Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Malu


__ADS_3

Kavindra mencuci wajahnya hanya untuk menghilangkan rasa gugupnya, karena baru pertama kali ia sekamar dengan seorang perempuan.


Pria itu bercermin melihat wajahnya yang sudah basah oleh air. Pahatan wajahnya memang sangat sempurna, tampan.


Namun, saat ia membuka pintu toilet, tampak seseorang membelakanginya dan membungkuk, melihat dari kedua sela kakinya. Setelah gadis itu berdiri lagi, Kavindra berjalan menuju arah lemari. Tak disangkanya gadis itu berteriak panik.


"Hantu!" Sambil berlari ke arah pintu. DiSehingga Kavindra dengan sigap menarik tangan gadis itu, walaupun dengan posisi yang sama.


"Ampun hantu, aku bukan calon istri kamu. Jangan ganggu aku!" ucap gadis itu dengan sedikit gemetar.


Hal itu membuat Kavindra terkekeh geli, sehingga ia ingin menggodanya. Karena baru kali ini wajah tampannya dibilang seperti hantu. Gadis yang unik dan ia makin yakin kalau gadis yang saat ini tangannya ia genggam bukanlah calon istrinya yang dulu menghilang.


Namun, kenapa gadis itu bisa tahu kalau ia sedang mencari calon istrinya? Itu yang dipikirkan oleh Kavindra. Apa mungkin benar ada hantu yang gagal nikah seperti dirinya?


"Kamu harus nikah sama aku."


"Mama, Riri nggak mau nikah sama hantu!"


Gadis itu malah berteriak makin kencang. Sehingga membuat Kavindra akhirnya menarik tubuh gadis itu, hingga menubruk dada bidangnya. Pria itu kira gadis bernama Arisha itu akan menatapnya, ternyata gadis itu dengan erat memejamkan netranya. Kedua tangannya menahan dada Kavindra.


Namun, saat pria tinggi itu mencondongkan wajahnya, terdengar gumaman gadis itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar."


Kavindra tak bisa lagi menahan tawanya, sampai akhirnya ia menjawil hidung mancung Arisha dengan gemas.


"Itu doa makan, kamu mau makan aku?" gelak Kavindra, hingga membuat gadis itu membuka matanya dan sadar bahwa apa yang baru ia gumamkan memang doa ketika makan.


"Kata Bang Agam, kalau lihat hantu baca doa makan, biar hantunya kabur karena ntakut dimakan," jelas Arisha tanpa sadar.


Kavindra makin tergelak dengan tingkah polos gadis di depannya. "Aku bukan hantu. Masa ganteng gini dibilang hantu," ucap Kavindra dengan sedikit menggerutu.


Arisha menarik nafasnya dalam, lalu mengembuskannya pelan. Gadis itu sudah lepas dari Kavindra. Dia masih berdiri di posisinya, sementara pria yang dikira hantu itu duduk di ranjang sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Kamu beneran bukan hantu yang bunuh diri gara-gara gagal nikah, kan?" Arisha memastikan sambil memundurkan tubuhnya.


"Terus kenapa tadi ngajak aku nikah coba?" imbuhnya.


Kavindra berdecak, ia juga mengumpat sahabatnya yang memberikan rumor palsu mengenai dirinya.


"Iya aku memang pernah gagal nikah dua tahun lalu, dan aku kira kamu calon istriku. Karena wajah kalian mirip," jelas Kavindra santai.


"Aku nggak kenal kamu, dan bukan calon istri mu. Aku bahkan sudah memiliki kekasih, jadi jangan ganggu aku." Arisha berucap panjang lebar.


"Kalau kamu bukan hantu, ngapain ada di kamar aku?"


"Ini kamar aku," jawab Kavindra tanpa merubah posisinya. Sementara Arisha masih tampak waspada pada pria di depannya. Kenapa wajahnya sedikit mirip Davanka? Pikirnya.


"Ini kamar aku. Pak Raka yang memberikan kartu chip kamar ini sama aku," kekeh Arisha sambil memperlihatkan kartu chipnya.

__ADS_1


Namun, pria tampan itu mengeluarkan benda yang sama. "Kita suit saja bagaimana? Yang kalah tidur di sofa yang menang tidur di kasur," usul Kavindra.


"Nggak usah suit, aku ngalah aja." Arisha berjalan menuju ke arah lemari dan membereskan barang-barangnya lalu dimasukan kembali ke dalam tas.


Kavindra yang melihat itu, langsung beranjak dan kembali menarik tubuh mungil Arisha hingga gadis itu berbalik ke arahnya. Kavindra lalu mengurungnya dengan menempelkan kedua tangannya ke lemari. Hingga Arisha tak bisa pergi ke mana-mana.


"Jangan macam-macam!" ancam Arisha dengan memelototkan netranya. Sebenarnya gadis itu sedang panik.


"Kamu mau ke mana? Peraturan Raka itu tak bisa diganggu gugat. Jika kamu memilih kamar lain, silakan. Namun, semua fasilitas selama di hotel ini jadi tanggung jawab kamu sendiri." Kavindra menjelaskan dengan sedikit penekanan di setiap kata-katanya.


"Kalau gitu kamu yang keluar, aku di sini karyawan baru. Belum dapat gaji juga," lirihnya.


"Ya sudah nikmati saja malam bersama kita," usul Kavindra.


"Aku nggak mau," tolak Arisha mentah-mentah.


"Ya udah bayar semuanya sendiri," ucap Kavindra lalu berbalik pada ranjang dan duduk seperti sebelumya.


"Kamu karyawan baru juga? Aku nggak pernah lihat kamu. Terus, kok songong banget manggil Pak Raka dengan nama doang?"


Namun,Kavindra hanya terkekeh, lalu pria itu mulai merebahkan tubuhnya yang memang sudah terasa lelah.


"Menyebalkan," gerutu Arisha saat melihat pria itu malah rebahan.


Akhirnya, Arisha juga sepertinya sudah lelah berdebat dengan pria asing ini. Gadis itu pun menuju sofa dan duduk di sana. Gadis cantik itu bertekad tak akan menutup matanya untuk tidur. Namun, baru beberapa saat gadis itu pun ikut terlelap dengan posisi duduk.


"Aku tahu kamu memang bukan Kia, makanya mulai sekarang aku tak akan pernah melepaskanmu." Kavindra bergumam sendiri.


Setelah itu, Kavindra menggendong tubuh mungil Arisha dan membaringkannya di ranjang. Sementara itu, dirinya yang berbaring di sofa. Namun, sebelum ia ke sofa, pria itu sempat mengambil foto bersama gadis itu dengan posisi yang sangat intens.


Jika, orang lain yang melihatnya maka mereka akan menganggap keduanya telah melakukan sesuatu.


***


Keesokan paginya, Arisha bangun lebih dulu dan merasa heran saat dirinya sudah terbaring di kasur. Sementara itu, pria 'hantu' itu masih ada ternyata dan ia tidur di sofa.


Gadis itu pun memeriksa pakaiannya dan ternyata masih utuh. "Aman."


Kemudian, gadis berambut panjang itu beranjak dari tidurnya, membawa pakaian barunya dan langsung masuk ke toilet. Arisha takut pria itu terbangun, sehingga ia berjalan dengan sangat pelan menuju toilet.


Setelah berada dalam toilet, Arisha mengunci pintunya, lalu mulai melakukan ritual mandinya. Acara mandi yang biasa lama, kali ini gadis itu menyingkatnya, bahkan dalam waktu dua puluh menit sudah selesai dengan berpakaian lengkap.


Saat keluar, gadis dengan rambut dicepol itu, kembali melihat ke arah sofa dan ternyata pria itu masih terlelap. Arisha pun lalu mulai mengambil tas tangannya, ia mengoleskan sedikit make up pada wajah cantiknya.


Lalu ia pun melaksanakan dua rakaat.


Setelah selesai, ia kembali melihat ke arah Kavindra yang masih terlelap. Tanpa gadis itu ketahui, ternyata pria tampan itu sudah terjaga sejak dirinya berada dalam toilet.


Arisha bergegas melipat mukena yang sudah selesai ia gunakan, lalu memasukannya kembali ke dalam lemari.

__ADS_1


Gadis itu pun, membawa tas tangannya, lalu beranjak keluar. Padahal saat itu masih subuh, tapi gadis itu tetap keluar. Arisha tidak mau terjadi fitnah pada dirinya, bahwa malam ini ia sekamar dengan pria asing.


"Kenapa pertama kali masuk hotel, begitu menyebalkan," gerutunya sambil berjalan menuju lift.


Gadis itu akan berjalan-jalan di taman yang kemarin ia kunjungi, tempatnya berada di belakang hotel. Arisha mengeratkan jaketnya saat sudah berada di lobi hotel. Namun, gadis itu masih belum bertemu dengan teman-teman yang lainnya.


Gadis itu berjalan santai, tapi saat sampai di taman belakang. Namun, tiba-tiba pendanaannya fokus pada sosok tinggi yang sedang berdiri dekat pohon rindang.


"Ya Allah moga bukan hantu lagi, atau yang bunuh diri itu dia," gumamnya sambil berbalik arah untuk kembali ke kamarnya.


"Arisha!" Terdengar suara pria memanggilnya. Gadis itu bukan menghentikan langkahnya, tapi malah mempercepat langkahnya.


"Aku nggak mau lagi pergi ke hotel buat acara kaya gini, sumpah," rutuknya lalu ia berlari.


Pria tinggi yang tinggi yang tadi memanggilnya ternyata Raka. "Eh malah kabur," ucap Raka.


"Padahal mau tanya nggak diapa-apain tuh sama si Kavin?"


Waktu pun berlalu dan sang mentari sudah siap menyinari bumi. Kini semua karyawan sudah berada di gedung kemarin. Hari ini akan ada sambutan dari pemilik perusahaan.


Arisha sudah duduk bersama Adelia dan yang lainnya. Gadis itu belum menceritakan tentang pertemuannya dengan pria 'hantu' semalam.


Namun, saat semuanya fokus dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Pak Raka mengumumkan bahwa sekaran adalah waktunya sambutan dari sang owner. Semua orang fokus pada panggung di depan. Sampai sosok yang ia lihat semalam berada di sana dengan tersenyum tampan pada semua hadirin.


"Apa? D-dia pemilik perusahaan? Ja-jadi dia bos aku," Arisha bergumam dengan terbata. Dan sialnya saat ini ia duduk di deretan paling depan, hingga Kavindra bisa melihatnya dengan jelas.


Arisha menunduk dalam, saat pria itu memperkenalkan dirinya. Bahkan sesekali pria itu menatap ke arah Arisha yang kini mungkin pipinya sudah memerah karena malu.


Acara hari ini pun berjalan dengan sangat lancar, tapi tidak dengan Arisha. Gadis itu terus menghindar jika berpapasan dengan Kavindra. Namun, pria itu malah dengan santainya mengajak Arisha untuk berkeliling dan menjelaskan semua padanya. Dengan alasan dia baru kembali dari luar negeri.


Adelia, Reva, Dila dan Silvi malah gencar untuk mendekati bosnya itu yang ternyata memang sesuai dengan ekspektasi mereka.


Bahkan saat Kavindra bertanya mengenai sesuatu, keempatnya langsung menjawab hampir bersamaan.


"Aku permisi sebentar, Pak," ucap Arisha tanpa melihat wajah Kavindra yang sedari tadi sudah menahan senyumnya.


"Mau ke mana?"


Bersambung…


Happy Reading 😘


Ayo mau ke mana tuh Riri? Malu banget nggak sih yang dibilang hantu ternyata bos sendiri wkwkwk.


Aku akan tetap usahain up tiap hari pokoknya, tapi jamnya aku nggak tau ya, soalnya aku kan riweh ama bocah.


Bab ini panjang lo ya 1400 kata.


Jan lupa gerakin jempolnya ya!

__ADS_1


__ADS_2