Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
H-3


__ADS_3

"Kamu jangan pernah tinggalin aku ya, janji?" lirihnya.


"Kenapa sih?"


Kavindra malah menempelkan bibirnya di bibir Riri dengan sangat lembut.


"Assalamu'alaikum!" Terdengar suara Sera mengucapkan salam.


"Waalaikumusalam." Riri mendorong tubuh Kavindra hingga pria itu terpundur.


"Tumben udah pulang jam segini, Dek?"


"Iya, biasa diganti sama tugas yang seabreg, Kak," keluhnya.


"Ya udah Kakak bantuin, ayo!" Riri beranjak dari duduknya. Sepertinya gadis itu lupa kalau Kavindra masih berada di sampingnya.


Sera menatap heran ke arah sang kakak. "Dih, itu ada Pak Kavin mau dianggurin?"


"Eh, iya lupa," jawab Riri asal.


"Ish, dosa lo kalau ntar udah jadi suami, Kak. Masa lupa sama laki sendiri." Gadis itu mengingatkan.


"Iya, nih padahal aku ke sini mau bahas soal pernikahan," rajuk Kavindra yang merasa dibela oleh adik iparnya.


"Ya udah, Sera masuk dulu," pungkas Sera kemudian pergi dari sana.


Kini Kavindra dan Riri kembali duduk berdua. Pria itu masih memperhatikan gadisnya yang saat ini duduk agak jauhan dari tempat semula.


"Kok pindah duduknya?"


"Bahaya kalau dekat-dekat, Bang." Gadis itu berucap tanpa melihat ke arah pria tampan itu.


"Ish, kita mau bahas persiapan buat pernikahan lho, masa jauhan gitu?" Pria itu merasa tak terima.


"Ya udah si, di sini juga kelihatan," jawab gadis itu tak acuh. Namun, tanpa gadis itu duga, Kavindra malah dengan sengaja beranjak dan duduk di samping gadisnya.


Perdebatan yang tiada akhir, membuat keduanya akhirnya memutuskan untuk membahas apa yang sebenarnya harus dibahas. Riri fokus memilih design kartu undangan. Gadis itu fokus pada beberapa contoh kartu undangan yang dibawa oleh Kavindra.


Sementara Kavindra memilih tema pernikahan yang menurut ia cocok untuk mereka berdua.


"Aku mau yang ini aja, bagus, simpel, tapi elegan." Riri memberikan satu kartu undangan unik di tangannya.


"Oke, aku ikut kamu aja, Sayang." Kavindra tersenyum.


Lalu mengajak gadisnya untuk memilih tema pernikahan mereka.


"Kamu pasti punya pernikahan impian, kan? Sekarang waktunya aku mewujudkan itu, kamu mau seperti apa?" tanya Kavindra pada Riri. Pria itu memang ingin membahagiakan gadisnya mulai dari sekarang sampai nanti.


Riri merasa terharu mendengar ucapan pria di sampingnya.


"Kalau biayanya mahal gimana? Kamu mau juga wujudin itu buat aku?" Riri ingin mencari tahu apa jawaban dari pria tampan itu.


"Semahal apapun akan aku lakukan, asal dengan satu syarat?" ucap Kavindra.


"Apa?"


"Jangan pernah khianati aku sampai kapanpun. Janji?" Pria itu mengacungkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Insha Allah," jawab Riri saat lalu mengaitkan jari kelingkingnya.


"Kami juga jangan gitu ke aku. Sakit tahu diselingkuhi itu."


"Iya, aku juga tahu. Ya udah pilih dong mau yang mana?" Kavindra kembali menyodorkan majalah berisi tema pernikahan.


Namun, gadis itu malah menutup majalah itu. Kavindra mengerutkan keningnya heran. "Kenapa?"


"Aku mau nikah di rumah ini, aku nggak mau nikah di mana pun. Karena rumah ini segalanya buat aku," papar gadis itu.


"Yang penting buat aku restu orang tua kita, Bang," imbuhnya.


Kavindra tersenyum, lalu kembali mendekap tubuh gadisnya erat. "Maksih, Sayang."


***


Waktu terus berjalan, persiapan yang dilakukan oleh kedua keluarga itu sudah hampir sempurna. Gaun pengantin Riri dan Kavindra pun sudah selesai.


Tak terasa sudah H-3 untuk sampai ke hari pernikahan mereka.


Seperti tradisi di lingkungan Riri, saat ini rumah mereka sedang didatangi para tamu. Biasanya mereka yang datang sebelum hari H, mereka berhalangan hadir sehingga akan datang sebelumnya.


Riri juga menyambut para tamu dengan ramah. Selain itu juga setiap malam ia akan mendapat perawatan wajah dari WO yang sudah ia pesan.


Para tamu baru berhenti selepas isya. Riri dan keluarganya tampak kelelahan sehabis menerima tamu. Saat ini gadis itu hendak membersihkan diri untuk menghilangkan penat. Riri mengambil handuk dan jubah mandinya di kamar, selain itu juga ia akan luluran, seperti yang disarankan oleh salah satu kerabatnya.


"Ri, jangan lama-lama udah malam juga, nanti masuk angin," teriak sang mama saat melihat calon pengantin itu masuk kamar mandi.


"Iya, Ma. Bentaran doang biar nggak keringetan," balas Riri lalu mengunci pintu kamar mandi.


Ia akan segera merebahkan tubuhnya yang lelah. Piyama yang akan ia gunakan pun sudah disediakan di kasur. Riri masuk ke kamarnya, lalu mengunci pintunya. Namun, saat gadis itu berbalik, seseorang sudah duduk di ranjangnya, hingga ia pun menjerit.


Pria itu langsung membungkam bibir Riri dengan tangannya. Sepertinya hal itu berhasil, karena tak ada seorang pun yang mengetuk pintu kamarnya.


"Aku tak akan menyakitimu, Ri." Pria itu berucap dengan nada tak seperti biasanya.


Riri mendorong tubuh pria tinggi itu, hingga tangannya terlepas dari mulutnya. "Kamu ngapain ke sini, Bang?"


"A-aku, aku--"


"Kenapa? Kamu lewat mana? Kok bisa ada di kamar aku?" desak gadis itu sambil mengeratkan pegangannya pada jubah mandinya.


"Maaf, aku …." Pria tinggi itu terus mendekat ke arah Riri, hingga tubuh mungil Riri menyentuh pintu di belakangnya.


Dengan paksa Kavindra menempelkan bibirnya di bibir Riri, hingga gadis itu tersentak dan mencoba berontak dengan memukul dada bidang pria itu. Namun, entah apa yang terjadi dengan prianya. Saat itu kenapa sikapnya begitu menakutkan bagi Riri.


Tanpa sadar Riri pun menangis, saat Kavindra terus memaksa menciuminya. Sampai akhirnya, pria itu melepas pagutannya dan menyadari bahwa gadisnya sedang menangis.


"Maafkan aku, maafkan aku," lihirnya lalu mendekap tubuh mungil gadisnya yang tampak bergetar.


Riri tak menjawab, tapi gadis itu mencoba melepaskan pelukan sang kekasih.


"Lepasin aku!"


"Maafkan aku, Sayang."


"Lebih baik kamu pulang, Pak," ucap Riri datar tanpa melihat ke arahnya.

__ADS_1


Kavindra menarik kedua tangan Riri, tapi gadis itu menepisnya kasar.


"Aku takut kamu pergi dari aku, Ri," lirihnya.


"Apa? Kamu pikir pernikahan kita ini main-main? Kamu jangan gila deh, Pak Kavindra Pramudya. Aku nggak mungkin bikin malu keluarga aku," bentak Riri dengan menggertakkan giginya.


"Maafkan aku, Sayang."


"Udahlah Pak Kavin pulang saja."


Namun, tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar. Terdengar kalau Davanka dan sang mami datang ke rumah mereka.


"Ri, cepetan ada mertua kamu," teriak sang mama dari luar.


"Ada apa sebenarnya ini, Pak?" Riri menatap tajam ke arah prianya yang saat ini terduduk di lantai dengan mengusak rambutnya.


"Lebih baik, Pak Kavin keluar dulu. Aku mau ganti baju," lanjutnya.


Kavindra pun menurut, pria itu membuka pintu kamar Riri dan hendak keluar. Namun, gadis itu menariknya.


"Ngapain lewat sana? Nanti aku dikira abis ngapa-ngapain lagi," gerutunya.


Namun, pria itu sepertinya memang sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari cara dia yang tak biasa, hari ini seolah ia bingung harus berbuat apa. Bahkan saat Riri menariknya untuk keluar lewat jendela, pria itu melakukannya tanpa pikir panjang.


Setelah kembali menutup jendelanya dan juga tirainya. Riri pun bergegas menggunakan piyamanya. Lalu setelah itu, ia keluar untuk menemui calon mertuanya.


Terlihat kedua orangtuanya sedang berbincang dengan Mami Alifa yang tampak ketakutan, di sampingnya Dava memeluk bahu maminya.


"Mami, kenapa?" tanya Riri tiba-tiba.


"Ri, Kavin dia--" Wanita yang kini mengeluarkan bulir bening di netranya itu tak kuasa melanjutkan ucapannya.


"Kenapa, Mi?"


"Bang Kavin pergi dari rumah, Sha," ungkap Davanka.


Riri mengerutkan keningnya heran, ia tahu di mana pria itu. "Mami tenang dulu. Kok bisa Bang Kavin pergi dari rumah, memangnya ada masalah apa?" selidik Riri.


"Sebenarnya, dia takut kamu pergi meninggalkannya, Ri. Semua ini gara-gara trauma di masa lalunya," jelas Mami Alifa yang kini sudah kembali tenang.


"Aku tahu Bang Kavin di mana?"


"Di mana?" tanya Mami Alifa antusias.


"Aku di sini, Mi," jawab pria tinggi yang saat ini berada di ambang pintu.


"Izinkan aku tinggal di sini malam ini, Mi."


"Apa?"


Bersambung…


Happy Reading


Duh Babang Kavin trauma ditinggal lagi, jadi ngaco gitu ya. Izinin nggak tuh dia nginep di rumah calon istrinya?


Komen yang banyak ya! Gampang kok tinggal gerakin jempol doang. Timamakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2