
Saat Riri sidah kembali berdiri tegak dan meliah siapa yang menabraknya.
"Kamu?"
"Eh, Risha, kan?" balas pria tinggi dengan kulit sawo matang itu.
"Bang Seta, kan? Apa kabar?" Riri bertanya antusias pada pemuda yang berdiri di hadapannya. Sampai sebuah tarikan pada pinggangnya mengingatkan wanita itu bahwa saat ini sedang berada bersama suaminya.
Kavin sudah mengetatkan rahangnya melihat keakraban antara keduanya.
"Siapa, Sayang?"
"Oya, kenalin Bang, ini Bang Seta sepupu aku aku dari Bandung. Waktu pernikahan kita dia nggak datang, lagi ada acara keluarga juga ya, Bang?" Riri kembali mengalihkan pemasangannya pada sang sepupu.
Kavin pun menghela nafas lega saat pria di hadapannya ternyata bukan mantan kekasihnya yang bisa menjadi ancaman bagi dirinya. Kedua pria jangkung itu pun saling menjabat tangan.
"Abang lagi liburan juga di mari?" Riri kembali bertanya sambil berjalan menuju gazebo yang ada di sana.
"Lagi kerja, buat modal nikah." Seta tergelak.
"Lah, bukannya dulu udah nikah, Bang?" Riri mengerutkan keningnya heran, karena yang ia tahu pria di hadapannya sudah menikah saat ia keluar SMA.
"Ish, udahan itu. Udah ah jangan dibahas." Seta mengalihkan pandangannya jauh ke depan. Melihat ombak yang bergulung saling berkejaran di lautan lepas.
"Kalian lagi honeymoon, ya?" imbuhnya.
"Iya, kita lagi program anak pertama." Kini Kavindra yang menjawab setelah dari tadi hanya menyimak.
"Owh. Oke semoga berhasil ya, Bang. Pulang dari sini langsung tekdung dah Rishanya." Seta tergelak, dan bersamaan itu ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.
Seta pun izin untuk mengangkat teleponnya, lalu berdiri dan menjauh dari sana.
Kini Kavindra dan Riri hanya duduk berdua.
"Aku pikir dia mantan kamu, Yang," bisik Kavindra pada sang istri.
"Ish, mana ada mantan aku nggak banyak ya, Abang. Nggak kaya kamu," balas Riri dengan nada menyindir.
"Bahkan ada yang rela jadi istri kedua," imbuhnya.
Namun, saat Kavin hendak membalas sindiran istrinya, tiba-tiba Seta kembali.
"Maaf ya, Sha, Bang Kavin. Aku harus kembali kerja udah ditelepon bos barusan," pamit Seta pada sepupunya.
"Kalian sehat-sehat ya, semoga program kalian berhasil, aku pamit dulu ya." Seta melambaikan tangannya lalu pergi dari sana.
"Beneran dia sepupu kamu, Yang?" selidik Kavindra setelah kepergian pria jangkung yang katanya sepupu sang istri.
__ADS_1
"Iya, kenapa nggak percaya sama aku sih?"
"Kenapa manggilnya Risha, beda sama yang lain?" Kavindra menatap intens ke arah sang istri.
"Ish, nggak usah gitu juga liatinnya, Bang. Bang Seta bilang biar kalau ketemu di mana aja langsung kenal, karena manggilnya beda, gitu sih bilangnya," papar wanita dengan bulu mata lentik itu.
Kavindra pun hanya mengangguk, setelah itu mengajak sang istri untuk berkeliling dan mencari makanan. Sampai malam menjelang, mereka baru kembali ke hotel dengan beberapa kantong makanan di tangan Kavindra. Entah kenapa hari sang istri terlihat lahap sekali makan, bahkan setelah makan pun masih membeli beberapa cemilan yang tak biasa ia makan.
"Aku mandi dulu ya, Bang." Riri menyimpan tasnya dan beranjak menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
"Ngapain ikut sih?" Riri menghentikan langkahnya saat melihat suaminya juga beranjak mengikuti di belakangnya.
"Ngapain gantian mandinya kan enakan bareng, Yang," goda suaminya yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
"Abang!"
Acara mandi mereka pun bertambah durasi dari yang biasanya lima belas menit sekarang satu jam baru selesai. Kavindra menggendong Riri saat mereka telah selesai melakukan ritual mandi yang tak biasa.
"Aku ngantuk banget," lirih Riri saat tubuhnya didudukkan di ranjang.
"Iya, kita langsung tidur, ya. Kamu mau pakai baju yang mana? Biar aku ambilin," tanya pria itu sambil menuju lemari pakaian.
Pria itu mengambil baju tidur warna hitam milik sang istri. Bukan piyama, tapi seperti lingeri yang diambil pria jangkung itu.
"Ngapain bawa yang itu sih, Bang?" Riri mengomel saat baju dinas itu diberikan kepadanya.
Akhirnya Riri pun memakai pakaian yang diberikan sang suami, lalu merebahkan tubuhnya yang memang sudah lelah dan mengantuk. Kavindra 0un melakukan hal yang sama, tak lupa melingkarkan lengannya pada perut rata sang istri. Tak berselang lama mereka pun terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
Tak terasa tinggal dua hari lagi waktu mereka berada di pulau Dewata ini. Mereka berdua begitu menikmati acara liburan plus honeymoon mereka. Namun, entah kenapa Riri selalu merasa mual di pagi hari, dan bersikap biasa setelah siang menjelang.
Setiap hari selalu saja ada hal aneh, seperti hari ini tiba-tiba sang istri meminta nasi goreng buatannya, padahal kan tinggal beli. Namun, wang istri malah marah-marah sampai akhirnya Kavindra pun pergi mencari warung nasi goreng, dan dengan sopan meminta pada pedagangnya agar ia memasak sendiri.
"Wah, lagi ngidam ya istrinya, Mas?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari pedagang nasi goreng.
"Iya kah?" Kavindra terkejut mendengar penuturan pedagang itu.
"Lah, orang ngidam itu emang gitu, Mas. Kalau nggak aneh ya kadang ngeselin, kaya istri saya," papar pria dengan kumis tipisnya.
Kavindra sempat menghentikan gerakannya, mendengar penjelasan dari pria di hadapannya. Perasaannya campur aduk. Setelah beberapa saat akhirnya nasi goreng itu pun selesai.
Saat Kavindra hendak membayar oada pedagang itu. Pria berkumis tipis itu mengibaskan kedua tangannya. "Tidak usah, buat istrinya yang lagi ngidam saya kasih gratis, semoga selalu sehat ya, Mas."
Kavindra pun akhirnya berterima kasih setelah ia berusaha agar nasi gorengnya tetap dibayar, tapi pria itu bersikukuh tak mau menerima.
"Istri gue hamil, gue punya anak," gumam pria itu sambil terus berjalan.
Saat pria itu sampai di kamarnya, terlihat sang istri masih duduk di ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang. Matanya terpejam di tangannya ada benda pipih yang masih tampak menyala.
__ADS_1
"Yang?" Kavindra mendekati sang istri sambil menyimpan pesanan istrinya itu di nakas.
"Hm."
"Kamu baik-baik aja kan, Yang?"
"Iya, aku nggak apa-apa kayanya aku masuk angin deh, Bang. Dari tadi mual-mual terus."
"Mm ... kamu terakhir datang bulan kapan?"
"Ngapain nanyain itu sih?" Riri membuka matanya saat mendengar pertanyaan tak terduga dari suaminya.
"Jawab aja sih?"
"Bulan lalu, eh iya kan? Aku lupa." Riri menjawab ragu.
"Ya udah, nanti saja pas kita pulang, kita ke dokter ya buat periksa," ucap Kavindra lembut, lalu mengambil nasi goreng buatannya dari nakas. "Sini aku suapin, tadi untung mas yang jualannya baik lho, Yang. Dia ngizinin aku buat bikin sendiri."
Riri hanya mengangguk, dan langsung menatap ke makanan yang dipegang suaminya. "Wangi banget, Bang. Aku jadi lapar," ujar wanita itu sambil mengusap perutnya.
Setelah itu, Kavindra menyuapi istrinya dengan telaten, wajah sang istri terlihat begitu menggemaskan saat menikmati setiap suapan yang ia berikan. Tak berapa lama nasi goreng itu hanya tinggal satu suap lagi. Kavindra bertanya apakah masih mau tambah atau tidak. Namun, Riri menggelengkan kepalanya cepat.
"Udah, aku udah kenyang, Bang."
"Kalau mau apa-apa bilang ya?" titah Kavindra setelah membereskan sisa makannya.
"Hari ini, aku mau tiduran aja, Bang. Malas banget keluar, boleh ya?"
"Boleh dong, ya udah kita di sini aja." Kavindra ikut duduk di samping istrinya.
"Masih mual-mual nggak sekarang?"
"Nggak sih, pagi doang, aneh banget, kan?" Wanita itu menyandarkan kepalanya pada dada suaminya.
"Itu normal kok, Sayang."
"Hah?"
Bersambung...
Happy Reading semuaah.
Aduh kayanya doa Babang Seta tokcer nih buat Riri. Kalau kalian mau tahu tentang Babang Seta, kuy mampir ke K*B*M app ya say. Bagi yang mau aja sih aku nggak maksa, nanti aku lanjut setelah Babang Kavin tamat.
Oya di sana judulnya CLBK(Cinta Lama Belum Kelar) by Irma_Marmaningrum.
Makasih ya udah selalu nungguin babang Kavindra.
__ADS_1