
"Namun, Nyonya Arisha juga mengalami infeksi. Jadi kami meminta pihak keluarga, siapa yang harus lebih dulu kami selamatkan?" lirih sang dokter.
Kavindra terduduk lemas di lantai saat mendengar ucapan sang dokter. Pria itu sangat mencintai sang istri, tapi juga menginginkan bayi yang selama ini mereka idamkan.
"Vin, ambil yang menurut kamu terbaik," ucap sang papi sambil memegang bahu putra sulungnya.
"Tapi, Pi …."
"Kamu mencintai istri kamu kan, Vin?" tanya sang mami lembut dan anggukkan dari pria yang tampak rapuh itu sebagai jawabannya.
"Jika kamu memilih Riri, mungkin kamu akan diberi kesempatan untuk kembali memiliki seorang putra ataupun putri," papar sang mami dengan lembut.
"Namun, jika kamu memilih bayi kamu, mereka akan tumbuh tanpa seorang ibu, walaupun Mami akan ada untuk mereka, tapi …." Wanita paruh baya itu tak melanjutkan ucapannya saat Kavindra berdiri dan mengambil keputusannya.
"Selamatkan istri saya, Dok," ucap Kavindra dengan yakin. Dokter itu pun tersenyum dan berucap bahwa mereka akan melakukan yang terbaik.
Mereka semua menunggu di ruang tunggu dengan gelisah. Sampai Mama Rina dan Papa Satria juga Sera datang menghampiri mereka.
"Maafkan kami datang terlambat, jalanan begitu macet," sesal Mama Rina pada Mami Alifa dan yang lainnya.
Kavindra yang duduk terdiam di sudut ruangan, hanya bergeming. Sepertinya pria itu tak menyadari kehadiran mertuanya, sampai Kaivan menepuk bahunya dan memberi tahu bahwa mertuanya sudah datang.
"Pa, Ma, maaf Kavin nggak lihat," lirih pria jangkung itu sambil mencium punggung tangan keduanya.
"Sudah-sudah, nggak apa-apa. Kamu tenang saja, Riri dan bayi kalian pasti akan selamat," ucap sang mama dengan yakin dan hal itu memberi secercah harapan bagi Kavindra.
"Iya, Ma. Kavin takut--" Pria itu kembali menundukkan kepalanya dan bahunya naik turun, ia menangis.
"Kamu pasti kuat, lebih baik kita berdoa bersama untuk kebaikan Riri, ayo!" ajak Papa Satria pada menantunya. Kavindra pun menurut, pria itu mengikuti sang papa mertua menuju mushola rumah sakit.
Namun, ternyata Kaivan, Davanka, Ganendra juga mengikuti mereka. Sementara para wanita menunggu di ruang tunggu, takut jika ada sesuatu pada Riri.
Para pria itu mengambil air wudhu dan siap melaksanakan sholat berjamaah dhuhur. Papa Satria sebagai imam mereka. Setelah mereka menyelesaikan empat rakaatnya. Kedua tangan mereka menengadah memohon keselamatan bagi putri dan cucu mereka. Selain Papa Satria dan Kavindra, ternyata Ganendra dan kedua putra lainnya juga terlihat sangat sedih. Mereka benar-benar menyayangi Riri.
Waktu terus berjalan, dan dokter masih juga belum keluar dari ruangan operasi itu. Kavindra terlihat mondar-mandir, sambil sesekali mengusap wajahnya yang gusar.
Setelah menunggu hampir seharian, akhirnya sekitar jam delapan malam, dokter berkacamata itu keluar.
Kavindra yang pertama kali menemui sang dokter dan bertanya mengenai keadaan istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Tenang, Pak Kavin. Kami telah berusaha semaksimal yang kami bisa--"
"Maksud Dokter apa?" Kavindra tiba-tiba membentak dokter wanita itu. Untung saja sang papi menarik tubuh tingginya.
"Kamu tenang dulu, Vin." Pria paruh baya itu menenangkan putra sulungnya.
"Tapi, Pi--"
"Sstt, dengarkan dulu."
"Selamat Pak Kavindra Anda sekarangenjadi seorang aya dari dua bayi kembar laki-laki dan perempuan," ucap sang dokter dengan tersemyum lebar.
"A-apa? Ma-maksud Dokter istri dan anakku selamat?" Pria yang terlihat acak-acakan itu bertanya gugup ean anggukkan dari sang dokter membuat pria itu memeluk sang papi.
"Nanti Anda bisa menemui istri dan bayi Anda setelah mereka dipindahkan ke ruangan rawat inap," pungkas sang dokter.
Kavindra dan keluarganya mengucapkan banyak terima kasih. Sekarang rona bahagia terpancar dari wajah mereka semua. Selain anak menantu mereka selamat, mereka juga kedatangan anggota keluarga baru sekaligus dua orang.
__ADS_1
"Akhirya Kavin punya dua malaikat, Mi," lirih pria itu saat mereka semua berada di ruangan bayi. Walaupun mereka hanya melihat dari balik kaca, tapi kedua bayi itu terlihat begitu menggemaskan dan sangat lucu.
Kavindra memang dipanggil ke sana untuk mengadzani kedua putra-putrinya. Pria itu begitu bahagia melihat kedua malaikatnya yang kini kembali terlelap.
Setelah itu, kini mereka mengurus ruangan yang akan ditempati oleh Riri. Wanita itu masih memejamkan matanya, saat dipindahkan ke ruangan VIP. Mungkin juga karena kelelahan.
Kavindra tak berhenti menciumi wajah istrinya, saat mereka sudah berada di ruangannya.
Sekitar jam dua belas malam, Riri terbangun. Namun, yang lainnya sudah terlelap, suaminya pun bahkan tertidur di samping ranjangnyq dengan posisi duduk.
"Bang," bisik Riri sambil mengguncang sedikit lengan suaminya. Namun, sepertinya sang suami kelelahan jadi, pria itu masih tetap terlelap.
Riri terbangun, karena kehausan. Saat suaminya tak juga terbangun, akhirnya Riri berusaha meraih botol minum yang ada di nakas. Namun, bukannya berhasil, botol itu malah terjatuh, dan membuat Kavindra terbangun.
"Yang?" Pria itu memanggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku haus, Bang." Riri berucap pelan.
Pria itu pun langsung beranjak dan mengambil minum untuk sang istri. Dengan telaten, Kavindra mengangkat tubuh sang istri agar ia bisa minum dengan leluasa.
Setelah selesai, Kavindra kembali membaringkan tubuh sang istri. Lalu ia mengecup kening sang istri lama.
"Makasih, Sayang. Kalian sudah berjuang."
Riri hanya mengangguk, kemudian bertanya bagaimana keadaan bayinya.
"Anak-anak kita selamat, Sayang. Semua berkat kamu," jawab Kavindra.
"Anak-anak?"
"Iya, Sayang. Kamu melahirkan dua malaikat untukku. Mereka begitu cantik dan tampan seperti kita." Kavindra berucap dengan bahagia.
"Sekarang masih tengah malam, tidur lagi ya," ucap Kavindra ,sambil menyelimuti tubuh istrinya, dan ia kembali duduk di kursi sambil menggenggam tangan sang istri.
Keesokan harinya.
Riri sudah bangun dan saat ini, ia akan diantar untuk menemui kedua bayinya. Wanita itu, akan bertemu kedua malaikatnya untuk pertama kalinya, lalu memberi ASI untuk mereka.
Riri duduk di kursi roda yang didorong oleh sang suami. Perasaan keduanya campur aduk. Mereka, memang masih harus tinggal di rumah sakit sampai keadaan ketiganya benar-benar stabil dan dibolehkan pulang.
Riri menatap dengan bahagia saat, melihat kedua malaikatnya diberikan pada dirinya. Mereka berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Riri menggendong bayi laki-lakinya, sementara Kavindra menggendong bayi perempuan. Perawat di sana memberitahukan bahwa Riri harus terlebih dahulu memberikan ASI pada bayi laki-lakinya, karena bayi itu terus menangis.
Namun, karena ini pertma kalinya, wanita itu bingung bagaimana cara menyusui bayinya, hingga dengan telaten perawat itu membimbingnya. Walaupun terasa sakit dan perih, tapi Riri terus membiarkan putranya mendapatkan apa yang menjadi haknya.
Setelah putranya tertidur, kini giliran putrinya untuk mendapatkan haknya. Sang putra kembali ditidurkan di box-nya. Sementara Riri kembali menyusui putrinya yang kini juga menangis.
Riri sangat menikmati momen istimewa ini. Ia tak menyangka akan memiliki dua orang putra-putri sekaligus, walaupun saat USG, memang dokter mereka bilang, bahwa janin dalam kandungan Riri adalah kembar.
Waktu terus berjalan, setelah satu minggu penuh berada di rumah sakit, kini mereka diperbolehkan pulang. Namun, saat akan pulang kedua orang tua mereka berebut untuk mengasuh cucu mereka. Akhirnya Kavindra pun memutuskan akan pulang ke rumahnya sendiri.
"Aku, Riri, dan anak-anak tinggal di rumahku saja, Pi. Biar kalian semua bisa berkunjung ke rumah kami. Lagian sudah lama juga kan nggak di isi, selama hamil Riri kan tinggal di rumah kalian bergantian," papar Kavindra. Dan sepertinya keputusan Kavindra memang benar dan tak bisa diganggu gugat.
Akhirnya Kavindra pun memboyong keluarga kecilnya ke kediaman mereka yang disambut gembira oleh Bi Sumi. Keluarga Pramudya dan Satria terus bergantian menginap di rumah Riri. Mereka semua benar-benar menyambut bahagia cucu pertama mereka.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari ini tepat empat puluh hari kedua bayi Kavindra dan Riri. Mereka akan mengadakan aqiqah untuk kedua putra-putrinya.
Kediaman Kavindra begitu ramai dengan keluarga dan kerabat dekat, tak lupa sahabat-sahabat dekat mereka pun diundang ke acara aqiqah tersebut.
Acara aqiqah tersebut berlangsung lancar dan khidmat. Kini kedua malaikat itu sudah mempunyai nama. Bayi perempuan bernama Aleena Zeanisa Pramudya dan bayi laki-lakinya bernama Aksa Pramudya.
__ADS_1
Mereka berdoa agar kedua malaikat mereka tumbuh menjadi putra dan putri yang sholeh dan sholehah. Semua doa terbaik untuk kedua bayi itu terus mengiringi selama acara dari keluarga, kerabat dan para sahabat.
Baby Ale dan baby Aksa sudah terlelap di ranjangnya malam ini. Mereka sepertinya kelelahan setelah acara siang tadi. Kini Kavindra dan Riri berbaring di ranjang mereka dengan saling berpelukan.
"Yang, puasanya udah boleh buka dong, ya?" bisik pria tampan itu pada sang istri yang membuat Riri sedikit mengernyit.
Wanita itu memang sudah bersih dari nifas, tapi rasanya masih takut jika harus memberikan hak suaminya saat ini.
"Besok lagi deh, Bang. Aku ... takut," lirihnya.
"Kenapa takut, aku suami kamu lo, Yang?" Kavindra bertanya dengan mengangkat kepalanya dan menyangganya dengan satu tangannya.
"Ish, bukan gitulah, aku masih ngilu."
"Ya udah besok janji ya."
"Iya."
"Jadi sekarang kita langsung bobo aja nih?" Kavindra berucap dengan nada bertanya.
"Iya, Abang Sayang. Aku ngantuk."
"Okelah, sini peluk!" Kavindra menarik tubuh sang istri agar merapat ke tubuhnya.
Namun, sepertinya pergerakan sang istri yang tak sengaja membuat inti tubuh Kavindra bereaksi dan hal itu membuat dirinya tak bisa memejamkan matanya.
"Aku nggak bisa tidur, Yang," bisik Kavindra parau dan sebenarnya Riri juga belum tertidur.
"Terus?"
"Coba dulu deh, Yang."
"Tapi aku takut, Bang."
"Nggak akan apa-apa, sebentar aja ya," bujuknya dan akhirnya anggukkan sang istri pun membuat pria itu bersorak dalam hati.
Saat keduanya sudah bersiap, tiba-tiba saja kedua bayi mereka menangis secara bersamaan.
"Sebentar, Dek. Barru juga mau mulai," ucap Kavindra sambil terus mencumbui sang istri. Namun, kedua bayinya malah menangis makin keras.
"Ah, iya-iya. Papi ngalah deh." Kavindra beranjak dan hendak membuatkan susu untuk salah satu bayinya. Sementara itu, Riri bernafas lega dan langsung mengambil baby Aska.
Malam buka puasa yang gagal membuat Kavindra mengusak rambutnya, tapi membuat sang istri tersenyum bahagia.
Mereka pun kini mengurus kedua bayinya, sampai mereka kelelahan dan tertidur.
Namun, semua itu membuat peran baru mereka sebagai orangtua, memberikan kebahagian yang tiada tara. Walaupun Kavindra menjadi kesulitan untuk bercumbu dengan sang istri, tapi itu malah menjadikan keduanya bertambah saling mencintai dan menyayangi.
Tamaaat
Happy Reading 😘
Akhirnya Babang Kavin tamat ya dan happy ending. Semoga kalian semua suka.
Untuk tahun baru aku akan ke sebelah dulu ya untuk menyelesaikan cerita aku di sana.
Bantu subnya ya kalau kalian mau tahu cerita aku di aplikasi k b m a p p ya. Judulnya CLBK (Cinta Lama Belum Kelar).
Terima kasih semuanya. Salam sayang dari othor 😘🤗
__ADS_1