
"Aku di sini, Mi," jawab pria tinggi yang saat ini berada di ambang pintu.
"Izinkan aku tinggal di sini malam ini, Mi."
"Apa?" Semua orang yang ada di sana memekik kaget.
"Iya, aku mau tinggal di sini semalam aja, buat mastiin kalau calon istri aku nggak akan ke mana-mana," papar pria itu sambil melirik ke arah gadisnya.
Namun, tanpa ia duga, Riri menghampirinya dan mencubit keras lengan pria jangkung itu.
"Kamu itu kenapa sih, Pak? Aku mau kabur ke mana? Ngapain juga aku bikin malu keluarga aku?" ocehnya dengan kesal.
"Bukan gitu, Sayang. Maksud aku--" Kavindra mencoba membujuk gadisnya yang sedang murka.
Bersamaan itu Mami Alifa menghampiri keduanya, lalu memeluk bahu calon menantunya.
"Sayang, Mami tahu kamu nggak bakal kayak gitu, tapi kamu harus tahu kalau Kavindra punya pengalaman yang menyakitkan." Wanita paruh baya itu mengusap punggung Riri.
"Tapi, kenapa Riri yang jadi sasaran? Seolah Pak Kavin nggak percaya sama Riri." Gadis itu masih berucap dengan kesal.
"Maafin putra Mami. Kavin hanya tak mau kejadian dua tahun lalu terulang lagi," jelas wanita itu.
Kini sang mama dan papa Riri yang menenangkan putrinya.
"Udah Ri, kamu nggak usah marah-marah. Kita nggak tahu kan apa yang terjadi pada Nak Kavin dulu." Wanita paruh baya itu menarik tangan putrinya.
"Ayo, kita duduk dulu. Biar ngobrolnya enak," ajak sang papa.
Kini semua orang yang ada di ruangan itu pun kembali duduk. Davanka yang saat ini mengantar sang mami, hanya terdiam di tempatnya. Pria itu menyesali perbuatannya dulu pada sang abang, yang ternyata berdampak besar pada pria itu.
"Maafin Dava, Bang," lirihnya saat Kavindra duduk di sampingnya.
Kavindra hanya menoleh dan tak berucap apa-apa. Lalu kembali menatap gadisnya yang saat ini masih cemberut.
"Kalian itu sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, masa harus berantem kaya gini?" ucap Papa Satria.
"Nak Kavin juga nggak usah khawatir, anak Papa tak mungkin melakukan hal gila macam itu. Kalian kan saling mencintai, pernikahan
kan tujuan kalian, bukan?" lanjut pria paruh baya itu bijak.
Kavindra menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, lalu menutupi matanya dengan lengannya.
"Kalau Nak Kavin percaya sama Papa, sekarang lebih baik pulang dan beristirahat untuk persiapan acara pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari." Papa Satria mencoba memberi usulan.
"Pak Satria benar, Nak. Coba kamu lihat bagaimana mereka bisa membatalkan pernikahan, persiapannya sudah selesai. Bahkan para tamu sudah mulai datang." Mami Alifa mencoba membujuk Kavindra.
"Bolehkah aku berbicara berdua dengan Riri sebentar saja?" tanya Kavindra akhirnya.
"Silakan, tapi jangan berantem lagi," ucap sang papa.
__ADS_1
Kavindra pun mengajak Riri keluar. Mereka akan berbicara di halaman belakang. Sebelumnya Riri menolak, tapi bujukan sang papa membuat gadis itu mengikuti calon suaminya. Kini keduanya sudah duduk di teras belakang.
"Mau apa?" tanya Riri jutek.
"Mau peluk," jawab Kavindra sambil merentangkan kedua tangannya.
"Aku teriak nih, dan jangan harap kamu ketemu aku," ancam Riri.
"Iya,iya nggak, galak banget sih. Aku mau minta maaf soal hari ini," ucap pria itu sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku nggak ngerti sama pikiran Pak Kavin tuh gimana sih?" sela Riri.
"Apa aku pernah cerita kalau dulu aku gagal nikah gara-gara calon pengantin wanita menghilang H-3?"
"Entahlah aku lupa, yang aku tahu kamu gagal nikah," jawab Riri.
"Aku takut, aku trauma dengan H-3, Sayang."
"Aku bukan dia, Pak Kavin. Aku masih waras jika harus membatalkan pernikahan dan mempermalukan keluargaku. Bagaimana perasaan mereka? Kecewanya mereka terhadap aku?"
"Iya, aku minta maaf. Maafkan aku, Sayang."
"Kamu tuh kita mau nikah, tapi udah bikin kesel, marah aku tuh." Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Iya, iya aku minta maaf."
"Ngapain keramas kita juga belum ngapa-ngapain," sela pria tampan itu yang sukses mendapat pukulan di lengannya.
"Biar otaknya waras, nggak ngeres kaya sekarang. Udah sana pulang!" usir Riri sambil beranjak.
"Galak banget Ya Allah istri aku," keluh Kavindra.
"Biar kamu tuh nggak kejebak masa lalu terus, apa-apa dibandingin sama masa lalu kamu, aku sama dia itu beda."
"Iya,iya Sayangku, Cintaku." Kavindra menarik tubuh gadis mungil itu dan mendekapnya erat, walaupun Riri berontak.
"Senyum dong, tadi kan kata papa kamu juga kita nggak boleh berantem, masa masih cemberut aja," imbuh pria tampan itu yang masih memeluk pinggang gadisnya.
"Ya udah, sana cepet pulang, aku cape mau istirahat," ucap Riri dengan memaksakan senyum di bibirnya.
"Ish, masa terpaksa gitu senyumnya?"
Riri berdecak lalu tersenyum lebar pada Kavindra. "Puas?"
"Belum, nanti kalau udah jadi istri aku baru puas," bisik Kavindra yang malah kembali mendapat cubitan di pinggangnya.
Kini keduanya kembali ke ruang tamu. Terlihat Papa Satria, Mama Rina, Mami Alifa dan juga Davanka masih berbincang di sana. Semuanya tampak serius.
Kavindra tiba-tiba berdehem, memberitahu bahwa dirinya dan Riri sudah ada di sana.
__ADS_1
"Eh, Kavin udah ngobrolnya, Sayang?" Mami Alifa yang pertama kali mengutarakan pertanyaan pada putra sulungnya, dan hanya dijawab anggukkan oleh Kavindra.
"Nggak diapa-apain kan sama Kavin, Sayang?" Wanita paruh baya itu beranjak dan berjalan menuju calon menantunya.
"Ish, Mami nanti lah diapa-apainnya kalau udah halal," sela Kavindra yang kembali mendapat cubitan di lengannya.
"Aduh, Ma ini anaknya galak banget dari tadi aku dicubitin terus," rajuk Kavindra pada Mama Rina yang saat itu hanya tersenyum.
"Abisnya nyebelin, Ma."
"Yang penting sayang," imbuh sang papa yang membuat semua orang tergelak.
Hal itu membuat pipi Riri terasa panas, mungkin juga saat ini sudah memerah.
"Oya, Mami jangan lupa Pak Kavinnya kalau nyampe rumah suruh mandi biar nggak ngigo lagi." Riri mengingatkan mami mertuanya.
Mami Alifa terkekeh, lalu mengusap rambut gadis di depannya. "Ya udah, Mami pamit pulang dulu ya, maaf sudah membuat kalian repot."
"Tidak usah sungkan gitu, Jeng. Kita kan besanan sekarang. Masalah anak-anak masalah kita juga," jawab Mama Rina.
Setelah itu Riri dan orang tuanya mengantar besan mereka ke teras depan. Papa Satria bahkan menepuk bahu Kavindra sebelum pria itu benar-benar pergi. "Kamu tenang saja, Papa yanga akan jaga Riri sampai akad nanti."
Kavindra pun mengangguk. Lalu mereka pun undur diri dan masuk ke mobilnya. Setelah mobil mereka melaju dan tak terlihat lagi, Riri dan orang tuanya pun kembali masuk. Sebenarnya mereka menceritakan tentang keadaan Kavindra saat ini pada putrinya. Namun, melihat gadis itu sudah kelelahan akhirnya mereka menyuruh Riri untuk segera istirahat.
Setelah putri sulungnya masuk ke kamarnya. Kini tinggal Papa Satria dan Mama Rina yang duduk di sofa ruang tamu. Mereka hanya duduk tanpa berucap sepatah kata pun.
"Kasihan ya, Nak Kavin. Kenapa sampai segitunya tuh perempuan," ucap Mama Rina tiba-tiba.
"Papa juga jadi tahu seberapa besar cintanya dia sama putri kita, semoga mereka selalu bahagia ya, Ma. Semoga mantannya nggak pernah datang lagi deh," jawab sang papa khawatir.
"Iya, jangan sampai."
Sementara itu Riri di kamar tak bisa memejamkan netranya barang sekejap. Kejadian malam ini membuatnya terkejut. Apalagi saat Kavindra tiba-tiba berada dalam kamarnya. Apalagi saat pria itu memeluknya dengan erat dan ah Riri tak berani membayangkan apa yang terjadi selanjutnya, ia hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Namun, tak berapa lama kantuk pun mulai menyerangnya. Gadis itu pun mulai terlelap dengan mendekap boneka kesayangannya. Nafasnya mulai teratur, ia pun tertidur. Namun, tiba-tiba suara jendela terbuka dan sosok tinggi dengan pakaian hitam berdiri di samping ranjang gadis itu.
Ia menyentuh pipi mulus Riri dan merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. Gerakan itu membuat Riri terusik dan mulai membuka matanya yang sudah rapat.
"Ngapain ke sini lagi?"
"Aku ingin tidur bersamamu."
Bersambung…
Happy Reading 😘
Beuh ternyata Babang Kavin trauma sodara-sodara. Nggak jadi nginep juga dong, seneng aku.
Nah, sebentar lagi Babang Kavin nikah nih, kira-kira kalian mau ngado apa? Yuk komen di bawah gerakin jempolnya ya biar kagak keram wkwkw.
__ADS_1