pintu kamarnya tertutup dan terdengar dikunci.
"Bang?" Riri membalikkan tubuhnya dan langsung beradu dengan tubuh tinggi sang suami yang bertelanjang dada. Bagian bawah tubuhnya hanya dililit dengan handuk.
"Kamu mandi?" tanya gadis itu heran.
"Pakai baju dulu, Bang nanti masuk angin lho," imbuhnya.
"Ngapain pakai baju nanti juga dibuka lagi."
Bersamaan itu, sang suami hanya tersenyum dan mengangkat tubuh sang istri lalu dibaringkan di ranjang mereka. Riri sempat memekik kaget, tapi sang suami menenangkannya.
Riri memang baru kali ini melihat tubuh kekar sang suami, dan hal itu membuat dirinya malu.
"Mereka sudah tidur semua, kan?" tanya Kabin yang dijawab anggukan oleh Riri.
"Kita bisa melakukannya malam ini, kan?" lanjutnya yang membuat Riri terhenyak, dan entah kenapa jantungnya juga berdegub lebih kencang.
"Aku udah nunggu lama, Sayang." Kavin mendaratkan ciumannya di bibir mungil sang istri.
"A-aku malu dan takut, Bang." Riri mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Tenang saja, aku akan melakukannya dengan sangat lembut, aku juga tahu ini pengalaman pertama kita," papar pria yang kini sedang mengungkung tubuh istrinya. Setelah itu, Kavin mencumbui seluruh wajah istrinya tanpa terlewat.
"Iya, Sayang," jawabnya parau. Netranya sudah berkabut dan membuat Riri sedikit ketakutan.
"Aku tak akan menyakitimu, Sayang."
Riri hanya mengangguk dan membiarkan suaminya untuk melakukan apa yang ia mau, sampai akhirnya tubuh mereka hanya tertutupi selimut.
Rasa sakit yang baru pertama kali gadis itu rasakan, membuat air matanya mengalir. Namun, Kavindra dengan segera mencumbui wajah sang istri untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Sampai akhirnya sesuatu dalam diri pria tampan itu mendesak ingin keluar, hingga semuanya terasa begitu nikmat.
Pria itu pun terkulai lemas di atas tubuh sang istri yang berpeluh.
"Sekali lagi ya, Yang."
***
Keesokan paginya pasangan suami istri yang baru sah melakukan malam pertama itu masih bergumul dalam selimutnya. Riri mengerjapkan netranya saat sang mentari menyapanya lewat celah jendela.
"Astagfirullah, Bang. Udah siang," Gadis itu menepuk lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Namun, pria di sampingnya malah mengeratkan pelukannya.
"Iih, Abang! Bangun!" Riri kembali memukul lengan suaminya lebih keras. Namun, saat ia beranjak rasa ngilu di bagian inti tubuhnya terasa, sehingga ia mengernyit kesakitan.
"Sekali lagi, Yang," bisik Kavindra dengan suara parau. Namun, bukannya dikabulkan sang istri malah mencubit lengannya dengan keras, hingga pelukannya terlepas.
__ADS_1
"Sakit, Yang," pekik pria itu sambil membuka netranya yang masih tampak merah.
"Lebih sakit aku," sewot Riri.
"Kenapa sih, bangun tidur marah-marah, bukannya ngasih … morning kiss gitu." Pria itu mencium pipi sang istri.
"Ish, kita kesiangan ini, Bang. Malu lah aku mau mandi," ucap sang istri sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, juga tak lupa menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Emang jam berapa?" Pria dengan rambut berantakan itu melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 06.00.
"Masih pagi, Yang. Lagi ya?" Sebuah cubitan kembali mendarat di lengan pria itu. Namun, bukan Kavindra jika kalah begitu saja, dengan segala cara akhirnya ia kembali berhasil membujuk sang istri.
"Bang, aku mau mandi," ucap gadis itu yang kini sudah kembali berbaring.
"Nanti kita mandi bareng," jawab pria yang netranya sudah kembali berkabut itu.
"Masih sakit," bisik Riri pada sang suami.
"Nanti juga nggak."
"Ish, sakitlah."
Tok tok tok
Tiba-tiba sebuah ketukan di pintu menghentikan perdebatan mereka.
"Siapa, Bang. Aku malu," bisik Riri.
"Ri, Nak Kavin. Papa, Mama, sama Sera mau keluar dulu. Titip rumah ya," teriak sang papa dari luar.
Kavin pun beranjak dan menghampiri sang mertua, walaupun hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Iya, Pa. Maaf kami kesiangan," ujar Kavin.
Namun, sang papa hanya tersenyum. "Yang penting kasih Papa cucu yang banyak." Pria paruh baya itu kembali tersenyum. Kavindra pun melakukan hal yang sama, ia membentuk huruf O dengan jari jempol dan telunjuknya.
Setelah itu mertuanya pun pamit undur diri.
Kavin tersenyum penuh kemenangan, pria itu menutup kembali pintu dan menguncinya. Dia baru saja akan menerkam sang istri. Namun, gadis itu malah sudah kembali mengenakan piyamanya.
"Ish, mau ke mana? Ini amanat papa kamu, lho."
"Amanat apa?"
"Kita bikin cucu yang banyak buat mereka."
"Nggak mau."
"Nolak suami itu dosa, lho."
Seterusnya terserah kalian mereka mau ngapain, aku udah sesek napas nulis part ini. (Author)
Bersambung…
Happy Reading 😘
__ADS_1
Tolong jangan dibully, aku susah payah nulis bab ini. Seharusnya bab ini up kemarin cuma karna ada insiden jadi nggak jadi.
Jangan lupa komennya ya, jangan minta part ini lagi aku puyeng.