Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Cuti


__ADS_3

Kavindra ternyata pulang sekitar jam sembilan malam dari rumah Riri. Pria itu diajak makan malam bersama keluarga itu. Riri sudah ingin istirahat saat sang mama malah menyuruh gadis itu menemani pria jangkung itu.


"Pak, besok aku izin ya?" ucap Riri saat pria itu masih betah duduk di sofa besar ruang tamu.


"Emh, boleh tapi dengan satu syarat," jawab Kavindra santai.


"Apa syaratnya?"


"Kamu ikut saya besok."


"Ish, mana bisa gitu sih, Pak. Kalau ikut sama Pak Kavin, pasti kerja lagi," tutur gadis itu dengan sedikit menggerutu. Kavindra hanya tertawa melihat gadis di depannya.


"Nggak, ini bukan pekerjaan kok, tapi aku mau minta bantuan ke kamu juga, Ri," ucap pria itu serius.


"Karena cuma kamu yang tahu masalah kantir kita, aku harap kamu tak memberitahu yang lainnya."


"Nggak akan, Pak. Saya tahu itu rahasia perusahaan." Riri menjawab dengan tegas.


"Pak mau pulang jam berapa?" imbuhnya pada pria yang sepertinya enggan untuk pulang itu.


"Udah diusir lagi nih. Sebentar lagi deh ya, saya betah di sini," jawab Kavindra sambil menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.


"Kalau boleh sih, saya nginep aja ya," imbuhnya yang membuat Riri melempar bantal sofa ke arahnya.


"Eh, maaf Pak. Abis kalau ngomong tuh Pak Kavin mah …." Riri merasa bersalah tapi juga kesal dengan sikap pria di depannya.


Kavindra malah tergelak, pria itu menampilkan deretan giginya yang putih, dan hal itu malah membuatnya terlihat lebih tampan.


Sampai jam sembilan teng, pria itu pun 0amit dan Riri bisa masuk ke kamarnya dan beristirahat.


Namun, ternyata yang dilakukan gadis itu bukan tidur, tapi melihat beberapa galeri foto di ponselnya. Gadis itu memandang pria yang saat itu selalu memberikan semua perhatian dan senyuman untuk dirinya, tapu tidak dengan sekarang.


"Kamu jahat banget sama aku, tega kamu," gumamnya sambil menggosok layar ponselnya dengan kasar.


"Aku nyesel kenal sama kamu, Davanka."


Namun, saat ia menggeser layar ponselnya ada salah satu foto yang menarik perhatiannya. Tampak foto canded seorang pria.


"Eh bentar ini Dava, kan? Kok mirip Pak Hantu ya?" Riri beranjak dan duduk di atas ranjangnya. Gadis itu terus memperhatikan foto itu, bahkan mencoba memperbesar fotonya, untuk melihat lebih jelas.


"Mudah-mudahan mereka nggak ada hubungan, aku nggak mau berhubungan dengan pria itu lagi," pungkasnya lalu me-nonaktifkan ponselnya dan berusaha untuk tidur.


Keesokan harinya.


Riri bangun kesiangan. Gadis itu bahkan sudah sangat terlambat untuk pergi bekerja.

__ADS_1


"Aduh pake acara telat lagi, aku ijin aja kali ya?" gumamnya sambil menyisir rambutnya. Gadis itu baru selesai mandi, tapi jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.40 wib.


"Ah udahlah aku ijin saja." Riri yang masih menggunakan jubah mandi itu, mengambil ponselnya dan menghubungi Adel sahabatnya. Dia memberitahukan bahwa ia ijin tak masuk hari ini. Namun, jawaban dari gadis di seberang itu malah membuatnya terkejut.


Adel berkata bahwa ia dan yang lainnya sudah tahu bahwa hari ini dan besok Riri tidak akan masuk, karena ada acara keluarga. Yang lebih mengejutkannya lagi adalah orang yang memberi tahu mereka adalah atasannya sendiri, siapa lagi kalau bukan Pak Kavin.


"Kok bisa sih, Del?" Riri tak percaya dengan apa yang ia dengar. Namun, gadis di seberang meyakinkan semuanya dan kelasnya sudah diisi dengan rekan yang lain. Akhirnya Riri pun hanya berterima kasih, lalu menutup sambungan teleponnya.


Setelah itu, ia menggunakan pakaian rumah. Hanya kaus longgar dan celana pendek di atas lutut, yang membuat gadis itu terlihat sangat cantik bahkan tanpa polesan make up di wajahnya. Gadis itu berjalan dengan riang keluar dari kamarnya, bahkan bibirnya terdengar bersenandung.


"Kok nggak kerja, Ri? Eh iya lupa bentar lagi dijemput ya?" ucap sang mama yang keluar dari dapur dengan membawa susu coklat di tangannya.


"Siapa yang mau jemput, orang Riri hari ini libur. Uh! Senengnya," jawab gadis yang membiarkan rambut panjangnya terurai itu.


Gadis itu lalu mengambil sarapannya yang tertinggal.


"Adek kuliah, Ma?" tanya gadis itu saat tak melihat adiknya berada di rumah.


"Iya, jadwal pagi katanya." Wanita paruh baya itu berlalu ke depan. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti dan berbalik. "Kalau kamu libur jagain warung mama ya."


"Oke, Ma." Gadis itu membentuk huruf o dengan jarinya, tanpa berhenti mengunyah.


"Ish, udah dibilangin kalau lagi mengunyah nggak boleh ngomong," omel sang mama pada putri sulungnya.


Hingga siang hari Riri sibuk di warung, banyak sekali pembeli hari ini. Namun, gadis itu dengan ramah melayani pelanggan. Sampai seseorang datang saat gadis itu sedang membereskan beberapa barang dagangan yang berantakan.


"Mana ada, yang jualan nggak bisa dibeli, Bang. Kalau ngaco kebangetan ya," gerutu Riri dengan tetap membereskan barang-barangnya. Karena, gadis itu kira itu Agam, pria yang selalu gencar menggodanya.


Namun, saat pria itu tergelak. Riri baru menyadari bahwa itu bukan Agam. Pak Hantu? Ngapain di sini? Pikirnya.


Gadis itu tetap jongkok di bawah, apalagi saat ini, ia menggunakan celana pendek.


"Ya udah aku beli minuman saja, boleh?" ucap Kavindra yang datang dengan pakaian casualnya.


"Pak Kavin ngapain di sini?" Riri bertanya tanpa beranjak dari jongkoknya. Gadis itu merasa malu dengan pakaiannya hari ini. Padahal sedari tadi ia melayani pelanggan biasa saja.


Namun, berbeda saat harus bertemu dengan pria di depannya.


"Kita akan pergi," jawabnya singkat.


"Kan aku dapat izin nggak masuk kerja hari ini sama besok. Kok sekarang harus pergi?" Riri mengerutkan dahinya heran, sampai akhirnya ia beranjak dan berdiri di hadapan pria jangkung itu.


Kavindra menatap gadis di depannya dengan menarik satu ujung bibirnya. "Cantik."


Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya saat melihat penampilan berbeda dari gadis di depannya.

__ADS_1


Saat keduanya masih saling menatap, tiba-tiba Mama Rina datang dan menyapa pria itu.


"Eh, udah datang ya. Mau pergi sekarang?"


"Emang mau pergi ke mana sih, Ma?" tanya Riri heran dengan sang mama.


"Udah sana ganti baju." Wanita paruh baya itu mendorong tubuh putrinya masuk ke dalam. Sementara itu, Kavindra dipersilakan masuk ke ruang tamu.


Pria itu duduk di sofa besar, yang selalu membuatnya merasa nyaman bila berada di rumah ini.


Riri sudah masuk ke kamarnya, ia akan mengganti pakaiannya. Namun, bingung juga harus memakai baju seperti apa, apalagi sang mama bilang bahwa ia juga harus membawa baju ganti.


"Mungkin Pak Hantu mau ngajak aku dinas luar kali ya? Makanya dia bilang aku izin, tapi … Adel bilang akunya ada acara keluarga …." Gadis itu bergumam sambil memilih setelan yang biasa ia gunakan untuk bekerja.


Celana panjang hitam, kemeja maroon dan blazer krem. Rambutnya ia ikat dengan rapi, sehingga menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus. Gadis itu juga membubuhkan riasan tipis di wajahnya. Dirasa sudah siap, ia keluar dengan tas punggung, berisi beberapa pakaiannya.


Sementara itu, Mama Rina sedang berbincang dengan Kavindra di ruang tamu.


"Tante titip Riri ya. Syukur-syukur kalian bisa tambah dekat," ucap wanita paruh baya yang selalu ceria itu.


"Iya, Tante pasti. Kalau Tante percaya sama saya," balas Kavindra.


"Tante percaya sama kamu, malah Tante khawatir saat Riri berhubungan dengan mantan pacarnya yang kemarin, entah kenapa perasaan Tante nggak enak. Alhamdulillah ternyata mereka udah putus, walau sampai sekarang Tante nggak tahu yang mana kekasihnya itu." Wanita berambut pendek itu bercerita panjang lebar.


Feeling seorang ibu memang kuat, walau pun Riri belum mengenalkan kekasihnya kemarin-kemarin, tapi wanita paruh baya itu merasa ada yang tidak beres dengan kekasih sang putri. Apalagi, pria itu tak pernah menunjukkan batang hidungnya.


Riri berjalan menuju ruang tamu, tampak dua orang sedang tertawa. Entah apa yang mereka bincangkan. Namun, saat Riri menghampiri mereka, keduanya langsung terdiam.


"Kenapa sih, Ma?"


"Nggak apa-apa, sudah sana kalian berangkat, katanya acaranya malam nanti, kan?" ucap sang mama.


"Acara ap--" Sang mama langsung mendorong tubuh Riri ke samping Kavindra, tanpa mendengar ucapan putrinya.


Kini keduanya sudah berada dalam mobil. Riri duduk di samping pria jangkung yang sedari tadi selalu terlihat tersenyum.


"Pak memangnya ada acara perusahaan ya nanti malam?" tanya Riri.


Kavindra menggelengkan kepalanya. "Nanti malam kita tunangan."


"Apa?"


Bersambung…


Happy Reading 😘

__ADS_1


Masa tunangan nggak ngajak ortu ya? Babang Kavin gimana sih?


Jan lupa jempolnya ya.


__ADS_2