
"Makasih sudah menjadi kekasih yang baik selama ini, Davanka Pramudya. Kita putus!" Riri beranjak dari sana dan kembali memasukkan ponselnya pada tas selempangnya.
"Tunggu, Arisha Shanika!" Dava menahan tangan Arisha saat gadis itu beranjak.
"Aku bisa jelasin semuanya, tolong dengarkan aku sebentar," ucapnya.
"Mau jelasin apa lagi, Dav. Semua sudah jelas." Gadis yang sangat cantik itu kembali beranjak dari duduknya, hendak pergi. Namun, pria yang tampak bingung itu kembali menarik tangannya.
"Lepas!"
Pria tampan itu, tak menghiraukan ucapan gadis di depannya. Kemudian, ia menyeret tubuh gadis itu untuk mengikutinya. Riri berontak, tapi Dava merangkulkan satu tangannya pada pinggang ramping gadis itu. Setelah itu, ia memaksa Riri masuk ke dalam mobilnya. Dengan segera ia berlari memutari mobil, untuk duduk di balik kemudi sebelum gadis itu kembali keluar.
Benar saja gadis itu, sudah kembali membuka pintu mobilnya, tapi dengan sigap Dava menahannya lalu menguncinya.
"Aku mau pulang!" pekik Riri kesal.
Namun, Dava tak menggubris ucapan gadis itu. Dengan segera ia melajukan mobilnya menuju arah yang berbeda dengan jalan ke rumah Riri.
Akhirnya, gadis itu pun hanya diam, saat mobil makin lama melaju dengan kencang.
Sampai akhirnya mobil itu berhenti di lampu merah.
"Kamu mau bikin kita celaka?" gerutu Arisha pada pria yang memegang erat stir mobilnya hingga buku-buku tangannya memutih.
"Kamu bisa diam nggak, Arisha," bentak Davanka, hingga membuat gadis itu tersentak kaget. Davanka kembali melajukan mobilnya, saat lampu menyala hijau. Riri akhirnya hanya diam dengan melipat kedua tangannya. Pandangannya tertuju pada jalanan di samping jendela.
Tak berapa lama mobil itu berhenti di sebuah gedung bertingkat, seperti sebuah perusahaan. Terdapat tulisan Pramudya Corp di atasnya.
Riri mengerutkan dahinya heran, gadis itu memang sering mendengar nama Pramudya sebagai salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Davanka menarik tangan gadis itu keluar, dengan gegas ia membawa masuk Riri ke perusahan itu. Bahkan security di sana menunduk hormat pada pria di depannya walau awalnya terlihat kaget atas kedatangan atasannya. Riri memang tidak mengetahui bahwa Davanka adalah salah satu dari keluarga Pramudya.
"Kamu ngapain ngajak aku ke sini?"
"Biar kamu tahu siapa aku, Arisha?" jawab Dava dengan sedikit menarik satu ujung bibirnya ke atas. Lalu mereka memasuki lift menuju lantai atas. Dava tak melepaskan cengkraman pada tangan Arisha hingga gadis itu sedikit meringis.
Dava membawa Arisha ke roop top bangunan itu. "Sekarang kamu tahu siapa aku kan, Sha?"
"Aku adalah salah satu pewaris Pramudya Corp. Apa kamu tetap akan memutuskan hubungan kita?"
Riri mengerutkan keningnya heran dengan pria di depannya yang sedang merentangkan kedua tangannya dan dengan bangga menyebutkan jati dirinya.
"Kamu pikir aku cewek apaan? Aku mencintai kamu apa adanya tanpa peduli tentang harta kamu. Tapi perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, kamu sudah mengkhianati aku." Riri menjeda ucapannya sebelum kembali melanjutakannya.
"Pengkhianat tetap pengkhianat, menikahlah dengan wanita yang sudah kamu lamar kemarin," imbuhnya lalu berbalik untuk pergi dari sana.
Namun, tiba-tiba Davanka menarik tubuh Arisha hingga gadis itu berbalik menghadap ke arahnya. Dengan paksa ia mencium bibir Arisha, hingga gadis itu tersentak dan mendorong tubuh Davanka dengan sekuat tenaga.
"Dasar brengs*k!" bentak Arisha sambil mengusap bibirnya. Namun, pria di depannya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Setidaknya ciuman pertamamu aku yang dapatkan, Arisha." Dava tertawa puas hingga membuat gadis itu menghentakkan kakinya kesal. Lalu Arisha pun pergi dari sana. Air matanya sudah jatuh sejak tadi ia membalikkan tubuhnya.
"Dasar pria tak tahu diri, Davanka brengs*k. Aku nyesel udah jatuh cinta sama kamu," lirihnya.
Sementara itu Davanka masih mematung di tempatnya dengan memegang bibirnya yang masih terasa basah.
"Aku minta maaf karena telah menyiakanmu, Arisha," lirih Davanka dengan mengusak rambutnya gusar.
Pria itu kini terduduk di sana dengan air muka yang memprihatinkan. Dia baru menyadari bahwa ternyata dia memang kehilangan gadisnya yang tanpa ia sadari telah mencintainya.
Namun, Azrina juga tetap menjadi tanggung jawabnya, karena dia pernah melakukan hal terlarang dengan sekretarisnya itu.
****
Keesokan harinya Riri pergi bekerja dengan mata yang sedikit sembab, padahal gadis itu sudah menutupinya dengan make-up, tapi tetap saja masih terlihat. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk memakai kacamata.
Sebelum berangkat tadi pagi, sang papa sempat bertanya kenapa ia memakai kacamata? Namun, Sera berteriak dari kamarnya bahwa sang kakak baru saja putus dari kekasihnya. Riri ingin sekali melemparkan apa saja yang ada di depannya, jika sang adik berada di hadapannya.
"Bagus dong, jadi kamu bisa jadian sama nak Kavin, apalagi dia bos kamu, kan?" ucap sang papa di luar dugaannya.
"Papa apaan sih? Udah ah, Riri udah telat nih." Gadis berkacamata itu mencium punggung tangan pria paruh baya itu, lalu pamit.
"Pokoknya nanti ajak main ke sini lagi ya bosnya," goda sang mama yang tiba-tiba muncul dari dapur.
"Ingat lo doa orangtua itu makbul," imbuhnya.
"Assalamu'alaikum!" Riri langsung pergi keluar tanpa menggubris ucapan kedua orangtuanya.
Gadis itu kembali mengingat ciuman pertamanya yang direbut Davanka dengan paksa. "Siyalan!" pekiknya tiba-tiba.
"Siapa, Miss?" tanya salah seorang peserta yang mendengar pekikan pengajarnya itu.
"Eh, maaf saya … permisi dulu. Silakan selesaikan tugasnya saya tunggu di kantor," ucap Riri kikuk, lalu beranjak keluar dari ruang kelas itu.
Riri berjalan cepat menuju toilet, sambil menepuk dahinya. "Aduh bodoh-bodoh, malu kan," gumamnya. Setelah itu, ia berlari agar segera sampai ke toilet. Saat sudah masuk ke toilet, gadis itu membasuh wajahnya dan melihat pantulan dirinya di cermin.
"Kamu harus move on dari dia, Riri. Dia itu nggak baik buat kamu," ucapnya pada bayangan dirinya dalam cermin.
Lalu, ia mengeringkan wajah basahnya dengan tisu yang selalu ia bawa dalam tasnya. Setelah itu, memoleskan bedak dan liptint agar lebih segar. Riri pun segera keluar dari toilet itu, lalu berjalan menuju kantor khusus pengajar. Gadis itu, memutuskan untuk tak kembali ke kelasnya hari ini, ia akan membereskan beberapa tugas lain di meja kerjanya saja.
Riri duduk di mejanya, lalu ia menyusun beberapa materi untuk satu minggu ke depan. Dia fokus pada bukunya, sampai tak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Pria hitam manis, yang sejak awal bertemu selalu gencar menggodanya. Rangga Aditya.
"Serius amat, Neng," ucap pria dengan lesung pipi itu, yang membuat Riri terlonjak kaget.
"Rangga, ih ngagetin tahu," jawab Riri sedikit menggerutu. "Ngapain di sini? Nggak ada kerjaan emang?"
"Ada lah, banyak malah. Aku mau nyari sesuatu dulu di sini," ucap Rangga sambil duduk di depan Riri yang masih tetap menulis sesuatu di bukunya.
"Nyari apaan di sini? Buku?" tanya Riri penasaraan.
__ADS_1
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Terus?"
"Kamu."
"Ekhem!" Tiba-tiba suara bariton seseorang terdengar di belakang Rangga.
"Kalian tidak kerja?" tanya pria tinggi itu dingin.
"Eh … Pak Kavin, saya sedang meminjam buku pada Riri," jawab Rangga sambil mengambil salah satu buku yang ada di meja Riri. Kemudian pria itu berlalu ke ruangannya.
Kini hanya ada Kavindra dan Riri di ruangan itu. Namun, Riri hanya menyapa pria itu dengan mengangguk dan kembali pada kegiatannya. Kavindra menghela nafasnya sebentar, melihat tingkah gadis di hadapannya. Lalu, pria itu duduk di kursi bekas Rangga.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya denga ramah dan merubah panggilan saya menjadi aku.
"Nggak usah, Pak. Sudah selesai, kok." Riri menggeleng dan membereskan beberapa bukunya.
"Kenapa laptopnya nggak dipake?" Kavindra bertanya heran.
"Saya lebih suka menulis daripada mengetik, tapi saya tetap menggunakan ini kok, Pak." Riri menunjukkan laptop yang ada di mejanya.
Kavindra menganggukkan kepalanya. "Bisa bantu aku sebentar, Riri?" Kavindra berucap sambil memanggil nama panggilan Arisha untuk pertama kalinya.
"Bantu apa, Pak?"
"Ikut aku!" Pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Pria itu mengajak Riri menuju ruangannya di lantai atas. Riri sedikit ragu saat pria itu mempersilakan dirinya masuk.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam, Ri. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan," ucapnya mengerti dengan ekspresi dari gadis di depannya.
Akhirnya Riri pun masuk dan duduk di sofa besar yang ada di sana.
Kavindra duduk di samping gadis itu. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Bagaimana kabar mama kamu?" tanyanya yang membuat Riri mengernyit heran.
"Alhamdulillah baik, Pak."
"Kemarin mama kamu bilang … kalau --"
Tok tok tok
Bersambung….
Happy Reading
Maaf ya kemarin nggak up, aku sibuk banget hari kemarin jadi nggak bisa ngetik.
Itu mama Riri bilang apa coba?
__ADS_1
Jan lupa jempolnya ya! Ngertilah.