Batal Calon Kakak Ipar

Batal Calon Kakak Ipar
PDKT


__ADS_3

"Mau ke mana?" Kavindra yang bertanya.


"Mau ke toilet, Pak. Kenapa mau ikut?" Riri mulai merasa jengkel dengan atasannya itu.


"Boleh-boleh." Pria itu berbalik hendak mengikuti gadis yang tampak kesal itu.


Namun, Silvi menahan pria tinggi itu. "Pak Kavin di sini saja sama kita," cegah gadis berambut keriting itu.


Kavindra memang gampang bergaul dengan orang baru. Pria itu tak pernah melihat orang dari jabatannya. Sehingga walaupun baru pertama kali bertemu mereka bisa langsung akrab. Apalagi ternyata seorang Kavindra sosok yang sangat ramah. Tidak seperti cerita lain tokoh bosnya pasti dingin dan kaku.


Mereka kembali berkeliling hotel. Olivia juga menjelaskan bahwa nanti para trainer akan melaksanakan praktek di hotel ini. Kavindra hanya mengangguk mendengar penjelasan wanita cantik kekasih Raka itu.


Sementara itu di toilet.


Riri tampak mencuci wajahnya dengan air yang mengalir beberapa kali.


"Dih, malu-maluin sumpah," gerutunya pada bayangan dirinya di cermin.


"Coba semalam nggak panik, mungkin saat ini aku nggak akan semalu ini," lanjutnya.


Setelah menarik nafasnya dan mengembuskannya pelan. Riri pun keluar dari toilet dan hendak kembali menuju tempat tadi. Namun, baru saja beberapa langkah seseorang menarik lengannya hingga gadis itu terhuyung.


"Hei!" pekiknya.


Ternyata Adel yang menarik lengan gadis itu. "Apaan si, Del. Ngagetin banget tahu," omel Riri sambil mengusap lengannya yang tadi sahabatnya itu tarik.


"Aku mau tanya, kok bisa sih Pak Kavin kenal sama kamu duluan?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


"Dih, mana aku tahu. Kan tadi dia sendiri yang ngenalin diri ke kita." Riri menjawab dengan yakin. Padahal gadis itu sedang menyembunyikan fakta sebenarnya. Karena semalam Riri dan Kavindra berjanji untuk tidak membocorkan tentang ruangan mereka yang sama dan pertemuan yang membuat gadis itu malu juga hari ini.


"Dia kayanya suka deh sama kamu, Ri." Adel berucap sambil berjalan mengikuti sahabatnya.


"Jangan ngaco, aku udah punya pacar. Ups …." Riri menutup mulutnya sendiri.


"Cieee, yang udah punya pacar. Kenalin dong! Aku jadi punya kesempatan buat deketin pak Kavin," goda Adel sambil menyikut lengan sahabatnya.


"Nggak usah deh, ntar kamu suka. Kan repot," gelak Riri.


Perdebatan itu berakhir, saat keduanya sudah kembali bersama yang lainnya.


Acara bulanan sukses dan selama tiga hari pula Riri bersama dengan Kavindra. Hal itu membuat gadis itu menangis, tapi ancaman tentang membayar semua kegiatan, membuat gadis itu tak bisa apa-apa.

__ADS_1


Walaupun tidak ada seorang pun yang tahu, selain mereka dan tentu saja Pak Raka si biang kerok. Mereka hanya satu kamar aja dan tidak pernah terjadi apa-apa. Sempat hari kedua, gadis itu ikut bergabung di kamar Adel, tapi Pak Raka tiba-tiba memanggilnya dengan alasan ada yang harus dikerjakan.


Ternyata, pria berkacamata itu menyuruhnya kembali ke kamarnya dan harus mengajak seorang Kavindra berbincang. Karena, pria itu sedang patah hati ditinggal nikah.


"Kenapa jadi aku yang repot sih?" omel Riri saat itu.


Namun, ternyata tanpa gadis itu ketahui. Kavindra selalu keluar dan tidur di kamar Raka. Setiap pagi, pria itu akan pura-pura tidur di sofa.


Sore ini mereka akan pulang, Riri sudah membereskan semua barangnya, begitu juga dengan Kavindra. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Kavindra mencoba mengajak bicara gadis yang saat ini masih terlihat kesal.


"Kamu marah sama aku?" tanya pria tampan itu dengan tidak tahu malunya.


"Ingat ya, Pak. Aku nggak mau sampai ada rumor nggak bener gara-gara ini," tekan Riri tanpa menoleh ke arah pria yang mengajaknya bicara.


"Aku janji semuanya aman," tegas Kavindra.


Riri pun beranjak dari sana, hendak keluar dari kamarnya. Namun, Kavindra menahannya.


"Tunggu kita barengan, ya?"


Riri hanya memutar bola matanya jengah, tapi gadis itu ternyata menunggunya juga.


Lalu mereka keluar bersama. Tiga hari bersama gadis di sampingnya, membuat ia kembali ceria. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya.


Enam bulan berlalu setelah acara bulanan. Kavindra tak berniat untuk kembali ke luar negeri. Ia hanya akan mengurus perusahaan dan hidup bersama keluarganya.


Selain itu Kavindra juga makin gencar mendekati Arisha Shanika.


Gadis yang selalu terlihat menggemaskan di matanya. Walau ia juga akhirnya tahu, bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih. Namun, tekadnya yang kuat membenarkan prinsip sebelum janur kuning melengkung, gadis itu masih dapat ia miliki.


Hari ini, adalah hari terakhir bekerja di kantor Kavindra, karena besok sudah weekend. Riri dan Adel sedang menikmati makan siangnya, setelah mengajar trainer yang lumayan menguras otak dan tenaga.


"Del, kamu hari ini pulang dijemput lagi sama calon pacar kamu nggak?" tanya Riri saat gadis itu mulai menyuapkan soto lamongan pesanannya.


"Tahu lah, dia tiba-tiba ngehindar gitu dari aku," keluh Adel sambil mengaduk sotonya tanpa berniat memakannya.


"Lah, baru juga seminggu. Kenapa sih?" Riri tampak heran dengan keadaan sahabatnya itu.


"Nggak tahu, mungkin ada yang lebih cantik kali," jawabnya asal.


"Eh gimana sih rasanya dideketin Pak Kavin?" Adel mencoba mengalihkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Nggak bahas dia deh, ntar datang malas aku, Del," gerutu Riri. Baru saja ia selesai berucap, ternyata pria tampan itu sudah ada di belakang mereka dan menyapa keduanya.


"Siang, mau nambah nggak?" Kavindra bertanya sambil duduk di samping Riri.


"Kita lagi diet. Iya kan, Del?" Riri meminta persetujuan dari Adel sahabatnya, yang malah menggelengkan kepalanya. Hingga Riri dengan kesal menendang kaki Adel di bawah meja hingga gadis itu mengaduh.


"Tambah aja lagi, atau mau beli cemilan, nanti aku yang traktir," imbuh Kavindra santai dengan menyandarkan punggungnya ke kursi.


Adel memang mengagumi atasannya itu, maka ia dengan senang hati menerima semua penawaran pria tampan itu. Berbanding terbalik dengan Riri, yang ingin segera pergi dari sana.


Saat ia selesai menghabiskan makanannya, Riri pun pamit, tetapi tangannya ditahan oleh Kavindra. "Mau ke mana? Temenin saya dulu."


"Maaf, Pak. Saya harus memeriksa tugas dulu," tolak Riri halus dan menepis tangan atasannya itu.


Sementara Adel hanya terkekeh melihat keduanya. "Ya udah, Pak, sama saya aja."


Riri pun berlalu, sementara itu Adel masih duduk berhadapan dengan atasannya itu. "Saya baru kali ini, punya bos baik banget kaya Bapak," puji Adel pada Kavindra.


"Saya tidak mau ada jarak, kita semua satu tim. Jadi jangan sungkan jika ada apa-apa," jawab Kavindra ramah.


"Mm … boleh saya bertanya?" imbuhnya.


"Boleh dong, Pak. Mau tanya apa?" jawab Adel antusias.


"Arisha beneran udah punya kekasih ya?" tanya Kavindra setengah berbisik.


"Katanya sih iya, Pak, tapi belum pernah dikenalin ke kita juga. Terus belum pernah lihat dia dijemput juga," jawab Adel apa adanya. Riri memang pernah bercerita bahwa ia sudah memiliki kekasih, tapi selama enam bulan bekerja di sini, belum pernah gadis itu mengenalkan atau terlihat dijemput 9leh sang kekasih.


"Oh …."


"Kamu tahu nama kekasihnya?"


"Davin kalau nggak salah … eh Devan deh." Adel menjawab sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. Karena sebenarnya ia juga lupa siapa nama kekasih Riri. Gadis itu memang agak tertutup soal percintaannya.


Sepertinya memang bukan Davanka, pikir Kavindra. Pria itu tersenyum dan terlihat makin bersemangat untuk mendapatkan gadis itu.


"Kamu mau bantu saya?"


Bersambung..


Happy Reading 😘

__ADS_1


Bantu apaan dah? Bantuin nyuci piring kali ya wkwkwk.


Jan lupa like, komennya ya pokonya hgerakin jempol kalian aja, nggak perlu tereak2 kok.


__ADS_2