Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Fakta Baru


__ADS_3

Riri baru saja sampai ke rumah, setelah seharian bekerja. Gadis itu membantingkan tubuhnya ke sofa ruang tamu.


"Uh … lelah sekali hari ini. Untung besok weekend."


"Kak Riri! Udah pulang ya?" Tiba-tiba Sera berteriak sambil berlari menghampiri sang kakak. Bahkan gadis itu menubruk sang kakak di sofa, hingga Riri mengaduh kesakitan.


"Apa sih, Dek? Kakak masih cape tahu," gerutu Riri dengan membenarkan posisi duduknya.


"Kakak udah janji besok mau ngajak Sera jalan lo," ungkap gadis itu dengan mata berbinar.


Riri mengerutkan dahinya. "Lah kapan?" Riri WWF ppura-pura lupa dengan janjinya untuk menggoda sang adik yang masih saja manja pada dirinya.


"Iih … Kak Riri mah gitu," rajuk Sera dengan mengerucutkan bibirnya. Riri hanya terkekeh geli melihat tingkah adiknya itu.


"Hei, dengerin ya orang baru datang bukannya disiapin minuman kek, makanan kek, atau nggak pijitin. Ini malah dipalak, Kakak masih cape, Dek." Riri kembali merebahkan tubuhnya di sofa.


Sera tergelak mendengar ucapan sang kakak. "Iya juga ya, Sera lupa. Oke deh Kak Riri mau apa, minum apa makan?" tawar Sera dengan semangat.


"Minum aja deh, Kakak haus banget. Oya mama sama papa ke mana kok sepi?"


"Lagi keluar sebentar katanya, tapi dari tadi belum pulang juga," jawab Sera sambil beranjak. Riri hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan adiknya pergi ke dapur.


Baru saja gadis itu memejamkan netranya sebentar, tiba-tiba terdengar suara orang yang mau beli.


"Beliiii!"


"Iya sebentar," jawab Riri dengan malas ia pun beranjak. Gadis yang masih memakai setelan kerjanya itu, masuk ke dalam toko dan melayani pembeli yang ternyata anak-anak.


"Kak, aku mau permen karet," pinta gadis kecil berambut kuncir dua itu. Riri dengan senang melayani gadis itu sambil menunjukkan beberapa jenis permen yang ia mau.


"Aku mau yang jadi balonnya gede," jawab gadis itu dengan melingkarkan kedua tangannya di udara.


Riri pun memberikan apa yang gadis kecil itu mau.


"Makasih, Kak Riri," ucap gadis itu sambil tersenyum senang, lalu berlalu pergi.


Sementara itu di tempat lain.


Adel tampak duduk di salah satu resto yang lumayan terkenal di kotanya. Dia seperti menunggu seseorang.

__ADS_1


Tak berapa lama pria jangkung menghampirinya dengan menggunakan topi hitam dan masker.


"Pak Kav--" ucapannya dijeda oleh pria itu dengan menempelkan satu telunjuknya di bibir yang tertutup masker lalu pria itu mengangguk.


Adel pun ikut mengangguk dan mempersilakan duduk pada pria itu. "Kenapa sih Pak?"


"Tidak apa-apa, saya hanya ingin terlihat seperti di film-film action," jawabnya yang membuat Adel berdecak.


"Ish Pak Kavin ini lucu," ucap Adel sambil terkekeh.


"Langsung saja ya, kamu besok ajak Arisha ke resto Almahera, saya tunggu di sana." Pria itu menjelaskan rencananya.


Adel mengangguk. "Lah mau diajak makan doang, Pak? Kirain kaya di film-film dibawa ke hotel gitu."


Kavindra berdecak kesal. "Saya tak sebejat itu ya, pokoknya ada yang mau saya tunjukkan ke dia," jelasnya dengan yakin.


Gadis ini tidak tahu saja bahwa kami bahkan pernah satu kamar, tapi aku tak berani berbuat lebih selain menggodanya saja, pikir Kavindra.


Adel kembali tergelak. "Oke deh demi bonus aku jabanin, Pak. Yang penting nggak berbuat kriminal aja. Sekarang saya ditraktir makan nggak nih?"


Kavindra terkekeh lalu mengangguk sambil memberikan buku menu pada gadis di hadapannya. Namun, saat Adel bertanya tentang makanan apa yang pria di hadapannya itu inginkan. Kavindra menolak dengan halus, setelah memberikan beberapa lembar uang gambar dua bapak berwarna merah, ia pamit pulang.


"Apa sih yang mau diomongin Raka?" gumamnya tanpa melepas pandangannya ke arah jalan di depannya.


"Semoga kejutanku besok berjalan lancar."


Tak berapa lama pria itu sudah samaoi di gedung bertingkat yang salah satunya dihuni oleh sahabatnya. Kavindra masuk ke bangunan itu dan menuju lift untuk sampai ke lantai 9. Pria itu hanya sendirian di dalam ruangan sempit itu. Ia ingin segera sampai ke tempat sahabatnya. Lift pun berdenting dan pintunya terbuka. Pria tinggi itu pun berjalan ke luar dengan langkah lebarnya untuk menuju apartemen Raka.


Kavindra yang memilik kartu akses, bisa langsung memasuki apartemen itu tanpa menunggu sang pemilik membukakan pintu. Namun, suasana hening.


"Raka? Lo ada di rumah kan?" Kavindra berkata sedikit berteriak memanggil sahabatnya.


"Iya, berisik banget sih lo." Tiba-tiba Raka keluar dari kamarnya dengan menggosok rambut basahnya menggunakan handuk kecil.


Kavindra tergelak saat melihat sahabatnya yang baru selesai mandi tampak menggerutu. "Sana pake baju dulu, ntar dikira gue ngapa-ngapain lo, lagi."


"Amit-amit!" Raka setengah berlari kembali masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Bahkan Kavindra masih terdengar tertawa lepas di luar. "Siyalan," gerutu Raka.


Pria itu pun kemudian memakai kaos abu-abu dan celana pendek selutut berwarna hitam.

__ADS_1


Wajahnya terlihat lebih fresh.


Setelah selesai, ia pun kembali ke luar menemui sahabatnya. Tak lupa ia juga membawa amplop cokelat pudar di tangannya. Saat melihat sahabatnya sedang duduk di sofa besarnya dengan menumpangkan kakinya, Raka langsung melempar amplop cokelat pudar itu.


"Apa ini?" Kavindra mengerutkan dahinya heran.


"Lihat saja!" titah Raka lalu membanting tubuhnya di sofa yang sama.


Kavindra pun mulai membuka tali yang terlilit di kancing amplop itu, tapi tiba-tiba suara bel berbunyi. "Siapa?"


Raka hanya mengangkat bahunya, lalu beranjak dari sofa untuk melihat siapa yang datang.


Saat pintu terbuka tampak pria berjaket hijau dengan kantong kresek di tangannya.


"Maaf, dengan Pak Raka? Ini titipan dari bu Olivia," jelas pria itu.


Raka sempat mengerutkan keningnya saat melihat pria itu, karena seingatnya ia tak memesan makanan, tapi senyumnya mengembang saat mendengar siap pengirimnya.


"Oh iya, terima kasih, Pak." Raka mengambil kantong kresek itu, lalu pria itu pun pamit.


"Pacar gue emang pengertian," gumamnya lalu kembali ke sofa. Namun, baru saja Raka akan menawarkan makanan yang baru saja ia dapat. Tampak Kavindra sedang mere*mas benda di tangannya dengan kuat. Wajahnya memerah, rahangnya mengetat bahkan urat-urat di lehernya juga terlihat jelas bahwa ia sedang sangat marah.


"Sorry, Vin, tapi itulah faktanya." Raka berucap lirih melihat keadaan sahabatnya.


Kavindra menutup matanya erat, ia juga menengadahkan kepalanya untuk menahan buliran bening di netranya. Ternyata sakitnya melebihi saat ia dikhianati kekasihnya.


"Apa salah gue, Ka? Padahal gue sayang banget sama dia," ucapnya tersekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak menahan amarah yang bergolak di hatinya.


"Lo nggak salah, yang salah mereka berdua." Raka mencoba menghibur sahabatnya.


"Oya satu lagi, gue tahu siapa pacar Arisha," imbuh Raka.


"Siapa?"


Bersambung….


Happy Reading 😘


Monmaaf ya aku beberapa hari ini nggak bisa up tepat waktu. Anak-anak aku masih belum sehat, jadi aku fokus ke mereka dulu.

__ADS_1


Jan lupa jempolnya ya biar aku semangat buat terus berkarya di sini.


__ADS_2