
Setelah satu minggu liburan, kini Riri dan Kavin sudah kembali ke Jakarta. Namun, mereka tak pulang ke kediaman mereka. Kavindra membawa pulang sang istri ke kediaman Pramudya.
Pria itu ingin segera memberitahukan kabar gembira untuk orang tuanya. Sementara Riri masih belum menyadari tentang keadaannya.
Setelah pulang dua hari lalu, kini Riri dan mami mertuanya sedang berada di rumah sakit untuk cek keadaan menantunya itu.
"Riri nggak sakit apa-apa kan, Mi?" tanya wanita cantik khawatir saat mereka duduk di ruang tunggu.
"Nggak, Sayang. Ini normal kok, Mami cuma mau mastiin dugaan Mami sama suami kamu," ujar wanita paruh baya yang selalu terlihat cantik itu.
Akhirnya setelah menunggu cukup lama, mereka pun dipanggil. Riri dan sang mami masuk, sementara Kavindra menunggu di luar.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter wanita itu sama dengan yang diucapkan suaminya beberapa waktu lalu, tentang kapan terakhir ia datang bulan. Lalu, Riri dibaringkan di tempat yang sudah tersedia di sana.
"Saya nggak kenapa-kenapa kan, Dok?" Riri kini bertanya pada sang dokter. Dokter berkacamata itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya Riri kembali duduk di kursi bersama sang mami.
"Selamat Nyonya Arisha, Anda akan menjadi seorang ibu!" Wanita bersneli putih itu menjulurkan tangannya dengan tersenyum.
"Apa?" Riri menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Iya, saat ini Anda sedang mengandung lima minggu," papar dokter cantik itu.
"Alhamdulillah, akhirnya Mami punya cucu." Mami Alifa memeluk tubuh menantunya.
"Mengenai keluhan Anda di pagi hari, itu hal biasa bagi wanita yang sedang hamil, kami biasa menyebutnya dengan morning sickness. Namun, tidak perlu khawatir, biasanya itu terjadi pada trimester pertama." Dokter bernama Sila itu menjelaskan.
Setelah berterima kasih kembali kepada sang dokter, mereka pun keluar dengan senyum yang terus terbit dari wajah keduanya.
Kavindra berdiri dan menghampiri wanita kesayangannya, saat melihat keduanya sudah keluar.
"Aku … kamu berhasil, Bang." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir mungil Riri.
"Mami sebentar lagi akan gendong cucu, Vin." Wanita paruh baya itu menambahkan.
"Alhamdulillah!" Kavindra memeluk tubuh sang istri dengan erat. Sepertinya pria itu lupa mereka sedang berada di mana.
"Bang, malu ih!" Riri menepuk punggung suaminya.
"Biarin aja, orang kamu istri aku," topak Kavindra yang malah mengeratkan pelukannya. Namun, kini sang mami yang memukul lengan pria jangkung itu.
"Jangan kenceng-kenceng tahu, kasihan cucu Mami. Ayo pulang!"
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan rumah sakit. Selama perjalanan, Kavindra tak berhenti bertanya tentang apa yang diinginkan oleh istrinya.
"Kamu mau beli apa dulu, Yang?" tanya Kavindra.
"Nggak mau, Bang. Aku mau pulang." Riri kembali menjawab dengan kalimat yang sama.
"Ya udah sih, Vin. Jangan dipaksa, nanti juga kalau Riri mau sesuatu pasti bilang, sekarang kita pulang dulu," sela sang mami.
"Oya, pulang ke rumah Mami dulu ya, jangan dulu pulang ke rumah kalian," imbuhnya.
"Iya, Mami."
Tak berselang lama, ponsel milik Riri berdering, tertulis nama 'Mama' di layarnya.
"Mama telepon."
"Angkat dong, Yang."
"Assalamu'alaikum, Ma," ucap Riri saat mengangkat panggilan teleponnya.
Setelah berbasa-basi sebentar, Riri pun memberi tahu sang mama mengenai kehamilannya. Terdengar teriakan bahagia dari seberang sana, sampai Riri menjauhkan ponselnya.
Kemudian, sang mama berjanji akan mengunjunginya lusa, bersama papa dan adiknya.
Tak berselang lama, mereka sampai ke kediaman Pramudya. Kavindra menggandeng sang istri dengan posesif. Namun, baru saja mereka membuka pintu rumah, tiba-tiba Riri berbisik, "Bang, aku mau pempek yang ada di deket minimarket itu lho."
"Ish, tadi katanya nggak mau apa-apa, Yang," ucap Kavindra.
__ADS_1
"Abis maunya sekarang." Riri berucap dengan nada merajuk.
"Kenapa, Vin?" tanya sang mami yang mendengar ucapan putra sulungnya.
"Ini, Riri mau pempek yang dekat minimarket langganan Mami," jawab Kavindra.
"Ya udah sana beliin, pas tadi di mobil kan terus nanyain maun apa? Sekarang udah minta kenapa merajuk gitu?" papar sang Mami, lalu mengajak menantunya masuk.
"Iya, aku beliin, sama apa lagi biar sekalian, Yang?" Kavindra sedikit berteriak karena sang istri suah masuk ke dalam rumah.
"Itu aja dulu." Terdengar jawaban dari sang istri.
Pria jangkung itu pun langsung menancap gas untuk membeli apa yang dimau istrinya. Namun, saat ia sampai ke minimarket biasa, penjual pempek itu tak ada.
Dengan terpaksa pria itu mencari ke tempat lain, setelah menyusuri sepanjang jalan itu, akhirnya di ujung jalan ada satu penjual pempek. Dengan segera ia turun dari mobil, Kavindra setengah berlari untuk sampai ke tenda itu. Saat sampai, terlihat si penjual pempek sedang membereskan barang dagangannya.
"Lho, udah abis ya, Bang?" sesal Kavindra saat melihat si abang penjualnya sedang beres-beres.
"Ada sih, dua porsi lagi, Bang. Mau?" tanya si penjual yang membuat Kavindra mengelus dadanya lega.
"Iya, aku borong deh."
Dengan cekatan si penjual itu membungkus pempek-nya. Saat Kavindra mengeluarkan uang berwarna merah dari saku celananya, tiba-tiba seorang wanita datang dengan tergopoh.
"Bang, tadi punya aku ketinggalan dua bungkus," ucap wanita yang ditaksir seusia dengan Riri.
"Yah, udah abis Neng, dibeli sama abang ini. Biar aku ganti uangnya aja ya," sesal penjual itu.
"Ih, nggak maulah, ganti aja uang si abang ini." Tunjuk wanita itu pada Kavindra sambil tangan satunya hendak meraih bungkusan di tangan Kavindra.
"Aduh, maaf ya istri saya lagi ngidam pengen ini. Biar saya ganti uangnya deh dilebihin juga nggak apa-apa," ucap Kavindra.
"Aku nggak mau tahu, pokoknya aku mau makanan ini," kekeh wanita dengan rambut dikepang itu.
"Serius deh, Mbak, saya ganti uangnya." bujuk Kavindra, merasa bingung harus berbuat apalagi.
"Soalnya, ini bukan punya saya, Bang. Punya bos saya." Wanita itu menunjuk pada mobil merah yang ada di seberang jalan.
Wanita berkepang itu kemudian, mengetuk kaca jendela mobil itu. Saat kaca mobil itu, diturunkan, Kavindra terkejut saat tahu siapa yang dimaksud bos oleh wanita di sampingnya.
"Kia?"
"Kavin? Kamu ngapain?" tanya wanita itu dengan menatap tak terbaca pada pria di hadapannya.
"Maaf Non, makanannya sudah dibeli Abang ini, katanya buat istrinya yang lagi ngidam," papar wanita berkepang di samping Kavindra yang membuat Kiandra membuka mulutnya.
"Arisha hamil, Vin?" Anggukkan dari Kavindra membuat Kiandra menghela nafas berat.
"Aku beli ya makanannya, soalnya aku udah muter-muter cuma di sini yang ada."
"Nggak usah, Vin. Kamu ambil aja bilang aja dari aku dan selamat buat kehamilannya."
"Ayo, Pin. Kita pulang!" ajak Kia pada wanita bernama Pina itu.
"Makasih ya, Kia."
Kemudian mobil merah itu pun melaju meninggalkan Kavindra. Setelah itu, ia berlari menuju mobilnya untuk segera pulang.
Sekitar lima belas menit, akhirnya pria tampan itu sampai di rumah. Kabin membuka pintu rumahnya, lalu masuk dengan bungkusan di tangannya.
"Yang, nih makanannya udah datang!" teriaknya sambil terus berjalan masuk. Terlihat sang istri dan maminya sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Yang, nih dimakan ya." Kavindra menyodorkan bungkusan makanan pesanan sang istri, sambil duduk bersandar di samping istrinya.
"Makasih, Abang!" Wanita itu terlihat senang saat menerima makanannya. Asisten rumah tangga keluarga Pramudya pun mengambilkan piring dan sendok untuk Nona mudanya.
"Kenapa lama banget, Bang? Ngantri ya?" Riri mulai menyuapkan satu potong pempek.
"Yang deket minimarket nggak jualan, jadi Abang nyari ke tempat lain, nemu-nemu di ujung jalan," jelas pria itu sambil tetap menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Oh, maksih ya, Bang." Riri melanjutkan acara makannya, sebelumnya ia menawari sang mami juga tapi, wanita paruh baya itu menolaknya secara halus.
__ADS_1
"Oh iya, kamu tahu nggak, Yang?" Kavindra mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri.
"Nggak."
"Sebenarnya, tadi tuh aku dapatin ini susah lo, aku harus rebutan sama yang lain," tutur Kavindra.
"Penuh banget ya?"
"Nggak juga, cuma cuma sisa ini di si abang penjualnya."
"Terus kamu bisa dapatin ini gimana?"
"Ternyata yang rebutan sama aku itu ...." Pria tampan itu menatap teduh ke arah sang istri sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ih malah lihatin aku kaya gitu, siapa?" tanya Riri heran.
"Jangan ngambek tapinya ya?" Riri makin mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari sang suami.
"Emang bakalan bikin aku marah?"
"Tergantung."
"Ya udah sih, jawab aja siapa? Ngeselin."
"Ki-Kiandra." Kavindra menatap ke arah sang istri dan melihat reaksinya.
"Dia juga bilang selamat buat kamu, Yang."
"Mm ... ya udah makasih deh, tapi lain kali jangan mau deh kalau dikasih dia lagi, sekarang udah tanggung udah mau abis juga," celoteh Riri yang membuat Kavindra tertegun sebentar.
"Kamu nggak marah, Yang?"
"Katanya orang hamil itu, harus jaga emosi, Bang. Aku nggak akan marah kalau kamu nggak macam-macam," jawab Riri yang langsung mendapat pelukan dari suaminya.
Aku menang banyaklah, bisa nikah dan sekarang mengandung anak Bang Kavin, ngapain harus iri sama dia, iya kan hati. Riri bergumam dalam hatinya.
Malam pun menjelang, sang papi dan kedua adik iparnya sudah berada di rumah. Mereka akan makan malam bersama hari ini, sambil mengumumkan kehamilan Riri.
Saat mereka sudah duduk di kursi meja makan. Sang Mami tiba-tiba berdiri dan mengumumkan tentang kehamilan menantu mereka.
"Sebentar lagi kita punya cucu, Pi," ucap wanita paruh baya itu antusias.
"Alhamdulillah, makasih ya Nak, Vin. Jaga kandungannya dengan baik. Pokoknya Riri nggak boleh kerja." Pria paruh baya itu mengingatkan.
"Iya, Papi," jawab Riri dan Kavin berbarengan.
"Kalau mau apa-apa bilang ke Kai ya, Kak." Kaivan terlihat antusias mendengar akan memiliki keponakan.
"Sama aku juga, Sha. Jangan sungkan," timpal Davanka yang sempat tersedak saat mendengar pengumuman dari sang mami.
"Iya, makasih semuanya."
Makan malam mereka pun terasa spesial hari ini. Keluarga itu terlihat bahagia.
Namun, baru saja Riri selesai makan, wanita itu setengah berlari menuju toilet karena, tiba-tiba saja kembali merasa mual.
Kavindra dengan sigap mengikuti sang istri dan memijit tengkuknya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Yang? Pria tampan itu terlihat khawatir.
Riri menggelengkan kepalanya, lalu berbisik pada sang suami. "Aku mau pempek lagi, Bang."
"Hah?"
Bersambung...
Happy Reading 😘
Part-part akhir ya guys, jan lupa gerakin jempolnya buat komen, paling tinggal satu atau dua bab lagi Babang Kavin tamat ya.
Makasih buat kalian yang selalu mampir dan gerakin jempolnya buat komen.
__ADS_1
Setelah ini aku akan lanjut Bang Seta dulu di sebelah ya, kalau kalian berkenan yuk mampir k K b m a p p ya, udah ada 10 bab lo di sana masih gratis.