
"Kamu?" Raka kaget saat melihat wanita berpakaian sedikit terbuka berada di hadapannya. Kavindra berseru dari belakang. "Siapa, Ka?"
Wanita berbaju hitam itu menerobos masuk tanpa mempedulikan Raka yang berusaha menghadangnya.
"Apa kabar, Vin? Aku dengar kamu sudah menikah dengan gadis yang mirip dengan aku." Wanita itu duduk di sofa yang tersedia di sana.
"Kenapa kamu nyesel?" Kavindra menjawab dengan santai.
Kiandra terdiam mendengar ucapan pria yang dulu pernah ia khianati. Dia memang menyesal telah meninggalkan pernikahannya dulu.
"Aku mau minta maaf, Vin. Mungkin ini sangat terlambat, tapi aku memang baru bisa ketemu saat ini." Wanita bernama Kiandra itu menjelaskan maksudnya.
"Semua sudah berlalu, aku sudah memaafkan mu, Kia." Pria yang masih duduk di tempatnya itu berucap dengan tulus.
Namun, sepertinya Kiandra memang datang dengan niat tak baik. Ia beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekati Kavindra. Kavin yang masih duduk di tempatnya, tiba-tiba beranjak lalu keluar lewat jalan lain.
"Raka, hari ini aku ada rapat, kan?" Pria itu berucap pada sang asisten dan mengajaknya pergi. Kavin bahkan tak menghiraukan penggilan dari wanita yang dulu pernah sangat ia cintai.
"Awas kamu, Vin. Aku tahu kamu nikah sama gadis itu karena kamu masih sayang sama aku," teriak Kiandra saat Raka mempersilakan wanita itu untuk segera meninggalkan ruang kerja mereka.
Kavin benar-benar tak nyaman dengan perasaannya. Ia bukannya pergi rapat, melainkan pulang ke rumah untuk segera menemui sang istri.
Pria itu berjalan cepat tanpa menghiraukan panggilan dari mantan kekasihnya. setelah ia sampai di depan mobilnya, Kavin langsung masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Kamu hanya masa laluku dan akan tetap seperti itu, Kia," lirihnya sambil terus melajukan mobilnya.
Kavindra sampai di rumahnya tepat pada jam makan siang. pria itu langsung menerobos masuk ke rumahnya, tanpa menekan bel pintu terlebih dahulu. ia hanya ingin segera bertemu dengan sang istri.
Terlihat wanita kesayangannya sedang menyiapkan makan siang di meja makan. sepertinya Riri tak menyadari kehadiran sang suami, ia fokus pada kegiatannya. Sampai akhirnya sebuah tangan menelusup lewat pinggang rampingnya. Hampir saja wanita bergaun biru itu berteriak saat bisikkan di telinganya membuatnya tenang.
"Tumben udah pulang, Bang?" tanyanya heran, tanpa berbalik ke arah sang suami.
"Aku merindukanmu, Sayang," bisik pria yang melabuhkan dagunya pada bahu sang istri itu. Bahkan sesekali Kavindra mengecup leher jenjang sang istri.
"Kamu kenapa sih? Masih siang ini." Riri keheranan dengan tingkah suaminya.
"Kita ke atas, yu!" ajaknya dan tentu saja hal itu ditolak mentah-mentah oleh sang istri. Karena ia hapal apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Perdebatan itu ternyata didengar jelas oleh sang mami yang saat itu baru saja kembali setelah tadi pamit ke kamarnya sebentar.
__ADS_1
"Lo, Vin? Tumben udah ada di rumah jam segini?" tanya wanita paruh baya itu dengan senyuman menggoda.
"Mami kaya nggak tau aja kita kan pengantin baru, masih kangen\=kangennya." Kavindra menjawab dengan tak tahu malu, yang membuat Riri menginjak kaki sang suami hingga mengaduh.
"Iya deh, pengantin baru. ya udah sekarang kita makan siang aja dulu, setelah itu terserah kalian, mami nggak akan ganggu."
Mereka pun duduk bersama untuk menikmati makan siang kali ini, tanpa sang papi dan kedua adiknya. kavindra sengaja menggoda sang istri agar ia disuapi. Hal itu tentu saja membuat Riri malu. Entah kenapa hari ini suaminya itu begitu menyebalkan dan tak tahu malu.
Bahkan saat mereka baru saja selesai makan siang, Kavin sudah mengajaknya ke lantai dua.
Pria itu tak berhenti memeluk tubuh istrinya, walau sang istri sempat berucap bahwa ia masih kenyang. Namun, sepertinya pria itu tak menghiraukan ucapan sang istri.
"Bang, kamu kenapa sih nyebelin banget hari ini?" omel Riri saat ia akhirnya bisa lepas dari pelukan sang suami dan duduk di sofa yang ada di kamar mereka.
"Aku ternyata masih belum bisa jauh-jauh dari kamu, Yang." Kavin kembali menarik pinggang sang istri dan kali ini malah mendapat cubitan cukup keras di tangannya.
"Kamu galak banget sih," protes Kavindra sambil mengelus bekas cubitan sang istri.
Perdebatan mereka berakhir dengan hari yang sangat panas. Entah apa yang mereka lakukan, tapi Kavindra terlihat sangat bahagia.
Sekitar satu jam mereka berada dalam kamar, mereka kini masih berbaring di ranjang yang sama dengan selimut menutupi tubuh mereka.
"Aku sayang, cinta, suka kamu karena kamu, karena diri kamu bukan yang lain," imbuhnya dan sukses membuat istrinya berbalik.
"Kamu nggak sakit kan, Bang?" Riri memegang dahi suaminya dengan telapak tangannya.
Hal itu membuat Kavindra makin gemas dengan tingkah istrinya, ia pun kembali menempelkan bibirnya pada bibir mungil sang istri. "Sekali lagi ya," bisiknya disela cumbuannya.
"Ih, nggak mau malu sama mami, Bang," omel Riri sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami. Lalu duduk bersandar pada kepala ranjang.
Namun, tentu saja Kavindra tak akan melepaskan sang istri begitu saja, ia terus menggodanya hingga berhasil.
****
Satu bulan kemudian.
Tak terasa Riri dan Kavin sudah satu bulan tinggal di rumah Pramudya. Seperti rencana awalnya, pria tinggi itu sudah menyiapkan hunian untuk mereka berdua. Walau bagaimana pun, terkadang privasi mereka terganggu.
__ADS_1
Apalagi Kaivan, pemuda itu sering sekali mengganggunya. Sementara Davanka terlihat lebih menjaga jarak dari Riri dan Kavin. Namun, mereka tetap bersikap baik.
Riri sebenarnya belum mengetahui, tentang rumah yang akan diberikan oleh sang suami. Wanita itu, terlihat sudah nyaman berada di rumah sang suami. Apalagi ia makin dekat dengan sang mami mertua.
"Yang, kamu sudah membereskan barang-barang kita, kan?" tanya Kavin malam ini.
Riri mengerutkan dahinya heran, sebenarnya sang suami sudah menyuruhnya sejak tadi siang, tapi Riri belum melakukannya.
"Memangnya kita mau ke mana sih?"
"Ada deh, rahasia pokoknya, kamu pasti suka," jawab Kavindra yang membuat Riri berdecak sebal.
"Aku belum beresin apa-apa, baru ngeluarin koper doang." Riri menunjuk benda persegi yang ada di sudut kamarnya.
"Ish, ya udah nanti kita beli yang baru saja. Yang di sini buat kita kalau nanti main ke sini aja, ya gimana?"
"Bang, kita mau ke mana sih? Mau ngajakin jalan-jalan ya?" Riri mendekati suaminya dengan mata yang berbinar.
"Kamu mau honeymoon ke mana? Kita belum honeymoon, lho?"
"Ke mana ya?" Riri memegang dahinya dengan telunjuknya.
"Ya udah, nanti kita pikirkan deh, pokoknya besok siap-siap ya dengan kejutan yang aku kasih," ucap pria itu.
"Oke, siapa takut. Terus sekarang beresin barangnya jangan?"
"Ambil yang kamu suka saja, yang lainnya simpan."
" Oke, tapi bantuin ya!" Riri mengedipkan satu matanya, dan hal itu adalah kesalahannya karena saat ini tubuhnya sudah melayang digendong sang suami.
"Abaaang!"
Bersambung…
Happy Reading 😘
Aku usahain up terus ya, walau nggak tiap hari, maaf anak aku msh sakit, lagi rewel banget. Mohon doanya biar cepet sembuh.
__ADS_1
Jan lupa jempolnya ya. Timamakasih 😘