
Davanka sudah siap untuk bertemu dengan Arisha hari ini. Namun, tiba-tiba Azrina menghubunginya, ada sesuatu yang ingin gadis itu bicarakan dan penting.
"Kenapa nggak nanti di kantor saja, Az?" ucap Davanka. Gadis ini memang keras kepala, ia harus mendapatkan apa yang diinginkannya.
Namun, sepertinya semua cara tak membuat gadis itu berhenti untuk menemuinya hari ini. Akhirnya Davanka pun menghubungi Arisha dan berkata bahwa besok dia pasti akan menemuinya.
Kini pria itu sedang berada di mobilnya untuk menjemput Azrina yang menunggunya di depan kosannya. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Setelah sampai mereka pergi ke resto Almahera. Resto favorit mereka.
"Kamu mau ngomongin apa, Az?" Dava memulai percakapannya, setelah gadis itu duduk di sampingnya.
"Nanti saja di sana, aku nggak mau fokus kamu terbagi, Dav. Kamu fokus saja menyetir," jawab Azrina. Dava pun hanya berkata baiklah dan melajukan mobilnya.
Perjalanan mereka hanya ditemani musik yang diputar di radio mobilnya. Sampai tak berapa lama mereka sampai di tempat tujuan. Azrina langsung membuka sabuk pengaman dan langsung membuka pintu mobilnya tanpa menunggu Dava membukanya.
Dava merasa heran dengan sikap kekasihnya itu. Apa yang terjadi pada gadis itu, pikirnya. Dia pun mengejar Azrina, lalu menggandeng tangan gadis itu yang terasa dingin. Dava memilih private room di lantai atas, agar mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa.
Keduanya sudah berada dalam ruangan yang sama. Azrina tiba-tiba menangis.
"Kamu kenapa, Az?" Dava heran sekaliagus khawatir dengan gadis di depannya.
"A-aku ditelepon mama … beliau bilang aku harus nikah minggu ini," ujarnya terbata.
Davanka mencerna ucapan gadis di depannya. "Sama siapa? Sama aku?" Pertanyaan itu malah meluncur begitu saja dari bibir Davanka.
Azrina menatap heran pada pria di depannya. "Jadi kamu nggak mau nikahin aku? Setelah apa yang kita lakukan malam itu?" bentaknya.
"Bu-bukan gitu maksud aku, Az. Kamu tenang dulu dong." Davanka meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Aku janji akan nikahin kamu, tapi nggak mungkin minggu ini juga. Nikah itu butuh persiapan, butuh orangtua kita. Nggak mungkin kan kita nikah sendiri?" Pria itu mencoba menjelaskan semua pada gadis di depannya.
"Aku takut, Dav," lirihnya.
Pria itu pun mendekat dan mendekap tubuh sintal kekasihnya.
Sementara itu di ruang sebelah, Kavindra dan Arisha masih terjebak di dalamnya. Entah siapa yang dengan sengaja atau pun jahil mengunci mereka.
"Saya nggak mau ya terjebak kedua kalinya bersama Bapak." Riri menekankan kalimatnya.
"Saya justru suka." Kavindra menjawab dengan santai, yang sukses membuat Arisha berdecak sebal.
"Adel ke mana sih?" Arisha mengomel sambil menelepon gadis itu yang juga tak diangkat.
Kavindra kembali duduk di tempatnya dan membiarkan gadis itu tetap berdiri waspada di depan pintu.
"Saya tidak akan berbuat macam-macam sama kamu, Arisha. Saya hanya ingin berbicara …."
Kavindra tak melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan pintu.
"Pak Kavin ada apa ya? Kok ribut banget di luar?" Arisha berbalik ke arah pria jangkung itu yang kini menghampirinya.
Terdengar suara pria yang sangat familiar di pendengaran keduanya.
__ADS_1
"Azrina maukah kau menikah denganku?" teriak seorang pria yang sangat jelas dikenali oleh Arisha dan Kavindra.
Dada Riri tiba-tiba terasa sesak, dan gadis itu berusaha menepis semua pemikiran negatif yang melintas di otaknya. Nggak mungkin, mana mungkin dia mengkhianati aku, pikirnya.
Sementara itu, Kavindra mencoba menebak-nebak siapa yang ada di luar, dia memang yakin kalau itu sang adik, tapi untuk apa melakukan hal gila semacam itu?
"Aku menerimamu …."
Tiba-tiba pintu didobrak keras oleh seseorang, yang membuat Arisha dan Kavindra jatuh saling menindih.
"Aaaw!" pekik Arisha yang saat itu menimpa tubuh Kavindra. Jarak mereka sangat dekat hingga keduanya sempat mematung.
"Aduh maaf Pak, Bu, tadi saya diberi tahu nona ini kalau pintu ini rusak. Maafkan kami, karena lalai tak memberitahu kalau pintu ruangan ini sedang dalam perbaikan," ucap petugas keamanan itu panjang lebar. Sementara Arisha dan Kavindra langsung berdiri dengan rasa canggung.
"Lain kali kasih pemberitahuan dong, Pak." Arisha berucap sedikit menggerutu, padahal pria berseragam hitam-hitam itu sudah meminta maaf tadi atas kelalaiannya.
"Iya, semua kesalahan ada pada pihak kami. Sekali lagi kami mohon maaf," ucapnya sopan.
"Sudah-sudah tidak apa-apa kok, Pak. Terima kasih sudah membantu kami keluar dari sini," sela Kavindra lalu merangkul bahu petugas itu.
"Kalau kalian telat sedikit saja, ah … entahlah," bisiknya sambil tergelak.
Pria berseragam hitam itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, ia pun pamit. Kini Arisha yang sedang menggerutu pada sahabatnya, Adel.
"Lama banget sih, abis tapa?"
"Setdah, Ri. Aku sakit perut. Terus tadi pas mau balik malah kekunci aku takut, kamu diapa-apain makanya manggil sekuriti," papar Adel dan langsung mendapat tatapan tajam dari Kavindra.
Namun, bukan Adel kalau dia harus panik saat mendapat tatapan seperti itu dari bosnya. Ia malah berbalik ke Kavindra.
"Ish, kalau ngomong mulutnya." Arisha membekap mulut sahabatnya dengan kesal.
"Keburu didobrak tadi," jawab Kavindra tanpa malu yang membuat Arisha membulatkan matanya.
"Pak Kavin apa-apaan sih?"
Namun, perdebatan mereka terhenti saat sepasang beberapa orang di dekat mereka berteriak riuh. Ketiganya pun menoleh le arah sumber suara.
Arisha menerobos masuk ke arah orang-orang yang berkerumun, begitu juga dengan Adel. Namun, saat ia tiba di depan tampak pria yang sangat ia kenali sedang mendekap tubuh seorang wanita. Bahkan ia memberikan kecupan di keningnya.
"Da-Dava …." Arisha tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia membekap mulutnya sendiri. Pria yang sedang melamar seorang wanita itu adalah Davanka Pramudya, kekasihnya. Yang tadi pagi membatalkan pertemuannya karena ada urusan lain. Dan urusan lain itu adalah ini, melamar seorang wanita di tempat umum.
"So sweet banget sih," ucap Adel tiba-tiba sambil menyikut lengan Riri.
"Aku mau pulang." Arisha beranjak dari sana, bahkan mungkin Davanka pun belum menyadari kehadirannya.
Gadis itu mengambil tasnya di meja ruangannya tadi. Gadia itu menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Tampak Kavindra duduk di tempatnya. Pria itu tahu, bahwa yang sedang menjadi pusat perhatian orang-orang sekarang adalah adiknya. Namun, ia tak ingin gadis di depannya tahu, bahwa ia adalah sang kakak dari kekasihnya yang sudah berkhianat.
"Arisha, kamu baik-baik saja?" tanyanya saat melihat gadis itu terburu-buru membawa tasnya dan mengusap kedua pipinya.
"Maaf, Pak. Saya harus pulang," ucapnya tersekat di tenggorokan.
__ADS_1
Saat gadis itu akan pergi, pria tampan itu menarik tangannya, hingga Arisha berbalik dan menubruk dadanya, seperti saat pertemuan pertama mereka di hotel Agatha.
"Kamu menangis?"
Arisha menggelengkan kepalanya cepat, tanpa melihat ke arah Kavindra. "Saya ingin pulang."
Kavindra pun menarik tubuh gadis mungil itu ke dalam dekapannya, lalu membawanya keluar dari sana. "Saya antar kamu pulang." Kavindra berucap tanpa bantahan.
Sementara Adel masih sibuk melihat kemesraan Davanka dan Azrina bersama pengunjung lainnya.
***
Kavindra sudah berada di depan rumah Arisha. Gadis itu menawarkan bosnya itu untuk mampir. Harapan Arisha adalah penolakan, karena ia ingin segera pergi ke kamarnya dan menangis di sana, tapi tidak dengan pria tinggi itu. Dia ikut turun dari mobilnya dan benar-benar mampir ke rumah Arisha.
"Pak Kavin nggak ada keperluan lain gitu?" Arisha mencoba mengulur waktunya agar pria yang sudah berdiri di sampingnya itu kembali ke dalam mobilnya.
"Tidak, weekend adalah waktu liburan buat saya. Jadi saya bisa main ke mana saja yang saya mau, termasuk rumah kamu," jawabnya dengan tersenyum miring, yang membuat gadis itu berdecak.
"Assalamu'alaikum, Riri pulang," ucap gadis itu sambil membuka pintu rumah.
"Waalaikumusalam," jawab sang papa.
Biasanya rumah sepi, tapi hari ini orang rumah benar-benar sedang berkumpul di rumah. Bahkan papanya pun hari ini sudah berada di rumah.
"Ma, Sera! Lihat nih Riri bawa siapa?" teriak sang papa yang membuat Riri membelalakan matanya.
"Apa sih, Pa?"
Sang mama dan adiknya berlari menghampiri mereka. Keduanya tampak terpana melihat pria jangkung dan tampan itu.
"Siapa ini, pacar kamu itu ya?" tanya sang mama.
"Bukan, Ma," bantah Riri cepat.
"Ini Pak Kavin bos Riri di tempat kerja," imbuhnya.
"Wah, kita kedatangan tamu penting, Ma," pekik sang papa. Hal ini sontak membuat Riri menahan malu.
"Papa!"
Sementara itu, sang mama dan papanya mempersilakan Kavindra duduk. Sera segera membuatkan minum di dapur, dan Riri masih mematung di tempatnya.
"Kamu ngapain di situ? Sini duduk." Sang mama menepuk sofa kosong di samping Kavindra.
Mimpi apa aku semalam, harus ngalamin kejadian kaya gini hari ini. Menyebalkan.
"Nak Kavin mau melamar putri Om?"
Bersambung…
Happy Reading 😘
Beuh si om gercep, yak. Padahal Riri lagi patah tulang eh patah hati tuh ditinggal lamaran ama Dava.
__ADS_1
Jan lupa jempolnya gerakin ya..
Sederhanakan bahagiamu agar mudah merengkuhnya!! (Copas Mak Kismi FR)