
Acara pernikahan Riri dan Kavindra memakan banyak waktu, hingga membuat keduanya kelelahan. Apalagi para tamu datang hingga malam menjelang. Banyak sekali relasi dari sang papi yang menghadiri pesta pernikahan putra Pramudya itu.
Memang sebagian banyak yang mepertanyakan kenapa seorang Pramudya, hanya melaksanakan pesta pernikahan di rumah mempelai perempuan. Namun, semua itu dibantah oleh Ganendra, bahwa hal itu keinginan dari menantunya.
Namun, walaupun acara digelar di rumah, tapi acara pernikahan sang putra berjalan lancar dan megah.
Malam ini Kavindra tentu saja tinggal di rumah Riri sementara waktu. Semua sudah dibicarakan oleh keduanya, Riri meminta waktu seminggu untuk tetap tinggal di rumahnya. Tentu saja hal itu dikabulkan oleh sang suami.
Acara pernikahan selesai sekitar jam delapan malam. Riri dan Kavindra sedang duduk di ruang keluarga bersama keluarga mereka.
"Kamu mandi duluan aja gih, Bang. Di sini nggak ada air anget," ucap Riri yang masih menggunakan gaun pengantinnya. Gadis itu sedang membuka riasan di kepalanya.
"Bareng sajalah, udah halal juga, kan?" ucap pria itu tanpa malu. Hal itu sukses membuat Riri melemparkan bantal sofa di dekatnya.
Namun, gadis itu juga mendapat omelan dari sang mama. "Astagfirullah Ri, pamali tahu sama suami kaya gitu."
"Ya abisan masa bilang gitu, Ma," bantah Riri.
"Eh, emang kenapa kalian udah halal, suami kamu punya hak atas kamu," jelas sang mama.
"Tuh, udahlah aku nunggu kamu saja." Kavindra merasa menang atas pembelaan sang mama mertua.
Akhirnya Kavindra pun hanya duduk di ok ¹r sambil memainkan ponselnya, sementara Riri baru saja selesai melepas semua atribut pernikahannya. Sekarang gadis itu sudah mengenakan piyama kesayangannya.
"Aku mandinya besok ajalah," ucap Riri sambil duduk di samping Kavindra. Pria itu kemudian menyimpan ponselnya di sofa kosong di sampingnya.
Lalu ia menarik pinggang gadisnya agar merapat pada dirinya.
"Aku lapar, kita makan yuk!" ajaknya.
"Nanti kalau aku gemuk gimana?" Riri ingin tahu seberapa besar cinta pria di hadapannya.
"Yang penting cinta sama sayang kamu nggak berubah, aku akan tetap mencintaimu."
"Eeeeaaaaak!" Sera bersorak saat mendengar perkataan kakak iparnya.
"Lapar mah makan aja sana, jangan gombalan di mari, geli aku dengernya," imbuhnya yang sontak mendapat lemparan bantal sofa dari sang kakak.
Setelah itu suami istri baru itu pun, beranjak dari sana menuju ruang makan. Riri menyiapkan makanan untuk sang suami. Namun, saat gadis itu hendak mengambil untuk dirinya, tiba-tiba Kavindra menarik tubuhnya hingga jatuh di pangkuannya.
"Sini kita makan sepiring berdua, Sayang!" Kavindra mengacungkan sendok yang berisi nasi di tangannya. Riri awalnya menggeleng, tapi Kavindra terus membujuknya. Hingga akhirnya keduanya makan berdua dan Riri duduk di pangkuan sang suami.
Setelah makanan mereka tandas, keduanya pun kembali berkumpul bersama keluarganya. Riri dan Kavindra duduk di sofa ruang tengah bersama Sera, Mama Rina, dan Papa Satria. Selain itu ada juga kerabat dari Riri yang lain.
Mereka hanya berbincang ringan, karena acara pernikahan hari ini cukup menguras tenaga mereka dengan tamu yang sangat banyak.
__ADS_1
Sekitar jam sepuluh, rasa kantuk mulai menyerang mereka semua, Riri dan Kavindra pun pamit ke kamar mereka. Suasana sangat canggung saat Riri berada satu kamar dengan seorang pria. Walaupun ini bukan yang pertama dengan pria di hadapannya. Namun, kali ini status mereka berbeda.
Kavin menarik tangan sang istri yang masih berdiri di depan pintu setelah menutupnya. Pria itu mengajak sang istri duduk di ranjangnya. Namun, sepertinya Riri benar-benar tidak nyaman.
"Aku nggak akan memaksa kamu malam ini, lebih baik kita tidur. Kita sudah lelah seharian," ujarnya yang membuat Riri mengangguk dengan cepat.
Keduanya pun berbaring di ranjang yang saat ini masih didekorasi layaknya kamar pengantin. Sepertinya rasa canggung menerpa keduanya. Kavindra juga tampak terdiam saat berbaring di samping sang istri.
"Peluk doang boleh, kan?" Akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Kavindra dan anggukkan dari sang istri membuat pria itu mengubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi menyamping menghadap sang istri. Tangannya yang kekar melingkar di perut rata sang istri yang saat ini malah menahan nafasnya.
Hal itu membuat Kavin menahan senyumnya. Setelah itu, ia membisikkan kalimat yang membuat sang istri makin merona pipinya.
"Aku mau tidur," ucap Riri cepat sambil berbalik membelakangi sang suami. Kavin tergelak karena sukses membuat sang istri salah tingkah. Setelah itu, ia pun memeluk erat tubuh sang istri. Namun, bagaimana pun Kavindra adalah pria dewasa, apalagi saat ini gadis di sampingnya sudah sah menjadi istrinya.
Gerakan-gerakan kecil pun pria itu lakukan untuk memancing sang istri. Ia juga tahu bahwa sang istri tidak benar-benar tidur.
"Bang?"
"Hm."
"Katanya mau tidur," ucap Riri.
"Hm."
Netranya berbeda saat menatapnya, ada banyak kabut di sana. Hal itu, membuat Riri sedikit ketakutan.
"Bang?" panggil gadis itu sekali lagi. Namun, dengan cepat Kavindra membungkam bibir Riri dengan bibirnya. Riri mengerjap kaget, tapi juga tidak menolak atau pun membalasnya. Bahkan saat gerakan-gerakan kecil dilakukan oleh Kavin, gadis itu malah memejamkan netranya.
Setelah oksigen mereka menipis, akhirnya Kavin pun melepaskan pagutannya. Riri membuka netranya dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
"Apakah malam ini aku boleh …." Kavin tak melanjutkan ucapannya saat melihat sang istri menganggukkan kepalanya. Terbit senyuman dari bibir pria itu. Namun, ketegangan terlihat dari wajah sang istri.
"Aku tahu ini pengalaman pertama kita, tapi aku akan melakukan dengan sebaik mungkin dan tak menyakitimu," ucap Kavindra lembut, lalu mendaratkan kecupan di kening sang istri.
Setelah itu, Kavindra kembali menciumi wajah sang istri dengan lembut. Perasaan Riri sedikit nyaman saat diperlakukan begitu lembut oleh sang suami. Namun, saat tangan pria itu bergerilya ke bagian yang lain. Terdengar suara kucing berantem tepat di samping kamar Riri hingga keduanya terkejut.
"Ish, ganggu banget si," gerutu Kavindra yang beranjak untuk mengusir kucing itu. Ia membuka tirai jendela, tapi sungguh mengejutkan saat beberapa kerabatnya sedang berada di luar jendela. Mereka tampak berbincang sambil membakar makanan.
"Ya ampun, mereka ngapain di sini?" gumam Kavindra kesal.
"Kenapa Bang?" Riri menghampiri suaminya yang masih berdiri di depan jendela.
"Tuh lihat!" Sang suami menunjuk beberapa orang yang sedang duduk di teras dekat jendela kamar Riri dengan dagunya.
Riri pun terkekeh geli, ya udah besok-besok aja ya, Bang. Sekarang kita tidur aja," ucap Riri dengan senyum mengembang. Kavindra pun menghela nafas beras.
__ADS_1
"Nanti kita pindah rumah ya," bisik Kavindra saat mereka sudah kembali berbaring.
"Iya, kan kamu udah janji kita di rumah aku dulu satu minggu," jawab Riri mengingatkan suaminya.
"Iya, terus kerabat kamu kapan pulang?" tanyanya.
"Entahlah, tapi kan rumah jadi rame, Bang." Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap ke suaminya.
"Rame sih, tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain kamu," keluhnya yang malah mendapat cubitan di lengannya.
"Sakit ih, pokoknya sekarang kalau kamu nyubit aku, aku cium kamu sampai engap," ucap Kavindra.
"Dih modus." Riri kembali mencubit lengan suaminya, dan benar saja Kavindra langsung menciuminya hingga gadis itu tak bisa berkutik.
"Baaang!"
"Kenapa mau lagi?" tawarnya.
"Nggak!"
Sepertinya malam ini mereka hanya berdebat dibandingkan melakukan malam pertama. Sampai akhirnya keduanya kelelahan dan terlelap.
"Pengantin baru malah ketawa-ketiwi gitu, ya. Padahal gue lagi nungguin momen ini lho," bisik salah satu kerabat Riri yang sejak tadi berada di teras samping kamar Riri.
"Nggak asyik nih," timpal seorang lagi.
"Ya udah kita tidurlah, besok-besok kita nangkring di mari lagi."
Percakapan itu ternyata terdengar jelas oleh Kavindra yang saat itu masih terjaga.
"Siyalan, besok gue kerjain mereka," gumam Kavindra sambil beranjak duduk.
Pria itu juga bingung harus melakukan apa, apalagi sang istri sudah terlelap, ia tak tega jika harus membangunkannya hanya untuk memenuhi keinginannya.
"Pokoknya besok mereka harus pulang," pekik Kavindra sambil mengusak rambutnya.
Bersambung…
Happy Reading 😘
Hayoo siapa yang kemarin kena prank wkwkwkw. Monmaaf ya, aku pengen tahu kalian tuh beneran masih mau lanjut ceritanya atau nggak? Soalnya rencananya babnya masih banyak si ini.
Makasih buat kalian yang udah ngamook ke aku minta lanjut ceritanya. Aku lanjutin kok, tenang aja. Asal jangan minta crazy up aku belum bisa saat ini.
Pokoknya makasih buat semua yang selalu komen di tiap bab yang aku kirim. Love-lobe sekebon dah buat kalian.
__ADS_1