
"Pak!" pekik Riri panik saat tubuhnya menimpa pria tampan itu
"Iya sayang," goda Kavindra yang membuat Riri makin marah dengan pria di bawahnya.
"Kalian ngapain?" Tiba-tiba Sera datang sambil mengucek matanya.
"Dek, tolongin kakak," ucap Riri sambil melambaikan tangannya ke arah adiknya. Namun, gadis itu sepertinya masih mengantuk, ia malah mematung sampai akhirnya sebuah bantal melayang ke wajahnya.
"Kak Riri!" pekiknya.
"Eh ngapain kalian? Aku bilangin mama sama papa lo. Astagfirullah Kak, istigfar." Gadis itu malah mengoceh tak karuan sambil menepuk dahinya. Sementara itu, Kavindra tersenyum penuh kemenangan.
"Dek, jangan macam-macam deh, Kakak nggak ngapa-ngapain sumpah." Riri memukul dada pria itu agar dilepaskan sejak tadi, tapi Kavindra hanya bergeming. Sampai akhirnya Riri menggigit dada pria jangkung itu dengan sekuat tenaga, yang membuat Kavindra memekik dan melepas pelukannya.
"Keluar!" bentak Riri marah. Gadis itu mengeratkan jubah mandinya. Untung saja gadis itu sudah memakai dalaman dan tangtop.
"Lebih baik Pak Kavin pulang sana!" Riri mengusir sambil membanting pintu kamarnya lalu menguncinya.
Sementara itu, Sera masih mematung di tempatnya dan memperhatikan pria jangkung di depannya yang memegang dadanya.
"Pak ngapain di sini, pakai baju papa pula?"
"Maaf, saya tadi mengantar kakak kamu, tapi karena tiba-tiba hujan baju saya basah semua," jelas pria itu.
"Kok bisa keujanan?"
"Mobil saya mogok, jadi saya pinjam motor, kakak kamu, saya biarkan naik taksi," imbuhnya.
"Uh! So sweet banget si." Gadis dengan rambut berantakan itu malah memegang kedua pipinya sambil tersenyum.
Hujan malam ini begitu deras, petir dan kilat juga saling menyambar, membuat malam ini sedikit menakutkan. Sera tak tega jika harus mengusir pria di depannya. Namun, gadis itu juga bingung kenapa orangtuanya tak muncul juga.
"Pak, nggak apa-apa kan tidur di sofa. Aku nggak tega ngusirnya," bisik Sera pada Kavindra yang masih sedikit meringis memegang dadanya.
"Tidak apa-apa, terima kasih ya." Kavindra mengusak pucuk kepala Sera dengan senyum manis.
Sera hanya mengangguk, lalu ia pun berlalu ke dapur. Gadis itu terbangun karena kehausan, tapi malah melihat pemandangan yang iya-iya.
Kavindra berlalu ke ruang tengah, di sana ada satu sofa dan karpet dengan beberapa bantal besar berbentuk donat. Akhirnya, ia pun berbaring di sana dengan bantal donat sebagai penyangga kepalanya.
"Aku harus mendapatkan gadis ini," gumamya. Kemudian akhirnya terlelap.
Sementara itu Riri masih di belum bisa memejamkan netranya. Pikirannya melayang pada kejadian hari ini.
'Bagaimana bisa aku terjebak dengan nama itu?'
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 Wib, tapi Riri masih saja belum ngantuk, padahal cuaca saat ini enak untuk tidur. Akhirnya gadis itu memainkan ponselnya. Ternyata banyak sekali notif WhatsApp yang masuk. Namun, ia lebih tertarik membuka grup Geng Bule.
Grup yang terdiri dari sepuluh orang itu, adalah salah satu wadah untuk sharing tentang apa saja. Anggotanya adalah Riri, Adel, Silvi, Rangga, Dila, Raksa,Reva, Davi, Mahesa dan Olivia.
Riri pun membuka chat daru Geng Bule. Sepertinya hari ini sepi. Namun, tiba-tiba Rangga memulai chat di sana.
Rangga : "Masih pada melek nggak woi?"
Davi : "Tidur-tidur."
Mahesa : "Mana ada orang tidur balas chat?"
Silvi : "Berisik! Kebiasaan ya lu pada."
__ADS_1
Dila : "Pasti ada gosip baru nih, tumben malam-malam pada ribut."
Raksa, Reva, Olivia, Riri : "Up."
Adel : "Riri pura-pura nyimak padahal dia lagi anteng sama cemceman, heheheh."
Riri : "Jangan cem-macem ya, Del. Gue tabok mau?"
Adel : "Satu macam doang, Ri. Oya, katanya lu abis ngedate sama Pak Kavin ya?"
Riri : "Ngedate apaan dah? Jangan rusuh deh, Del. Entar gue famous gara-gara digosipin ama bos."
Adel : "Biar mantan lo, tahu rasa, Ri. Gemes gue."
Olivia : "Curhat dong, Mah."
Adel : "Nah lo, asisten bos keluar."
Riri : "Aku left lah."
Dila : "Baper."
Rangga : "Kenapa left? Jangaaan."
Davi : "Gue nitip gorengan ya, Ri."
Raksa : "Gue mie ayam dah, ujan-ujan gini enak makan yang anget-anget."
Riri : "Ngapain pada pesen makanan sih?"
Reva : "Grup ditutup, tidooooor semuaa. Berisik!"
Adel : "Si tumor datang."
Namun, sepertinya penghuni grup mulai sepi, pasti mereka sudah mulai tidur.
Kini, Riri hanya membaringkan tubuhnya sambil menatap ke langit-langit. 'Dia calon istri Kavin, Pi.' Kalimat itu terus berputar di kepala gadis itu.
"Kalau aku sampai terjadi. Masa aku pacaran sama kakak dari mantan aku? Batal calon kakak ipar," gumamnya sambil terkekeh geli.
"Pokoknya aku harus menghindar dari dia, adik kakak pasti sama-sama playboy, aku nggak mau." Riri bergidik lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Keesokan pagi
Riri bangun lebih awal, padahal gadis itu baru bisa tidur sekitar jam dua malam. Riri sudah cantik dengan setelan kerjanya. Ia awalnya berencana risign dari pekerjaannya. Namun, setelah dipikirkan kembali, saat ini mencari pekerjaan itu tidaklah mudah. Akhirnya, ia memutuskan tetap bertahan dan berusaha untuk tak berhubungan langsung dengan bosnya itu.
Riri menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya. Sepertinya semua orang masih tertidur saat gadis itu pergi ke dapur. Lampu ruang tengah yang padam, membuat keadaan ruangan itu menjadi gelap, karena sampai saat ini hujan masih turun dengan deras.
Riri berjalan dengan santai tanpa menyalakan lampu ruangan itu. Ia melewati karpet yang dipakai tidur oleh Kavindra.
Namun, baru saja beberapa langkah, gadis itu seperti menyenggol sesuatu, dan ia yakin kalau itu bukanlah bantal yang biasa ada di karpet.
"Apa ini?" Riri berjongkok dan menyentuh sesuatu yang keras.
"Nggak mungkin hantu, kan?" Riri bergumam saat ia menyentuh sesuatu seperti tangan seseorang.
Perasaannya mulai tak karuan, saat ia hendak berbalik, tiba-tiba tangannya ditarik hingga ia terjatuh dan menimpa tubuh seseorang.
"Aaaaa!"
__ADS_1
Bersamaan itu, lampu menyala dan Riri kembali berada di atas tubuh pria jangkung yang sedang ia hindari saat ini.
"Kalian ngapain pagi-pagi? Astagfirullah Ri, mama nggak nyangka kamu …." Wanita paruh baya itu menutup mulutnya melihat adegan di depannya.
"Ma, mama jangan salah paham dulu," ucap Riri panik. Gadis itu berusaha melepaskan pelukan Kavindra yang masih terlelap.
"Mama nggak pernah ngajarin kamu buat berbuat seperti itu." Mama Rina terlihat sangat kecewa.
"Ma, sumpah Riri nggak ngelakuin apa yang mama tuduhkan," bantah Riri sambil berlari ke arah sang mama.
"Kenapa atasan kamu bisa tidur di sini?" tanya sang mama curiga.
Gadis itu menjelaskan kejadian semalam, tentu saja melewati saat ia dipermalukan oleh sang ayah dari pria yang saat ini masih terlelap.
Namun, tak berapa lama pria itu terbangun dan mengucek netranya.
Lalu mendengar keributan yang ternyata Riri dan sang mama.
"Pagi, Tante," sapanya dengan suara serak khas bangun tidur. Namun, wanita paruh baya itu tak menanggapinya. Bersamaan itu datanglah sang papa dengan kain sarungnya.
"Ada apa sih, pagi-pagi udah ribut?"
"Semua gara-gara papa," omel Riri saat melihat sang papa.
"Lho, kok jadi papa?"
"Maaf, Om dan Tante, saya sudah bikin keributan pagi buta seperti ini." Tiba-tiba Kavindra menyela perdebatan ketiganya.
"Sebentar, ini masalahnya apa? Papa belum ngerti," ucap pria paruh baya itu lalu mengajak semuanya untuk duduk.
"Papa semalam ke mana? Kenapa nggak ngebiarin Pak Kavin pulang. Dia gangguin Riri terus," jelas gadis itu sambil mendelik ke arah pria jangkung di sampingnya.
Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya. Sepertinya ia baru menyadari bahwa ada orang lain di ruangan ini.
"Oh iya, semalam papa lupa, abis ngasih baju ke Nak Kavin, papa langsung ke kamar, iya kan, Ma," ucap pria itu sambil melirik ke arah sang istri dengan tersenyum.
"Papa gimana sih? Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama anak kita?"
Kavindra mulai mengerti apa yang menjadi perdebatan diantara orang-orang ini.
"Maaf, Tante. Kavin salah, seharusnya semalam langsung pulang." Pria itu meminta maaf dengan tulus.
Namun, tiba-tiba Sera menghampiri mereka.
"Semalam ujan deras banget, Pa, Ma. Pak Kavin emang disuruh pulang sama Kak Riri, tapi dia ke sini pakai motor. Jadi Sera nggak tega ngusir dia," papar gadis yang masih memakai piyama tidur itu.
Papa Satria mencerna ucapan putri bungsunya. Ia pun mengerti, nggak mungkin membiarkan pria tampan itu pergi di tengah hujan deras pada malam hari pula.
"Iya, sudah papa yang salah, maafin papa. Lebih baik sekarang siapin sarapan dan cemilan, karena hujan seperti masih betah membasahi bumi," pungkasnya.
"Kalau mau mandi, silakan baju Om masih banyak," bisik pria paruh baya itu pada Kavindra sambil menepuk bahu pria itu.
"Iya, Om. Terima kasih."
"Menyebalkan!"
Bersambung...
Happy Reading 😘
__ADS_1
Babang Kavin ngeselin ya, main peluk-peluk aja.
aku nggak suka.