
"Kakak kamu ke mana?" tanya Mama Rina pada Sera yang saat itu tiba-tiba keluar.
"Tadi diajakin Abang keluar, Tante." Kaivan yang menjawab pertanyaan dari ibu wanita di sampingnya yang masih terlihat bingung.
"Hei! Kamu kenapa?" Mama Rina menepuk bahu putri bungsunya.
"Ng-nggak kenapa-kenapa, Ma. Emang kenapa gitu?" tanya balik Sera.
"Telepon kakak kamu gih, katanya mau pada pulang," titah sang mama.
"Kak Riri nggak bawa handphone, Ma." Gadis itu menunjukkan ponsel milik sang kakak.
Kaivan dengan inisiatif menghubungi sang abang.
"Bang, lagi di mana? Dicariin ini mau dinikahin katanya," ucap Kaivan yang mendapat tabokan di lengan dari Sera. Setelah itu, pria itu hanya mengangguk dan menjawab iya, lalu menutup sambungan teleponnya.
"Bilangin ke mamanya gih, katanya bentar lagi pulangnya. Lagi bahas masa depan dulu," ucap Kaivan yang membuat Sera mengangguk tapi juga mencebikkan bibirnya saat mendengar kalimat terakhirnya.
Sementara itu, di taman kota.
"Aku memang takut kehilangan kamu, Ri. Aku punya trauma yang membuat hidupku hancur."
Riri menurunkan kedua tangannya saat mendengar penjelasan dari pria yang saat ini mendekapnya erat.
"Ma-maksud kamu?" Gadis itu mengangkat wajahnya yang berhadapan langsung dengan wajah Kavindra dengan mata merah dan hidung mancungnya juga merah. Hal itu malah terlihat menggemaskan di mata Kavindra. Hingga pria itu malah mencondongkan wajahnya yang hanya tinggal beberapa inci lagi jaraknya.
Tiba-tiba saja ponsel Kavindra berdering dan ternyata sang adik yang menghubunginya. Dia memberi tahu bahwa keluarganya akan segera pulang.
"Iya, bilang sebentar lagi Abang pulang." Sambungan telepon pun terputus. Pria itu kembali memasukkan ponselnya
Riri sudah kembali duduk pada posisi sebelumnya. Gadis itu masih terdiam, sambil sesekali mengusap pipinya yang masih basah. Kavindra mengusap sebelah pipi gadis itu dan mengusapnya lembut.
"Maafkan aku. Bukan maksudku seperti itu." Pria itu menarik nafasnya dalam dan mengembuskannya perlahan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya dua tahun lalu, aku akan menikah dengan kekasihku. Namun, tiga hari menuju hari H, tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak sampai saat ini." Kavindra menarik satu tangan gadisnya dan menggenggamnya erat.
"Kamu tahu apa fakta yang aku dapatkan setelah aku kembali dan bertemu denganmu?" Riri menggelengkan kepalanya tanpa berkata apapun.
"Dia selingkuh di belakangku, padahal dulu aku begitu mencintainya, dulu." Pria itu mengulangi kata dulu agar gadisnya tak salah paham.
"Sebenarnya aku tak masalah dia selingkuh, yang membuatku geram, dia selingkuh degan orang terdekat aku," geramnya.
"Maksud kamu siapa? Pak Raka?" Riri menyebut nama asisten pria di sampingnya.
"Bukan, lebih dekat dari itu," jawabnya.
"Adikku."
"Kaivan?" Kavindra kembali menggelengkan kepalanya.
"Dava?" Anggukkan pun gadis itu dapatkan.
__ADS_1
"Astagfirullah jahat banget dia, Bang. Dia emang jahat sejahat-jahatnya. Aku benci dia." Riri mengumpat mantan kekasihnya itu. Sepertinya gadis itu lupa, kalau yang sedang dia ajak bicara adalah abang dari pria itu.
"Makanya, aku nggak mau kamu sampai direbut dia lagi, ngerti kan maksud aku?" jelas pria tampan itu dengan menatap intens ke arah gadisnya.
Riri pun mengangguk, lalu berucap, "Aku juga minta maaf ya, udah salah paham."
"Abaaang!" pekik gadis itu saat Kavindra menempelkan bibirnya di bibir mungil gadis itu.
"Ish, kan udah tunangan."
"Nggak boleh! Ayo pulang, di sini lama-lama bahaya," ucap gadis itu galak.
"Iya, iya galak banget sih." Kavindra mulai menyalakan kembali mobilnya dan memutar balik arah ke rumah gadisnya.
Tak berselang lama keduanya sudah sampai di rumah Riri. Tampak keluarga besar Kavindra sebagian keluar dari rumah. Mereka sepertinya akan pulang. Kavindra dan Riri pun keluar dari mobil, dan berjalan menuju rumah.
"Kalian dari mana?" tanya Mami Alifa yang saat itu berbincang dengan Mama Rina.
"Maaf, Mi. Abis jalan ke taman deket sini kok bentaran," jawab Kavindra dengan mengusap tengkuknya sendiri.
"Oh, kita pamit ya mau pulang, udah malam juga. Riri nanti main lagi ke rumah Mami ya, Nak." Wanita paruh baya itu mengusap rambut gadis cantik di depannya.
Setelah itu semuanya pamit undur diri. Kini tinggal keluarga besar Riri. Semuanya tampak sibuk membereskan rumah, ada yang menyapu, mencuci piring, pokoknya semua bekerja sama. Riri dan Sera juga ikut membantu setelah keduanya mengganti pakaian mereka.
"Nanti mau nikah di gedung mana?" Tiba-tiba Ria salah satu sepupu Riri bertanya saat mereka sedang membereskan bagian ruang tamu.
"Aku sih maunya di rumah aja, tapi nggak tahu juga mama sama papa," jawab Riri tanpa menghentikan kegiatannya.
Sekitar jam dua belas malam, akhirnya semua orang selesai membereskan rumah. Kini saatnya mereka tidur. Riri pun masuk ke dalam kamarnya dengan Sera dan Ria. Sementara kamar Sera digunakan oleh Tante Sofi dan suaminya.
"Tahu nggak, Dek? Ternyata Pak Hantu itu, pernah gagal nikah. Ceweknya selingkuh," bisik Riri pada sang adik.
"Masa sih, Kak? Ganteng gitu diselingkuhin juga?" Sera menjawab dengan tak percaya.
"Nggak tahu. Yang bikin shock ternyata yang jadi selingkuhannya …."
"Siapa?"
"Davanka."
"Hah?"
"Iya."
"Ih, amit-amit untung Kak Riri jadinya sama abangnya. Eh, tapi Pak Hantu nggak mungkin kaya gitu kan, Kak?"
"Aku nggak tahu, tapi kalau sampai gitu. Fix Kakak nyesel udah kenal keluarga Pramudya dan nggak mau kenal lagi." Riri menjawab sambil bergidik ngeri.
"Awas, Kak. Kalau diajak main ke rumahnya tanya dulu ada nggak tuh buaya buntung, serem," usul Sera pada sang kakak.
"Iya, Dek, pasti."
__ADS_1
"Udah kita bobo yuk, Kak. Aku ngantuk." Sera mulai membaringkan tubuhnya di samping Ria, jadi gadis itu ada di posisi tengah.
"Berdoa dulu, Dek!" Riri mengingatkan sang adik.
****
Keesokan hari
Kavindra bangun agak kesiangan, karena pria itu tidur sekitar jam tiga pagi. Kepalanya terasa pusing saat pria tinggi itu beranjak duduk dari tidurnya.
Satu tangannya terangkat untuk memijat pelipisnya.
"Pusing banget kepala gue," gumamnya.
Jam dinding yang tergantung di kamar pria itu sudah menunjukkan pukul 08.30. Namun, Kavindra sepertinya masih belum berniat beranjak dari ranjangnya. Apalagi kepalanya malah makin terasa pusing. Sampai akhirnya, pria itu mencoba bangun untuk ke kamar mandi. Dengan memegang dinding, pria yang tampak berantakan itu sampai ke toilet.
Namun, saat ia berhasil masuk tubuhnya malah limbung dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Sementara itu, Alifa yang heran dengan putra sulungnya yang tak kunjung turun dan sarapan. Akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai atas dan menghampiri putranya itu. Wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamar Kavindra. Namun, tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya ia pun membukanya dan masuk ke kamar putranya.
Alifa berpikir mungkin putranya memang sedang mandi, tapi wanita itu heran kenapa tidak ada suara gemericik air.
"Vin, Kavin. Kamu di kamar mandi kan, Nak?" Wanita itu memanggil putranya sambil membuka gorden kamar itu. Saat pandangannya tertuju pada pintu toilet yang terbuka, tiba-tiba saja wanita paruh baya itu berteriak panik.
"Astagfirullah Kavin! Kamu kenapa, Nak?" Alifa berlari menuju kamar mandi saat melihat tubuh putranya terbaring di sana. Ia mengangkat kepalanya dan mencoba membangunkan putranya yang ternyata suhu tubuhnya tinggi.
"Kamu jahat, Vin. Kenapa kamu ninggalin aku sama cewek lain."
"Kamu yang jahat, bukan aku. Kamu yang selingkuh dari aku, kamu yang pergi dari pernikahan kita."
"Aku akan kembali dan merebut kamu kembali, Kavindra."
"Tidak!"
Kavindra bergumam tak jelas saat tubuhnya sudah terbaring kembali di ranjangnya. Sang mami sedang mengompresnya dengan air dingin.
"Jangan ganggu aku!"
"Vin, bangun, Nak!" Mami Alifa mencoba membangunkan putranya yang sejak tadi mengigau tak jelas.
Mami Alifa pun memutuskan untuk menghubungi Riri. Dia berpikir bahwa gadis itu harus tahu keadaan Kavindra. Sambil menunggu kedatangan dokter pribadi keluarga Pramudya.
"Assalamu'alaikum, Ri. Maaf Mami ganggu waktu kamu. Kamu bisa datang ke rumah,kan?" tanya wanita paruh baya itu saat sambungan teleponnya diangkat oleh pemiliknya.
"Oh iya, Mami tunggu ya, Sayang," pungkas Alifa saat mendengar jawaban dari seberang bahwa Riri akan datang, karena hari ini hari Sabtu jadi dia libur kerja.
"Jangan sakit, Vin," lirih sang mami.
Bersambung…
Happy Reading
__ADS_1
Yah Babang Kavin malah sakit, cepet sembuh ya, Bang. Yuk siapa yang mau nengokin?
Jan lupa gerakin jempolnya ya, komen yang banyak dong!