Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Melamar


__ADS_3

Beberapa hari setelah tragedi lampu merah. Riri selalu berusaha menjaga jarak dengan sang kekasih. Gadis itu tak mau hal itu terulang kembali.


Seperti hari ini. Riri dan Kavindra sedang berada di sebuah resto untuk makan siang. Riri lebih memilih duduk berhadapan dengan pria itu, daripada harus duduk bersebelahan.


"Kamu mau pesan apa, Yang?" Kavindra bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu yang ia buka. Riri mengangkat wajahnya dan ia menjawab, "Sebentar aku pilih dulu, Bang."


Kavindra pun mengangguk, dan beberapa saat kemudian menyebutkan menu yang sama dengan gadisnya.


"Ish, ngapain ikut-ikutan sih," ucap Riri.


"Bukan, ikut-ikutan kita udah sehati dong," jawab Kavindra dengan menarik kedua ujung bibirnya membentuk lengkungan indah.


Keduanya pun menunggu pesanan dengan berbincang ringan. Sampai pada beberapa menit berikutnya, Kavindra mulai berbicara serius.


"Aku mau melamar kamu besok," ucap pria tinggi itu, hingga membuat gadis itu terbatuk kaget.


"A-apa?" Riri terbata mendengar ucapan pria di depannya.


"Aku serius, Arisha. Papi sama mami juga udah pengen gendong cucu." Pria itu berucap dengan mengulum senyumnya.


"Ta-tapi, aku--"


Pria tampan itu menarik satu tangan gadisnya dan kembali berucap dengan sungguh-sungguh. "Aku serius dengan hubungan kita, dan aku juga nggak mau siapa pun terus mendekati kamu, termasuk Agam dan Davanka."


Riri terdiam, gadis itu tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar ungkapan Kavindra yang tak pernah ia sangka.


"Besok aku dan orangtuaku akan melamar ke rumahmu." Bersamaan itu pesanan mereka datang. Setelah mendapat kalimat 'Selamat menikmati' dari waitress itu. Kavindra pun mempersilakan gadisnya untuk santap siang dulu sebelum melanjutkan obrolannya.


Mereka berdua menikmati makan siang mereka, lebih tepatnya hanya Kavindra. Karena saat ini, gadis itu makan tanpa selera dilihat dari seringnya ia mengaduk makanan dibandingkan melahapnya.


Sekitar tiga puluh menit mereka duduk di resto itu. Riri dan Kavindra juga sudah selesai dengan makan siangnya.


Kavindra kembali meyakinkan gadisnya bahwa ia memang benar-benar serius.


"Aku jug masih ingat, papa kamu nggak mau kan putrinya pacaran terlalu lama, itu artinya kamu harus segera menikah. Tentu saja dengan aku."

__ADS_1


Riri mendongak saat mendengar ucapan pria itu, dan memang benar adanya. Akhirnya, gadis itu pun mengangguk. Kavindra tersenyum lebar, lalu menarik tangan mungil gadis itu dan menciumnya.


"Makasih, Sayang."


Riri hanya mengangguk, setelah itu keduanya memutuskan untuk kembali ke kantor. Namun, baru saja mereka beranjak dari duduknya. Seseorang menepuk bahu Kavindra.


"Woi, Bro. Apa kabar?" ucap pria tinggi dengan kulit putih itu.


"Davian?" Kavindra terkejut dengan kedatangan sahabat lamanya itu.


"Alhamdulillah baik, kamu gimana?" sapanya sambil menjabat tangan sahabatnya itu, lalu


mereka berpelukan.


"Ini istri kamu yang waktu itu, kan?" Davian melihat ke arah Riri yang masih berdiri di tempatnya.


"Calon istri, sebentar lagi halal," jawab Kavindra sambil menoleh ke arah Riri yang tampak canggung.


Davian mengerutkan keningnya heran. "Bukannya, kalian sudah menikah dua tahun lalu?"


Kavindra mengajak sahabatnya itu untuk duduk, begitu juga dengan Riri.


Kavindra terkekeh, sementara itu Riri tampak bingung dengan percakapan dua pria dewasa di depannya.


"Aku gagal nikah, Dav. Tapi aku senang karena sekarang ada pengganti yang lebih baik dari sebelumnya."


"Tapi, wajah mereka mereka … sangat mirip," ucap Davian sambil melirik ke arah Riri.


"Biar aku kenalkan calon istriku, Arisha Shanika." Kavindra beranjak dari duduknya dan menghampiri sang gadis. Kemudian memegang kedua bahu mungil gadis itu dari belakang.


"Kamu ingat nggak, pas Davanka melamar cewek lain di sebuah resto?"


Riri mengerutkan keningnya, sambil menoleh ke arah prianya. "Kenapa?"


"Dia itu pemiliknya, lebih tepatnya punya istrinya sih, iya kan, Dav." Pria itu meminta persetujuan dari sahabatnya. Davian hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah gadis yang memang terlihat asing walaupun wajah mereka sangat mirip.

__ADS_1


"Dia juga pemilik hotel Brata, Yang," imbuh Kavindra.


Percakapan mereka pun berlanjut, hingga Riri merasa bosan. Gadis itu hanya sesekali menanggapi percakapan keduanya.


Sampai akhirnya, Riri pamit ke toilet. Gadis itu ternyata hanya mencuci tangannya dan membuka ponselnya untuk memberitahu Kavindra bahwa ia sudah telat untuk kelas hari ini. Namun, bukannya Riri disuruh pergi ke kantor, pria itu malah sudah memberi tahu Olivia bahwa Riri ada urusan dengan dirinya.


"Aku bosan, Bang." Kalimat itu yang terakhir ditulis Riri di ponselnya untuk Kavindra.


Setelah itu, ia keluar dari toilet.


Saat gadis itu kembali menuju mejanya, tampak Kavindra duduk sendirian dan memainkan benda pipih di tangannya.


"Ke mana temennya, Bang?" tanya Riri sambil duduk di samping pria itu.


"Baru saja pulang, katanya ada urusan lain. Udah ayo, kita jalan!" ajaknya sambil beranjak dari duduknya, lalu memasukan ponselnya pada saku celana.


"Ayo, kita pulang aja ya? Toh udah diijinin juga sama kak Oliv." Riri berjalan mengikuti pria itu. Kavindra menarik lengan gadis itu agar berjalan di sampingnya, kemudian berbisik, "Mana ada pulang, kita kan ada acara."


Kavindra tak menggubris omelan gadisnya, sampai mereka sampai di mobilnya dan duduk manis. Kavindra juga mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


"Kamu pasti suka tempatnya."


"Jangan jauh-jauh ya," ucap gadis itu dengan menatap curiga ke arah sang kekasih.


Kavindra pun tergelak, lalu mengusak rambut gadisnya gemas. Namun, gadis itu menepisnya kasar. "Ih, rambut aku rusak nih."


Kavindra hanya terkekeh melihat gadisnya merajuk.


Setelah itu keadaan jadi sunyi, Riri sibuk memainkan ponselnya, sementara pria di sampingnya fokus menyetir, sampai akhirnya mobilnya berhenti. Riri langsung melihat ke arah depan, gadis itu takut mobil berhenti karena lampu merah. Namun, ternyata mobilnya berhenti di tempat parkir.


"Udah nyampe ya, Bang?" Kavindra hanya mengangguk sambil membuka sabuk pengamannya. Akhirnya gadis itu pun melakukan hal yang sama. Pria itu, langsung bergegas keluar untuk membukakan pintu bagi kekasihnya.


Namun, saat pintu sudah terbuka, Riri masih sibuk dengan sabuk pengamannya yang entak kenapa hari ini sulit sekali dibuka.


"Kenapa?" Kavindra mencondongkan kepalanya ke dalam mobil, sambil melihat apa yang sedang gadisnya lakukan.

__ADS_1


"Ini, kok susah banget dibuka, tumben." Riri berucap tanpa menoleh ke arah prianya. Sampai akhirnya ia sadar saat wajahnya berbalik dan langsung bertabrakan dengan wajah prianya. Gadis itu mengerjap kaget saat bibirnya tepat menyentuh pipi Kavindra.


Bersambung..


__ADS_2