
Davanka menyetir mobil menuju pulang. Di sampingnya Kavindra, sementara sang mami duduk di belakang. Kavindra tampak menyandarkan tubuhnya, ia juga memejamkan kedua netranya. Davanka sesekali melirik ke arah sang abang. Namun, sepertinya Kavindra tak menyadari itu.
"Dav, kita ke minimarket dulu sebentar, ada yang mau Mami beli," ucap wanita paruh baya itu sambil memainkan ponselnya.
"Iya, Mi. Mau beli apa memangnya, biar Dava beliin?" tawar pria itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan.
"Nggak usah, kalian tunggu saja di sini, Mami mau beli pesanan papi kalian sebentar doang kok," tolak wanita paruh baya itu.
"Sama Kavin aja, Mi." Kavindra menawarkan diri untuk menemani sang mami setelah sejak tadi ia hanya diam.
"Nggak usah, belanjanya juga dikit, kalian tenang aja." Wanita paruh baya itu tetap menolak diantar kedua putranya. Bersamaan itu hanya tinggal beberapa meter lagi sudah terlihat salah satu minimarket di depan.
Akhirnya Dava pun membelokkan mobilnya ke area parkir minimarket tersebut. Sang mami langsung turun dan mengingatkan kembali kedua putranya untuk tetap menunggu di mobil.
Kini tinggal Dava dan Kavin di dalam mobil. Suasana canggung terlihat jelas dari keduanya, sampai akhirnya Dava memulai percakapan.
"Bang … maafin Dava atas semuanya. Dava nyesel," lirih pria yang agak mirip dengan Kavin itu.
Kavindra membuka netranya yang kembali terpejam setelah tadi menawarkan menemani sang mami.
"Maaf buat apa, Dav?" Kavindra menegakkan tubuhnya.
"Maaf membuat Abang jadi kaya gini, semua gara-gara Dava, dulu Dava iri sama Abang." Pria itu menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya di atas setir.
Kavindra tertegun mendengar ucapan adik kesayangannya itu. Lalu ia mengangkat satu tangannya, kemudian mengusak kepala Dava seperti biasa.
"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu, Abang sudah memaafkan semuanya. Mungkin juga karena Abang dan Kia memang tak berjodoh," papar pria tampan itu bijak.
"Arisha itu gadis baik-baik, Bang. Makanya nggak jodoh sama Dava. Semoga Abang bahagia," pungkas pria itu sambil menarik kedua tangan sang abang.
Sementara itu di kediaman Riri.
Sera yang saat itu baru pulang dari kerabatnya, sengaja ingin mengerjai sang kakak dengan masuk lewat jendela. Pakaiannya yang serba hitam, membuat gadis itu terlihat agak tinggi. Namun, saat gadis itu masuk, ternyata sang kakak sudah terlelap.
Ia menyentuh pipi mulus Riri dan merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. Gerakan itu membuat Riri terusik dan mulai membuka matanya yang sudah rapat.
"Ngapain ke sini lagi?"
"Aku ingin tidur bersamamu." ucap Sera dengan meniru suara seperti seorang laki-laki.
Riri yang setengah tidur, langsung terbangun dan hampir saja berteriak. Namun, saat melihat orang di hadapannya yang membuka penutup kepalanya, ia pun melempar bantal ke arah sang adik.
"Ngapain sih, Dek? Kakak udah sport jantung ini," gerutu gadis itu sambil mengusak netranya yang terasa perih.
"Kenapa wajahnya takut banget sih, Kak? Nggak mungkin mangtan datang ke sini, kan?" tebak Sera sambil ikut berbaring di samping sang kakak.
"Lebih dari itu, serem pokoknya," jawab Riri.
__ADS_1
"Cerita dong, Kak." Gadis itu menarik lengan sang kakak. Namun, Riri yang memang sudah kelelahan, hanya menjawab besok. Kemudian gadis itu pun mulai memejamkan kembali netranya.
***
Waktu terus berjalan hari ini adalah hari pernikahan Riri dan Kavindra. Rumah Riri sudah didekorasi sedemikian rupa. Gadis itu pun pagi ini sedang dirias di kamarnya.
Sang mama dan sang adik juga sama. Mereka bedua dirias oleh petugas MUA lainnya. Mereka berdua juga terlihat sangat cantik dan akan membuat pangling orang yang melihatnya.
"Ma, jam berapa katanya keluarga mempelai pria akan datang?" tanya Papa Satria yang tiba-tiba datang dari luar.
"Aduh, istri Papa cantik sekali," imbuhnya saat melihat sang istri yang baru saja selesai dirias.
"Nanti tanya ke Riri dulu, Mama mau ganti baju dulu, Pa," jawab wanita paruh baya itu sambil berbisik tepat ke telinga sang suami. "I love you."
"Love you too," jawab Papa Satria. Kemudian, pria paruh baya yang sudah rapi dengan jasnya itu pun menghampiri sang putri sulung di kamarnya.
"Ri, Nak Kavin udah ngabarin belum, mereka akan datang jam berapa?" tanya pria paruh baya itu sambil menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"Katanya mereka datang sekitar jam sembilan, Pa," jawab gadis itu sambil memejamkan netranya, karena saat ini bagian itu yang sedang dirias.
Papa Satria pun mengangguk lalu ia kembali ke ruang depan untuk memeriksa persiapan mereka takut ada yang kurang.
Saat semua orang sudah siap, dan Riri juga sudah selesai dengan gaun pengantinnya. Terdengar seseorang memberitahu bahwa calon pengantin pria sudah tiba. Jantung gadis dengan gaun pengantin putih itu, berdetak tak beraturan. Ia memilin jari-jemarinya yang tiba-tiba berkeringat.
"Jangan gugup, tenang saja. Kamu masih bisa duduk manis di sini, acara akad masih lama," ucap penata rias Riri yang bernama Amita itu.
"Kak Riri, sarapan dulu kata Mama, nanti kalau udah banyak tamu susah makannya." Sera tiba-tiba datang membawa piring berisi sarapan untuk sang Kakak.
"Iya lupa tadi," jawab Sera sambil cengengesan. Lalu ia pun mulai menyuapi sang kakak yang sebenarnya enggan untuk makan. "Dikit doang, Kak."
Setelah dipaksa akhirnya Riri bisa mengabiskan sarapannya. Bersamaan itu seseorang datang dan memberitahukan bahwa akad akan dimulai sepuluh menit lagi.
"Aduh Kak Mita, gimana ini?" Riri tampak gugup.
"Udah tenang aja, tinggal benerin lipstiknya sedikit kok, yang lain aman." Wanita bawel itu mengambil lipstik dan membubuhkannya pada bibir mungil Arisha.
Riri pun kini sudah tampil sempurna, gadis itu terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Benar saja sekarang gadis itu dipanggil untuk akad. Sera dan sepupunya yang lain menggandeng tangan gadis itu menuju tempat akad di ruang depan.
Kavindra sudah duduk berhadapan dengan sang papa dan juga penghulu. Pria itu menoleh ke arah wanita bergaun pengantin yang terlihat begitu cantik. Riri menunduk saat banyak pasang mata menatap ke arahnya. Lalu ia pun duduk di samping Kavindra.
"Masya Allah istri Abang cantik bener," bisik Kavindra saat Riri duduk sambil menundukkan kepalanya. Setelah itu, ijab qobul pun dimulai. Kavindra mengucapkan nya dengan lancar. Akhirnya kata 'Sah' pun bergema di ruangan itu. Mama Rina dan Mami Alifa tak kuasa menahan air matanya.
Kini kedua mempelai digiring menuju pelaminan yang sudah tersedia di luar rumah. Kini saatnya para tamu memberi ucapan selamat. Banyak tamu yang hadir selain keluarga, kerabat juga banyak teman dari kedua belah pihak hadir di sana.
Tampak Raka dan Olivia, Adel, Rangga dan teman sekantornya juga hadir di sana. Bahkan Davian dan Rain pun juga kedua putranya hadir di sana.
Kavindra dan Riri tersenyum bahagia di atas pelaminan.
__ADS_1
"Kamu cantik banget sih, Sayang," bisik Kavindra sambil menarik pinggang ramping sang istri agar merapat ke tubuhnya.
"Kamu juga ternyata ganteng banget ya," jawab Riri asal yang membuat Kavindra berdecak.
"Masa kamu baru nyadar sih, kemarin-kemarin ke mana aja?" Kavindra sedikit menggerutu dan hal itu sukses membuat Riri tergelak.
"Awas ya nanti malam nggak akan aku lepasin," ucap pria itu sambil mengeratkan pelukannya.
Bersamaan itu datang pria jangkung yang selama ini tak kelihatan batang hidungnya.
"Bang Agam?" pekik Riri saat pemuda itu memberi sebuah kado dan memberi selamat.
"Selamat ya, Neng Riri," ucap Agam dengan senyuman khasnya.
"Makasih, Bang. Katanya Abang udah pergi nyeberang?" tanya Riri sambil menerima kadonya. Sementara Kavindra makin mendekap erat tubuh istrinya.
"Iya, Neng, Abang udah berangkat kok, cuma baru bisa kerja bulan depan, jadi pulang dulu selain ngambil barang-barang juga mau menghadiri acara pernikahan kalian." Agam berbicara panjang lebar.
"Oh iya, hadiah yang waktu itu udah sampai juga, kan?" imbuhnya.
Kavindra mengerutkan keningnya mendengar percakapan sang istri dan pria yang dulu pernah melamarnya.
"Ya udah, Bang selamat menikmati hidangannya ya," pungkas Riri karena aura sang suami sudah tak enak dipandang.
Setelah Agam pergi. Kini Riri dan Kavindra kembali duduk. Namun, tatapan pria di sampingnya sungguh menakutkan.
"Mukanya biasa aja si, jangan diganteng-gantengin gitu," ucap Riri sambil menepuk lengan suaminya.
"Ish, aku udah ganteng nggak perlu diganteng-gantengin," bantah pria itu sambil kembali mengeratkan dekapannya hingga Riri mengomel karena sesak.
"Kok, kamu nggak bilang kalau dikasih hadiah sama dia?"
"Aku lupa, emang harus ya?" Riri mengerutkan keningnya.
"Iya, iya nggak juga sih, kecuali dia," gagap Kavindra.
"Cemburu ya?" goda Riri sambil terkekeh.
"Nggak!"
"Boong banget, tuh keliatan."
"Iya, aku cemburu, pokoknya awas ya nanti malam aku pastiin kamu nggak bisa keluar kamar," ancamnya.
"Kita lihat aja nanti," tantang Riri.
"Oke."
__ADS_1
Tamat
Happy Reading semuaah