
Davanka memilih tidur di kantornya, setelah duduk termenung hingga malam di roop top. Pria itu menyesali semuanya, setelah kekasih yang begitu mencintainya dengan tulus meninggalkannya.
"Maafkan aku, Sha." Kalimat itu terus Davanka ucapkan berulang kali.
Malam yang semakin dingin, membuat pria itu akhirnya beranjak dari duduknya dan turun menuju ruangannya. Dia tidak akan pulang ke rumahnya malam ini.
Pria itu merebahkan tubuhnya di sofa besar di ruangannya.
Hingga pagi menjelang pria itu masih memejamkan netranya. Sampai akhirnya sinar mentari membangunkan dirinya lewat jendela. Davanka pun bangun dan membersihkan tubuhnya, lalu memakai setelan kerja yang sengaja ia simpan di sana.
Pria itu langsung bekerja, tanpa mau beranjak dari ruangannya. Sarapan hingga makan siang pun ia pesan lewat office boy kantornya.
****
Kantor Kavindra
"Bagaimana kabar mama kamu?" tanyanya yang membuat Riri mengernyit heran.
"Alhamdulillah baik, Pak."
"Kemarin mama kamu bilang … kalau --"
Tok tok tok
Suara pintu ruangan itu diketuk seseorang, yang membuat percakapan mereka terhenti.
"Masuk!"
Tampak pria berkacamata dengan beberapa map di tangannya. Pria itu tampak mengernyit saat melihat ada orang lain di ruangan itu.
"Saya permisi, Pak. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," pamit Arisha sambil berdiri. Namun, Kavindra menahan gadis itu agar tetap duduk dan menunggunya.
"Tapi …."
"Duduk saja, tunggu sebentar," ucap Kavindra meyakinkan gadis itu bahwa semuanya baik-baik saja.
"Gawat, ada masalah cukup serius di kantor kita, Vin." Raka mulai mengutarakan apa yang sedari ia ingin sampaikan.
"Kenapa?"
"Ada yang menggelapkan keuangan kita, selain itu ada masalah juga dengan peserta yang kita kirim ke luar negeri kemarin," paparnya.
Kavindra mencondongkan tubuhnya ke depan, yang sedari tadi bersandar. Ia mengambil semua berkas keuangan yang dibawa oleh Raka. Dan melihat data yang baru berangkat bulan lalu.
Arisha terlihat canggung dengan keadaan di depannya. Namun, ia juga bingung harus berbuat apa. Akhirnya, ia hanya duduk dan mendengarkan apa yang atasannya itu bincangkan.
Gadis itu terdiam cukup lama, sampai akhirnya ia mencoba mengeluarkan pendapatnya.
"Sebaiknya saya keluar saja, Pak."
"Duduk!" Kavindra dan Raka berucap berbarengan, hingga membuat gadis itu mengerjap kaget. Arisha menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, saat kedua pria di depannya itu kembali berdebat.
Waktu terus berjalan, sore sudah menjelang dan sudah jam pulang, tapi Arisha masih ditahan di ruangan itu. Gadis itu sudah melihat jam tangannya berkali-kali. Namun, masih tidak ada yang membiarkan gadis itu untuk keluar dan pulang.
"Riri, kamu biar saya antar pulang. Tenang saja." Kavindra tiba-tiba berucap setelah pembahasan dengan sang asisten dirasa selesai.
__ADS_1
"Saya bisa pulang sendiri, Pak." Riri menolak secara halus.
"Jangan sudah dianterin Pak Kavin aja, gimana nanti kalau ketemu hantu lagi kaya pas di hotel," goda Raka sambil tergelak, yang membuat rona merah di pipi Arisha terlukis dengan jelas.
"Pak Raka ih …." Hanya itu yang keluar dari bibir mungil Arisha.
"Nggak apa-apa yang penting hantunya tampan kaya aku," sela Kavindra menimpali keduanya.
Arisha hanya memutar bola matanya. Lalu akhirnya ketiganya keluar dari ruangan Kavindra hendak pulang. Gadis itu sempat pamit sebentar untuk mengambil tasnya di meja kerjanya.
Dengan langkah terburu-buru, Riri mengambil barang-barangnya, apalagi saat ini sudah mau maghrib. Suasana kantor sedikit agak horor bagi gadis itu, karena sudah sepi.
Namun, tanpa dia sadari Kavindra ternyata mengikutinya dari belakang.
"Tadi Pak Hantu mau ngomong apa sih? Penasaran aku," gumam Riri sambil memasukan beberapa buku catatannya ke dalam tasnya.
"Nanti kita lanjutin di mobil ngobrolnya." Tiba-tiba Kavindra menjawab gumaman gadis itu hingga berteriak.
"Astagfirullah Pak Hantu … ups--" Riri menutup mulutnya, selain kaget dia juga keceplosan menyebut hantu pada pria di depannya.
Kavindra terkekeh melihat reaksi gadis di depannya. "Panggilan aku keren banget ya, tapi sedikit horor," ujarnya.
"Emm … bukan gitu maksud aku," sanggah Riri salah tingkah.
"Nggak apa-apa aku suka. Ayo kita pulang!" ajaknya sambil berbalik ke arah jalan keluar. Riri mengikuti pria jangkung itu di belakang, dengan meremas jari-jemarinya. Perasaannya sangat malu saat ketauan memanggil pria itu hantu. Bodoh-bodoh, Riri.
Kini keduanya sudah berada dalam mobil Kavindra. Pria itu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Suasana masih hening beberapa saat. Sampai akhirnya pria tampan itu memulai percakapan.
"Mama kamu bilang, dulu kamu dibilang sudah menikah dengan Agam gara-gara kamu punya pacar berandalan." Pria itu menjeda ucapannya sebentar.
"Agam itu beneran kekasih kamu, kah?" lanjutnya.
Kavindra kembali tergelak mendengar bantahan gadis di sampingnya. Kemudian dengan lembut ia mengusap pucuk kepala gadis itu, hingga membuat Riri terdiam sesaat.
"Sebenarnya bukan itu yang mama kamu bilang, Ri. Beliau bilang kalau mereka ingin segera memiliki memantu dan kriterianya …." Pria itu kembali tak melanjutkan ucapannya.
"Kriterianya apa, Pak?" Riri penasaran.
"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" goda Kavindra sambil mencondongkan wajahnya.
"Dih, Pak. Tempe aja deh, tahu buat besok," sewot Riri, yang entah mengapa malah membuat pria itu makin tergelak. Gadis itu makin hari makin menggemaskan di mata Kavindra.
"Ya udah aku jawab, kriterianya kaya aku," jawab Kavindra dengan senyum lebar di bibirnya.
Riri hanya menatap jengah ke arah pria di sampingnya.
Gadis itu sebenarnya masih dalam masa pemulihan setelah sakit hati yang ia terima dari mantan kekasihnya. Karena setelah orangtuanya tahu tentang statusnya sekarang, baik Agam maupun Kavindra makin gencar menggodanya, bahkan Rangga juga makin berani.
Dia ingin sehari saja pegi jauh dari orang-orang itu. Namun, ia juga takntahu harus ke mana. Apalagi kerjaan makin banyak.
"Oya, Pak. Bagaimana dengan masalah kantor tadi, kenapa Pak Kavin terlihat biasa saja?" Riri mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja. Yang penting kamu rajin masuk kerja, dan aku akan selalu bisa menyelesaikan semuanya," ucap Kavindra.
"Yah, padahal aku mau minta libur sehari aja, Pak." Riri mencoba mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
"Memangnya mau liburan ke mana?" tanya Kavindra.
"Ya ke mana ajalah, yang penting bisa refresh otak dulu," jawab Riri kemudian menghela nafasnya.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
Namun, sebelum menjawab, pria itu menghentikan mobilnya. Ternyata mereka sudah sampai di rumah Riri.
"Kok, berhenti di sini sih, Pak?" Riri tak menyadari bahwa mereka telah sampai.
Kavindra menghentikan gerakan membuka sabuk pengamannya, saat mendengar ucapan gadis di sampingnya.
"Memangnya kamu mau ke rumah yang mana? Oh atau pulang ke rumah kita," goda Kavindra.
Riri melihat ke luar jendela, ternyata rumahnya sudah terlihat di depannya.
"Aduh, maaf Pak, aku kira belum nyampai."
"Eh … Pak Kavin mau ke mana?" Riri bertanya saat pria itu hendak membuka pintu mobilnya.
"Nganter ke rumah lah."
"Nggak usah deh, Pak. Pak Kavin langsung pulang aja," ucap Riri santun walaupun maknanya tetap menolak kehadiran pria itu.
"Lah, aku jadi kaya supir taksi online ya," ucap Kavin pura-pura tersinggung.
"Eh … bu-bukan gitu maksud aku …." Riri jadi salah tingkah. Dan akhirnya membiarkan pria itu mampir ke rumahnya untuk kedua kalinya.
Keduanya disambut hangat oleh sang mama. Riri masuk dan pamit ke kamarnya. Sementara itu, Kavindra duduk bersama mama Rina di ruang tamu, sang papa sedang di perjalanan menuju pulang.
"Nak Kavin, tahu nggak kalau Riri sekarang pagi jomblo, katanya kemarin dia baru putus dari pacarnya yang tante juga nggak tahu orangnya yang mana," bisik mama Rina pada pria di hadapannya dengan sesekali menoleh ke belakang, untuk memastikan bahwa putrinya belum kembali.
"Iya kah, Tante?" Kavindra pura-pura terkejut, padahal sebenarnya ia sudah tahu semuanya.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan itu.
"Besok dan lusa ada acara di kantor, apa Riri boleh menginap lagi seperti saat itu, Tan?" Kavindra meminta izin dari wanita paruh baya di depannya yang wajahnya sama cantiknya dengan sang putri.
"Selama itu menyangkut pekerjaan, Tante pasti izinin dong. Tante titip Riri juga ya. Gadis itu kalau patah hati agak lama sembuhnya," ucap Rina dengan sedikit berbisik.
"Siap, Tante."
"Siap apa nih?" Tiba-tiba Riri datang dengan menggunakan kaos longgar dan celana panjang, rambutnya ia ikat sembarang. Dan hal itu malah menambah kecantikannya.
"Ada deh."
"Kalian ngobrol dulu, mama mau nyiapin makan malam dulu sebentar ya." Wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya.
"Ingat pesan Tante ya," imbuhnya sambil tersenyum pada Kavindra yang tampak mengangguk.
"Pesan apaan sih, Ma?"
Bersambung…
__ADS_1
Happy Reading 😘
Duh babang Kavin ngedeketin emaknya nih, biar dapat anaknya. Itu dia minta izin 2 hari mau ke mana ya? Mana nginep lagi.