
Pagi ini Riri sudah rapi bahkan koper yang berisi barang dirinya dan sang suami pun sudah disimpan ke dalam mobil.
Ternyata yang akan pergi hari ini bukan hanya mereka berdua, tapi juga mertuanya dan kedua adik iparnya.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih, Pak Kavin?" Riri mulai kesal pada sang suami yang sejak tadi tak menjawab pertanyaannya.
Sebenarnya Kavindra dan keluarganya sudah merencanakan semuanya untuk acara pindah rumah hari ini. Kavindra ingin memberikan hadiah pernikahan yang istimewa untuk istri kesayangannya.
"Pokoknya hari ini pasti kamu suka, Yang," bisik Kavin tepat di telinga sang istri.
“Oke, awas kalau ngerjain,” ancam Riri. Tak berapa lama mereka pun berangkat menuju tempat tujuan.
Suasana dalam mobil begitu bahagia. Mereka semua bercengkrama. Perjalanan mereka cukup memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Mereka sampai di sebuah rumah besar dengar pagar tinggi berwarna putih tulang.
"Ini rumah siapa, Bang?" tanya Riri pada sang suami, saat mobil mereka masuk ke pelataran rumah bercat senada dengan pagarnya.
Namun, pria itu tak menjawab, ia buru-buru turun dari mobilnya dan mengajak sang istri juga. Semua orang juga ikut turun dan berjalan menuju teras rumah yang cukup besar juga.
Kavin mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu ia membuka pintu besar di depannya.
“Welcome to our home, Honey!” Pria tampan itu merentangkan tangannya pada sang istri saat pintu di depannya terbuka lebar.
Riri menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia tak percaya bahwa sang suami ternyata membawanya ke rumah baru.
“Ini serius, Bang?” Riri masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Kavindra mengangguk lalu memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"Rumahnya gede banget, kita kan cuma berdua," bisik Riri tepat di telinga sang suami.
"Kan nanti kita punya anak yang banyak, Sayang," jawab sang suami yang sontak mendapat cubitan kecil di pinggangnya.
"Mami jadi sendirian lagi di rumah," ucap sang mami mertua dari belakang.
“Kavin bakal sering-sering ajak Riri main ke rumah kok, Mi kalau lagi nggak sibuk,” jawab Kavindra sambil mengajak semuanya masuk. Perabotan di rumah juga sudah terisi dengan sangat rapi.
Semua orang kini duduk di sofa ruang tamu. Namun, Riri baru menyadari bahwa Davanka tak berada diantara mereka. Baru saja gadis itu akan bertanya, tiba-tiba sebuah salam terdengar dari arah pintu. Terlihat Davanka dan keluarga Riri ada bersamanya.
“Mama, Papa, Sera. Kalian ke sini juga?” Riri beranjak dari duduknya. Wajahnya begitu sumringah juga terkejut. Lalu, ia menghampiri kedua orangtuanya dan memeluknya erat setelah mencium punggung tangan keduanya.
__ADS_1
“Nak Kavin yang memberi tahu kami semalam, dan Nak Dava yang menjemput,” tutur Papa Satria.
Riri menoleh ke arah sang suami di sampingnya, bahkan kedua orangtuanya pun diberitahu, tapi tidak dengan dirinya.
“Namanya juga kejutan masa dikasih tahu sih, Yang.” Kavindra seolah tahu maksud tatapan sang istri.
Kini semua orang sudah berkumpul di tuang tamu, mereka berbincang segala hal. Bahkan makan siang pun sudah Kavin pesan sebelumnya. Mereka semua makan bersama di tempat baru. Rumah baru untuk Kavindra dan Riri.
Setelah makan siang selesai, Kavindra mengajak sang istri menuju lantai atas. Memang saat kedatangan mereka ke rumah barunya. Pria itu belum memperlihatkan semua bagian rumahnya.
Sementara yang lain juga masih asyik berbincang di ruang keluarga, mereka duduk melingkar di sebuah karpet tebal tanpa ada sofa di sana. Hanya sebuah karpet berbulu dan beberapa bantal karakter.
Riri menaiki anak tangga sambil memeluk pinggang sang suami. Wanita itu terlihat bahagia, karena ia tak menyangka akan memiliki sebuah rumah dalam waktu yang sangat singkat di usia pernikahannya yang baru menginjak satu bulan.
“Ini kamar kita, Yang. Kamu suka?” Kavindra membuka sebuah pintu berwarna cokelat di depannya. Ruangan itu begitu besar, ada sebuah ranjang besar di tengahnya. Kaca jendela yang begitu besar dan beberapa bantal berada di pinggirnya. Kita bisa duduk dekat dengan jendela itu.
Riri berjalan ke arah sana, ia tampak takjub dengan desain rumah ini. “Aku suka banget, Bang. Ini sangat indah.”
Kavin berjalan menghampiri sang istri dan memeluk tubuhnya dari belakang. “Aku ingin memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. Aku mau memiliki anak yang banyak dari kamu.”
"Bagaimana kalau kita memiliki 10 putra dan putri yang tampan dan cantik?" tawar Kavindra sambil melabuhkan dagunya di bahu mungil Riri.
"Ah, ide bagus boleh deh," jawab Kavindra yang sontak mendapat pukulan di lengannya.
"Jangan banyak-banyak ih takut nggak bisa mengurusi mereka, yang paling utama mendidik anak itu nggak gampang, Abang Sayang," papar Riri panjang lebar sambil berbalik ke arah sang suami.
"Hmm … oke deh kalau gitu 9 gimana?" tawar Kavindra yang membuat Riri berdecak sebal.
“Satu aja belum, udah mau 9,” gerutu Riri sambil memukul dada suaminya.
Namun, dengan cepat pria itu menyatukan bibir mereka dan memeluknya erat. Riri merasa melayang saat suaminya terus menghujaninya dengan ciuman. Saat keduanya sudah berada di ranjang, tiba-tiba sebuah ketukan terdengar.
"Vin, Riri, kalian di dalam kan?" Suara bariton dari sang papi terdengar dari luar.
"Bang, ada papi," Riri melepaskan diri dari sang suami sambil berkata dengan berbisik.
"Iya, biarin aja." Kavindra menjawab dengan suara serak dan kembali mencumbui sang istri.
"Bang, ih kasihan papi. Lagian masih banyak orang juga." Riri mendorong tubuh suaminya, tapi pria itu tak peduli.
__ADS_1
“Iya, Pi sebentar,” teriak Riri saat sang suami tak mau melepaskannya.
“Bang, ih!”
“Iya,iya.”
Keduanya pun beranjak dan kini sudah berhadapan dengan sang papi.
“Maaf Papi sudah ganggu kalian. Papi sama Mami mau pamit pulang, ada rekan kerja Papi yang mau ke rumah. Jaga istri kamu ya, Vin!” nasihat pria paruh baya itu.
“Nggak, Pi. Kita nggak lagi ngapa-ngapain, kok,” kilah Riri sambil mencubit kecil lengan suaminya.
Setelah itu mereka bertiga kembali ke lantai bawah. Semua orang tampak sudah rapi hendak pulang.
“Kami mau pamit pulang dulu ya, yang betah di sini. Ingat nurut sama suami kamu.” Sang mama memberi nasihat dan mewakili untuk pamit pada putri dan menantunya.
“Mama nanti main lagi ke rumah Riri ya,” ucap gadis itu sambil memeluk erat tubuh sang mama.
Begitu juga saat gadis itu memeluk sang papa dan mami mertuanya. Setelah itu, semua orang pamit. Riri dan Kavin mengantar sampai depan.
Kini mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Sebenarnya Kavindra sudah memiliki satu asisten rumah tangga dan satpam untuk menjaga rumahnya. Namun, mereka akan mulai bekerja besok pagi.
Setelah menutup pintu gerbang, mereka pun kembali masuk ke rumah dan tak lupa menguncinya.
Kini, dengan gegas pria itu menggendong tubuh sang istri ala brydal style, hingga Riri memekik kaget.
“Kita lanjutkan yang tadi,” bisiknya sambil berjalan menaiki anak tangga.
“Nggak mau!”
Bersambung..
Happy Reading 😘
Maaf ya lama banget upnya, Alhamdulillah anak aku udah sehat dan nggak rewel lagi. Semoga setelah ini bisa up terus ya.
Makasih karena masih setia nunggu cerita babang Kavin sama Riri.
Mau nanya dong, kalian mau sampe bab berapa sih untuk cerita Batal Calon Kakak Ipar? Komen di bawah ya makasih.
__ADS_1