Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Merayu


__ADS_3

"Maafin aku, Yang."


"Nggak." Riri terlihat masih kesal pada sang suami.


"Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu maafin aku." Kavindra mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Nggak."


Tok tok tok


Sebuah ketukan pada kaca jendela mobil mereka membuat keduanya kaget. Ternyata Serafina, adik dari Riri yang mengetuknya.


"Ngapain woi? Jangan buat mes*m di mobil," teriak gadis dengan rambut dikepang dua itu.


"Awas, Bang! Buruan keluar malu tahu," ucap riri dengan sedikit menggerutu.


"Ish, ganggu banget sih. Ya udah iya-iya." Pria tampan itu pum membuka kunci pintunya, kemudian keduanya bergegas keluar.


Saat keduanya berada di luar, Sera menatap jahil ke arah keduanya.


"Jangan mikir macem-macem, kita nggak ngapa-ngapain." Riri menoyor pipi adiknya dengan gemas.


"Dih, bodo amat mau ngapain juga, orang kalian udah sah, cuma lihat tempat dong," sindir Sera sambil tergelak.


Kavindra yang masih berada diantara keduanya pun, mengusak rambut adik iparnya dengan gemas. "Udah ayo kita masuk!" ajaknya.


Setelah itu, ketiganya pun berjalan menuju rumah. Namun, Riri tetap tak mau berdekatan dengan sang suami. Wanita yang masih terlihat cantik walaupun sedang marah itu lebih banyak bercerita dengan sang adik.


"Mama sama Papa mana , Dek?" tanyanya saat mereka masuk ke dalam rumah yang tampak sepi.


"Mama sama Papa lagi ke rumah Tante Erna, katnya mereka mau menginap di sana, mama mertua tante Erna sedang di rawat di rumah sakit." Sera menjelaskan sambil mengajak kakaknya duduk.


"Baguslah Kak Riri datang hari ini, nginep sini ya?" imbuhnya.


"Boleh ya Pak Kavin?" Gadis itu menatap ke arah kakak iparnya, dan anggukkan dari pria yang memang sangat baik itu membuat Sera bersorak.


"Kamu bisa nggak ganti manggilnya jangan Pak Kavin, Abang aja kaya kakak kamu?" pinta Kavindra pada adik iparnya.


"Boleh dong, emang dari dulu juga mau manggil gitu, tapi ... takut nggak sopan," jawab Sera.


Kavindra pun tersenyum sambil kembali mengusak rambut adik iparnya itu. Dari dulu ia memang menginginkan seorang adik perempuan, tapi Allah memberi dia dua adik laki-laki.


Walaupun Riri tak memperlihatkan kekesalannya pada sang suami di depan adiknya. Namun, Sera dapat merasakan aura tak enak dari keduanya.


"Kalian lagi berantem ya?" selidiknya.


"Ng-nggak kok, iya kan, Bang?" Riri meminta persetujuan suaminya.


"Eh, iya nggak kenapa-kenapa kok. Kita baik-baik aja iya kan, Yang?" Kavindra beranjak dari duduknya dan berpindah tempat menjadi di sebelah Riri.

__ADS_1


"Ya udah yang akur ya, jangan banyak berantem nggak enak," celoteh Sera yang sukses kembali mendapat toyoran dari sang kakak.


"Nanti kita makan di luar ya?" usul Kavindra yang membuat Sera kembali bersorak senang.


Kini ketiganya asyik berbincang tentang banyak hal dari mulai, pakaian, makanan sampai akhirnya Sera bercerita tentang seseorang yang saat ini gencar mendekatinya.


Kavindra yang tiba-tiba menerima panggilan telepon dari asistennya, izin keluar sambil cari angin. Pria itu pun keluar dan duduk di teras depan sambil menerima panggilan dari Raka.


Sementara kedua kakak-adik itu dibiarkan berbincang berdua di dalam.


"Gue nyesel udah bikin istri gue ngamuk, Ka," ucap Kavin dengan setengah berbisik. Terdengar suara tawa dari seberang telepon. Raka tergelak saat mendengar curhatan dari atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Lagian ngapain coba pakai coba-coba bikin dia cemburu, padahal pas kejadian Kia aja udah jelas banget dia tuh cemburu banget," jawab Raka dari seberang sambungan telepon.


"Iya terus gue harus gimana coba?"


"Rayulah, entar nggak dikasih jatah baru rasa." Raka terdengar tertawa lagi dan membuat Kavindra tergelak.


"Okelah."


"Nggak perlu saran nih, buat naklukin istri yang lagi ngamuk?" sindir Raka sambil terkekeh.


"Nggak usah entar malah tambah ngamuk. Oke makasih." Kavindra pun menutup sambungan teleponnya.


"Aku harus bisa," gumamnya.


"BIsa apa, Bang?"Tiba-tiba Riri sudah berada di sampingnya.


"Sera pengen makan bakso, aku juga pengen yang pedes banget pokoknya," ucap Riri pada sang suami.


"Oh y udah ayo!" ajaknya.


"Bentar dia lagi tutup toko dulu, bantuin dulu gih, Bang. aku mau ke toilet sebentar," jawab Riri sambil membalikan  tubuhnya. Namun, dengan cepat Kavindra memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Jadi, kamu udah maafin aku, kan?" bisiknya yang malah mendapat injakkan di kakinya, hingga pria itu melepas pelukannya dan mengaduh.


"Jangan ngarep, aku masih kesel sama kamu." Riri pun berlalu ke dalam tanpa kembali menoleh ke arah suaminya yang meringis kesakitan.


Kavindra pun akhirnya berjalan ke arah toko yang berada tepat di samping rumah mertuanya itu. Pria itu dengan giat membantu membereskan beberapa barang yang sedikit berantakan untuk dipindahkan ke rak yang ada di sana.


Tak berselang lama keduanya sudah selesai menutup toko dan tak lupa menguncinya. Sera pun pamit pada kakak iparnya untuk bersiap-siap sebentar. Pria itu pun hanya mengangguk dan menunggu keduanya di teras depan seperti tadi saat ia menerima panggilan telepon.


Sekitar lima belas menit, akhirnya istri dan adik iparnya berjalan menghampirinya. Namun, ada yang berbeda saat ia melihat penampilan istrinya. Wanita itu mengganti pakaiannya dengan sedikit terbuka, atasan tanpa lengan dan celana jins panjang.


"Yang, kamu nggak salah pakai itu?"" tanya Kavindra yang memang tak pernah melihat istrinya keluar dengan penampilan seperti itu, kecuali jika berada di rumahnya.


"Nggak, ini cardigannya aku bawa, Bang. Waktu itu Sera pinjam." Sera memberikan cardigan itu pada sang kakak. Lalu Riri memakainya.


"Jangan lupa kunci pintunya, Dek." Riri mengingatkan. Setelah dirasa sudah aman, mereka menuju mobil dan siap untuk kuliner.

__ADS_1


Perjalanan yang mereka tempuh hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja. Riri dan Sera sudah siap untuk menikmati makanan kesukaan mereka.


"Kita lomba ya, Kak. Siapa yang bisa ngabisin bakso dengan level pedas paling tinggi, dia berhak minta apapun, deal?" tawar Sera sesaat sebelum keduanya turun dari mobil.


"Abang boleh ikutan ya?" sela Kavindra.


"Emang bisa makan pedas?" tanya Sera, karena setahu dia kakak iparnya itu anti dengan yang namanya pedas.


"Kita lihat aja nanti, deal!" Kavindra ikut menjabat tangan kedua gadis itu.


Setelah itu ketiganya turun dari mobil dan menuju warung bakso langganan kedua wanita itu. Sera dan Riri memesan bakso sesuai selera masing-masing, begitu juga Kavindra.


Sambil menunggu pesanan mereka datang. Ketiganya berembuk berapa sendok sambel yang harus dimasukkan ke dalam kuah bakso mereka nanti.


"Lima sendok aja gimana? Disini kan sambelnya setan bener," usul Riri yang tahu bagaimana pedasnya sambel bakso di sini.


"Ah cetek, tujuh berani nggak?" sela Sera sambil melirik pada kedua kakaknya.


"Deal!" jawab Kavindra santai.


"Kamu gila, Bang. Di sini tuh sambelnya pedes banget," protes Riri sambil melirik ke arah suaminya yang tampak tenang.


"Udah deal, Kak. Atau mau ngalah dari sekarang?" goda Sera yang membuat Riri menolak mentah-mentah. Bersamaan itu pesanan mereka datang. Bumbunya boleh apa saja sesuai selera masing-masing, tapi sambelnya harus tujuh sendok makan, itu syaratnya.


.


Tanpa diduga ternyata Kavindra yang memenangkan lomba itu. Pria itu ternyata penyuka pedas juga, tapi selama ini ia sembunyikan dari sang istri.


"Abang menang dong, jadi bisa minta  apapun sama kalian berdua, kan?" goda Kavindra yang saat ini sedang melajukan mobilnya menuju tempat yang lain.


"Curang ih, tahu gitu Abang tadi nggak usah ikutan, kan aku jadi menang," oceh Sera sambil sesekali mengipasi bibirnya dengan tangan.


"Lha, kan katanya tadi boleh."


"Pokoknya jangan minta jajan, aku nggak punya," imbuh Sera yang membuat Kavindra tergelak.


"Awas kalau minta yang aneh-aneh, aku nggak mau." Riri mengeluarkan suaranya.


"Nggak, satu macam doang kok, Yang."


"Apa?"


"Rahasia," bisiknya.


Bersambung


Happy Reading 😘


Pake rahasia-rahasiaan segala ya, aku kan jadi pinisirin wkwkwk.

__ADS_1


Jan lupa jempolnya ya gerakin biar aku tambah semangat.


__ADS_2