Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
Kembali


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak Kiandra berkunjung ke rumah Kavindra. Kini wanita itu akan kembali menemui Kavindra. Jika tak di rumahnya, ia akan ke kantornya. Harapannya untuk bersama dengan prianya masih kuat. Namun, sang ibu mengingatkan dirinya agar tak melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang dilakukan sang ayah.


Kiandra sudah merias wajahnya dengan cantik, tapi kali ini pakaiannya lebih sopan. Wanita cantik itu mengenakan dress panjang dengan cardigan warna ungu.


Sebelumnya, ia menghubungi nomor Kavindra. Namun, sepertinya pria itu sudah memblokirnya sehingga sulit dihubungi.


"Bu, aku pergi dulu. Aku janji setelah ini kita akan hidup tenang, aku akan melepaskan masa laluku," ucap wanita cantik itu pada sang ibu yang duduk di sofa.


"Iya, Nak. Lepaskanlah biarkan Nak Kabin hidup bahagia dengan istrinya, ibu akan tetap mendoakanmu untuk mendapatkan jodoh yang terbaik untukmu," jawab wanita paruh baya itu sambil mengelus kepala putri satu-satunya.


"Ibu baik-baik di rumah ya, Kia akan pulang secepatnya," pesan wanita cantik itu. Kemudian pamit undur diri.


Kiandra mengendarai mobilnya menuju rumah Kavindra. Wanita itu berharap bahwa pria yang dulu dicintainya itu memaafkan semuanya, terutama istrinya.


Namun, sayang saat ia telah sampai di kediaman Kavindra, satpam rumah itu memberitahu bahwa tuannya sudah berangkat ke kantornya sekitar tiga puluh menit yang lalu.


Tanpa pikir panjang lagi, Kiandra langsung memutar balik mobilnya menuju kantor Kavindra. Wanita itu fokus pada jalanan di depan, ia ingin segera sampai ke kantor Kavindra.


Sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Kiandra sampai di gedung milik Kavindra. Suasana tampak sepi, sepertinya para trainer sudah berada dalam kelas. Tanpa pikir panjang lagi, Kiandra langsung menuju lantai atas. 


Wanita itu, mengenakan kacamata hitam untuk menyembunyikan identitasnya. Saat sampai di depan ruangan Kavindra, ia menarik nafasnya dulu sebelum mengetuk benda di depannya.


Tok tok tok


Kiandra mengetuk pintu, dan terdengar sahutan dari dalam untuk mempersilakannya masuk. Tanpa menunggu lama, Kiandra pun membuka menarik handle pintu dan mendorongnya, lalu masuk ke ruangan besar itu.


"Pagi, Vin!" sapanya sambil membuka kacamata hitamnya.


"Kia?" Kavindra beranjak dari duduknya saat tahu siapa yang saat ini ada di ruangannya.


"Iya, ini aku, Vin. Aku mohon jangan usir aku dulu. Aku hanya ingin minta maaf." Wanita itu memohon saat Kavindra terlihat menghubungi seseorang.


"Raka cepat bawa istriku kemari!" titahnya pada sambungan teleponnya.


Kia terdiam saat mendengar ucapan pria di hadapannya. Kemudian, Kavindra menutup panggilan teleponnya dan duduk di sofa tunggal yang ada di ruangan itu.


Wanita yang baru saja duduk di sofa itu, tersenyum melihat lelaki yang dulu pernah ia khianati. Kavindra memang lelaki yang setia.

__ADS_1


"Ada perlu apa lagi, Kia?" tanya pria yang merubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Aku hanya--" Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan tampak Riri juga Raka di sana sedikit berdebat.


"Ada apa sih, Pak Raka?" Riri sedikit menggerutu saat tubuhnya didorong oleh pria berkacamata itu.


"Sayang, sini ada tamu lagi." Kavindra melambaikan tangannya ke arah sang istri yang langsung menoleh ke arah wanita yang duduk di hadapan suaminya.


"Ngapain lagi sih?" gumam Riri tanpa suara sambil berjalan menuju suaminya.


"Vin, Arisha, aku mau … minta maaf atas apa yang aku lakukan pada kalian," ucap Kiandra tiba-tiba saat istri dari Kavindra itu duduk di lengan suaminya.


Tanpa Riri dan Kavin duga, seorang Kiandra yang dulu ngotot ingin jadi istri kedua, tiba-tiba hari ini meminta maaf.


"Abis kepentok apa nih, tiba-tiba minta maaf?" Raka menyela ucapan wanita yang kini hendak kembali berucap.


Kiandra mendelikkan matanya ke arah asisten Kavindra, yang memang sejak dulu selalu memusuhinya.


"Apa aku harus selalu salah di mata kalian?" tanya wanita itu dengan fokus menatap Raka.


"Aku serius,Vin. Maafin aku atas kesalahan aku yang dulu dan kemarin. Aku nggak mau jadi duri di rumah tangga kalian, maafin aku." Kiandra berucap dengan sungguh-sungguh dan tulus dari dalam hatinya.


"Kami sudah memaafkan kamu, Kia. Semoga kamu bisa mendapatkan seseorang yang terbaik dalam hidup kamu," jawab Kavindra yang diangguki oleh sang istri.


Kiandra tersenyum lebar, ia berterima kasih pada keduanya, bahkan memeluk tubuh Riri saat wanita itu hendak pamit.


"Berbahagialah, Kavin adalah lelaki terbaik yang aku kenal," pesannya pada Riri. "Maafkan aku," imbuhnya.


Riri menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada wanita yang mirip dengan dirinya, ia sepertinya bingung harus berkata apa. Karena, dalam waktu yang singkat wanita ini hadir untuk merebut suaminya, tapi kemudian dengan lapang dada meminta maaf dan mendoakan kebahagiaannya.


Setelah itu, Kiandra pun pamit undur diri. Kini di ruangan itu tinggal Raka, Kavindra dan Riri.


"Kalian percaya pada ucapan dia?" Raka mengungkapkan pendapatnya.


"Sudahlah, biarkan dia hidup tenang, Ka." Kavin menanggapi dan tak mau memperpanjang masalahnya.


"Gue hanya takut, dia memulai rencananya karena kalian lengah, sebaiknya kalian waspada saja," ungkap Raka lalu ia pun beranjak dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Ish, aku jadi serem sendiri, Bang." Riri yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan pendapatnya.


"Raka nggak usah didengerin, dia itu terlalu khawatir sama kita itu saja," ucap Kavindra lalu menarik tubuh sang istri untuk merapat ke tubuhnya.


"Ngapain sih? Ini masih di kantor." Riri menggerutu saat sang suami mulai mendekatkan wajahnya.


"Kita belum pernah kan di kantor, kita coba sensasinya yuk!" ajaknya dengan berbisik yang membuat Riri memukul dada pria itu dengan kesal.


"Jangan ngaco!"


"Ish, aku serius, Sayang."


"Kamu jangan gila deh, Bang. Kalau ada yang datang gimana?"


"Aku akan kunci pintunya dan ditempel keterangan 'Pintu Rusak'," jawab Kavindra yang membuat Riri mencubit pengan pria itu sambil tergelak.


"Udah deh, jangan gila ah. Aku masih ada kelas ini, Bang." Riri mencoba melepaskan dekapan suaminya.


"Kasih ke yang lain aja deh, aku beneran udah ... nggak tahan," bisik Kavindra tepat di telinga sang istri.


"Ya ampun, Bang. Kamu itu--" Kavindra sudah menyambar bibir mungil istrinya, sebelum wanita itu melanjutkan ucapannya.


Di ruangan Kavindra memang ada sebuah kamar. Pria itu sengaja membuatnya, karena dulu jika ia lembur atau kelelahan bosa tidur di kantornya.


Sebelum melanjutkan aksinya. Kavindra benar-benar mengunci pintunya dan tentu saja tidak ditempeli tulisan 'Pintu Rusak'.


Mereka pun memulai hari panasnya di kamar kantor itu dalam cuaca yang memang sangat panas hari ini.


Riri juga tak bisa menolak keinginan suaminya.


Mohon maaf ya, karena pintunya dikunci kita nggak bisa lihat apa yang mereka lakukan. Jadi sesuai ekspektasi kalian saja para reader. (Author)


Bersambung...


Happy Reading 😘


 Jaga kesehatan kalian ya, karena sekarang lagi musim sakit. Maaf banget upnya telat, karena kondisi badan akunya yang kurang fit.

__ADS_1


__ADS_2