Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Menemani Acara


__ADS_3

"Pak memangnya ada acara perusahaan ya nanti malam?" tanya Riri.


Kavindra menggelengkan kepalanya. "Nanti malam kita tunangan."


"Apa?" Riri tersentak mendengar ucapan pria di sampingnya.


"Jangan main-main dong, Pak," gerutu Riri.


Pria jangkung di sampingnya malah tergelak mendengar omelan gadis di sampingnya.


"Kamu seneng banget ya kalau kita tunangan," goda Kavindra yang membuat gadis itu memukul lengannya.


"Nggak lucu, Pak. Sumpah."


Kavindra mengulurkan satu tangannya untuk mengusap rambut Riri. Namun, gadis itu langsung menepisnya. Pria itu kembali tergelak dan membuat gadis itu makin jengkel.


"Nggak, Ri. Maksud aku kita akan menghadiri pesta pertunangan salah satu kerabatku," jelas Kavindra.


"Kenapa bilang ke mama, kalau ini acara kantor?" tanya gadis itu tak mengerti.


"Yang tunangan kerabatku yang juga rekan kerjaku. Ya bisa dibilang acara kantor juga lah," ucap Kavindra.


"Ya mana bisa gitu sih, Pak. Aku pulang aja lah," ucap Riri dengan melipat kedua tangannya.


"Ya, janganlah. Kamu kan sudah aku izinkan buat nggak masuk kerja." Kavindra mengingatkan hal itu pada gadis di sampingnya.


"Meningan saya kerja lah, Pak." Riri menjawab dengan kesal.


Kavindra hanya tergelak, lalu ia membelokkan mobilnya ke sebuah hotel bintang 5.


Riri makin mengerutkan keningnya dalam.


"Kita ngapain ke sini?" Gadis itu menatap curiga ke arah pria di sampingnya.


"Mau melanjutkan yang waktu itu," gelak Kavindra yang membuat gadis itu makin menekuk wajahnya.


"Nggak lucu, Pak. Saya mau pulang." Riri membuka sabuk pengamannya, saat mobil itu berhenti.


Gadis itu akan bergegas ke luar, tapi tangannya ditarik Kavindra.


"Acaranya memang di sini, Ri. Aku nggak akan berbuat macam-macam, hanya bantu temani ke acara pertunangan saja," jelas pria itu lembut.


Hal itu membuat gadis itu terdiam. Kavindra mengajak gadis itu keluar. Tanpa penolakan gadis berambut diikat itu pun turun. Saat keduanya berjalan menuju lobi. Tiba-tiba Riri berbisik, "Pak, saya nggak bawa baju buat ke acara nanti. Saya cuma bawa setelan buat kerja."


Kavin tersenyum. "Tenang saja sudah aku siapkan semuanya."


Lalu pria itu menemui resepsionis dan memesan 2 kamar untuk mereka.

__ADS_1


Riri menunggu pria itu, sampai akhirnya ia kembali dengan dua kartu akses di tangannya.


"Kita nggak sekamar lagi sekarang," ucap Kavindra dengan nada pura-pura menyesal.


"Alhamdulillah." Riri mengusap wajahnya dan hal itu sukses membuat Kavindra kembali tergelak. Makin lama gadis di depannya begitu menggemaskan.


Setelah itu, keduanya masuk lift untuk sampai ke kamar mereka masing-masing yang ternyata bersebalahan. Riri masuk ke kamar nomor 305 sementara Kavindra masuk ke kamar sebelahnya nomor 306.


"Kamu bisa istirahat dulu, acaranya masih nanti malam," ucap Kavindra sebelum gadis itu masuk ke kamarnya. Dan hanya anggukan yang ia dapatkan sebagai jawaban. Kemudian, Riri masuk dan menutup pintunya.


Kavindra pun masuk ke kamarnya. Sebenarnya kamar itu sudah dipesankan oleh sahabatnya itu. Saat ia masuk, tampak sebuah paper bag di atas tempat tidur. Tertulis inisial R di memo yang ditempel di paper bag itu.


"Oh, mungkin ini gaun yang sudah aku pesan," gumamnya sambil mengambil paper bag itu, lalu membukanya. Dengan segera ia kembali keluar.


Pria itu mengetuk kamar sebelahnya. Menunggu cukup lama, ia berdiri dengan paper bag di tangannya.


"Sebentar!" Terdengar sahutan dari dalam saat Kavindra kembali mengetuk pintu kamarnya. Setelah itu benda di depannya terbuka sedikit, dan gadis itu hanya mengeluarkan kepalanya.


"Pak Hantu … eh Pak Kavin, ada apa?" tanyanya sedikit gugup.


"Nggak boleh masuk nih?"


"Nggak!"


"Pelit banget si," rajuk Kavindra.


"Ada perlu apa, Pak?" desak Riri.


"Ini baju untuk nanti malam," ucapnya.


Riri mengulurkan satu tangannya untuk meraih paper bag itu. "Oh iya, makasih, Pak."


Gadis itu hendak menutup pintu, tapi ditahan oleh Kavindra.


"Kenapa?"


"Dandan yang cantik ya," ucapnya sambil tersenyum.


"Ish." Riri memutar bola matanya lalu menutup pintunya.


Gadis itu menggerutu setelah menutup pintunya.


"Seneng banget sih godain orang."


Lalu ia duduk di tepi ranjang dan membuka paperbag yang diberikan pria jangkung itu.


"Wah! Bangus banget gaunnya. Ini yang aku incer dari dulu," pekiknya sambil mengeluarkan gaun itu dan memasangkannya di depan tubuhnya. Ukurannya begitu pas.

__ADS_1


Malam pun tiba, acara pertunangan yang diadakan di ballroom hotel ini akan segera dimulai. Kavindra dan Riri sudah berada di tempat acara.


Keduanya tampak serasi dengan pakaian warna senada.


Riri sedikit canggung saat berada di tengah-tengah orang asing.


"Pak ini masih lama?" bisiknya saat keduanya duduk berdampingan di kursi tamu.


"Sebentar lagi juga akan dimulai, kamu nggak nyaman?" Kavindra bertanya saat melihat gadis itu tampak gelisah.


"Ng-nggak apa-apa, kok," jawab gadis yang tampak lebih cantik itu dengan memilin jari-jemarinya.


Namun, tanpa diduga Kavindra menggenggam kedua tangan gadis itu. "Tenang saja, aku janji setelah acara selesai kita pulang," ucapnya lembut.


Riri mengangguk tanpa berucap sepatah katapun. Perasaannya tidak enak sejak ia berada di ballroom. Entah kenapa seperti akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya.


Sampai akhirnya suara MC terdengar bahea acara pertunangan antara Adi dan Asti akan segera dimulai.


Tampak pria tinggi dan wanita dengan gaun selutut di atas panggung. Mungkin mereka adalah pasangan yang saat ini akan melaksanakan pertunangan. Keduanya tampak serasi dan terlihat bahagia.


Acara demi acara berlangsung lancar. Kini semua tamu memberi selamat pada pasangan itu setelah itu mereka menikmati hidangan yang sudah tersaji. Kini Kavindra dan Riri berjalan ke depan untuk menemui pasangan itu.


"Selamat ya, Di. Ditunggu undangan selanjutnya," ucap Kavindra sambil menyalami pria di depannya lalu mendekapnya dameeuk bahunya.


"Terima kasih sudah hadir, Vin," jawab Adi. Lalu pria itu melirik ke samping Kavindra.


"Ki-Kia?" Adi terkejut saat melihat Riri berdiri di samping Kavindra. Namun, Kavin menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan, kenalkan dia Arisha calon istriku," ucap Kavindra yakin.


Sementara Riri hanya menatap ke arah Kavindra lebih tepatnya melotot.


"Pak Kav--" Ucapannya terjeda saat pria di depannya meraih tangannya dan berkata, "Jangan tinggalkan Kavin lagi, dia orang yang baik."


Riri jadi tambah bingung dengan keadaan saat ini, akhirnya ia hanya mengangguk. Setelah itu, mereka menikmati hidangan yang tersedia di sana. Riri tampak tak berselera makan, gadis itu masih kesal dengan pria yang setia berada di sampingnya sedari tadi.


"Kenapa muka cantiknya ditekuk gitu sih?"


"Pak Kavin ngapain bilang kaya tadi sih?"


"Bilang yang mana?" Kavindra pura-pura tak mengerti.


"Jangan pura-pura lupa deh," omel Riri, lalu berlalu untuk kembali duduk.


Kavindra terkekeh dan mengikuti gadis itu di belakangnya. Namun, tiba-tiba saja sesutu terjadi di depannya.


Plak!


"Dasar perempuan tak tahu malu, setelah pergi sekarang kembali untuk merebut anakku!"

__ADS_1


Bersambung…


Happy Reading 😘


__ADS_2