
Kavindra menganggukkan kepala saat menerima telepon dari seseorang. Pria itu masih berada di rumahnya. Acara bulanan di hotel Agatha, akan ia hadiri besok saat acara seminar dimulai. Pria itu mengikuti rencana yang sudah disepakatinya bersama asistennya
"Aku harap itu bukan kamu," gumamnya saat ia kembali memperhatikan dua buah foto di tangannya.
Walaupun dilihat dari kedua buah foto itu, keduanya memang tak bisa dibedakan hanya pakaiannya saja yang berbeda, bahkan rambutnya juga sama-sama panjang. Iya, Kavindra sedang membandingkan foto Kiandra dan Arisha.
"Aku memang sangat mencintaimu Kia, tapi … itu dulu sebelum kamu pergi meninggalkan pernikahan kita," lirih Kavindra sambil mengusap foto Arisha, yang ia pikir adalah Kiandra.
Sementara itu di Hotel Agatha.
Arisha baru saja selesai membereskan barang-barang di kamarnya. Padahal hanya sedikit saja si, tapi dia selalu ingin terlihat rapi.
"Kamarnya nggak senyeremin yang di film-film ah," gumamnya saat ia membuka tirai jendela. Pemandangan kota begitu jelas terlihat.
Gadis itu menikmati pemandangan di depannya.
Sampai suara ketukan di pintu mengalihkan pandangannya. "Siapa?"
Namun, hening tak ada jawaban dari luar. Gadis itu bertanya sekali lagi, sampai akhirnya ia memutuskan membuka pintu.
Tampak pria berkacamata sedang menatapnya.
"Pak Ra-Raka? Ada apa?" Arisha berucap terbata.
"Mm, semua sudah kumpul di gedung sebelah," ucap Raka dengan mengusap tengkuknya.
"Eh, maaf Pak, aku lupa nggak lihat pesan di ponsel." Arisha pamit sebentar untuk membawa ponsel dan tasnya. Raka hanya mengangguk dan menunggunya.
Lalu, gadis dengan blazer krem itu pun, menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Setelah itu mengikuti Raka.
"Maaf sudah merepotkan ya, Pak," ucap Arisha santun.
"Nggak kok, santai aja. Ini kan acara bulanan, jadi buat yang baru pasti masih asing. Kita di sini juga have fun kok. Buat perkenalan juga," jelas Raka dengan nada santai.
Arisha hanya mengangguk, lalu ia pun hanya mengikuti pria itu pergi ke arah mana. Saat samapi di sebuah ruangan besar. Tampak Adelia dan yang lainnya sudah duduk rapi di depan meja bundar.
Arisha pun pamit, pada Raka untuk menemui teman-temannya.
"Del, tega banget si nggak ngajak aku," gerutu gadis itu pada Adelia yang malah terkekeh geli.
"Emang kamu, di kamar berapa si?" tanya Adel yang baru menyadari bahwa saat di lantai empat, dia tak bertemu dengan Arisha.
__ADS_1
"Ish, baru nanya, aku lantai 6 mana sendirian lagi. Ngeselin banget Pak Raka." Arisha berucap setengah berbisik saat menyebut nama atasannya.
"Eh di lantai 6 katanya ada yang pernah bunuh diri lo, gara-gara ditinggal nikah," goda Adel yang membuat Arisha memelototkan netranya.
"Jangan rusuh deh, Del." Arisha mengomel dengan mengusap tengkuknya.
"Cewek apa cowok?" imbuhnya.
"Apanya?"
"Ish, yang bunuh diri."
"Oh, cowok ganteng," ucap Adel sambil tergelak. "Entar kalau dia datang minta dikawinin, Ri." Gadis itu kembali tergelak.
"Iih, Adel nyebelin banget. Aku nginep di kamar kamu aja deh," ucap Arisha.
"Jangan dong, sempit aku kan sama Silvi."
Perdebatan itu berakhir saat Olivia datang bersama seseorang yang diperkenalkan sebagai manager hotel itu. Acara rutin ini memperkenalkan karyawan baru tentang pekerjaan hotel seperti apa, karena bagaimanapun nanti peserta didik mereka akan melaksanakan praktek di Hotel Agatha ini, sebelum berangkat ke luar negeri. Jika sudah layak, maka akan direkomendasikan untuk berangkat ke sana.
Para pengajar diberi pengarahan mengenai istilah-istilah yang ada dalam hotel. Hal itu untuk memudahkan mereka memberi materi. Seperti saat ini manager hotel sedang menjelaskan tentang semua mengenai hotel.
Arisha dan yang lainnya menyimak dengan serius. Hingga waktu berkeliling pun tiba, sampai akhirnya malam menjelang.
Sementara itu tampak pria tinggi masuk ke lobi hotel dan menemui resepsionis. Sang resepsionis wanita itu tampak terhipnotis dengan paras si pria. Sampai akhirnya Raka datang menghampiri.
"Ayo ikut gue!" ajak Raka setelah menjelaskan pada resepsionis itu bahwa ia adalah rekannya.
"Nih kartu chip lo." Raka memberikan benda tipis itu pada pria tampan tadi, yang ternyata Kavindra.
"Ingat jangan diapa-apain anak orang," imbuhnya.
"Maksud lo?" omel Kavindra.
"Awas kalau lo nelepon gue," ancam Raka sambil terkekeh.
Kavindra pun berlalu masuk ke dalam lift menuju lantai 6 untuk ke kamarnya. Nomor yang tertera di kartu itu 607. Kavindra pun segera keluar setelah lift berdenting dan terbuka.
Pria itu menuju kamar yang dimaksud. Saat membuka pintu suasana tampak rapi. Namun, saat pria itu membuka lemari untuk menyimpan barang-barangnya. Di sana sudah tersusun rapi beberapa baju wanita dan tas wanita.
"Apa-apaan Raka? Kamar ini sudah milik orang lain," gumam pria itu lalu menghubungi sahabatnya.
__ADS_1
Ternyata benar Kavindra memang harus menelepon sahabatnya itu.
"Lo mancing gue, Ka?" omel Kavindra saat panggilan teleponnya tersambung.
"…"
"Apa?"
"…"
"Oke." Kavindra menutup panggilan teleponnya.
Pria itu menyimpan barangnya di lemari sebelahnya yang masih kosong. Setelah itu, ia berlalu ke toilet.
Pria itu hanya ingin mencuci mukanya. Raka memberitahu bahwa yang sekamar dengannya adalah Arisha, gadis yang mirip dengan mantan calon istrinya.
Untuk memastikan, apakah dugaannya benar atau salah. Akhirnya rencana gila Raka pun ia lakukan. Pria itu tak menyadari bahwa teman sekamarnya sudah berada di kamar itu.
Arisha datang karena tubuhnya terasa lelah, gadis itu hendak membersihkan dirinya, sehingga kembali ke kamarnya setelah tadi berkeliling bersama yang lainnya.
Namun, baru saja gadis itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Tiba-tiba terdengar suara gemericik air dari arah toilet. Arisha pun mencoba mendengarkan kembali apa yang ia dengar tanpa merubah posisi duduknya sedikit pun. Dan ternyata, pendengarannya tidak salah.
Ingatan kembali pada percakapan tadi siang bersama Adel. Apa mungkin itu hantu? pikirnya. Rasa paniknya membuat ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Sampai akhirnya, suara handle pintu ditarik, membuat gadis itu makin panik.
Bayangan menakutkan mulai bermunculan di otaknya. Arisha ingin segera keluar dari sana, tapi rasanya kakinya sudah terpaku dengan lantai. Sampai akhirnya dengan susah payah, ia membalikkan tubuhnya membelakangi pintu toilet. Saat pintu toilet sepertinya sudah benar-benar terbuka, gadis mungil itu mulai membungkukkan tubuhnya untuk memastikan apa yang ia lihat di belakangnya bukanlah seperti apa yang ada di pikirannya.
Tampak sepasang kaki dengan sandal hotel, berdiri di belakangnya dan menyentuh lantai. Dadanya yang berdetak kencang, perlahan berjalan normal, saat yang ia pastikan ternyata bukan hantu. Arisha pun kembali berdiri. Gadis itu mengusap dadanya. Namun, saat ia berbalik, tidak ada siapapun di belakangnya.
"Hantu!" Arisha berteriak panik, lalu berlari ke arah pintu. Namun, sebuah tarikan di tangannya menghentikannya.
"Ampun hantu, aku bukan calon istri kamu. Jangan ganggu aku!" ucap Arisha dengan sedikit gemetar.
Terdengar kekehan seorang pria di belakangnya yang membuat Arisha makin panik. Gadis itu mer*mas ujung blazernya dengan sebelah tangannya. Sementara sebelah tangannya dipegang erat 'hantu'.
"Kamu harus nikah sama aku."
"Mama, Riri nggak mau nikah sama hantu!"
Bersambung…
Happy Reading 😘
__ADS_1
Maaf ya telat banget, anak aku lagi sakit jadi nggak bisa pegang hengpong.
Seperti biasa gerakin jempolnya ya. Timamakasih 😘