
"Pak sebenarnya foto itu bohongan, kan? Pak Kavin nggak ngapa-ngapain aku, kan pas di hotel itu?" Riri mengalihkan pembicaraan.
"Ngelakuin nggak ya? Menurut kamu?" Kavindra malah menggoda gadis di sampingnya.
"Ih, aku nggak mau lah kalau sampai … ih amit-amit." Gadis itu mengusap wajahnya.
Namun, tiba-tiba pria di sampingnya mencondongkan wajahnya dan berbisik, "Aku … udah--"
"Stop! Jangan dilanjutin!" Riri memekik sambil menutup telinganya.
"Aku nggak ngelakuin apa-apa, Ri. Cuma ngambil foto doang, serius," ucap pria jangkung itu sambil menunjukan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.
Riri menghela nafas lega, mendengar penjelasan pria di sampingnya. "Bagus deh, kalau gitu pacarannya nggak usah dilanjutkan ya, Pak."
Kavindra mengerem mobilnya mendadak saat tiba-tiba, sebuah motor memutar balik arah sembarangan.
"Pak Kavin!" pekik Riri kaget.
"Sembarangan banget sih tuh orang, kalau kecelakaan gimana?" omel Kavindra, dan baru kali ini gadis itu mendengar atasannya mengomel seperti itu.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyanya pada Riri yang masih tampak shok. Hanya gelengan yang gadis itu berikan sebagai jawabannya.
"Oya, tadi kamu bilang apa?"
"Em, nggak kok. Aku nggak bilang apa-apa," jawab Riri gugup. Kavin hanya tersenyum, lalu mulai melajukan kembali mobilnya. Kini hanya hening yang terbentang diantara mereka, sampai akhirnya keduanya sampai di tempat tujuan.
Riri bergegas ingin segera keluar dari mobil Kavindra, tapi pria itu menahannya. "Tunggu, biar aku bukakan pintunya," ucapnya dengan tersenyum. Lalu pria itu keluar dan berlari kecil, untuk membuka pintu bagi sang kekasih. Akhirnya, Riri pun diam tanpa penolakan.
Mereka berjalan bersama menuju kantor. Kavindra tampak tenang berjalan di samping gadisnya yang malah terlihat gugup.
"Saya ke sana dulu, Pak." Riri menunjuk lorong dekat ruangan khusus pengajar yang sudah banyak sahabatnya di sana.
"Nggak salim dulu?" tanya Kavindra sambil menyodorkan punggung tangannya. Riri mengerutkan keningnya heran.
"Jangan aneh-aneh deh, Pak." Riri mendelik kesal pada pria yang malah tetap tenang dengan senyumannya. Lalu, gadis itu pun berlalu meninggalkan prianya yang sekarang malah tergelak.
"Dasar gila!" rutuk Riri sambil berjalan cepat menuju ke arah para sahabatnya.
Sambutan heboh ia dapatkan dari Adel dan Raksa.
"Ciee! Bu bos baru datang diantar pula," goda Adel sambil mengedipkan satu matanya.
"Kayanya nanti siang bakal ada traktiran lagi nih," imbuh Raksa sambil menaikturunkan alisnya.
"Jangan rusuh deh kalian," omel Riri, lalu menerobos masuk ke ruangannya dan duduk di meja kerjanya. Ia membanting buku dan tasnya di atas meja. Mood-nya sudah ancur padahal masih sangat pagi.
Tiba-tiba Rangga datang dan duduk di depan gadis itu. Tatapannya yang teduh membuat Riri sedikit risi.
"Kenapa?"
"Kamu beneran jadian sama Pak Kavin?" Pria itu berucap dengan tak yakin.
Riri membisu, dia bingung harus menjawab apa. Karena, ia tahu perasaan pria di depannya terhadap dirinya.
"Aku …."
"Iya kami sudah memiliki hubungan khusus, ada masalah?" Tiba-tiba Kavindra datang dengan alasan memberikan barang Riri yang tertinggal.
"Eh, maaf Pak Kavin. Saya hanya … tidak mau ada gosip mengenai Riri dan Pak Kavin," jelas Rangga sedikit canggung.
__ADS_1
Kavindra menepuk bahu pria di hadapannya. "Kamu tenang saja, tidak akan ada gosip miring mengenai kami. Terima kasih sudah perhatian." Kavindra menghela nafasnya sebentar.
"Mulai saat ini, jangan godain Arisha lagi ya," pungkasnya, kemudian berlalu dari hadapan mereka.
Pipi Riri terasa panas, saat melihat adegan barusan. Mungkin pipinya sudah memerah karena malu.
Tanpa berkata sepatah kata pun, gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan.
Adel mengikuti Riri menuju toilet. Gadis itu berjalan cepat mengikuti gadis di depannya. Saat keduanya masuk ke dalam toilet. Riri membasuh wajahnya yang masih terasa panas.
"Kamu nggak apa-apa, Ri?" Adel merasa cemas melihat sahabatnya.
"Aku malu, Del." Riri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Adel menarik tangan Riri dari wajahnya yang basah. "Kenapa harus malu, aku pikir Pak Kavin benar. Rangga memang harus tahu status kamu sekarang, biar dia tak gencar menggoda kamu," papar Adel panjang lebar.
"Kamu nggak ngerti, Del … ah sudahlah." Riri kembali membasuh wajahnya.
Setelah itu, mereka masuk kelas masing-masing dan mengajar seperti biasa. Walau hari ini suasana sedikit berbeda. Ada beberapa trainer yang tiba-tiba berubah sikap menjadi ketus kepada Riri. Namun, Riri bersikap profesional seperti biasa.
"Ah, Miss Arisha udah nggak jomblo lagi nggak asyik," bisik salah satu trainer yang duduk di pojokan.
"Iya, mana saingannya berat lagi," jawab seseorang di sampingnya.
Lama-kelamaan gadis itu pun bersuara.
"Sepertinya hari ini, suasana kalian sedang tidak nyaman. Materi saya akhiri sampai sini saja. Selamat siang." Riri pun membereskan bukunya dan beranjak keluar kelas.
Makan siang pun tiba, Riri dan yang lainnya menuju ke kantin. Namun, perasaannya begitu lega saat pria yang sekarang menjadi kekasihnya itu tak datang menghampirinya.
"Del, yang lain pasti lagi gosipin aku yang nggak-nggak ya?" ucap Riri tiba-tiba, saat gadis itu sedang menunggu pesanannya.
"Ish."
Tiba-tiba saja ada notifikasi pesan di ponsel Riri, ternyata dari 'Pak Hantu'. Dia meminta maaf tak bisa menemani makan siang karena ada urusan penting, tapi pria itu akan menjemput dirinya saat pulang.
Riri pun membalas bahwa ia akan pulang sendiri, tapi penolakan langsung ia dapatkan dari pria itu.
Riri memegang erat ponselnya saat membaca pesan terakhir dari Kavindra. "Pokoknya tunggu aku, Sayaaaang! Kalau pulang duluan kamu tahu kan apa konsekwensinya." Pesan itu terus berputar di kepala Riri, sampai akhirnya pesanan baksonya datang.
Tanpa basa-basi gadis itu menumpahkan setengah mangkok cabai ke mangkok baksonya.
"Astagfirullah, Ri. Istigfar!" pekik Adel kaget melihat tingkah laku sahabatnya.
"Pala aku puyeng, Del." Riri mengaduk baksonya yang berubah menjadi warna merah pekat.
Akhirnya keduanya menikmati makanan masing-masing. Riri sampai mengeluarkan air mata karena kepedasan dan juga kegalauannya.
Waktu pun terus berjalan. Kini waktunya pulang. Riri diajak Olivia ke ruangannya. Mereka akan menunggu kekasih masing-masing di ruangan itu.
"Kamu mau minum apa?" tawar Olivia pada Riri.
"Nggak usah, Kak. Aku nggak haus kok," jawab Riri sambil menggigit bibirnya yang terasa agak tebal setelah makan pedas tadi siang.
"Raka sama Kavin, lagi bertemu klien di luar, paling sebentar lagi juga mereka datang." Olivia kembali duduk di samping Riri yang tampak cemas.
"Aku senang lho, akhirnya Kavindra mau membuka hati lagi untuk seorang perempuan. Lebih seneng lagi, kamu perempuannya," imbuhnya.
"Kak Oliv nggak tahu aja, aku jadian sama dia karena diancam," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Saat perbincangan mereka yang didominasi oleh Olivia, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Tampak dua pria tinggi berada di sana dengan wajah sumringah.
"Akhirnya kita berhasil." Raka bersorak pada Olivia, dan gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Sementara Riri masih tampak bingung, gadis itu belum mengerti maksud dari atasannya itu.
"Sudah jangan dihiraukan, ayo kita pulang!" ajak Kavindra sambil melabuhkan lengannya pada bahu kecil Riri, yang sempat berontak.
Kavin dan Riri pun berjalan keluar menuju mobil pria tampan itu. Sementara Raka bersama Olivia.
Kavindra mulai melajukan mobilnya, pria itu tampak memperhatikan gadisnya terus-menerus.
"Kenapa liatinnya gitu banget sih?" omel Riri pada pria di sampingnya.
"Kamu cantik," ucap Kavindra sambil menggigit bibir bawahnya, entah apa maksudnya.
"Nggak jelas." Riri melihat keluar jendela, dan ia baru menyadari bahwa jalan yang dilalui mereka bukan menuju arah pulang ke rumahnya.
"Pak Kavin, kita mau ke mana?" tanya Riri curiga.
"Kan aku sudah bilang, mau ngasih kamu hadiah pulang kerja," jawab Kavindra santai sambil tetap melajukan mobilnya.
"Nggak aneh-aneh kok, Riri," imbuhnya saat melihat wajah gadisnya ditekuk.
Akhirnya, Riri pun pasrah. Dia hanya mengikuti ke mana pria itu membawanya. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah besar dengan pagar tinggi berwarna putih.
Kavindra menekan klakson mobilnya, dan seorang security membuka gerbang untuknya. Riri mulai merasa tak enak hati saat pria di sampingnya sudah menghentikan mobilnya.
"Ayo!" ajaknya sambil membukakan sabuk pengamannya. Jantung gadis itu benar-benar berdetak tak karuan, saat mereka sudah berdiri di depan pintu besar berwarna senada dengan pagar tadi.
Saat Kavindra menggandeng tangan Riri yang terasa dingin. Pintu dibuka oleh Kavindra.
"Mi, Pi, Kavin pulang bawa hadiah lho," panggil Kavindra pada orang rumahnya.
"Pak Kav--" Tiba-tiba ucapan Riri terhenti saat melihat pria yang sangat dikenalnya dulu kini berada di hadapannya dengan seorang wanita.
"Dava, Mami sama Papi mana?" tanya Kqvin pada sang adik. Namun, bukan menjawab pria itu malah mematung di tempatnya dengan tatapan mengarah pada sang mantan kekasih.
"Davanka," ulang Kavindra sambil mengibaskan tangannya di depan sang adik.
"Iya, Bang. Mami sama Papi ada di taman belakang," jawab pria yang juga sedang menggandeng seorang perempuan itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari Riri.
Kavindra pun mengangguk, lalu mengajak gadisnya menuju taman belakang. Sementara itu, Davanka masih terus memperhatikan mantan kekasihnya, sampai sebuah tarikan di lengannya menyadarkannya.
"Kamu naksir sama pacar Abang kamu?" gerutu Azrina.
"Eh, nggak kok. Ayo kita pulang!" ajak Davanka. Pria itu ingin segera mengantar pulang kekasihnya dan kembali ke rumahnya. Ia ingin memastikan apa tujuan Arisha memacari sang abang.
Riri sudah dikenalkan pada Ganendra dan Alifa sebagai orangtua dari Kavindra. Wanita paruh baya yang tampak terlihat muda dari usianya itu pun, menyambut Riri dengan hangat.
Mereka berbincang di taman belakang, lalu mengajak Riri ke dalam rumah untuk menyiapkan makan malam mereka.
Bersamaan itu, Davanka mengumpat dalam hatinya. "Apa mau kamu, Arisha? Kamu mau membuat aku patah hati kedua kalinya, setelah aku kehilanganmu."
"Davanka!"
Bersambung…
Happy Reading 😘
Lah babang Dava patah hati, katanya. Apa kabar Riri ya. Pokoknya aku tim Riri titik. Wkwkwk.
__ADS_1
Jan lupa jempolnya ya biasa gerakin biar kagak kram.