
Kavindra sedang duduk di kursi taman, tetapi tiba-tiba saja Davanka mendorongnya dari arah belakang, hingga ia hampir terjatuh.
"Dava!" pekik pria tinggi itu hingga terjaga. Kavindra bermimpi dan pesawat sedang mengalami guncangan kecil.
Ternyata pesawat landing. Kavindra pun mengucek netranya yang terasa perih. Setelah itu ia pun bersiap untuk turun.
Saat pria itu sudah turun dari pesawat, ia baru menyadari kalau tidak ada yang menjemputnya, karena memang tidak ada yang tahu.
Akhirnya, ia pun memutuskan memanggil taksi. Namun, tiba-tiba mobil berwarna putih mendahului taksi yang akan Kavindra gunakan. Pria itu mengerutkan keningnya dan melihat dengan seksama siapa yang ada di balik kemudi mobil tersebut. Tampak kaca jendela mobilnya turun perlahan, tampaklah pria tampan dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
"Butuh tumpangan?" tanyanya dengan menurunkan kacamata hitamnya.
"Raka? Itu kau, kan?" Kavindra memastikan siapa yang ada di balik kemudi. Pria berkacamata hitam itu mengangguk. Hari ini, Raka sengaja menggunakan softlens untuk menjemput sahabatnya.
Kavindra pun meminta maaf pada supir taksi yang ia panggil, lalu masuk ke dalam mobil Raka setelah sebelumnya memasukkan koper dan barang lainnya ke bagasi mobil.
"Apa kabar?" Kavindra bertanya setelah ia duduk di samping kemudi. Wajahnya begitu bahagia.
"Baiklah, makanya gue jemput lo, Kav." Raka mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Jangan formal sama kaku gitulah, lupa kalau gue sahabat lo?" lanjutnya.
Kavindra tergelak, kelamaan bekerja di luar negeri dan fokus bekerja. Pria itu jadi terbiasa bersikap formal. "Sorry-sorry, gue kelamaan di sono."
Keduanya kini sang bercerita tentang pengalaman mereka. Sampai akhirnya Kavindra sudah berada di rumah besar yang sudah dua tahun ini, ia tinggalkan.
"Akhirnya aku pulang," lirihnya.
Raka membuka sabuk pengamannya, begitu juga dengan Kavindra. Keduanya keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu besar yang ada di depannya.
"Apa mereka ada di rumah?" Kavindra tampak ragu saat akan menekan bel rumah.
"Mami Alifa pasti ada di rumah, Kav." Raka menepuk bahu sahabatnya.
Kavindra pun akhirnya mengangguk dan mengangkat satu tangannya untuk menekan bel rumahnya. Pria itu menarik nafasnya setelah bel rumah berbunyi. Namun, beberapa saat belum ada yang membuka pintu. Saat pria itu hendak kembali menekan bel rumahnya, benda di depannya terbuka. Terlihat wanita paruh baya yang selama ini menyayanginya seperti putra kandungnya sendiri.
"Aku pulang." Kavindra merentangkan kedua tangannya untuk melihat reaksi wanita di depannya.
"Ka-Kavin, kamu kah itu, Nak?" Dengan terbata Alifa menghampiri pria yang ternyata sudah dewasa itu. Ia meraba pipi putranya, lalu mendekapnya begitu pria itu mengangguk. Kavindra juga mendekap sang mama dengan erat.
"Akhirnya kamu pulang, Vin." Wanita paruh baya itu berucap dengan terisak.
__ADS_1
"Aku sudah pulang, Mi," ucap Kavindra menenangkan sang mama dengan mengusap punggungnya.
Setelah itu semuanya masuk ke dalam. Rumah tampak sepi.
"Ke mana semua orang, Mi?" tanya pria tinggi itu, saat melihat keadaan rumah yang tampak sepi.
"Papi sudah ke kantor, katanya akan ada klien pagi ini, Dava juga pergi ke kantornya, Kai dia sepertinya masih di kamarnya karena kuliahnya jadwal siang," jelas wanita paruh baya itu sambil duduk di sofa besar yang ada di ruang tamu.
"Kamu pasti cape, biar mami ambilin minum dulu ya!" tawar sang mami, tetapi ditahan oleh Kavindra.
"Nggak usah, Mi. Nanti aku ambil sendiri," ucapnya.
"Oh baiklah, bibi sedang ke pasar soalnya, belanja buat bulanan," ungkap wanita yang kembali duduk itu.
Sementara itu, Raka pamit sebentar karena ada panggilan telepon.
"Aku mau ke kamar Kai dulu, Mi. Apa kamarnya masih tetap yang dulu?"
"Iya, kamarnya tetap yang dulu, dia pasti sangat senang kalau tahu abangnya pulang," jawab sang mami dengan senyum bahagia.
Pria tampan itu pun beranjak dan berjalan, lalu menaiki tangga untuk ke lantai atas. Kamar Kaivan, adik bungsu Kavindra memang bersebelahan dengan kamarnya. Karena dulu, adik bungsunya itu tak bisa jauh dari Kavindra.
"Bangun anak manja!" Kavindra menarik selimutnya ke bawah, hingga terbuka. Namun, sepertinya pemuda itu masih terlelap, bahkan tak ada pergerakan sedikitpun.
Kavindra menghampirinya dan mulai menggelitiki pinggang pemuda itu. "Bangun woi!"
Kaivan yang tidurnya terganggu, akhirnya bergumam, "Bentar lagi, Mi. Ngantuk."
"Bangun manja!" Kavindra sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Kaivan. Hingga pemuda itu terperanjat. Saat ia terduduk dan mengucek netranya yang perih. Pemuda itu tertegun sebentar saat melihat siapa yang ada di depannya. Sepertinya nyawanya juga memang belum berkumpul, ia kembali mengucek matanya.
Sementara Kavindra melipat kedua tangannya di depan dada. Pria dewasa itu menatap rindu ke arah adiknya yang masih berantakan.
"Abang? Bang Kavin, kan?" ucapnya ragu dengan suara serak khas bangun tidur.
Kavindra hanya mengangguk, sampai akhirnya pemuda itu melompat girang.
"Jangan peluk-peluk! Mandi dulu sana!" cegah Kavindra saat Kaivan melompat ke arahnya dan hendak memeluknya.
"Dih Bang pelit banget si," gerutu pemuda itu, saat sang abang malah menahan tubuhnya. Namun, saat pria dewasa itu lengah dengan cepat Kaivan memeluk erat tubuh tegap itu.
__ADS_1
"Kai kangen banget sama Abang," ucapnya.
"Kangen sama Abang apa traktiran Abang nih?" goda Kavindra.
"Ck! Dua-duanya deh." Kaivan berdecak pura-pura kesal tapi jawabannya juga ternyata menyebalkan.
"Udah mandi sana! Bau." Kaivan mendorong tubuh adiknya dan menutup hidungnya. Kaivan hanya terkekeh, lalu ia pun menuruti apa yang dimau oleh sang abang.
Kavindra sendiri malah merebahkan tubuhnya di kasur sang adik. Tubuhnya memang terasa lelah setelah perjalan jauh. Kedua tangannya ia lipat ke belakang dan dijadikan bantalan kepalanya. Matanya terpejam, tetapi kakinya ia gerak-gerakkan, seolah memberitahu bahwa ia tak tidur.
Sementara itu di lantai bawah terdengar keributan.
"Mana anak bandel itu?" teriak suara bariton seseorang yang sedikit serak.
"Pi, jangan gitu dia itu putramu juga," sela suara wanita yang tak lain adalah Mami Alifa.
"Mana Abang, Mi. Kenapa nggak ngasih tahu Dava sih? Kan bisa Dava jemput," protes suara lain.
Kavindra yang mendengar perdebatan itu akhirnya beranjak dari tidurnya, dan keluar dari kamar sang adik. Kemudian dengan santai menuruni tangga.
"Ribut sekali, aku mau tidur sebentar saja," ucap pria jangkung itu dengan menatap rindu ke arah keluarganya.
"Anak nakal, kenapa baru pulang sekarang hah?" bentak sang papi sambil berjalan cepat ke arahnya. Namun, saat berada dekat dengan putranya pria itu langsung memeluknya erat.
"Kenapa baru tak mengabari Papi?"
Kavindra mendekap tubuh sang papi, dan mengusap punggungnya. "Maafin Kavin, Pi."
"Abang nggak mau peluk Dava juga?" sela Davanka yang sudah berada tepat di belakang sang papi.
"Siapa ya?" Kavindra menatap lekat ke arah sang adik yang tampak shok.
Bersambung….
Happy Reading
Babang Kavin udah balik dong, maaf ya aku cape abis turun dari pesawat bareng babang Kavin wkwkwk.
Jan lupa gunain jempolnya ya tahu dong buat apaan😘
__ADS_1