
Sudah satu minggu Riri tinggal di rumah baru. Wanita cantik itu menikmati perannya sebagai seorang istri, ia hanya duduk di rumah menunggu kepulangan sang suami. Riri memang ditemani Bi Sumi, asisten rumah tangga.
“Bang, aku boleh kerja lagi nggak?” tanya Riri pagi ini saat mereka sedang sarapan.
“Kamu emang masih mau kerja? Emang uang dari aku masih kurang?” Kavin bertanya sambil kembali menyuapkan makanannya.
“Ish, bukan gitu juga, aku kesel diem di rumah terus. Gimana kalau aku kerja dulu sebelum aku hamil dan punya anak. Nanti kalau aku hamil aku berhenti deh, Bang.” Wanita dengan rambut diikat itu mengusulkan.
Kavindra menghentikan kunyahannya sejenak, setelah itu kembali melakukannya dan menelannya. “Boleh, kalau gitu mau mulai hari ini?” tawarnya.
“Oke, aku ganti baju dulu, Bang.” Riri beranjak dari duduknya dan berlari kecil menaiki tangga untuk ke kamarnya.
“Hati-hati, Yang! Nanti jatuh.” Kavindra berteriak saat melihat sang istri berlari.
Riri hanya menjawab iya, tanpa menoleh ke arah sang suami. Wanita itu mulai memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini. Setelah ia menemukan baju yang cocok, Riri pun mulai menggunakannya. Ia berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya di sana. Kemudian mulai memoleskan riasan di wajahnya sedikit agar terlihat lebih segar.
“Oke, udah siap.” Riri bergumam sendiri, lalu berbalik menyambar tas yang sudah ia siapkan tadi dan berlalu ke bawah untuk menghampiri sang suami.
“Aku udah siap, Bang.” Riri menggandeng tangan suaminya yang berdiri membelakanginya.
“Ish, cantik banget istriku. Nggak usah kerja deh kita balik ke atas aja gimana?” goda Kavindra yang sukses mendapat tabokan di tangannya.
“Ayo cepetan berangkat, nanti kesiangan malu sama yang lain,” ajaknya sambil menarik tangan sang suami keluar.
Keduanya pun menuju mobil, setelah pamit pada Bi Sumi untuk menjaga rumah mereka.
Keduanya terlihat bahagia saat bercengkrama dalam mobil selama perjalanan menuju Kavin Cruise Ship Training. Jaraknya hanya sekitar dua puluh menit menggunakan mobil. Kavin memang sengaja memilih rumah dekat dengan tempat kerjanya.
Akhirnya mereka sampai di gedung besar milik Kavindra. Keduanya turun dari mobil dan berjalan bersama menuju ke kantor. Kavin tak melepas genggaman tangannya pada sang istri.
Sampai tiba-tiba Adel menghampiri mereka. “Ya ampun, pengantin baru apa kabar?” pekiknya saat melihat sahabatnya, Riri. Riri merangkul sahabatnya, lalu izin pada sang suami untuk ngobrol bersama Adel. Kavindra mengangguk dan membiarkan sang istri pergi bersama sahabatnya.
Sementara itu, pria tampan itu melanjutkan jalannya menuju kantornya di ruang atas.
“Ngapain ke sini, Bu Bos?” Adel bertanya saat mereka sudah duduk di ruang khusus pengajar.
“Kerjalah, ngapain lagi?” jawab Riri enteng.
__ADS_1
“Beuh, emang nafkah dari si bos kurang ya?” Sebuah tendangan di kaki ia dapatkan, tentu saja pelakunya wanita yang baru saja melepas masa lajangnya, siapa lagi kalau bukan Riri.
“Aku kesel lah diem di rumah terus, mumpung belum punya bayi juga. Oya, aku udah pindah ke rumah baru dong,” ucap Riri antusias.
“Ish, jadi pengen kawin gue,” jawab Adel.
“Nikah woi!” sela Riri.
“Kapan-kapan main ke rumah ya, Del. Aku cuma berdua sama Pak Kavin. Eh, sama Bi Sumi dan Pak Dodi juga sih.” Riri meralat ucapannya.
“Maulah, hayu kapan? Nanti aku ajak yang lainnya juga boleh ya?” Adel tersenyum menggoda.
“Ngapain senyumnya kek gitu?”
“Rangga aku ajak juga, ya?”
“Iyalah, siapa aja juga boleh, pacar kamu juga boleh,” jawab Riri.
“Jiwa jombloku meronta, Ri. Kenalin kek gue ke siapa gitu yang mau jadi cowok gue.”
Riri bukan menjawab, ia malah tergelak. Sampai suara bel masuk berbunyi. Mereka pun siap-siap untuk masuk kelas. Ternyata jadwal Riri masih belum dihapus, sehingga haru ini wanita itu tahu masuk ke kelas mana.
Suasana kantin begitu ramai. Riri dan yang lainnya sedang menunggu pesanan makan siang mereka. Rangga juga ada di meja yang sama dengan Riri. Pria itu sesekali mencuri pandang ke arah sang pujaan hati yang tak mungkin ia miliki.
“Duh, pengantin baru tiap malam dapat berapa ronde nih?” celetuk Mahesa yang sejak tadi terus menggoda Riri.
“Ish, dikata aku main tinju apa?” gerutu Riri sambil melempar sedotan ke wajah pria yang sejak dulu memang menyebalkan.
Mereka malah tergelak, bersamaan itu pesanan mereka pun datang. Kini semuanya sedang menikmati makan siang mereka masing-masing dengan menu yang berbeda tentunya.
Sekitar tiga puluh menit mereka baru menyelesaikan makan siangnya. Kini Riri dan yang lainnya kembali berbincang memanfaatkan waktu istirahat mereka yang masih tiga puluh menitan.
“Oya, Ri. Sekitar satu bulan lalu atau lebih ya, kamu pernah ke sini kan? Cuma pakaian kamu beuuuh seksi banget sumpah.” Reva tiba-tiba teringat kejadian waktu lalu saat Kiandra datang ke kantor Kavindra. Namun, gadis itu kira wanita seksi itu sahabatnya.
Riri mengerutkan dahinya. “Aku baru hari ini kembali ke kantor.”
“Serius, Rev?” Adel menatap ke arah sahabatnya.
__ADS_1
“Ih masa kamu lupa sih? Itu lho cewek yang pakaiannya kurang bahan, yang aku tunjukkin ke kamu.” Reva mencoba menjelaskan agar Adel mengingatnya.
“Oh iya, yang masuk ke ruangan Pak Kavin. Aku sih nggak lihat jelas mukanya, tapi bajunya emang bikin cowok melotot." Adel mengangguk-anggukan kepalanya.
Sementara itu, Riri mulai merasa tak nyaman, ia ingin segera bertemu dengan suaminya. Namun, pria itu memberi pesan akan menjemputnya nanti saat jam pulang.
Namun, saat percakapan Reva dan Adel akan berlanjut, tiba-tiba bel berbunyi tanda jam istirahat selesai.
“Kita masuk yu!” ajak Riri sambil beranjak dari duduknya. Rangga ikut beranjak dan berjalan di samping Riri.
“Kamu jangan pikirin omongan mereka, mungkin saja wanita itu hanya tamu biasa, Sha.” Rangga mencoba menghibur mantan gebetannya.
Riri tersenyum. “Aku nggak apa-apa, kok, Ga.”
Tentu saja tidak apa-apa seorang perempuan memilik arti sebaliknya. Namun, Rangga hanya mengangguk, karena bagaimanapun wanita di sampingnya ini adalah istri orang, dan orang itu atasannya sendiri.
Riri mencoba bersikap profesional saat berada di kelas. Wanita itu mengajar seperti biasa. Sampai akhirnya jam pelajaran pun berakhir. Kini Riri sedang menunggu sang suami di ruangannya.
Wanita itu mengitari meja tempat suaminya. Mungkin saja ada sesuatu di sana dalam pikirannya. Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah foto yang mirip dengannya, dalam laci meja kerja Kavindra.
“Ini bukan aku. Aku yakin, aku nggak pernah punya baju seperti ini,” gumamnya saat melihat foto wanita tersebut. Namun, tanpa ia sadari Kavindra sudah berada di ruangan itu dan berdiri di hadapannya.
“Maaf nunggu lama, Yang.”
“Astagfirullah.” Riri melempar foto yang ia pegang ke lantai.
“Ngagetin banget ih,” gerutunya.
Kavindra menghampiri sang istri, lalu mengecup keningnya. “Maaf ya, tadi urusannya agak ribet, tapi udah selesai, kok.” Kavindra berucap lembut, tampak raut kelelahan dari wajah tampannya.
“Kita pulang sekarang, yu!” ajaknya. Riri pun mengangguk, lalu menyambut tangan suaminya yang diulurkan. Kemudian mereka berjalan bergandengan tangan menuju parkiran mobil. Riri sepertinya akan mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai siapa wanita yang mirip dengannya.
“Kita makan malam di luar ya, Yang.” Kavindra berucap saat mereka sudah berada dalam mobil.
“Bang … eh nggak jadi deh.”
Bersambung…
__ADS_1
Happy Reading 😘
Komennya makin sini, makin dikit ya. Apa kalian udah mulai bosen ya sama cerita aku?