
Ganendra Pramudya ditelepon sang istri bahwa putra sulungnya sudah pulang. Pria paruh baya itu meninggalkan kantor dan memberikan pesan pada sekretarisnya, jika ada yang mencarinya beritahu bahwa ia sedang ke luar.
Ganendra pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk, dia bahagia, marah, kesal dan juga rindu pada putra sulungnya itu.
Pria itu meminta supirnya untuk segera melajukan mobilnya menuju arah pulang.
Begitu juga di kantor Davanka. Pria yang memegang cabang perusahan Ganendra itu juga diberi kabar bahwa sang abang telah pulang oleh sang mami.
"Kenapa pulang mendadak seperti ini sih?" gerutu pria itu setelah menerima panggilan telepon dari sang mami.
"Arisha … ah sudahlah, pulang saja dulu." Davanka pun beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangannya.
Azrina sekretaris Davanka, tampak mengerutkan dahi saat melihat sang bos sekaligus kekasihnya itu berjalan terburu-buru.
"Dav eh Pak Davan mau ke mana?" tanya wanita itu terbata, karena tiba-tiba ada karyawan lain yang menuju ke sana.
"Maaf Pak, ada yang harus Anda tandatangani," ucap pria berkemeja biru itu.
Davanka hanya mengangguk, dan mengajak ke meja sekretarisnya. "Mana? Saya harus segera pergi."
Pria itu pun menunjukkan di mana atasannya harus tanda tangan. Setelah selesai, pria itu pun pamit.
Kembali pada Azrina yang masih menatap bingung ke arah kekasihnya. Davanka juga menyadari hal itu. Akhirnya, pria itu mengajak Azrina masuk ke ruangannya.
Di dalam ruangan itu, Davanka menarik pinggang ramping wanita cantik di hadapannya. "Aku akan pulang cepat hari ini, Sayang. Abangku baru saja pulang dari luar negeri," jelasnya sambil mencium bibir merah wanita itu.
"Apa kamu nggak mau ngenalin aku ke keluarga kamu, Dav?" tanya gadis itu dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Davanka.
"Belum saatnya, Sayang." Davanka kembali mendaratkan ciuman di bibir Azrina. Kemudian pria itu melepaskan pelukannya. "Aku pergi dulu." Davanka pun berlalu dan bergegas untuk kembali pulang.
Pria yang sekilas mirip Kavindra itu hanya saja ia lebih tinggi sang abang. Kini sedang menyetir mobilnya menuju pulang.
"Nggak mungkin kan, abang tahu tentang aku dan Kiandra. Kenapa dia tiba-tiba pulang?" Davanka terus berbicara sendiri, dengan praduga yang sebenarnya belum tentu benar.
Kesalahannya yang dulu, membuat dirinya sedikit khawatir jika bertemu dengan sang abang. Padahal ia tahu bahwa pria itu begitu menyayanginya. Namun, karena egonya ia tega merebut calon istrinya, hingga akhirnya wanita itu menghilang entah ke mana.
Sekitar tiga puluh menit, Davanka sampai di rumahnya. Pria itu menarik nafas dalam sebelum keluar dari mobilnya. "Semoga …."
Pria itu tak melanjutkan ucapannya lalu beranjak keluar.
Di sana juga ternyata sudah ada mobil sang papi. Davanka pun masuk dan mendengar gerutuan sang papi.
"Mana Abang, Mi. Kenapa nggak ngasih tahu Dava sih? Kan bisa Dava jemput," protesnya.
__ADS_1
"Ribut sekali, aku mau tidur sebentar saja," ucap pria jangkung yang tak lain Kavindra, dengan menatap rindu ke arah keluarganya.
"Anak nakal, kenapa baru pulang sekarang hah?" bentak sang papi sambil berjalan cepat ke arahnya. Namun, saat berada dekat dengan putranya pria itu langsung memeluknya erat.
"Kenapa baru pulang dan tak mengabari Papi?"
Kavindra mendekap tubuh sang papi, dan mengusap punggungnya. "Maafin Kavin, Pi."
"Abang nggak mau peluk Dava juga?" sela Davanka yang sudah berada tepat di belakang sang papi.
"Siapa ya?" Kavindra menatap lekat ke arah Davanka.
Davanka tampak shok mendengar pertanyaan itu? Pikirannya kacau, apa mungkin abang udah tahu tentang perselingkuhan aku?
"Bang?"
Kavindra tergelak melihat ekspresi sang adik.
"Aku nggak amnesia, sini!" ucap Kavindra sambil merentangkan kedua tangannya setelah sang papi melepas dekapannya.
Davanka pun tersenyum, lalu menghambur ke pelukan sang abang. "Maafin Dava, Bang," lirihnya.
"Tumben minta maaf?" goda Kavindra sambil mengusak rambut adiknya.
***
Waktu terus berjalan, Kavindra menikmati masa liburan bersama keluarganya. Kaivan bahkan setiap hari mengajak Kavindra untuk jalan-jalan. Seperti hari ini pria itu diajak sang adik ke Mall yang ada di Jakarta.
"Kai mau beli apa lagi sih? Baju kamu udah banyak," tanya Kavindra yang saat ini berada di toko baju khusus pria.
"Ada satu barang yang belum Kai beli. Abang tunggu aja gih di mana kek? Beli es krim misalnya," ucap Kaivan sambil tergelak.
Kavindra menyentil kening adiknya itu, lalu berlalu pergi. Pria itu berniat mencari minum karena tenggorokannya terasa kering.
Kavindra membeli minuman dalam botol, kemudian ia duduk di kursi yang tersedia di sana. Saat ia baru saja meneguk air itu. Terdengar percakapan dua orang gadis di sampingnya.
"Eh, Del kamu udah nyiapin apa aja buat acara bulanan di hotel apa sih lupa?" ucap gadis dengan rambut diikat itu.
"Hotel Agatha, Riri. Aku nyiapin diri aja si, kali aja ada cogan yang tiba-tiba nabrak terus ngajak kenalan," jawab gadis dengan rambut pendek itu.
Kavindra menahan senyumnya, mendengar percakapan dua gadis itu, bahkan sepertinya keduanya tak menyadari tentang keberadaan dirinya.
"Oya, katanya pemiliknya baru pulang dari luar negeri lo, aduh moga aja ganteng terus naksir aku," lanjut gadis berambut pendek itu.
__ADS_1
"Mening ganteng, gimana kalau ternyata itu bapak-bapak kepalanya botak, perutnya buncit?" sela gadis dengan rambut diikat itu.
Namun, kalimat itu sukses membuat Kavindra tersedak dan membuat pria itu terbatuk. Hingga membuat kedua gadis itu menoleh.
"Nggak apa-apa, Bang?" tanya gadis dengan rambut diikat itu.
Kavindra hanya menggelengkan kepalanya sambil memegang dadanya lalu menepuk-nepuknya.
"Kalau minum, ajakin Bang pacarnya biar nggak keselek," timpal gadis berambut pendek itu.
"Dih, apa hubungannya coba, Adel?" omel gadis berambut diikat itu sambil menoyor pipi sahabatnya.
"Iih, iya tahu, Ri," kekeh gadis itu. Hingga keduanya akhirnya kembali berdebat.
Namun, tanpa mereka sadari Kavindra sudah pergi dari sana. Kavindra kembali menemui sang adik sang ternyata sudah menunggunya.
"Dari mana aja sih, Bang? Kesel nungguin dari tadi," gerutu Kaivan.
"Iya maaf abis beli minum. Udah kan?" tanyanya lalu mengeluarkan dompetnya untuk membayar semua belanjaan sang adik.
Setelah itu keduanya beranjak dari sana dan langsung pulang.
"Pulang ya, Dek. Abang cape," ucap pria jangkung itu saat sudah duduk di balik kemudi.
Hanya anggukkan yang diberikan Kaivan pada sang abang.
Gadis tadi lucu juga, wajahnya juga cantik, tapi-- Gumamnya dalam hati, tapi tak dilanjutkan. Kavindra pun melajukan mobilnya menuju pulang. Tidak ada percakapan selama mereka pulang, suasana mobil itu hening.
"Bang katanya mau ada acara bulanan di kantor Abang ya?" Kaivan tiba-tiba bertanya.
"Iya, kenapa?"
"Ikut ya, Bang. Aku mau nyari cecan di sana. Kan katanya banyak karyawan baru," ucap pemuda itu sambil terkekeh.
"Cecan? Apaan?"
Bersambung…
Happy Reading semuaah
Cecan apaan kata Bang Kavin noh? Ada yang tahu nggak wkwkwk.
Jan lupa gunain jempolnya ya biar bermanfaat .
__ADS_1