Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Minta Maaf


__ADS_3

Riri sudah tak nyaman berada di rumah mertuanya, tak seperti biasanya sang mami juga lebih banyak ngobrol dengan 'mantan kekasih' suaminya itu.


Kavindra hanya menahan senyumnya, saat melihat istrinya cemberut, tapi berusaha ia sembunyikan.


"Oh, jadi kamu ninggalin aku buat nikah sama cewek yang dulu ninggalin kamu?" Kalimat itu terus berputar di kepala Riri. Sampai akhirnya Davanka datang.


"Eh, ada Abang ama Riri, sama Tesa juga?" Pria itu tampak terkejut, dan sepertinya ia baru saja pulang lari pagi, karena setelan olah raga yang ia gunakan.


"Dava, bisa anterin aku ke depan sebentar nggak?" Riri beranjak dari duduknya dan menghampiri adik iparnya itu.


Dava terlihat mengerutkan keningnya, mungkin pria itu heran dengan 'kakak iparnya' yang tumben sekali meminta antar pada dirinya.


"Ih, malah bengong ayo!" Riri menghampiri Davanka dan menarik tangannya.


Kavin yang melihat adegan itu, langsung berjalan cepat menghampiri sang istri.


"Mau ke mana, Yang?"


"Mau beli yang dingin, di sini panas." Wanita cantik itu menekankan kata panas.


Kavin menatap ke arah Davanka yang tampak menahan tawanya. Namun, sepertinya adik--kakak itu tengah bekerja sama untuk suatu hal.


"Ya udah, ayo katanya mau beli yang dingin," ajak Dava akhirnya dan Kavindra pun sepertinya tak bisa menahan sang istri untuk pergi. Pria itu pun kembali ke ruang keluarga yang masih ada wanita bernama Tesa di sana.


"Gila lu ya, Tes! Sukses bikin istri gue ngamuk." Kavin berucap dengan terkekeh.


"Dih, kan mau lo, katanya pengen tahu gimana cemburunya istri lo. Untung gue pas nikah lo kemarin nggak dateng, pas banget gue lai di luar kota," papar wanita cantik itu yang tak lain adalah sepupu dari Kavindra.


"Iya juga ya, kalau waktu itu lo datang, bini gue bakal tahu  kalau lo itu sepupu gue." Kavindra menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Bersamaan itu sang mami datang dengan paper bag di tangannya.


"Lho, Riri ke mana?" tanya wanita paruh baya itu heran karena benda yang ada di tangannya adalah hadiah untuk menantu kesayangannya itu.


"Lagi beli makanan keluar, Mi," jawab Kavin santai.


"Kok, kamu nggak nganter?"


"Sama Dava, Tante," sela Tesa kemudian mengambil cemilan dari toples yang ada di meja.


"Tumben mau dianter Dava? Kalian nggak berantem, kan?" selidik sang mami curiga dengan putranya.


"Lagi cemburu kayanya istri Kavin, Tante," jawab Tesa kemudian tergelak.


"Kamu ngapain Riri? Mami nggak mau ya kamu main perempuan, kaya yang lagi viral itu," gerutu sang mami.


"Ish, mana ada, Mi. Kavin dapatin Riri aja susah," balas pria tinggi itu.


"Istrinya lagi cemburu sama aku, Tante," timpal Tesa kemudian kembali mengunyah cemilannya.


"Apa? Kok bisa, Tesa kan sepupu kamu, Vin?" Wanita yang duduk di samping Kavin itu terkejut.


"Tante lupa ya, aku kan nggak datang ke acara nikahan Kavin waktu itu, jadi pasti dia belum kenal sama aku," jelas wanita berambut sebahu itu.


Sang mami terlihat berpikir mungkin mengingat apa yang dikatakan oleh gadis di depannya itu.


"Oh iya, Mami lupa, kamu kan saat itu sedang di luar kota ya, lagi ada kerjaan," ucap Mami Alifa.


"Nah, Mami ingat, kan. Udah Mi, sekalian aja kita kerjain Riri. Kavin pengen tahu juga dia itu cemburu nggak  kalau Kavin sama cewek lain." Namun, tanpa pria jangkung itu duga, sebuah jeweran ia dapatkan dari sang mami.

__ADS_1


"Kamu tuh, mana mungkin Riri nggak cemburu, buktinya dia sekarang pergi, cepet susul dia!" titahnya.


"Tenang, Tan. Ini nggak akan lama kok, sambil Tesa juga mau kenalan dong. Tapi sumpah mirip banget sama Kia ya, cuma Riri lebih muda aja sih."


"Mami nggak ikut-ikutan pokoknya, awas kalau sampai mantu mami kenapa-kenapa, kalian yang mami hukum," pungkas wanita yang selalu cantik di usia senjanya itu.


"Iya Nyonya!" jawab Kavin dan Tesa berbarengan.


Tak berselang lama, Riri dan Davanka datang dari arah ruang tamu dengan kantong plastik putih di tangannya. Mereka tampak berbincang akrab dan hal itu membuat Kavin sedikit cemberut.


Kemudian Tesa berbisik pada pria itu, "Lo itu mau bikin dia cemburu, kan? Kenapa gue lihat malah lo yang cembokur."


Kavin pun berdehem, kemudian pria jangkung itu pura-pura berbincang dengan Tesa hingga mereka berdua tergelak bersama.


Riri yang melihat itu, makin kesal. Wanita itu hampir saja memutar balikan badannya untuk kembali keluar. Namun, sang mami memanggilnya.


"Ri, kemari, Sayang!" panggil sang mami yang kini sudah berdiri dan menghampirinya.


"Riri gerah, Mi. Boleh di luar aja nggak?" tolak Riri.


"Lha emang ace-nya kurang dingin, ya?" ucap sang mami. Namun, Dava memberi isyarat pada sang mami, bahwa menantunya itu bukan gerah pada umumnya.


"Sayang sini deh, ada hadih dari mami bua kamu," sela Kavin yang seolah baru menyadari bahwa sang istri sudah kembali.


Riri bukannya menghampiri suaminya, ia malah mendelik kesal ke arah pria yang berstatus suaminya itu. 


"Udah yuk, kita duduk aja, di luar juga panas banget, Sha," ajak Davanka lembut.


Riri pun akhirnya mengangguk, ia berpikir cukup hatinya yang saat ini sedang kepanasan, kulitnya jangan sampai nanti kalau kulitnya jadi burik, Kavin malah tambah kabur.


Wanita yang mengikat rambutnya itu duduk menjauhi suaminya. Kini, Riri duduk di dekat Davanka dan sang mami. 


"Baik, alhamdulillah."


Nada arab dari keduanya membuat Riri makin tak nyaman berada di rumah sang mertua. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk ke toilet.


"Mami, Riri permisi ke belakang dulu ya," ucap Riri sambil beranjak dari duduknya.


Wanita itu pun, berjalan cepat menuju toilet yang ada di belakang. saat sampai di sana Riri masuk dan sedikit membanting pintunya.


"Apa-apaan nyesel gue ngajak ke sini," gerutu Riri sambil melihat pantulan dirinya di cermin.


"Aku juga nggak kalah cantik sama dia, walau emang tinggian tuh cewek." Riri memutar tubuhnya dan melihat penampilannya.


"Ih, kesel banget pokoknya mau pulang," gumamnya sambil menghentakkan kakinya kesal. Bersamaan itu, terdengar ketukan di pintu.


"Sebentar," ucap Riri lalu merapikan penampilannya sebentar, yang sebenarnya memang sudah rapi.


Saat wanita cantik itu membuka pintu, berdiri pria jangkung yang hari ini sudah membuatnya kesal.


"Ngapain ke sini? Tahu gitu nggak aku buka pintunya." Riri kembali mendorong pintunya untuk menutup benda itu, tapi ditahan oleh tangan Kavindra.


"Yang, kamu kenapa sih?" Pertanyaan itu membuat Riri makin murka.


"Kamu yang kenapa, Bang?" gerutu wanita yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah.


"Aku nggak kenapa-kenapa," jawab Kavindra.


"Aku mau pulang." Riri mendorong tubuh suaminya, kemudian berlalu.

__ADS_1


"Yang, tunggu ...." Kavindra berlari mengejar sang istri. Namun, Riri sudah berdiri di hadapan sang mami dan sepertinya ia pamit pulang.


"Mi, Riri pulang dulu ya, badan Riri tiba-tiba nggak enak," ucap Riri sambil memeluk mami mertuanya.


"Kalau sakit nginep di sini aja ya? Mami khawatir," jawab wanita paruh baya itu. Namun, Riri menggelengkan kepalanya cepat.


"Oya, itu tadi hadiah dari sepupu Kavin, terima ya," ucap sang mami akhirnya karena tak berhasil membujuk menantunya untuk menginap di rumahnya.


"Iya, Mi, makasih," jawab Riri.


Setelah itu, ia pun berlalu diikuti oleh Kavindra yang juga ikut pamit. Sang mami juga berpesan pada putranya agar cepat-cepat meminta maaf pada Riri istrinya, karena wanita itu sudah terlihat sangat marah.


Riri sudah berada dalam mobil suaminya, tapi ia hanya diam dan melipat kedua tangannya di depan dada, pandangannya fokus pada luar jendela.


"Aku nggak mau pulang ke rumah." Kalimat pertama yang meluncur dari bibir mungil Riri setelah mobil melaju agak jauh dari kediaman Pramudya.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Kavin lembut.


"Aku mau pulang ke rumah mama," jawab Riri tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


"Oke."


Setelah itu suasana kembali sunyi. Ternyata cemburu seorang istri lebih menyeramkan, apalagi semua hanya settingan dia, tapi pria itu sungguh menyesalinya. Kavindra berpikir keras bagaimana cara membujuk istrinya.


Suasana hening terus berlanjut sampai akhirnya mereka sampai di kediaman orang tua Riri. Wanita cantik itu langsung membuka sabuk pengamannya dan ingin segera keluar dari mobilnya. Namun, Kavindra tiba-tiba menahannya dan mengunci pintunya.


"Buka, aku mau keluar!" ucap Riri tanpa menoleh ke arah suaminya.


Kavindra langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Maafin aku, Sayang."


"Maaf untuk apa?" Riri berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Aku bisa jelasin semuanya."


"Kenapa kamu nyesel udah nikah sama aku?" Riri membalikkan tubuhnya hingga wajah mereka berhadapan langsung.


Matanya sudah berkaca-kaca, padahal sudah wanita itu tahan sejak tadi. Namun, akhirnya bulir bening itu luruh juga.


"Bu-bukan gitu, Yang. Kamu jangan ngomong sembarangan." Kavin menangkup kedua pipi istrinya, lalu menghapus jejak air matanya dengan jarinya.


"Tesa itu sepupu aku, dia baru bisa datang ke sini karena saat pernikahan kita dia sedang berada di luar kota," jelas Kavindra sambil menatap teduh ke arah istrinya.


Riri mengerjapkan matanya yang masih basah. "Kamu jahat!" Riri tambah kesal dengan kenyataan yang ada, ia terus memukul dada suaminya.


"Maafin aku, Yang."


"Nggak!"


"Aku nggak akan lepasin kamu, sebelum kamu maafin aku," ucap Kavin yang mengeratkan pelukannya.


"Nggak!"


Tok tok tok


Bersambung...


Happy Reading 😘


Bukan pelakor ya ternyata, maaf ya kalau bikin kalian kecewa, karena aku nggak suka tema pelakor. Di setiap novel aku pelakornya lewat doang ya nggak sampe jadi jg sih, orang ditolak terus wkwkwk.

__ADS_1


Jan lupa gerakin jempolnya ya buat like,komen, vote sama ngasih hadiah juga boleh banget. Makasih pokoknya buat kalian yang selalu baca dan nunggu cerita aku.


__ADS_2