
Riri dan Kavin baru saja selesai makan malam pertama di keluarga Pramudya sebagai istri dari Kavindra putra sulung keluarga itu. Kini mereka sedang bercengkrama di ruang keluarga. Seharian ini menjadi hari spesial buat keluarga itu. Karena semua orang ada di rumah, termasuk sang papi.
"Kasih Papi cucu yang banyak, Vin." Pria paruh baya itu mengungkapkan keinginannya.
"Siap 86, Pi!" Kavindra mengangkat satu tangannya lalu memberi hormat seperti saat upacara bendera.
Riri yang duduk di samping sang mami, hanya terkekeh. "Emang bisa baru satu minggu nikah langsung hamil, Mi?"
"Lah kenapa nggak, Kak. Di luaran sana banyak yang nikah baru 4 bulan, tapi udah lahiran." Kaivan menimpali percakapan kakak iparnya. Namun, bersamaan itu sebuah bantal sofa melayang ke arahnya.
"Ish, Bang Dava beneran," gerutu pemuda itu kesal.
"Nggak usah diomongin juga kali, Kai."
"Nah ini juga pelajaran buat kalian berdua, jangan sampai ngelakuin hal seperti itu, kalau mau serius kalian langsung menikah saja, banyak kan yang pacaran setelah menikah, mereka awet." Tiba-tiba sang mami memberi wejangan setelah mendengar celetukan putra bungsunya.
"Tuh, dengerin!" timpal Kavindra yang merasa menang karena sudah beristri.
Sekitar jam sepuluh malam, Mami dan Papi pamit untuk tidur lebih dulu, setelahbitu diikuti oleh Riri yang sudah merasa mengantuk.
Kini tinggal tiga pria di ruangan itu. Netra mereka sepertinya masih jauh dari kata ngantuk. Sehingga Kaivan si bungsu mengajak kedua abangnya untuk bermain game.
Mereka main sekitar dua jam. Karena mereka berhenti tepat pukul 12 malam.
"Udah, sekarang kalian tidur. Abang juga udah ngantuk." Pria tinggi itu beranjak, bahkan sesekali menguap.
"Oke, Bang. Selamat malam!"
Kavin menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Saat membuka pintu, terlihat sang istri berbaring miring memunggunginya.
Terdengar dengkuran halus, saat pria tinggi itu mendekat. Istrinya sudah terlelap.
Namun, Kavindra yang semula mengantuk, entah kenapa saat melihat sang istri, rasa kantuknya malah menghilang. Dengan pelan, ia mulai berbaring di samping sang istri. Ia menghadap ke arah sang istri yang terlihat sangat cantik saat tertidur.
Dengan pelan ia mengecup kening sang istri, lalu ke wajahnya dan terakhir bibirnya. Namun, sepertinya Riri benar-benar kelelahan hari ini, gadis itu hanya bergumam kecil saat Kavindra mencumbuinya. Lalu gadis itu berbalik membelakangi sang suami.
Kavin pun memeluk erat tubuh sang istri dari belakang, lalu ia pun mulai terlelap.
Keesokan harinya
Riri menyiapkan sarapan untuk orang rumah, dibantu oleh asisten rumah tangga keluarga sang suami.
Hari ini, Kavin berencana masuk kerja. Namun, saat Riri hendak ikut sang suami melarangnya. Pria itu bilang nanti saja.
__ADS_1
Semua orang sudah pergi bekerja dan kuliah. Kini di rumah hanya tinggal Riri, Mami Alifa dan para asisten rumah tangga.
"Mami, dulu sendirian aja di rumah, kalau yang lain kerja?" Riri bertanya saat semua orang sudah pergi.
"Iya, makanya Mami seneng Kavin udah nikah jadi Mami ada temen di rumah." Wanita paruh baya itu merangkul bahu menantunya dan mengajak duduk di sofa ruang keluarga.
Mereka duduk bersama di sofa besar yang ada di ruang keluarga itu. "Mami tuh dari dulu pengen banget punya anak perempuan, tapi Mami udah nggak bisa hamil lagi."
Riri menganggukkan kepalanya.
"Dua tahun lalu, Mami juga sempat merasakan hal yang sama, tapi tak berlangsung lama, sampai akhirnya gadis itu menghilang entah ke mana." Wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik itu kembali bercerita.
Perbincangan mereka pun berlangsung hingga semua hal kedua wanita itu bahas.
Sementara itu di Kavin Cruise Ship Training. Kavin sedang berbincang dengan asistennya, Raka.
"Beuh, pengantin baru ngapain udah masuk kerja?" goda Raka.
"Tadinya gue mau absen sebulan …." Kavindra tak melanjutkan ucapannya.
"Oya, Ka. Gue ketemu Kia pas seminggu apa beberapa hari mau nikah," imbuh pria tinggi itu sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Serius? Terus gimana?" Raka menanggapinya dengan serius.
"Baguslah, gue kira lo penasaran mau balikan," kekeh Raka.
"Ish, mana ada? Tapi gue sebenernya mau ngomong sama dia, apa yang sebenarnya terjadi dulu?" Kavin memijit pangkal hidungnya.
"Jangan macem-macem deh, masih suasana malam pertama, mau ribut sama bini?" cegah Raka mengingatkan.
"Iya, nggak sekarang jugalah, nanti dan lo harus bantuin gue, agar Riri jangan sampai tahu," ucap Kavindra serius.
"Bagaimanapun wajah mereka mirip, walau sekarang lebih cantik istri gue. Tapi gue nggak mau ada salah paham nantinya," imbuhnya panjang lebar.
Raka hanya mengangguk mengerti maksud sahabatnya itu. "Ya udah skip, kita pikirkan nanti, dan gue pasti akan cari tahu di mana dia tinggal sekarang? Kalau memang Kia ada di kota ini."
"Ngomong-ngomong gimana nih malam pertama lancar?" Raka mulai mengalihkan pembicaraan sambil terkekeh.
"Apaan masa kerabat istri gue pada nungguin di teras samping." Kavin berubah kesal saat mengingat kejadian waktu itu.
Raka terbahak mendengar ucapan sahabatnya. "Yah, jadi sampai sekarang masih perjaka ting-ting dong."
"Ya nggak juga sih, setelah tiga hari pernikahan gue, akhirnya mereka semua pulang dan gue … tak melepaskan kesempatan itu," ucap Kavin sambil tersenyum mengingat kejadian malam pertama mereka yang cukup hareudang.
__ADS_1
"Cerita dong gimana?" Raka bertanya dengan serius. Namun, sebuah buku melayang ke arahnya.
"Nikah sono!"
"Ish."
"Riri masih ingin bekerja apa gue izinin aja ya?" Kavindra mengingat kejadian tadi pagi saat sang istri ingin ikut bekerja dengan dirinya.
"Menurut gue nih ya, terserah lo sih, sekarang lo kan suaminya. Istri itu harus taat sama suami."
"Iya sih, pengennya sih, istri gue diem di rumah sajalah, sambil nemenin Mami juga."
"Nah, itu sih ide yang paling bagus menurut gue. Gue yakin lo mampu menghidupi istri lo, kan?" Hal itu sukses membuat Raka mengaduh karena kembali mendapat lemparan buku.
"Mampu lah, Kavindra Pramudya."
"Jangan sombong, kualat lo!" Raka mengingatkan.
"Eh, tunggu lo serumah sama Mami. Jadi, sama Dava juga, kan?" imbuh Raka.
"Iyalah. Kenapa?"
"Lo lupa Dava siapa? Gue sih percaya sama Riri tapi sama Dava, adek lo nggak."
Kavindra memijit pangkal hidungnya kembali, saat mendengar penuturan sahabatnya.
"Gue udah mikirin juga sih, ke situ. Gue emang berencana pindah, kok. Rumah buat kita udah gue siapin sebenarnya, cuma masih belum beres ya sekitar tiga puluh persenan lagi lah," jelas pria yang kini menyandarkan tubuhnya kembali.
"Baguslah, terus kenapa adek lo belum nikah juga, katanya kan dulu ngelamar cewek?"
"Entahlah, gue sekarang sibuk sama istri gue dan masih belum banyak tanya juga soal mereka."
Saat perbincangan mereka akan berlanjut, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Raka membuka pintu dan terkejut melihat seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Kamu?"
Bersambung…
Happy Reading 😘
Maaf ya aku baru up, anak aku lagi sakit, jadi nulis part ini nggak kelar-kelar.
Jangan lupa gerakin jempolnya ya, kalau ada typo meresahkan komen di bawah ya, karena mata reader tuh lebih jeli. Aku percaya kalian baca semua.
__ADS_1
Timamakasih 😘