
"Sayang, beb, kasihku, papi mami," ucap Kavindra memberi pilihan.
"Ish, nggak ah geli bilangnya juga," tolak Riri sambil bergidik.
"Kalo geli kayak gini." Kavindra mendekati gadis itu sambil mencondongkan wajahnya.
"Jauh-jauh!" Riri merentangkan kedua tangannya ke depan dengan mengomel.
Kavindra hanya terkekeh geli melihat tingkah gadis itu.
"Kita beneran nggak mau makan di luar gitu?"
Gadis itu menggeleng cepat. "Aku masih cape, Pak." Riri mengulang jawaban yang sama.
Pria jangkung itu menghela nafas pasrah. "Ya sudah kalau gitu aku pulang, besok aku jemput."
"Eh, nggak usah lah, aku bisa naik angkutan umum," tolak Riri cepat. Namun, pria itu menggelengkan kepalanya. "Pokoknya besok aku jemput titik nggak ada koma."
Pria itu pun, pamit pulang dan bergegas pergi dari rumah gadisnya.
Riri hendak kembali masuk ke kamarnya, tapi tiba-tiba sang mama menghadangnya.
"Ciee! Yang baru jadian," goda wanita paruh baya itu.
"Apaan sih, Ma?"
"Jangan bohong, Mama denger sendiri kok," ucap sang mama yang membuat Riri memutar bola matanya. Memang sosok di depannya ini, tidak pernah sampai tak mengetahui mengenai putri-putrinya. Sehingga, Riri merasa cemas jika sampai foto-foto menyebalkannya itu sampai diketahui wanita paruh baya ini.
"Udah deh, Ma. Riri mau mandi dulu gerah." Gadis itu mencoba menghindar dari sang mama yang gemar sekali menggodanya.
"Nanti Mama bilang ke papa ah, kalau bentar lagi kita dapat mantu bos," ucapnya dengan menjengkelkan di telinga Riri.
"Dih, belum tentu juga aku nikah sama dia, Ma." Riri berbalik sebentar saat dirinya berlalu ke kamarnya.
"Besok Mama tanya aja kalau dia serius, suruh langsung lamar, biar nggak lama pacaran nggak baik juga," oceh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
"Seterah."
"Terserah," ralat sang mama.
Kini Riri sudah berada di kamar mandi, gadis itu hendak membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Gadis itu mulai ritual mandinya dan mencuci rambutnya sekalian. Riri memiliki kebiasaan unik, gadis itu akan mencuci rambutnya kapanpun jika pikirannya sedang kacau seperti sekarang.
"Gila, gue pacaran sama kakak dari mantan gue. Gila, bener-bener gila," ucap gadis itu sambil menggosok dan memijat kulit kepalanya.
"Apalagi mereka tuh keluarga level atas, aduh gue pengen kabur, tapi ke mana?" ocehnya lagi tanpa mematikan kran air yang terdengar berisik. Sengaja hal itu ia lakukan, agar suaranya tak terdengar oleh orang lain.
Sekitar lima belas menit, Riri selesai dengan ritual mandinya. Gadis itu keluar dengan jubah mandi kesayangannya dan kepalanya tampak dililit handuk kecil. Wajahnya terlihat lebih fresh, walau netranya tampak sedikit merah.
"Udah mandinya?" Tiba-tiba Sera menghampirinya sambil sedikit menggerutu.
"Udah dong, makanya Kakak keluar, ngapain tanya-tanya?"
"Dari tadi digedor-gedor pintunya, aku kebelet, Kak," gerutu gadis itu, sambil menerobos masuk ke toilet.
"Masa sih?" gumam Riri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau mandi jangan sambil melamun, pamali," timpal Papa Satria tiba-tiba.
"Ish, apa sih. Pada heboh banget." Riri langsung berlari kecil menuju kamarnya, sebelum mendengar ocehan lain dari keluarganya.
Gadis itu mengunci pintu kamarnya, lalu memakai piyama tidurnya. Setelah itu, ia juga membubuhkan krim malam ke wajah mulusnya.
Tak berapa lama terdengar panggilan sang adik untuk mengajaknya makan malam.
"Kak Riri buruan makan malam, papa bawa cumi goreng kesukaan kakak nih."
"Iya sebentar!" teriak Riri sambil membereskan skin care-nya.
__ADS_1
Gadis itu pun bergegas keluar dari kamar dan menuju meja makan.
"Papa kenapa nggak nungguin Riri sih?" tanya gadis itu saat duduk di kursinya.
"Lah, kami kan kerja," jawab sang papa.
"Oya, katanya ada yang baru jadian nih," imbuhnya dengan nada menggoda.
"Ish, apaan si?"
Perbincangan mereka berakhir saat sang mama memberikan instruksi untuk segera makan. Makan malam hari ini tak senikmat makan malam seperti biasanya bagi Riri. Gadis itu masih memikirkan nasibnya yang kini sudah terikat dengan Kavindra.
"Tumben nggak nambah, Ri?" tanya sang mama heran melihat sikap putri sulungnya yang tak berselera makan.
"Riri ngantuk, Ma. Boleh ya ke kamar duluan?"
"Jangan langsung tidur, pamali. Mendingan temenin Papa dulu yuk!" ajak pria paruh baya itu menuju teras.
"Ah paling ngajakin main catur, kan?" jawab gadis itu sudah mengetahui kebiasaan sang papa.
Pria paruh baya itu tersenyum, lalu beranjak dan menghampiri sang putri. Kemudian merangkulkan tangannya pada bahu Riri.
"Udah lama nggak main, ayolah!"
"Ih, Papa maksa. Riri ngantuk," tolak gadis itu, tapi sang papa malah mengeratkan pelukannya pada leher sang putri.
"Papa!" Riri terseok saat pria paruh baya itu menariknya ke ruang depan.
Sementara itu di kediaman Pramudya.
Kavindra dan keluarganya sedang menonton televisi. Davanka dan Kaivan juga sudah berada di rumah saat ini. Mereka duduk di karpet, sementara kedua orangtuanya duduk di sofa besar yang ada di sana.
"Kalian kapan mau ngenalin calon istri ke Papi?" Tiba-tiba Ganendra berucap saat semua orang fokus pada layar datar di depannya.
"Abang dulu lah, Pi. Kaivan masih mau belajar," jawab putra bungsu dari keluarga Ganendra itu.
"Kamu dulu dong, Vin." Sang mama kini yang bersuara.
"Iya, Bang. Masa Dava," ucap Davanka canggung. Perasaannya mulai tak enak.
Namun, Ganendra tiba-tiba berucap, "Bagaimana dengan Riri, Vin? Sepertinya gadis itu gadis baik-baik. Papi sudah salah menilai dia."
Davanka merasa dadanya dihujam sesuatu yang tajam. "Apa mungkin Riri itu Arisha? Nggak mungkin kayanya sih," bantahnya pada dirinya sendiri.
Kavindra terkekeh saat mendengar ucapan sang papi. Namun, ia mendapat tatapan tajam dari sang mami.
"Kenalin sama Mami dong, Vin. Mendingan kalian langsung nikah aja ya," ucap wanita paruh baya itu serius. Wanita yang tetap cantik itu, takut jika kejadian yang dulu terulang kembali.
"Yang sekarang beda, Mi. Tenang aja, Kavin juga masih berusaha dapetin hatinya," jawab Kavin santai.
Sang mama tersenyum bahagia, mendengar penuturan putra sulungnya. "Mama mau lihat dong fotonya, pasti ada kan?"
Kavin berpikir sejenak, ia baru menyadari tidak ada foto lain, selain dirinya dan Riri saat di hotel itu.
"Ah, Kavin lupa belum ngambil fotonya, Ma. Kan udah dibilang gadis ini beda." Pria itu beralasan, bagaimana pun ia tak mungkin memperlihatkan foto 'mesra' mereka.
"Besok Kavin ajak ke rumah aja pulang kerja, boleh?" tanya pria jangkung itu akhirnya.
"Boleh dong, biar besok Mami siapin makan malam spesial. Deal ya!" Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan putra sulungnya. Pria tampan itu menerima uluran tangan sang mama. "Deal."
***
Keesokan harinya
Kavindra berangkat sangat pagi, pria itu benar-benar akan menjemput Riri di rumahnya.
"Vin, kamu nggak sarapan dulu?" teriak sang mama saat melihat putra sulungnya sudah menyalakan mobil.
__ADS_1
"Nanti saja, Mi ditempat pacar," jawab Kavindra sambil terkekeh.
"Ish, mentang-mentang punya pacar. Mami dilupain," omel wanita paruh baya itu dengan masih mengenakan apronnya.
Kavindra pun tergelak, lalu ia menghampiri sang mami dan mencium punggung tangannya. "Kavin pergi dulu ya, Mam," pamitnya.
"Hati-hati!"
"Oke, Mami!" Pria jangkung itu pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Riri.
Kavindra bersenandung riang, sambil menyetir mobilnya. Pria itu bahkan membelikan sarapan untuk sang kekasih juga keluarganya.
Sementara itu, Riri baru saja selesai mandi. Gadis itu ingin segera pergi ke tempat kerjanya sebelum Kavindra menjemputnya.
"Aku harus buru-buru, rambutnya aku biarin terurai saja lah," gumamnya sambil membubuhkan make up ke wajahnya.
Setelah itu, ia menyisir rambutnya yang sudah panjang.
"Tapi repot banget ya, rambut digerai gini?" Gadis itu kembali menyisir rambutnya, lalu mulai mngikatnya dengan rapi.
Setelah dirasa rapi, gadis itu pun keluar dari kamarnya dengan tas di tangan kanannya, dan beberapa buku di tangan kirinya.
"Pagi pacar." Tiba-tiba terdengar sapaan dari suara yang semalaman membuatnya kurang tidur.
"Nggak mungkin 'Pak Hantu', kan?" gumamnya saat ia mencoba mencari arah suara. Namun, harapan hanya harapan karena pria itu sudah berada duduk, tepat di samping kursinya.
"P-Pak Kavin? Ngapain masih pagi udah datang?" tanya gadis itu tergagap.
"Ini lho, Nak Kavin bawa sarapan buat kita," sela sang mama yang sedang menyiapkan piring dan sendok untuk sarapan mereka.
Riri akhirnya duduk di samping Kavindra yang tak pernah melepas senyumnya.
"Pagi Cantik," sapanya.
Riri hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Setelah itu, mereka mulai menyuapkan sarapannya yang dibeli oleh Kavindra.
"Enak banget makanannya," ucap Sera setelah menelan suapan pertamanya.
"Tiap hari aja gini, Kak," imbuhnya. Namun, sebuah tendangan di kaki sukses mengenai kakinya. Tentu saja pelakunya sang kakak.
"Sakit ih, Kak," gerutu gadis itu sambil mengusap kakinya yang terkena tendangan.
Waktu pun terus berjalan, akhirnya Riri dan Kavindra berangkat kerja. Mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Nanti pulang kerja kita jalan ya," ucap pria itu sambil mulai melajukan mobilnya.
"Ke mana?"
"Rahasia."
"Dih. Nggak mau kalau gitu," tolak Riri.
Kavindra terkekeh, lalu mengusap pucuk kepala Riri, hingga membuat gadis itu terhenyak. "Aku nggak akan macam-macam, kok. Tenang aja."
"Pak sebenarnya foto itu bohongan, kan? Pak Kavin nggak ngapa-ngapain aku, kan pas di hotel itu?" Riri mengalihkan pembicaraan.
"Ngelakuin nggak ya? Menurut kamu?" Kavindra malah menggoda gadis di sampingnya.
"Ih, aku nggak mau lah kalau sampai … ih amit-amit." Gadis itu mengusap wajahnya.
Namun, tiba-tiba pria di sampingnya mencondongkan wajahnya dan berbisik.
Bersambung…
Happy Reading 😘
Maaf ya dua hari nggak up, kesehatan aku lagi terganggu. Minta doanya biar cepet sehat lagi sama keluargaku juga.
__ADS_1
Jan lupa jempolnya ya..