
Kabar mengenai pernikahan Kavindra dan Arisha sudah menyebar luas di kantor Kavindra. Riri juga sudah cuti, sebenarnya gadis itu menolak untuk cuti karena waktu pernikahan mereka juga msih terbilang lama. Namun, Kavindra keukeuh dengan keputusannya. Apalagi calon pengantin itu dilarang bepergian dulu, katanya.
Hari ini Riri sedang berada di rumahnya, gadis itu baru saja selesai membantu sang mama memasak untuk makan siang.
"Ma, Riri mandi dulu ya, badan lengket banget ini," ucap Riri sambil beranjak menuju kamarnya.
"Jangan lupa luluran, oya kamu nggak boleh ketemu Nak Kavin dulu ya," jawab sang mama sambil mengingatkan masa pingitan bagi putrinya.
"Alhamdulillah bagus deh, Ma. Riri bisa santai." Gadis itu malah menjawab tak terduga yang membuat sang mama menggelengkan kepalanya.
Riri pun mengambil handuk dan mulai melakukan ritual mandinya dengan santai. Walaupun sebenarnya gadis itu merasakan hal yang aneh saat tiba-tiba dirinya akan menikah.
"Mimpi apa gue, tiba-tiba sekarang jadi calon manten," gumamnya saat ia sudah selesai membersihkan tubuhnya. Saat ini dirinya berada di kamar dan sedang melihat bayangan wanita di depannya yang menggunakan jubah mandi dengan wajah sangat mirip dengannya. Iya, dia sedang bercermin.
Saat tangannya bergerak mengusak rambut basahnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat panggilan vidio masuk dari sang kekasih. Gadis itu, tak segera mengangkatnya, ia malah sibuk mengeringkan rambutnya, lalu memilih pakaian yang akan ia pakai hari ini.
Karena tak kunjung diangkat, sepertinya Kavindra memberi pesan juga pada Riri. Sekitar lima belas menit akhirnya gadis itu selesai dengan pakaian rumahnya. Lalu dengan santai mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Riri membuka pesan dari sang kekasih yang berisi pertanyaan mengapa tak mengangkat vidio callnya.
Riri pun membalas bahwa ia baru saja selesai mandi. Setelah itu Kavindra kembali melakukan vidio call.
"Ish, cantik banget calon istri aku," ucap pria itu saat melihat wajah cantik gadisnya di layar ponsel.
"Ada sih, Bang? Katanya aku boleh cuti," jawab Riri, sambil sesekali merapikan rambutnya yang setengah basah.
"Cuti bukan berarti nggak boleh nelepon dong, Sayang." Kavindra berdecak kesal.
Riri terkekeh melihat ekspresi pria itu di layar ponselnya. "Iya juga sih. Oh iya, tapi sekarang kita lagi menjalani pingitan lho. Jadi nggak boleh ketemu dulu," jelas Riri.
"Ya ampun, berapa lama sih?"
"Ya, sampai acara pernikahan kita lah," jawab Riri dengan tersenyum jahil.
"Lama dong?" Kavindra terkejut mendengar jawaban dari gadisnya yang malah tergelak.
"Udah ah, aku mau bantuin mama lagi, dah Pak Kavin." Riri melambaikan tangannya lalu menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan videonya.
Riri pun kembali menghampiri sang mama. Mereka saat ini hanya tinggal berdua di rumahnya. Sera pergi kuliah, dan sang papa pergi ke barber shopnya.
Sementara itu di kediaman Pramudya.
Mami Alifa saat itu sedang memilih beberapa model gaun pengantin untuk Kavindra dan Riri. Wanita paruh baya itu ingin pernikahan sang putra berjalan dengan lancar dan sempurna.
Saat wanita paruh baya itu sedang sibuk dengan benda di tangannya, tiba-tiba Kavindra menghampirinya.
"Mi, memang kalau mau nikah harus pi-- apa ya lupa tadi namanya?" tanya pria jangkung itu sambil duduk di samping sang mami.
"Pingitan? Iya dong harus biar nanti pangling kalau pas ketemu," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa foto gaun pengantin itu.
"Dulu aku sama Kia nggak kaya gitu?"
"Kamunya aja yang bandel, buktinya dia menghilang, kan? Pokoknya mami nggak mau kamu sampai gagal nikah lagi, Riri gadis yang baik, Mami suka," papar wanita paruh baya itu sambil berbalik dan menangkup kedua pipi putra sulungnya.
"Iya, Kavin juga nggak mau, Mi. Namun, berkat kegagalan dulu Kavin bisa bertemu Riri." Kavindra menarik kedua tangan sang mami dari pipinya dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Ingat ya, kamu nggak boleh ketemu pokoknya sama Riri, sampai hari pernikahan kalian." Wanita paruh baya itu kembali mengingatkan sang putra.
"Iya, Mi. Kalau surat undangan sama WO siapa yang ngurusin?" tanya pria itu.
"Biar Dava aja yang urusin, kamu tinggal nanya aja ke Riri mau kaya gimana konsepnya?"
"Apa? Dava?"
"Iya, Dava dulu juga yang ngurusin semuanya kan dia, kamu lupa?"
Kavindra tertegun mendengar jawaban dari sang mami. Pria itu bahkan melupakan bahwa dulu persiapan pernikahannya yang mengurus
adalah Dava sang adik, juga mantan dari calon istrinya sekarang.
"Ya udah, Kavin mau ke rumah Riri dulu deh sekarang." Pria tampan itu hendak beranjak dari duduknya, tapi malah ditarik duduk kembali oleh sang mami.
"Apa sih, Mi?"
"Kamu itu lagi dipingit, nggak boleh pergi dulu," titahnya.
"Sehari ini aja, Mi. Aku mau nanyain soal konsep pernikahan yang dia mau sama design undangannya. Aku nggak mau kaya dulu semua diurusin Dava, bahkan konsep dan designnya aja dia yang pilih." Pria itu sedikit menekankan kalimat terakhirnya dengan tegas.
"Baiklah jangan lama-lama, hati-hati di jalan! Jangan kebut-kebutan juga!" tutur sang mami.
"Iya, Mami." Kavindra mencium kedua pipi wanita kesayangannya itu.
Setelah itu, ia berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Pria itu bahkan berpakaian sangat rapi, rambutnya juga disisir dengan rapi.
Setelah dirasa siap, Kavindra pun langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi. Sebelum berangkat, ia pamit pada sang mami.
Kini pria itu sudah berada dalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Untuk menghilangkan rasa sepi, pria itu memutar lagu dari radio di mobilnya. Perjalanannya begitu lancar, bahkan jalanan pun terasa begitu lengang.
Namun, saat lampu merah terlihat seseorang yang sangat ia kenal berjalan di trotoar. Kavindra pun bergegas turun dari mobilnya hendak mengejar gadis itu.
"Ri, mau ke mana?" teriaknya sambil meraih lengan gadis itu.
Namun, gadis itu menatap tak terbaca ke arah Kavindra.
"Vin? Ini kamu, kan?" ucap gadis itu tergagap, sambil menyentuh pipi Kavindra. Kavindra mengerutkan keningnya, hanya seseorang yang menyebut namanya seperti itu.
"Ki-Kia?" Kavindra terpundur saat tahu siapa yang ada di hadapannya.
"Vin, maafin aku. Aku--"
Namun, Kavindra segera berbalik arah dan menuju mobilnya. Apalagi mobil di belakangnya sudah membunyikan klaksonnya. Dengan terburu-buru Kavindra langsung melajukan mobilnya, tanpa mempedulikan ketukan di jendela mobilnya.
"Vin, tolong dengar penjelasan aku dulu!" teriak gadis itu sambil terus mengetuk kaca jendela mobil Kavindra.
Kavindra terus melajukan mobilnya, ia ingin segera sampai ke rumah gadisnya. Perasaannya sudah tak karuan saat ini. Pertemuan tak sengaja ini membuat hatinya kembali terluka.
Tak berapa lama pria itu pun sampai di depan rumah gadisnya. Sebelum keluar dari mobilnya, ia menarik nafasnya dalam, lalu mengembuskannya pelan. Lalu, ia pun keluar dari mobilnya, dengan langkah lebar ia menuju teras rumah bercat putih itu.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya mencoba bersikap tenang.
__ADS_1
"Waalaikumusalam!" Terdengar jawaban dari dalam dan ia yakin itu suara gadisnya.
Pintu pun terbuka, terlihat gadisnya menggunakan kaos longgar dan celana tiga perempat, rambutnya diikat sembarangan.
"Pak Kavin?" Riri tampak kaget melihat pria di depannya. Namun, tanpa berucap sepatah kata pun, Kavindra langsung mendekap tubuh mungil gadisnya dengan erat.
Riri yang tersentak dengan sikap prianya itu, hanya mematung, juga tak membalas pelukan pria jangkung itu. Sampai akhirnya, dekapannya semakin erat dan membuat Riri sesak.
"P-Pak Kavin, aku sesak," ucapnya.
"Eh, maaf, Sayang." Kavindra pun melerai pelukannya.
"Ngapain ke sini?" tanya gadis itu akhirnya.
"Ish, kamu nggak kangen sama aku?"
"Nggak." Riri menjawab dengan menahan tawanya.
"Bohong." Kavindra menjawil hidung mungil gadisnya, bersamaan itu sang mama datang.
"Eh, ada tamu. Kamu ini gimana sih? Ayo duduk!" Wanita paruh baya itu mempersilakan calon menantunya itu duduk setelah mengomel pada putrinya.
"Iya nih, Tante anaknya malah minta dipeluk. Kangen katanya," ucap Kavindra yang sontak mendapat cubitan di lengannya.
"Nggak, Ma. Ih bohong banget," bantah Riri.
"Sabar dong bentar lagi juga kalian halal."
"Mau apa sih, Pak Kavin?" Riri mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, ini aku mau nanyain tentang undangan sama konsep pernikahan. Riri mau yang bagaimana?" tanya Kavindra.
"Oh, ya udah ngobrolnya sama Riri aja ya, Mama ikut mau kalian aja kaya gimana? Mama balik ke toko dulu banyak yang beli." Wanita berbaju hijau itu pun beranjak dari duduknya dan kembali ke tokonya.
Kini tinggal Kavindra dan Riri yang ada di ruang tamu. Namun, pria itu bukannya berbincang masalah undangan tadi, ia malah kembali memeluk tubuh gadisnya.
"Pak Kavin belum pernah diusir ya?" gerutu Riri.
"Kamu jangan pernah tinggalin aku ya, janji?" lirihnya.
"Kenapa sih?"
Kavindra malah menempelkan bibirnya di bibir Riri dengan sangat lembut.
"Assalamu'alaikum!"
Bersambung…
Happy Reading
Ih, aku nggak suka kalau mangtan tiba-tiba datang. Pokoknya aku nggak suka titik.
Jan lupa jempolnya ya gerakin!
__ADS_1