Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Menginap


__ADS_3

Plaak!


"Dasar perempuan tak tahu malu, setelah pergi sekarang kembali untuk merebut anakku!" bentak pria paruh baya pada gadis yang saat ini memegang pipinya yang sakit karena tamparannya.


"Papi!" Kavindra berteriak kaget saat gadis idamannya itu ditampar oleh pria kesayangannya. Pria tinggi itu mendekap tubuh mungil Riri yang tampak bergetar.


"Maksud kamu apa, Vin? Dua tahun lalu dia telah pergi dari pernikahan kalian." Pria tambun itu tampak mengeratkan rahangnya karena menahan amarahnya.


"Papi salah paham, dia bukan--" Kavindra tak melanjutkan ucapannya saat melihat sang papi semakin murka. Sementara Riri maaih memegangi pipinya yang terasa perih dan panas. Bahkan air matanya sudah jatuh. Gadis itu tak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh pria paruh baya yang tak dikenalnya.


Sebelum menjadi pusat perhatian para tamu, Kavindra mengajak Riri dan sang papi keluar dari sana.


"Kamu jangan gila ya, Vin? Papi udah umumin ke semua orang apa alasan dua tahun lalu kalian gagal nikah," bentak pria tambun itu pada putranya.


"Pi, dengerin aku dulu dong," Kavindra berusaha menenangkan kemurkaan pria kesayangannya itu.


"Maaf, Pak. Saya --"


"Diam kamu!" bentak Ganendra pada Riri yang saat itu ingin berbicara.


"Pi!"


"Apa? Sekarang juga bawa dia pergi dari sini, Papi nggak mau lihat dia!" titahnya pada sang putra.


Kavindra menghela nafasnya, ia tahu bahwa sang papi memang tak bisa dibantah. Namun, ia ingin menjelaskan bahwa wanita di sampingnya bukanlah Kiandra.


"Papi akan menyesal jika tahu siapa dia. Dia dari keluarga baik-baik, Pi." Kavindra berucap dengan tetap bersikap tenang agar tak tersulut emosi.


"Mana mungkin dia kabur dari pernikahan, kalau memang dia baik. Sekarang kamu, Kavindra Pramudya setelah dikhianati masih mau berhubungan dengan dia?" Ganendra menekankan nama belakang Kavindra yang membuat Riri mematung.


'Apa? Ja-jadi Pak Kavin dan Da-dava ….' Riri merasa sesak di dadanya.


Kavindra berusaha menenangkan sang papi. "Dengerin Kavin dulu, Pi. Dia itu Arisha bukan Kiandra."


"Percuma walaupun mengganti nama, wajah kalian tetap sama. Jangan bohongi Papi, Vin." Pria itu tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Kavin bersumpah, dia bukan Kiandra, Pi." Pria jangkung itu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Riri yang tahu bahwa saat ini ia berada di depan orang-orang yang sedang ia hindari. Akhirnya, ia memtuskan meninggalkan tempat itu, dan meninggalkan ayah dan anak yang masih berdebat mengenai dirinya.


Gadis itu menuju ke kamarnya dan mengganti gaunnya dengan pakaian yang ia pakai sebelumnya, lalu membereskan barangnya tanpa membawa gaun itu.


Dengan gegas, ia pergi dari sana sebelum atasnanya itu datang.


"Aku pikir Pak Kavin itu beda, ternyata sama saja apalagi dia saudara Davanka, mantan yang … ah." Riri bergumam sambil terus berjalan menuju ke lobi, ia akan naik taksi untuk pulang.


Namun, baru saja ia sampai di depan resepsionis, tiba-tiba tangannya dicekal seseorang dan menyeretnya ke lorong sebelah kanan.


"Lepas!"


"Ini aku, Ri," bisik Kavindra tanpa melepas cekalannya.

__ADS_1


"Lepasin saya, Pak! Saya mau pulang," hardik Riri.


"Saya tidak akan melepaskan kamu, sebelum kamu mendengar penjelasan saya, Arisha." Pria jangkung itu menekankan nama Arisha.


"Menjelaskan apa? Saya sudah tak akan lagi berurusan apa pun dengan Pak Kavin dan keluarga Bapak. Mulai hari ini saya mengundurkan diri dari tempat Bapak." Riri berucap dengan satu tarikan nafas.


Kavindra mematung mendengar semua ucapan gadis itu. "Tidak boleh, kaku sudah tanda tangan kontrak."


"Saya akan bayar dendanya." Riri menarik tangannya kuat, hingga terlepas dari cekalan pria itu. Lalu pergi keluar, tanpa menoleh kembali ke belakang walau Kavindra terus memanggilnya.


Gadis itu, kini berada dalam taksi. Ia menengadahkan kepalanya agar air matanya tak jatuh. Perasaan sesak di dadanya masih begitu terasa. Saat tiba-tiba ia ditampar seorang pria paruh baya, dan ternyata ia adalah keluarga Pramudya. Keluarga kaya yang sedang ia hindari.


Hujan turun saat taksi sudah memasuki jalan menuju rumahnya. Tak berapa lama, taksi berhenti tepat di depan rumah Riri. Dengan gegas ia keluar dari taksi, setelah membayar ongkosnya. Riri berlari kecil dengan tas diangkat ke atas untuk menutupi kepalanya agar tak terlalu basah.


Namun, baru saja ia mengucap salam, seseorang menarik pinggangnya dengan posesif.


"Pak Hantu?"


"Waalaikumusalam." Papa Satria membuka pintu rumahnya dan melihat adegan di depannya.


"Papa--" Riri langsung menepis lengan Kavindra yang tampak biasa saja saat perbuatannya terlihat oleh sang papa.


"Katanya mau pulang besok?" Pria paruh baya itu malah bertanya hal lain.


"Sudah selesai kok, Pa. Maaf nggak ngasih kabar dulu," ucap Riri, lalu mereka masuk ke dalam.


Kini ketiganya duduk di sofa ruang tamu. Sang mama dan Sera sudah tidur sejak tadi.


"Iya, Om. Tadi mobil saya mogok, jadi saya minjem motor tukang bengkelnya. Sementara Riri saya suruh pakai taksi." Kavindra memberi alasan yang membuat Riri memutar bola matanya.


"Oh, ya sudah ganti pakai punya Om saja ya. Nanti masuk angin, lho," ucap pria paruh baya itu sambil mengajak pria jangkung itu ke dalam.


Riri menghentakkan kakinya kesal. "Kok, bisa sih keduluan si Hantu. Dasar hantu!"


Bersamaan itu suara petir menggelegar hingga membuat gadis itu berteriak panik dan lari ke dalam.


Gadis itu membanting pintu kamarnya dan menguncinya. Lalu membawa handuk untuk membersihkan tubuhnya yang terkena hujan. Saat ia sampai di depan pintu kamar mandi, benda itu tertutup rapat.


"Siapa di dalam? Pa!"


Tidak ada jawaban, sampai suara kunci pintu diputar terdengar, dan handel pintu ditekan. Ternyata tampak pria jangkung bertelanjang dada di depannya.


"Astagfirullah!" pekiknya sambil menutup matanya.


"Ngapain masih di sini sih, Pak? Kenapa nggak pulang?" gerutunya.


"Ya ampun, Ri. Di luar ujan gede banget mana petir pula, tega banget," jawabnya.


"Ngapain nggak pake baju sih?" Gadis itu tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ini bajunya baru ketemu, Ri." Tiba-tiba sang papa datang dengan membawa setelan training miliknya.

__ADS_1


"Pakai ini dulu. Mungkin ukurannya kekecilan, tapi di sini laki-lakinya cuma, Om." Pria paruh baya itu memberikan pakaiannya dan menepuk bahunya sambil terkekeh.


Namun, sepertinya Riri tak mau menunggu pria itu untuk memakai bajunya, hingga akhirnya dengan sekuat tenaga mendorong tubuh tinggi Kavindra dan ia melesak masuk ke kamar mandi lalu menguncinya.


"Riri--" Kavindra tak melanjutkan ucapannya saat pintu di depannya tertutup dengan keras.


Sementara itu, sang papa sepertinya sudah kembali ke kamarnya. Akhirnya Kavindra pun berjalan mencari tempat untuk mengenakan pakainnya. Sampai akhirnya terlihat sebuah kamar dengan pintu setengah terbuka.


Ia pun masuk ke dalamnya dan mulai mengenakan pakaiannya yang ternyata panjangnya hanya sampai bawah lutut sedikit. Pria itu memperhatikan isi kamar tersebut. Semuanya berwarna merah muda, sangat girly. Bahkan ada beberapa boneka besar di tempat tidur itu, dengan warna senada.


"Mungkin ini kamar adiknya Riri, mana mungkin Riri masih bermain boneka," gumamnya.


Namun, saat ia kembali melihat sekeliling tampak sebuah foto tergantung di dinding. Foto seseorang yang sangat ia kenal. "Ini kamar Riri?"


Saat pria itu asyik memperhatikan setiap sudut ruangan itu, tiba-tiba pintu terbuka. Kavindra berbalik dan melihat bidadari dengan jubah mandinya, ada handuk kecil yang melilit di kepalanya. Namun, sepertinya gadis itu belum menyadari kehadiran orang lain di kamarnya. Karena ia fokus pada ponselnya.


Kavindra melipat kedua tangannya di depan dada, tubuhnya ia sandarkan pada tembok.


"Dasar hantu, ngapain coba malam-malam ke rumah orang, gue kesel banget sumpah. Apalagi ternyata dia saudara Davanka, mantan nggak ada akhlak." Riri menggerutu sambil membuka handuk di kepalanya.


"Kamu mau ganti baju sekarang?"


"Hantuuu!" pekik Riri sambil mengeratkan jubah mandinya.


"Ck! Hantu tampan ini."


"Keluar!"


"Nggak mau." Kavindra malah merebahkan tubuhnya di ranjang Riri, kepalanya ia sandarkan pada boneka besar di sana.


"Aku teriak biar papa sama mama tahu," ancamnya sambil membuka pintu kamar lebar-lebar.


"Teriak saja, aku senang mereka tahu." Kavindra malah balik menantang.


Riri kesal sekesal-kesalnya. Dengan langkah lebar ia menghampiri pria itu, lalu menarik tangan Kavindra agar bangun, tapi bukannya bangun pria itu malah menarik tubuh gadis itu hingga menindih tubuhnya.


"Pak!"


"Iya sayang," goda Kavindra yang membuat Riri makin marah dengan pria di bawahnya.


"Kalian ngapain?"


Bersambung...


Eeeeaaaaak kepergok tuh, mo diapain ya?


Happy Reading.


Maaf ya kemarin ga up akohnya sibuk rl ada tugas negara.


Jan lupa jempolnya gerakin ya buat like,komen, vote sama tap lovenya.

__ADS_1


__ADS_2