Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Jatah


__ADS_3

“Kita makan malam di luar ya, Yang.” Kavindra berucap saat mereka sudah berada dalam mobil.


“Bang … eh nggak jadi deh.” Riri berucap sedikit tergagap.


“Ada apa, Yang?” Kavin menoleh sebentar ke arah sang istri, lalu kembali fokus pada jalanan di depan.


“Ng-nggak, lupain aja deh.” Riri langsung mengambil ponselnya untuk mengalihkan pembicaraan. Namun, tiba-tiba Kavin mengangkat satu tangannya dan mengusap kepalanya. “Kalau ada masalah atau apapun cerita ke aku.”


Riri hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Lho kita mau ke mana, Bang?” Riri baru menyadari kalau arah jalan yang mereka tempuh bukan ke rumahnya.


“Kamu pasti suka.”


Namun, Riri baru menyadari ke mana arah jalan yang dilalui. Jalan yang sangat ia kenali.


“Kita mau ke rumah papa, kan Bang?” Matanya berbinar cerah. Kavin mengangguk dan tersenyum pada sang istri.


Tak berapa mereka sampai di pelataran rumah yang sudah 22 tahun Riri tinggali. Riri segera membuka sabuk pengamannya, tapi Kavindra yang lebih dulu keluar untuk membukakan pintu bagi sang istri.


Mereka pun berjalan bersama menuju rumah orang tua Riri. Suasananya terlihat sepi, bahkan Riri mengira kedua orang tuanya sedang keluar. Namun, saat mengucapkan salam terdengar suara sahutan dari dalam. Suara yang sangat dirindukan wanita yang kini berdiri di samping sang suami.


Saat pintu terbuka, terlihat wanita paruh baya yang sangat dirindukannya berdiri di hadapannya.


“Mama!” Riri langsung memeluk tubuh sang mama.


“Riri, kalian abis dari mana? Atau sengaja ke sini?” Sang mama bertanya sambil mengajak putri dan menantunya masuk.


“Kita baru pulang kerja, Ma,” jawab Riri.


“Nanti makan malam di sini ya, Mama baru mau masak,” ucap sang mama.


“Nggak usah masak, Ma. Nanti kita makan di luar ya, sekarang Mama sama yang lainnya siap-siap aja dulu,” sela Kavindra.


Bersamaan itu sang papa dan Sera datang menghampiri ketiganya. Riri dan Kavin pun mencium punggung tangan pria paruh baya itu. Sang mama juga memberitahukan tentang rencana makan malam mereka di luar. Riri dan Kavin akhirnya menunggu di ruang keluarga sambil minum, sambil menunggu keluarganya siap-siap.


“Kita mau makan malam di mana sih, Bang?” Riri penasaran dengan rencana suaminya yang mendadak.

__ADS_1


“Ada deh,” jawab Kavindra menggoda sang istri.


“Ih kok gitu sih? Katanya sama istri harus terbuka,” gerutu Riri sambil mengambil toples berisi cemilan yang ada di sana.


Kavin hanya tergelak, lalu mengusak rambut sang istri hingga berantakan dan tentu saja omelan dari wanita yang dicintainya itu ia dapatkan kembali.


“Ikut aja, pokoknya pasti kamu suka.”


Riri akhirnya mengangguk, lalu izin untuk ke kamar sang adik sebentar. Pria itu pun mengangguk, lalu kembali mengambil ponselnya.


Saat sang istri sudah pergi, ia membaca pesan yang sejak tadi membuatnya penasaran. Isinya membuat pria itu mengerutkan keningnya. “Aku akan kembali, tunggu saja.” Isi dari pesan itu dan nomor baru yang tak ia kenal.


Saat ia berusaha keras mengingat siapa yang memberi pesan itu. Tiba-tiba sang mertua dan yang lainnya sudah datang dan berucap bahwa mereka sudah siap.


Kavindra pun mengangguk, lalu menunggu sang istri dan adik iparnya. Namun, sebelum berangkat mereka semua melaksanakan salat Maghrib dulu.


Setelah dirasa semua orang siap. Kini semuanya masuk ke mobil Kavindra. Mereka akan makan malam di resto Almahera. Karena Kavin juga ada kepentingan pada pemilik resto itu, lebih tepatnya pada suami pemilik resto.


Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai. Kavindra memilih tempat di ruangan atas agar lebih privat. Pria itu juga mempersilakan mertua dan adik iparnya untuk memilih menu yang mereka suka.


Riri hanya mengangguk, lalu Kavin pun pergi meninggalkan mereka.


“Bang Kavin, ada kerjaan kali Ma. Suami pemilik resto ini memang temennya Abang.” Riri menjelaskan pada sang mama. Wanita paruh baya itu pun mengangguk, lalu kembali memilih menu makanan.


Makan malam mereka pun terasa sempurna, karena menu yang mereka pesan ada semua.


***


Satu minggu kemudian, setelah makan malam bersama keluarga Riri. Mereka tak menginap di sana tapi langsung pulang setelah mengantar mertuanya pulang.


Riri juga kembali bekerja seperti biasa. Namun, Kavindra meminta jatah lebih pada sang istri.


“Bang ih, aku cape,” keluh Riri malam ini saat sang suami terus menggodanya.


“Ish, katanya jatahnya mau dikasih lebih.”


“Jatah apa sih? Makan, kamu tadi makan sampai nambah emang masih kurang. Aku ngantuk ih." Riri berucap dengan kesal pada sang suami.

__ADS_1


“Apaan sih jatah makan? Nggak usah minta aku bisa ngambil sendiri, Yang,” keluh Kavin.


“Terus?” Riri beranjak duduk dari berbaringnya dan bersandar pada kepala ranjang. Matanya yang sudah mengantuk, sepertinya sudah untuk terbuka.


Kavin tersenyum jahil saat melihat sang istri dengan mata terpejam. “Aku mau ini,” bisiknya sambil mengecup bibir mungil Riri.


“Ih, Abang,” lirih Riri karena kantuknya sudah tak tertahankan. Setelah itu, Kavin makin gencar menggoda sang istri, sampai akhirnya Kavindra pun mendapatkan jatah yang ia maksud.


Keesokan paginya. Riri terbangun dengan badan yang terasa pegal. Apalagi saat selimutnya tersingkap, ternyata tubuhnya polos.


“Abaang!” pekik Riri pada sang suami yang masih terlelap di sampingnya.


“Hm.” Hanya gumaman yang ia dapatkan dari sang suami yang kini malah mendekapnya erat.


“Bangun, udah subuh, Bang.”


“Sebentar lagi.”


“Semalam kamu ngapain aku sih?”


Kavindra membuka matanya sebelah, lalu menarik satu ujung bibirnya ke atas.


“Kamu mau tahu apa yang aku lakuin semalam ya?”


“Nggak!”


“Kamu yang mancing aku.” Kavin tak melepaskan pelukannya pada sang istri.


“Kamu yang mancing keributan subuh-subuh, Bang.”


“Daripada ribut, kita cari pahala yuk!”


Bersambung


Happy Reading 😘


Jan lupa jempolnya ya biar aku tambah semangat buat lanjutin ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2