
"Ngasih tahu apa sih, Ma?" Tiba-tiba suara bariton dari pria paruh baya terdengar dari belakang Kavindra.
"Pa, anak kita mau dilamar besok," ucap sang mama antusias.
"Apa?"
"Pa, Pa sadar!" Tiba-tiba pria paruh baya itu kehilangan kesadaran.
Riri dan Mama Rina sangat panik, Sera juga yang sejak tadi di toko langsung berlari menghampiri keributan yang terjadi.
"Ada apa, Ma, Kak?" Sera bertanya panik pada keduanya. Sementara Kavindra berusaha mengangkat tubuh pria paruh baya itu ke sofa.
"Ambil minyak kayu putih, Dek!" titah Riri pada sang adik sambil mengusap-usap tangan sang papa. "Bangun, Pa."
Sementara sang adik langsung berlari membawa minyak kayu putih di dalam. Gadis itu segera kembali dan memberikan benda itu pada sang kakak. Riri langsung membuka tutup botolnya dan mendekatkannya pada hidung sang papa, agar pria itu menghirupnya dan sadarkan diri.
Setelah beberapa saat, pria paruh baya itu pun, mulai menggerakkan matanya dan membukanya. Pria itu memegang pelipisnya yang terasa pening.
"Minum dulu, Pa!" titah Riri pada sang papa dengan menyodorkan gelas berisi air putih. Gadis itu merasa bersalah dengan apa yang menimpa sang papa barusan.
"Papa lupa belum makan dari tadi siang," ucap sang papa yang membuat semua orang melongo.
"Kok, bisa sih Pa? Katanya tadi nggak usah bikin bekal mau beli." Mama Rina berucap dengan sedikit menggerutu walaupun nadanya masih terdengar khawatir.
"Iya, tadi banyak banget pelanggan, Ma. Makanya Papa pulang telat," jelas pria paruh baya itu sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Sementara itu, Riri sudah membawa piring berisi makanan di tangannya. "Ya udah, sekarang Papa makan dulu. Mau Riri suapin?"
Pria paruh baya itu mengangguk lemah. "Iya suapin papa. Nanti kalau kalian sudah nikah Papa nggak bisa manja-manja sama putri sulung Papa."
Riri dengan telaten, menyuapi cinta pertamanya itu. Karena cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayah kandungnya.
Kavindra tersenyum bangga melihat calon istrinya. Pria itu benar-benar dibuat jatuh cinta kembali oleh gadis di sampingnya itu. Apa dulu dia benar-benar mencintai Kiandra? Padahal gadis itu begitu manja dan merepotkan lebih tepatnya. Namun, Kavindra seolah terpana dengan sikapnya waktu itu. Berbanding terbalik dengan Arisha yang mandiri dan juga sangat cekatan dalam segala hal.
"Kamu beruntung memiliki gadis ini, Vin," gumamnya dalam hati. Apalagi saat melihat bagaimana gadis itu memperlakukan orangtuanya dengan begitu santun.
Kini semuanya hanya diam, dan menyaksikan interaksi antara Riri dan sang papa.
"Jadi, anak Papa udah mau dilamar ya?" goda pria paruh baya itu pada putri sulungnya.
"Papa emang ngizinin? Riri mau diambil orang lho, Pa."
"Iya ngizinin lah, nggak baik juga pacaran lama-lama entar setan lewat gimana?"
"Nggak usah ditanyalah, nggak kenal juga sama setan," jawab Riri santai yang membuat Sera menendang satu kakinya.
"Aduh! Sakit, Dek!" pekiknya.
"Lagian, diomongin sama orangtua baik-baik jawabnya bikin esmosi," gerutunya.
__ADS_1
"Emosi, Dek. Emosi. Esmosi saudaranya esteler," timpal Riri tanpa sadar membuat Kavindra tergelak.
"Tuh, Pak Kavin. Kakak saya emang rada gesrek, masih mau?"
"Hus!" Kini sang mama yang menimpali.
Kavindra hanya terkekeh geli. Entah bagaimana nanti jika ia benar-benar sudah menikahi gadis unik ini.
Tak berapa lama, Riri sudah selesai menyuapi sang papa. Kini semuanya berbicara serius mengenai lamaran yang akan diadakan besok. Namun, sang papa meminta Kavindra untuk melamar putrinya diundur menjadi minggu depan. Pria itu ingin menyiapkan semuanya dengan sempurna untuk sang putri. Kavindra pun menyetujuinya.
"Baiklah, Om. Kavin akan memberi tahu Papi sama Mami kalau acara lamarannya minggu depan," pungkas pria tinggi itu.
"Iya, salam buat papi sama maminya ya." Sang papa berucap sambil menepuk bahu lebar Kavindra.
"Siap, Om. Kalau gitu Kavin pamit pulang dulu ya," ucap pria itu sambil mencium punggung tangan Papa Satria. Setelah itu pada Mama Rina, dan terakhir pria itu pamit pada sang kekasih.
Riri mengantarkan Kavindra sampai ke teras depan.
"Minggu depan langsung nikah aja, ya?" bisik Kavindra yang sukses mendapat cubitan di perutnya.
"Aduh!"
"Tadi bilang ngelamar aja, papa aku sampai pingsan, apalagi nikah," gerutu gadis berambut panjang itu.
"Lah, tadi kan papa kamu lupa makan, bukan karena aku," bantah Kavindra.
"Udah sana pulang!" usir Riri degan mendorong tubuh tinggi prianya.
"Nggak, udah sana!" Gadis itu kembali mendorong tubuh kekasihnya.
"Ya udah, iya aku pamit pulang dulu ya, Sayang." Kavindra berbalik dan mencondongkan wajahnya ke wajah Riri. Pria itu sedikit lagi akan menempelkan bibirnya pada kening gadisnya. Namun, sebuah sentilan di hidungnya sukses membuat pria itu memekik kesakitan.
"Makannya jangan macam-macam," gerutu Riri.
"Ish, galak banget sih. Awas ya nanti kamu nggak bisa kabur dari aku," ancam Kavindra yang malah mendapat cebikan dari gadisnya.
"Udah pulang sana!"
"Iya, iya bawel." Kavindra menjawil hidung mancung Riri lalu berlari menuju mobilnya.
***
Keesokan harinya Kavindra berbincang dengan keluarganya. Pria itu memberitahu niatnya untuk melamar gadis pujaannya.
"Om Satria, meminta Kavin untuk melamar putrinya minggu depan. Asalnya Kavin ingin hari ini, Pi." Kavindra menjelaskan semua pada papi dan maminya. Namun, sebuah pukulan di lengan ia dapatkan dari sang papi.
"Mau melamar anak orang mendadak gitu. Kamu pikir kita punya kantong doraemon, segalanya bisa instan," omel pria paruh baya itu.
"Sakit, Pi."
__ADS_1
"Iya makanya, bilang ke Papi sama mami kalau mau apa-apa. Ingat Papi nggak mau kejadian dulu terulang lagi, Vin."
"Iya, Pi."
"Kalau gitu, setelah lamaran, bulan depan kalian nikah, gimana?" tawar sang papi.
"Siapa takut?" jawab Kavindra yakin.
"Kalau bisa ceweknya bener-bener diawasin ya, Mi. Biar nggak kabur lagi," ucap pria paruh baya itu pada sang istri yang duduk di sampingnya. Sang istri hanya menjawab dengan anggukan.
"Nggak bakalan, Pi. Udah Kavin bilang Riri itu beda. Pokoknya Papi nggak bakan nyesel punya menantu baik seperti dia," ucap Kavindra dengan bangga.
"Oke, deal! Papi pegang ucapan kamu, tapi jika semua itu meleset, kamu harus menikah dengan gadis pilihan Papi." Pria paruh baya itu mengajak putranya berjabat tangan.
"Deal! Kalau Riri benar-benar berbeda, Kavin minta hadiah dari Papi." Pria jangkung itu menarik satu ujung bibirnya.
"Oke, Deal! Apa pun itu akan Papi kabulkan."
"Apa pun beneran,Pi?" Pria paruh baya itu mengangguk.
"Bang Kavin beneran mau melamar Arisha?" Tiba-tiba Davanka datang dari ruang depan. Pria itu sepertinya baru pulang kerja.
"Iya, kenapa, Dav?" tanya sang mami.
"Ng-nggak, Mi. Kalau gitu selamat ya, Bang. Jaga dia baik-baik!" Davanka tersenyum sambil menjabat tangan sang kakak.
"Pasti, Abang bakal jaga Riri dengan sangat baik, agar tak kecolongan lagi kaya dulu," ucap Kavindra dengan nada sindiran.
"Arisha itu gadis baik-baik, Bang," lirih Davanka. Namun, sepertinya hanya dirinya dan Kavindra yang mendengar ucapannya.
"Abang tahu, kamu kapan menikah dengan pacarmu itu?"
"Abang dulu lah, nanti Dava nyusul."
"Sip, bantuin Abang nyari baju kalau gitu." Kavindra menepuk bahu adiknya. Davanka mengangguk, pria itu sudah ikhlas mantan kekasihnya itu bersama sang abang. Walaupun di lubuk hatinya yang terdalam terasa begitu sakit. Mengingat kesalahannya yang telah menyia-nyiakan Arisha. Gadis cantik dan baik juga tulus.
Setelah itu, mereka berempat membahas apa saja yang harus disiapkan. Semua membahas hingga larut malam.
Kavindra juga sudah memberikan cincin dan perhiasan yang dibelinya kemarin bersama Riri.
"Semoga acaranya lancar ya, Vin. Mami berdoa yang terbaik buat kamu dan kalian semua putra-putra Mami."
"Aamiin."
Bersambung…
Happy Reading
Maaf ya mungkin gemesin banget nunggu akoh up wkwkw. Kemarin lagi ada acara keluarga dulu.
__ADS_1
Lamarannya diundur ya jadi minggu depan. Jadi sabar dulu.