
Riri berangkat ke tempat kerja agak siangan semua gara-gara sang suami tadi pagi. Namun, pria yang kini sedang mengemudi di sampingnya, terlihat begitu segar dan sangat tampan. Suasana masih hening sampai akhirnya Riri ingat sesuatu. Ingatannya kembali pada seminggu yang lalu, saat ia pertama masuk kerja. Percakapannya dengan Adel dan Reva tentang wanita yang diduga dirinya.
“Bang?”
“Iya, Sayang.”
“Aku boleh nanya, kan?” Riri berucap ragu.
“Boleh dong, mau nanya apa?” Kavin menjawab sambil menghentikan mobilnya karena lampu merah.
“Kamu nggak akan marah, kan?”
“Kok, marah? Ada apa sih?”
"Mmm … sebelum aku masuk kerja … pernah ada tamu cewek nggak?" Riri mengutarakan isi hatinya.
Kavin menaikkan satu alisnya saat mendengar pertanyaan dari sang istri. Lalu pria itu mengingat tentang kedatangan Kiandra.
“Ada--” Kavindra langsung melajukan mobilnya saat suara klakson dari belakang saling bersahutan.
Riri mengembuskan nafasnya berat. Masa sih nikah baru juga satu bulan, suaminya sudah main cewek, pikirnya.
“Nanti kita bicarakan di rumah ya, Yang.” Pria itu mengusap pucuk kepala sang istri yang sudah berubah muram.
Riri tak menjawab iya atau pun tidak, wanita itu hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Perasaannya sudah tak karuan. “Kamu jahat, Bang. Aku kesel sama kamu,” gumamnya dalam hati.
Perjalanan yang ia tempuh terasa sangat lama. Padahal Riri ingin segera keluar dari mobil suaminya dan tak mau berbicara dengan pria di sampingnya.
“Yang?” Kavin mencoba memanggil sang istri yang sejak tadi diam. Namun, tak ada jawaban dari wanita di sampingnya, sampai akhirnya ia mengulurkan satu tangannya untuk mengusap kembali rambut sang istri. Tanpa ia duga, Riri menepisnya dan tak menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
“Yang, aku bisa jelasin semuanya." Kavin mencoba membujuk sang istri. Namun, sepertinya wanita itu sudah terlanjur marah. Akhirnya, Kavin pun kembali fokus menyetir, pria itu ingin segera sampai ke kantornya.
Tak berselang lama, mereka pun sampai di gedung Kavin Cruise Ship Training. Riri langsung membuka sabuk pengamannya dan hendak keluar dari mobilnya. Namun, Kavin sudah lebih dulu menguncinya.
“Kita ke sini mau kerja, kan, Pak Kavin.” Riri berucap tanpa menoleh ke arah suaminya.
“Iya, aku tahu. Denger dulu penjelasan aku, Yang.” Kavin menarik tangan sang istri untuk menggenggamnya, tapi ditepis kasar oleh Riri.
“Kita baru nikah baru mau dua bulan ya, tapi kami udah bohongin aku.” Riri akhirnya meluapkan kekesalannya.
“Aku nggak ada niat bohongin kamu, Sayang. Aku cuma nyari waktu yang tepat buat bicarain semuanya,” jawab Kavindra dengan lembut.
“Kamu nikahin aku, karena aku mirip sama mantan kamu, kan? Kamu cuma jadiin aku pelarian doang kan?” Riri berucap dengan menahan sesak di dadanya dan akhirnya bulir bening yang sejak tadi ia tahan pun luruh.
Kavin menatap teduh ke arah sang istri, lalu ia merangkul tubuh istrinya dan mendekapnya dengan erat. “Aku nggak pernah berpikir seperti itu, Sayang. Aku bersyukur dulu gagal menikah, karena ternyata jodoh aku itu kamu.”
“Bohong!”
“Aku nggak pernah bohongin kamu, dengarkan aku sebentar.” Kavindra menarik nafasnya dalam sebelum memulai ceritanya.
Sementara Riri masih terisak di dada suaminya.
“Waktu itu, aku dan Raka sedang berbincang di ruang kerjaku. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, ternyata dia … Kiandra.” Kavin menatap sang istri sebelum melanjutkan ucapannya. Riri masih terdiam, dan terlihat masih mendengarkan penjelasan suaminya.
“Kiandra itu mantan calon istriku yang pergi tiga hari sebelum acara pernikahan kami. Kamu tahu, kenapa dia pergi meninggalkan aku?” Kavin mencoba memancing respon dari sang istri, ternyata sebuah gelengan ia dapatkan sebagai jawaban dari sang istri.
“Dia selingkuh di belakang aku dengan orang terdekatku.”
“Pak Raka?” tebak Riri.
__ADS_1
“Bukan, tapi … mantan kamu.”
“Da-Dava?” Riri terkejut dengan apa yang didengarnya. Anggukan dari suaminya membuat ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Terus ngapain dia kembali?” Akhirnya Riri mulai mengutarakan pertanyaannya.
“Entahlah, tapi yang jelas aku sudah milik kamu, Arisha Shanika.” Pria itu mendaratkan ciuman di bibir mungil istrinya.
“Jangan marah lagi ya,” imbuhnya sambil mengusap pipi sang istri yang basah.
“Makanya aku ingin segera punya Kavin dan Riri junior di sini.” Pria itu mengusap perut rata sang istri.
Riri mengulas senyum di bibirnya saat melihat ketulusan dan keseriusan dari suaminya.
“Jika suatu hari dia datang, kamu percaya kan sama aku?”
Riri hanya mengangguk, lalu kembali mengusap pipinya yang masih terasa agak basah.
“Udah ah, kita turun udah siang, Bang,” ajak Riri.
“Kamu bawa bedak, nggak?” Tiba-tiba sang suami bertanya hal tak biasa yang membuat Riri mengerutkan keningnya.
“Ada, kenapa sih kamu mau pakai bedak?”
“Ish, masa sih aku pakai bedak, nggaklah. Udah mana sini!” titahnya.
Riri pun mengeluarkan benda yang diminta suaminya dari dalam tas. Lalu memberikannya.
Tanpa disangka, ternyata Kavin membubuhkan benda itu ke wajah sang istri. Riri juga sempat kaget.
“Tuh kan cantik lagi, bibirnya biar aku sun lagi deh ya biar merah,” godanya.
“Abang!”
“Sini sama aku aja, nanti belepotan lagi.” Riri urung memberikan benda itu suaminya, tapi sang suami kekeh dan mengambilnya.
“Nggak akan sini!”
“Aku curiga, kok kamu bisa pake benda-benda ini sih, Bang? Jangan-jangan--” Riri tak melanjutkan ucapannya karena suaminya kini sudah menempelkan bibirnya pada bibir sang istri.
“Jangan macem-macem, aku suka liatin kamu kalau dandan,” kilahnya setelah melepaskan pagutannya.
“Ayo, kita masuk. Sekarang istri Abang udah cantik lagi,” ajaknya.
Mereka berdua pun keluar dari mobil dan masuk ke gedung bertingkat dua di depannya.
“Ish, aku telat nih, Pak Kavin,” gerutu Riri saat suasana kantor sudah sepi.
“Nggak apa-apa, aku kan bosnya, masuk saja ke kelas, telatnya nggak telat banget kok,” jawab Kavindra lalu mencium tangan istrinya.
“Kebalik, Bang.”
“Oh, iya.” Kavin tergelak.
***
Malam menjelang, Kavindra baru saja selesai mandi setelah seharian ia di kantor. Sementara Riri sedang memasak makan malam bersama Bi Sumi di dapur. Wanita itu, terlihat memasak sup ayam kesukaannya.
“Bibi udah lama ikut keluarga, Den Kavin, Neng Riri. Dia pria baik dan ramah.” Wanita paruh baya itu menceritakan tentang suaminya yang ia tahu.
__ADS_1
“Bi, Abang pacarnya banyak nggak?” bisik Riri yang memang sudah merasa dekat dengan asisten rumah tangganya ini.
Wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya, mengingat-ingat tentang tuannya. “Setahu Bibi sih, nggak banyak. Cuma yang terakhir tuh yang bikin Den Kavin sedikit kacau … dia ditinggalkan calon istrinya.” Bi Sumi berbisik saat mengutarakan kalimat terakhirnya.
“Oh, iya wajahnya juga mirip sama, Neng Riri. Tapi dia lebih suka pakaian yang kurang bahan itu lo,” imbuhnya.
“Beneran mirip aku, Bi?”
“Siapa yang mirip istriku?” Tanpa diduga Kavindra sudah berada di sana dengan rambut yang masih sedikit basah. Pria itu duduk di meja makan.
“Nih makanannya udah siap, ayo kita makan!” Riri tak menjawab pertanyaan suaminya, ia mengalihkannya dengan mengajak makan, karena semua masakannya sudah siap.
Kavindra pun mengangguk, lalu dengan telaten Riri menyiapkan makan malam untuk sang suami. “Cobain ya, ini sup kesukaan aku,” ujarnya.
“Hm … enak.”
“Ish, makan dulu dong, Abang.”
“Dari wanginya aja udah ketahuan ini mah bakal enak,” sela Kavin.
Sementara Bi Sumi terkekeh geli setiap kali melihat interaksi tuannya. Istri tuannya ini memang membawa suasana ceria dalam rumah ini. Namun, jika istrinya yang dulu belum tentu seperti ini, karena wanita yang dulu terlihat angkuh.
“Bi, sini kita makan bareng, ajak juga Pak Dodi,” ucap Riri.
Mereka memang selalu makan bersama di meja yang sama. Riri tak mau membedakan siapapun di rumah ini. Alasannya biar lebih ramai dan kekeluargaan saja.
Sekitar jam sembilan malam, setelah mereka menyelesaikan makan malamnya. Kini Riri dan Kavin duduk di sofa besar sambil menonton televisi.
Kavindra mengalungkan lengannya pada bahu sang istri yang saat ini bersandar di dadanya.
“Yang?”
“Hm.”
“Ayo dong.”
“Ke mana? Udah malam.”
“Program.”
“Program apa sih?”
“Program Kavin junior.”
“Ih, sebentar lagi seru nih.”
“Seruan kita, ayo!”
“Tiga puluh menit lagi, Bang. Filmnya baru udahan.”
“Ish, lama.” Pria itu pun dengan gesit menggendong tubuh sang istri hingga wanita itu memekik kaget.
“Abang!”
Bersambung…
Happy Reading 😘
Babang Kavinnya udah jujur ya sama Riri jadi bakal aman dong ya. Mereka lagi program bikin bayi yang banyak wkwkkw.
__ADS_1
Jan lupa jempolnya ya gerakin.