
Hujan reda ketika makan siang tiba. Riri dan keluarganya akhirnya menikmati kebersamaan bersama keluarga seharian itu tanpa pergi bekerja. Tentu saja karena Kavin juga berada di sana.
"Akhirnya hujan reda juga," ucap Papa Satria sambil menikmati teh hangatnya.
"Kita makan siang dulu ya, Nak Kavin. Sebelum pulang," imbuhnya.
Kavin hanya mengangguk sambil tersenyum. Kini kedua pria itu sedang berada di ruang tengah sambil berbincang dan menikmati teh hangat. Sementara para wanitanya berada di dapur menyiapkan makan siang.
"Lain kali jangan gitu lagi, Ri. Mama nggak suka," gerutu sang mama yamg tak berhenti sejak tadi pagi.
"Iya, Mama percaya sama Riri nggak sih?" Gadis itu lama-lama menggerutu juga.
"Iya, percaya tapi kan mama lihat sendiri," ucap wanita paruh baya itu sambil menuangkan makanan ke dalam piring dari wajan.
Riri memutar bola matanya jengah, padahal sejak tadi ia sudah jelaskan bahwa pria itu datang sendiri, sama seperti hantu. Tiba-tiba ada di depannya. Pria itu juga yang selalu mengganggunya.
"Makanya Mama, juga jangan jodoh-jodohin aku terus sama dia, ngapain coba?"
Sang mama terdiam. Ia baru menyadari saat pria itu pertama kali datang ke rumahnya. Ia dan sang suami yang gencar menggoda sang putri untuk mendapatkan cinta dari atasannya itu.
"Sudah Ma, Kak. Kita siapin makan siangnya, biar bos Kak Riri cepet pulang," sela Sera yang saat itu menyiapkan piring di atas meja makan.
Akhirnya Riri dan sang mama pun, membawa hasil masakan mereka ke meja makan dan menatanya dengan rapi.
"Panggil papa sama nak Kavin, Ra!" titah sang mama.
"Siap, Bos."
Tak berapa lama mereka sudah duduk di meja makan, Riri duduk bersebelahan dengan sang adik juga berhadapan dengan Kavindra. Pria itu selalu mencuri-curi pandang ke arah gadis di depannya yang tampak tak acuh.
Mereka menikmati makan siang dengan hening. Hanya denting sendok dan piring saja yang saling beradu.
Sampai akhirnya sang papa memulai percakapan.
"Maaf ya Nak Kavin, mungkin jamuan kami di sini kurang berkenan."
Kavin menoleh ke arah pria paruh baya itu. "Tidak apa-apa, Om. Saya betah di sini," ucapnya sambil melirik ke arah Riri yang masih belum menghabiskan makan siangnya.
"Betah lah bisa godain anak Tante," sela Mama Rina yang duduk di sampingnya.
"Bener tuh, Ma. Aduh!" timpal Sera yang langsung mendapat tendangan di kakinya, tentu saja pelakunya adalah sang kakak.
"Lebih baik Pak Kavin cepet pulang deh, nanti papinya marah lagi." Riri berucap tanpa pikir panjang yang akhirnya membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Emang masih dimarahin papinya kalau nggak pulang?" tanya sang papa.
Kavindra terkekeh. "Nggak, Om. Masa saya udah dewasa gini masih dimarahin, kecuali kalau saya memang berbuat salah." Pria tampan itu menjelaskan.
"Kalau gitu saya pamit undur diri. Mm … bajunya saya pinjam dulu ya, Om."
"Iya tenang saja. Jadi Nak Kavin mau pulang sekarang nih?" Pria paruh baya itu beranjak dari duduknya.
Semua orang sudah selesai makan siang, Riri dan Sera bertugas membereskan bekas makan dan mencucinya. Namun, kali ini Riri harus mengantar tamunya ke depan.
Pria tinggi itu menaiki motornya, sementara Riri berdiri di teras.
"Hati-hati di jalan, Pak." Gadis itu berucap biasa saja.
"Siap calon pacar," jawab Kavindra yang membuat Riri berdecak sebal.
***
Hari berganti hari. Riri sudah kembali bekerja seperti biasa. Namun, gadis itu selalu menghindari Kavindra. Sampai akhirnya pria itu menghilang.
Kavindra tak pernah terlihat di kantor Kavin Cruise Ship Training selama hampir satu minggu. Hal itu membuat Riri merasa ada yang hilang dalam hidupnya.
__ADS_1
"Nggak mungkin aku kangen ke dia. Amit-amit," gumamnya saat gadis itu berada di toilet.
Namun, baru saja ia selesai dari toilet dan keluar dari sana. Terdengar keributan dari arah lorong menuju kantor atasannya.
"Ada apa ya?"
Gadis itu pun berlalu dari sana dan memasuki ruang guru, untuk mengambil beberapa buku di mejanya. Tiba-tiba saja seseorang memanggilnya. Suara pria yang dewasa yang agak serak dan sangat ia kenal sejak pertama kali bertemu.
Riri mematung di tempatnya. Gadis itu tak bisa melangkahkan kakinya. Sampai akhirnya seseorang menepuk bahunya.
"Ri, dipanggil Pak Raka," ucap Adel.
"Ada apa, Del?" Riri menghela nafasnya, saat tahu yang berada di belakangnya Adel.
"Mana aku tahu, tapi kaya ada tamu deh. Aku juga baru lihat sih." Adel memegang pelipisnya mengingat sesuatu.
Akhirnya keduanya pergi ke tempat tujuan masing-masing. Riri menuju ruangan Pak Raka , sementara Adel menuju kelasnya.
Gadis dengan blazer krem itu, menarik nafasnya dalam sebelum mengetuk pintu di depannya. Kemudian, ia mengembuskannya pelan. Tangannya pun terangkat dan mengetuk benda di depannya. Saat terdengar suara 'masuk', Riri pun membuka pintunya dan masuk ke ruangan itu.
Terlihat tiga pria dengan tinggi dan postur tubuh berbeda di sana. Riri menelan salivanya saat berjalan masuk.
"Aduh, apa aku bikin kesalahan ya?" pikir gadis itu.
"Pak Raka memanggil saya?" ucap gadis itu akhirnya.
"Iya, sini duduk!" Pria berkacamata itu menunjuk sofa kosong di hadapan dua pria yang membelakanginya. Sementara itu, Pak Raka duduk di sofa tunggal. Namun, sepertinya tidak ada pilihan lain, bagi gadis itu untuk menolak.
Riri pun menuruti apa yang diperintahkan atasannya itu. Saat ia duduk di sofa, wajahnya mulai memucat karena dia tahu siapa yang duduk di hadapannya.
"Pak Kavin, Pak Pramudya," gumamnya pelan.
"Apa kabar, Arisha?" tanya Kavindra dengan menyebut nama aslinya, tak seperti biasanya. Wajahnya juga sedikit berbeda, tak ada senyum ramah yang biasa ia berikan padanya.
"Alhamdulillah baik, Pak Kavin," jawab Riri pelan.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk sambil menatap ke arah gadis di depannya. Terlihat kecemasan dari gadis di depannya. Bahkan ia terlihat meremas jari-jemarinya.
"Maafkan sikap papi, waktu itu," imbuh pria tinggi itu penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah memaafkannya," ucap Riri.
Pria paruh baya itu tersenyum pada gadis di depannya. "Gadis ini memang sangat berbeda, walaupun wajah mereka sangat mirip," gumam Ganendra dalam hatinya.
Suasana makin canggung, apalagi Kavindra sekarang bersikap berbeda. Jadi, membuat suasana ruangan itu agak mencekam bagi Riri.
Saat suasana makin hening tiba-tiba pria paruh baya itu berdehem, lalu mengucapkan sesuatu tak terduga pada gadis di depannya.
"Maafkan Om. Om salah paham, kalau kalian memang serius segeralah menikah. Om ingin segera menimang cucu," ucap pria itu yang membuat Riri melongo dan Kavindra tiba-tiba tersenyum lebar.
"Maaf, Pak. Saya hanya karyawan Pak Kavin," sela Riri dengan suara rendah.
"Tapi Kavin menganggap kamu lain, lebih baik kalian segera …."
"Papi serius, kan?" tanya Kavindra sambil berbalik ke arah sang papi yang tampak mengangguk.
"Tapi Pak Kavin, saya …." Riri tak melanjutkan ucapannya saat pria paruh baya itu tiba-tiba menyela ucapannya.
"Kavin itu pernah batal nikah. Om harap kali ini tidak dan tidak ada acara kabur lagi."
"Kalian sudah pacaran kan? Kavin tidak akan pernah membawa wanita sembarangan ke acara keluarga kami," imbuhnya.
Hal itu membuat Riri diam seribu bahasa, dia bingung harus menjawab apalagi.
"Udah Pi, jangan buat Riri tambah malu," ucap Kavindra akhirnya sambil menggandeng tangan Riri yang sangat dingin. Karena tanpa gadis itu sadari Kavindra sudah berpindah tempat berada di sampingnya.
__ADS_1
Pria paruh baya bernama Ganendra itu terkekeh, lalu pamit pada keduanya. "Lain kali ajak gadis ini main ke rumah, Vin."
"Tapi …." Riri terdiam saat pria paruh baya itu beranjak dan menghampirinya, lalu mengusap kepalanya.
"Jangan kecewakan Om." Kemudian pria paruh baya itu pamit undur diri.
Setelah kepergian Ganendra. Kini Kavin masih menggenggam tangan Riri dengan erat. Pria itu masih menampilkan senyuman di wajahnya. Sementara Riri masih terpaku dengan apa yang baru saja ia alami.
"Cie! Roman-romannya bakal jadian nih," goda Raka pada keduanya.
Riri pun tersadar dan menarik tangannya dari genggaman Kavindra.
"Maaf Pak, saya harus kembali bekerja," ucapnya sambil berlalu pamit.
Namun, baru saja gadis itu hendak memutar handle pintu. Kavindra memanggilnya sambil menghampiri Riri. "Jadi, kita jadian kan?"
"Jadian apa sih, Pak?"
"Iya, aku sama kamu." Pria itu menunjuk dirinya dan Riri.
"Jangan ngarang deh, Pak. Permisi," pamit Riri.
Namun, bukan Kavin bila menyerah begitu saja, dengan sengaja pria itu menarik tangan gadisnya. Lalu berjalan mengikuti gadis itu pergi. Walaupun Riri berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi pria itu tak melepaskannya.
"Pak Kavin, jangan gini malu," bisik Riri dengan nada menggerutu.
"Kenapa mesti malu, kita udah jadian," jawab pria itu santai.
"Jangan ngaco deh, Pak. Pak Kavin itu atasan saya," gerutu Riri saat pria itu tak mempedulikan pandangan karyawan lainnya.
"Ini cowok gila kali ya?" gumam Riri dalam hati.
Sampai akhirnya gadis itu sampai di kelas tempatnya mengajar. Riri berhenti sejenak, sebelum masuk ke dalam kelas. Gadis itu pikir, Kavin akan melepaskannya, tapi ia ternyata salah. Pria itu ikut masuk ke dalam kelas. Walaupun akhirnya genggaman tangannya mau tak mau ia lepaskan.
"Pak Kavin ngapain ikut masuk?" bisik Riri saat pria itu duduk di kursi.
"Saya hanya ingin mengenal para trainer lebih dekat," jawabnya singkat.
Kegaduhan pun terjadi di ruangan itu, karena pemilik perusahaan ini bersedia hadir di depan kelas. Akhirnya, Kavindra bercerita tentang pekerjaan yang akan mereka lakukan, jika sudah berada di kapal pesiar.
Tentu saja pria itu bercerita dengan bahasa asing. Sementara itu Riri duduk menyimak cerita pria tampan itu, yang mendapatkan respon baik dari para trainer.
"Belajar tak harus selalu menulis, kan? Dengan berbagi pengalaman juga kita bisa berbagi ilmu," pungkas Kavindra yang mendapat tepukan riuh dari peserta.
"Baiklah, karena sekarang sudah masuk jam istirahat. Silakan pergunakan waktu istirahat Anda semua dengan bijak," imbuhnya.
Peserta pun keluar ruangan dan meninggalkan Riri dan Kavindra di dalam kelas.
"Makasih sudah memberikan ilmu baru dan semangat baru buat mereka," ucap Riri. Tak bisa dibohongi gadis itu merasa kagum saat pria tampan itu menjelaskan semuanya dengan baik dan menarik.
"Itu juga sudah tanggung jawab aku, kok. Kita mau makan siang di mana?"
"Saya makan siang di kantin saja bareng yang lainnya, Pak." Gadis itu beranjak dari duduknya hendak pergi meninggalkan pria yang hari ini bersikap sangat berbeda.
"Mana bisa gitu, kita kan baru saja jadian."
"Apa?"
"Cieeeee!"
Bersambung…
Happy Reading
Mereka beneran jadian nggak sih?
__ADS_1
Kapan? Kok, aku nggak tahu.
Jan lupa gerakin jempolnya ya!