
Riri yang saat itu sibuk menyuapi Kavindra akhirnya selesai juga, setelah banyak sekali drama yang dilakukan pria dewasa itu. Sebenarnya hanya untuk menggoda Riri saja.
"Udah sekarang minum obatnya biar cepat sembuh." Gadis itu menyimpan piring di nakas, lalu mengambil obat yang sudah disediakan sang mami.
"Nih minum dulu obatnya!" Riri menyodorkan beberapa obat di tangannya pada Kavindra. Namun, pria itu malah menarik tangannya hingga tubuh gadis itu limbung dan menubruk tubuh Kavindra.
"Ih, ngapain sih?" omel Riri yang hendak kembali bangun, tapi ditahan oleh Kavindra.
"Dikit aja boleh ya?" bisik pria itu dengan tersenyum jahil.
"Nggak!" tolak Riri sambil menutup mulutnya.
Bersamaan itu, Satria dan Ganendra datang ke kamar Kavindra, hingga membuat keduanya terkejut.
"Astagfirullah kalian ngapain?" pekik Satria.
"Pa-Papa, nggak tadi Riri kepeleset mau ngasih obat buat Pak Kavin," ucap Riri terbata yang saat ini sudah kembali berdiri.
"Ngapain sih, Vin?" omel Ganendra pada putranya.
"Ish, udah dijelasin tadi, Pi," jawab Kavindra santai.
Satria merangkul bahu putrinya, lalu bertanya pada Kavindra bagaimana keadaannya sekarang. Pria yang sekarang kembali duduk dan bersandar pada kepala ranjang itu menjawab bahwa ia sudah agak mendingan.
"Sepertinya rencana pernikahan mereka memang harus dipercepat ya?" ucap Ganendra tiba-tiba.
"Iya, saya tunggu kedatangan Pak Ganendra ke rumah saya," jawab Satria.
"Kalau begitu kami pamit undur diri, semoga Nak Kavin lekas sehat kembali," imbuhnya.
Setelah itu, mereka meninggalkan kamar Kavindra dan membiarkan pria itu untuk beristirahat. Walaupun sebelumnya pria jangkung itu bersikeras untuk ikut mengantar mereka ke depan. Namun, ditolak oleh ketiganya, akhirnya ia pun kembali membaringkan tubuhnya.
Saat mereka berada di bawah, Riri pun pamit pada Alifa, istri dari Ganendra.
"Nanti setelah Kavin sembuh, saya akan datang ke rumah untuk menentukan tanggal pernikahan mereka," ucap Ganendra saat mereka berjabat tangan.
Setelah itu Satria dan sang putri pun pamit.
****
Hari terus berlalu, kini Kavindra sudah kembali sehat. Pria itu juga sudah kembali beraktivitas seperti biasa.
Seperti hari ini, pria itu sedang berada di kantornya. Memeriksa beberapa berkas yang diberikan oleh Raka. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu, hingga dengan gegas meninggalkan ruangannya.
Kavindra berjalan melewati lorong yang sepi, karena semua trainer sedang belajar dalam kelas. Pria itu melihat ke setiap kelas, hingga membuat para pengajar terlihat terkejut.
Sampai akhirnya, ia sampai di kelas B. Terlihat gadis yang sedang dicarinya sedang menjelaskan materi pada para trainer. Kavindra memperhatikan gadisnya yang terlihat sangat cantik juga cerdas itu, sebelum mengetuk pintunya. Pria itu menatap dengan senyuman di bibirnya.
Sekitar lima belas menit pria itu berdiri di depan pintu, sampai akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu yang memang sejak tadi sudah terbuka.
"Permisi, boleh masuk?" tanya Kavindra sopan.
"Silakan, Pak. Ada apa?" Riri menjawab dengan sopan pula.
"Miss Arishanya saya pinjam sebentar ya," ucap Kavindra pada trainer yang sedang mengerjakan tugas mereka.
"Silakan, Pak Kavin. Yang lama juga nggak apa-apa," jawab seorang trainer yang duduk di meja paling ujung.
Kavindra pun terkekeh, setelah itu mengajak gadisnya keluar.
__ADS_1
"Ada apa, Pak?" Riri bertanya saat keduanya berjalan menuju ruangan Kavindra.
Namun, pria itu tak menjawab pertanyaan dari Riri. Ia hanya menarik lengan gadis itu untuk mengikutinya.
Setelah sampai di kantornya. Kavindra berbalik dan mengecup pipi Riri sekilas hingga membuat gadis itu mengomel.
"Nggak lucu ya, Bang. Kamu ngajak aku ke sini cuma buat itu," omel Riri sambil bersedekap.
"Buat itu apa sih? Aku nggak ngerti," goda Kavindra sambil duduk di sofa. Ia juga menepuk sofa kosong di sebelahnya agar gadis yang cemberut itu duduk di sampingnya.
"Ada apa sih? Aku masih harus ngajar lo ini." Riri tetap mengomel.
"Udah sini, duduk dulu!" titah pria dewasa itu dan Riri mematuhinya. Gadis itu duduk di seberang prianya. Kavindra menaikan satu alisnya heran.
0
"Deket kamu tuh bahaya, apalagi kita cuma berdua, pasti yang ketiganya setan, Bang." Bersamaan itu Raka tiba-tiba masuk.
"Nah setannya udah datang," ucap Kavindra yang sukses menerima lemparan pulpen dari Raka.
"Kalian ngapain di sini berduaan?" tanya pria berkacamata itu.
"Tahu nih, Pak Kavin ngajak aku ke sini," jawab Riri.
"Ya udah, aku cuma mau bilang besok keluarga aku akan ke rumah kamu buat nentuin tanggal pernikahan kita," papar Kavindra yang membuat Riri tiba-tiba terbatuk.
"Alhamdulillah akhirnya temen gue, mau kiwin," pekik Raka sambil mengangkat kedua tangannya.
"Nikah woi, nikah. Apaan kiwin?" gerutu Kavindra.
"Ya pokoknya gitu dah," jawab Raka.
"Ya udah nanti aku kasih tahu papa sama mama, sekarang aku balik ke kelas ya," ucap Riri menyela perdebatan dua pria di hadapannya.
"Oke, nanti tunggu aku ya, kita pulang bareng," jawab Kavindra. Riri pun hanya mengangguk lalu keluar dari sana.
Tak terasa waktu pulang pun tiba, Riri sedang membereskan tasnya di mejanya, ia juga berbincang dengan Adel.
"Jadi kalian beneran mau nikah, ya?" tanya Adel serius. Riri hanya mengangguk tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Aku juga nggak nyangka sih bisa nikah secepat ini," jawab Riri.
"Pokoknya aku ikut bahagia dah," pungkas Adel. Kemudian keduanya keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan menuju gerbang. Saat keduanya asyik berbincang, tiba-tiba seseorang menarik tas Riri.
"Apa sih?" omel Riri tanpa melihat ke arah belakang. Namun, Adel menyikut lengan sahabatnya itu.
"Pak Kavin itu, Ri," bisik Adel.
Riri pun menoleh ke belakang, tampak pria jangkung itu masih menarik tali tas miliknya.
"Ish, ngapain sih, Pak? Gimana kalau nanti tali tas saya putus?"
"Nanti aku ganti tenang saja."
"Ri, Pak Kavin, kalau gitu saya duluan ya," sela Adel kemudian berlalu dari hadapan mereka.
"Ayo, kita juga pulang!" ajak Kavindra sambil menarik tangan Riri menuju parkiran.
****
__ADS_1
Keesokan harinya, rumah Riri kembali disibukan dengan acara masak-memasak untuk menyambut keluarga Kavindra nanti malam. Walaupun semalam Kavindra sudah memberi tahu bahwa yang akan datang hanya mami dan papinya saja.
Namun, tetap saja sang mama menyiapkan segala sesuatunya.
"Ma, ini masaknya banyak banget, kan Pak Kavin udah ngasih tahu yang datang cuma orangtuanya." Riri berucap sambil melanjutkan mencuci sayuran.
"Nggak apa-apa buat tamu istimewa," jawab sang mama.
Waktu pun terus beranjak sore. Riri dan Sera baru saja selesai membantu sang mama membereskan rumah. Kini kedua gadis itu hendak membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
"Kak, aku duluan ya mandinya," seru Sera.
"Iya."
Sera pun langsung menuju kamar mandi setelah menyambar handuk yang tergantung di pintu kamarnya.
Sementara itu Riri masuk ke kamarnya dan melihat ponselnya. Banyak sekali notif pesan di sana. Riri membuka semua pesan yang masuk. Gadis itu akhirnya sibuk memainkan ponselnya, sampai terdengar suara mesin mobil berhenti.
"Kak Riri, mertuamu udah datang," teriak Sera dari balik pintu.
"Ya ampun, Dek. Kamu lama banget sih mandinya," gerutu gadis itu.
"Dih, orang dari tadi aku panggilin."
Riri pun beranjak dari ranjang dan melempar ponselnya ke atas kasur. Gadis itu berlari menuju kamar mandi.
Sementara itu, Ganendra dan sang istri sudah disambut hangat oleh Rina dan Satria. Mereka berempat duduk di ruang tamu. Sera yang menyiapkan minuman dan cemilan di atas meja.
Keempat orangtua itu kini berbincang dengan serius. Mereka memilih hari baik untuk pernikahan putra-putri mereka.
"Bagaimana jika bulan depan tanggal 10? Menurut perhitungan kami itu hari baik untuk mereka," ucap Ganendra pada Satria.
"Pak Ganendra juga melakukan perhitungan hari baik ternyata. Baiklah kami dari pihak perempuan mengikuti saja," jawab Satria.
"Mengenai gaun pengantin dan catering biar istri-istri kita saja yang urus." Ganendra melirik sang istri yang duduk di sampingnya.
"Gaun pengantinnya sudah saya pesan di Butik Wijaya langganan saya. Riri dan Kavin tinggal fitting baju saja," ucap Alifa.
"Semoga semuanya lancar dan diberkahi sama Allah SWT, aamiin." Doa itu yang meluncur dari mulut Mama Rina yang merasa bahagia karena putrinya akan segera menikah.
Bersamaan itu Riri datang dan menyalami calon mertuanya itu.
"Nah mulai sekarang kalian melakukan pingitan ya, nggak boleh ketemu dulu. Kamu minta cuti kerja saja sama Kavin," ucap Alifa yang membuat Riri terdiam bingung.
"Bulan depan tanggal 10, kalian akan melangsungkan pernikahan. Jadi, pingitan dulu biar nanti pangling," jelas sang mama.
Riri pun mengangguk, gadis itu malah merasa jantungnya berdetak tak beraturan mendengar pernikahan yang tinggal sebentar lagi. Waktu satu bulan bukanlah waktu yang lama.
"Makan malamnya sudah siap kan, Ri?" tanya sang mama.
"Eh, u-udah, Ma. Mari Om, Tante!" Riri mempersilakan tamunya untuk ke ruang makan.
"Ma-mi, Pa-pi, Riri kamu lupa?" sela Alifa.
"Eh, iya Mami, Papi."
Setelah itu mereka pun menikmati acara makan malam dengan santai. Sesekali mereka membicarakan beberapa persiapan yang harus dilakukan untuk pernikahan putra-putri mereka.
Bersambung…
__ADS_1
Happy Reading 😘
Duh, Babang Kavin bentar lagi melepas masa lajang ini. Kuy siapa yang mau diundang komen dibawah yang banyak ya!