
Riri baru saja menerima panggilan telepon dari calon mami mertuanya. Beliau memberitahukan bahwa Kavindra tiba-tiba tak sadarkan diri. Gadis itu pun memberitahu sang papa mengenai kabar itu.
"Ya udah, ayo Papa anter jenguk nak Kavin!" ajaknya. Gadis itu pun mengangguk, ia merasa tenang jika pergi bersama sang papa. Apalagi sekarang weekend, pasti Dava ada di rumah juga.
"Kalau gitu, Riri ganti baju dulu ya, Pa." Gadis itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Sang papa hanya mengangguk, lalu kembali membaca buku.
Kini Riri sudah berada di kamarnya. Gadis berambut panjang itu membuka lemarinya dan mencari pakaian yang akan dikenakan untuk menjenguk tunangannya hari ini.
Setelah memilih beberapa pakaiannya, akhirnya gadis itu menemukan baju yang cocok untuk hari ini. Ia pun segera memakainya dan merias tipis wajah cantiknya. Bersamaan itu sang adik datang dengan paper bag di tangannya.
"Kak Riri, ini loh ada hadiah dari kang paket," ucap gadis itu dengan nada manja.
"Paket apa?" Riri mengerutkan dahinya heran, karena ia tak merasa memesan sesuatu secara online. Lalu ia pun menerima paper bag itu dari sang adik.
Riri yang hendak menghampiri sang papa, kembali ke kamarnya dan membuka apa isi dari paper bag itu. Dengan hati-hati gadis dengan rambut dicepol itu membukanya.
Terdapat sebuah kotak lumayan cukup besar yang dibungkus kertas kado dengan sangat cantik. Riri pun mulai membukanya perlahan sambil mencari nama pengirimnya, tapi tidak ada.
Sampai akhirnya, bungkusnya terbuka dan gadis itu pun mulai penasaran dengan isinya. Saat kotaknya dibuka, tampak tas kulit berwarna pink cantik berada di sana. Tas yang selama ini jadi incaran Riri, sebenarnya.
"Wah, cantik banget!" serunya sambil mengangkat tas serut itu ke atas. Namun, sesuatu tiba-tiba jatuh ke pangkuannya.
"Eh, apa ini?" Riri mengambil sebuah kartu berbentuk hati yang jatuh tadi. Saat membukanya terdapat note di sana.
"Selamat ya Neng Riri atas tunangannya, ini hadiah buat Neng Riri, semoga suka.
Oya, abang sekalian mau pamit. Emh … Abang mau kerja di seberang. Selamat ya, jangan lupain Abang. Neng Riri selalu di hati Abang."
Tertanda di bawahnya nama Agam. Riri merem*as tasnya saat membaca note itu. "Ternyata dari Bang Agam, padahal Riri udah jahat sama dia," gumamnya.
Tak berselang lama, sang papa memanggilnya dan mengajaknya untuk segera pergi karena hari sudah semakin siang.
Riri pun bergegas keluar dan ia juga memakai tas yang diberikan Agam. "Makasih ya Bang Agam, Riri suka tasnya," gumamnya lalu melangkah keluar untuk menghampiri sang papa.
Setelah pamit pada mama dan Sera, Riri dan Papa Satria itu berangkat menggunakan motornya. Perjalanan yang mereka tempuh membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai ke tujuan dengan menggunakan motor. Sebenarnya jaraknya tak terlampau jauh, tapi karena di kota besar ini langganan macet jadi waktu perjalanan pun bertambah panjang.
Riri tak berhenti bercerita dengan sang papa di motornya. Karena setelah sekian lama, mereka baru kembali pergi bersama hari ini.
"Udah lama, Riri nggak dibonceng Papa." Gadis itu berucap setengah berteriak agar terdengar oleh sang papa.
"Iya, kamu kan sibuk terus sekarang lebih sering jalan sama Nak Kavin," jawab Satria sbil tergelak.
"Maafin Riri ya, Pa," sesalnya.
Pria paruh baya itu mengusap lengan putri sulungnya yang melingkar di perutnya.
"Putri Papa sudah dewasa sekarang."
Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai di pelataran besar milik Kavindra. Sebelumnya satpam di sana menatap heran pada Satria yang menggunakan motor matik, tapi langsung bersikap ramah saat melihat Riri di belakangnya.
"Eh, Non Arisha saya kira siapa?" sapa satpam itu ramah sambil melirik sesekali ke arah Satria yang wajahnya ternyata mirip dengan nonanya itu. "Ini papinya, Non?" imbuhnya.
"Iya, Pa. Ini Papa saya," ucap Riri sambil mengangguk. Satpam itu pun mengangguk dan tersenyum ramah lalu mempersilakan mereka masuk. Riri dan sang papa pun berjalan masuk.
__ADS_1
Mami Alifa sudah menunggu di depan pintu ternyata, dan menyambut keduanya dengan hangat.
"Maaf ya Sayang, sudah merepotkan sampai harus datang ke sini," ucap wanita paruh baya itu sambil merangkul Riri. Sementara sang papa dipersilakan masuk dengan ramah pula.
"Sakit apa, Tante, Pak Kavinnya?" Riri berucap tanpa sadar menyebut kekasihnya dengan Pak.
Mami Alifa terkekeh mendengar pertanyaan dari calon menantunya itu. "Romantis banget manggilnya."
"Eh."
Setelah meminta asisten rumah tangganya untuk menyiapkan minuman. Kini ia mengajak keduanya untuk menemui Kavindra yang terbaring di kamarnya. Sementara Papa Satria masih berbincang dengan Ganendra yang baru saja datang menemui besannya.
Riri dan mami Alifa menaiki tangga menuju kamar Kavindra. Mereka tak berhenti berbincang, sampai seseorang menabrak tubuh Riri. Untung gadis itu berpegangan pada lengan Alifa.
"Dava, jalannya yang bener dong!" gerutu sang mami yang menahan Riri agar tak jatuh.
"Eh, ada mantan." Dava berucap dengan sangat menyebalkan di telinga Riri.
"Apa sih, Dav? Kamu mau ke mana buru-buru gitu?" tanya sang mami.
"Tadinya mau jalan, tapi nggak jadi deh, Mi. Dava hari ini di rumah saja nemenin abang," ucapnya tanpa melepas senyuman miring yang ditujukan pada Riri.
"Ya udah, baguslah. Temenin Abang kamu kan lagi sakit." Wanita paruh baya itu pun kembali mengajak Riri menaiki tangga. Namun, Dava juga ternyata kembali menaiki tangga dan berjalan di belakang gadis cantik itu.
Riri memilin jari-jari tangannya, gadis itu merasa tak nyaman diikuti terus oleh Dava. Riri juga heran, kenapa saat dulu masih berstatus sebagai kekasihnya pria ini sibuk dengan yang lain? Namun, sekarang malah gencar sekali menggodanya.
Kini mereka sudah berada di kamar Kavindra. Pria itu tampak membaca sebuah buku, punggungnya ia sandarkan pada kepala ranjang.
"Bidadari dari mana sih, Mi. Cantik banget?" Kavindra tak melepas pandangannya dari Riri.
"Wah abang udah lupa sama kamu, Sha. Udah sama aku aja," ucap Dava sambil menarik tangan Riri. Namun, gadis itu menepisnya dengan kasar. Lalu berjalan menghampiri kekasihnya.
"Bang Kavin abis kepentok apa sampai lupa sama Riri?" Tak disangka malah kalimat itu yang keluar dari bibir mungil gadis itu.
Mami Alifa dan Davanka tergelak mendengar ucapan Riri yang spontan.
"Ya udah, Mami ke bawah dulu ya, kalian di sini aja." Wanita yang menggunakan dress hitam itu pun beranjak keluar dari kamar putranya. Namun, tidak dengan Dava, pria itu duduk d sofa.
"Hei, kamu ngapain masih di sini?" tanya Kavin pada Dava sang adik.
"Eh, kan nggak boleh berdua-duaan, Bang. Apalagi di kamar, bahaya," jawab Dava lalu kembali memainkan ponselnya.
"Kamu kenapa sih, Bang? Kemarin perasaan baik-baik aja?" Riri mengalihkan perdebatan dua adik-kakak itu.
"Nggak tahu juga, tapi tadi pas bangun kepala aku pusing banget," jawab Kavindra, lalu menarik satu tangan Riri dan meletakkannya di kepalanya sendiri.
"Kamu demam, Bang. Panas gini," jawab Riri saat ia memegang dahi Kavindra. Pria itu pun mengangguk. Kemudian, pria itu kembali melihat ke arah sang adik yang kini sedang memperhatikan interaksi keduanya.
"Dulu juga pas jadi pacar aku, dia perhatian banget. Iya kan, Sha?" Davanka tiba-tiba mengungkit masa lalu mereka.
Kavindra yang semula akan merebahkan tubuhnya, kembali duduk bahkan hendak turun dari ranjangnya.
"Mau ke mana, Bang?" Riri meraih lengan Kavindra. Pria itu tak menjawab, tatapannya fokus pada Dava yang tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Dava udah deh, kakak kamu lagi sakit juga," gerutu Riri yang kesal dengan tingkah Dava.
"Iya, tapi kamu akui kan, kalau dulu juga kamu perhatian ke aku?" desak Dava.
"Iya, tapi kamu-nya malah selingkuh," jawab Riri yang membuat pria itu langsung terdiam.
Bersamaan itu sang mami datang dengan nampan berisi makan siang Kavindra.
"Kavin-nya, suruh makan siang dulu ya, Ri. Terus minum obat," papar wanita paruh baya itu.
"Baik, Tante," jawab Riri sopan.
8"Ma-mi, jangan Tante, oke!" Mami Alifa mengeja nama panggilannya.
Riri pun mengangguk dan tersenyum, setelah itu ia mengambil alih nampan dari tangan mami Kavindra.
"Ayo, Bang makan dulu!" titahnya setelah menyimpan nampan itu di nakas.
"Suapin," jawab Kavindra manja.
"Ingat umur, udah tua juga," timpal Davanka dengan sewot, lalu beranjak dari duduknya dan ikut dengan sang mami keluar dari sana.
"Iri? Bilang bos," jawab Kavindra penuh kemenangan.
"Dih, kalian sering berantem gitu?" Riri menatap heran ke arah kekasihnya.
"Dulu nggak, sejak tahu kamu mantannya aku jadi rada keki ke dia," jawab Kavindra yang sukses mendapat cubitan di lengannya, hingga pria itu mengaduh.
"Aku lagi sakit lo ini." Kavindra mengusap lengan bekas cubitan Riri.
"Udah makan dulu, terus minum obat. Aku mau pulang," ucap Riri sambil menyodorkan piring berisi makan siang pria itu.
"Nggak mau kalau nggak disuapin."
"Dih!"
"Ya udah aku mau tidur aja." Kavindra mulai membaringkan tubuhnya.
"Kaya bocah banget sih, lupa ya udah umur berapa?" kesal Riri lalu mengambil piring dan sendoknya. Kemudian mulai mengambil satu sendok penuh makanan.
"Nah gitu dong."
"Kalau nggak diabisin awas!
"Iya, galak banget sih."
Bersambung…
Happy Reading 😘
Maaf lama banget ya updatenya. Kemarin aku sibuk banget jadi nggak bisa ngetik.
Jangan lupa jempolnya ya kaya biasa digerakin. Komennya yang banyak dong, karena aku tahu yang like Alhamdulillah banyaklah menurut aku, tapi komennya cuma dikit.
__ADS_1